Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Cerbung, "Tangisan Cinta" Episode 16

Setelah cukup lama berpikir akhirnya Winda menyetujui persyaratan dari Nuratika bahwa dirinya akan menjauhi Orlando.

Nuratika pun tersenyum dengan pilihan yang di ambil oleh Winda, tanpa membuang waktu Nuratika langsung menemui dokter untuk segera melakukan transfusi darah pada Franklin.

"Orlando pasti akan sangat senang mendengar kabar ini, semoga saja setelah liburan mereka, akan ada cinta yang tumbuh dihati Laura untuk Orlando, agar Orlando tidak merasakan yang namanya luka dan tangisan untuk kedua kalinya!" Ucap Nuratika dalam hatinya sambil tersenyum.

***
Verona, Italia 
Disuatu sore yang sangat indah dikota Verona Italia, Maira sedang termenung menatap ke langit yang sangat indah.

"Apa aku sanggup untuk menerima perjodohan ini, sedangkan Siddarth masih koma dan belum sadarkan diri, apalagi Siddarth adalah orang yang sangat dicintai oleh Laura sahabatku!" Tanya Maira penuh keraguan.

Maira kemudian membuka hp Siddarth yang diberikan oleh Fera padanya agar Maira bisa mengendalikan siapa saja yang berusaha menghubungi Siddarth.

Saat membuka hp Siddarth. Maira kaget melihat galeri Siddarth yang kebanyakan adalah foto Laura.

Tetapi ada sebuah video yang sangat menyentuhnya hatinya, video itu, adalah video disaat Siddarth sedang menyanyi serta bermain gitar saat Laura sedang sakit dan tidak sadarkan diri.

Tanpa sadar air matanya terjatuh dari matanya saat menonton video tersebut, ditambah lagi lagu yang dinyanyikan Siddarth sangat menyentuh hatinya yaitu lagu KAMU by NANO.

"Haaa, apa aku sanggup menjadi pemisah sepasang kekasih yang sangat mencintai, gak, aku gak sanggup dan jujur aku juga pernah berada diposisi yang sedang Laura rasakan sekarang yaitu jauh dari orang yang sangat dia cintai!" Ucap Maira menangis.

Maira berniat ingin memberitahukan Laura jika Siddarth berada di Verona Italia dan sedang koma akan tetapi saat dia akan mengirimkan email pada Laura tiba-tiba saja Cruz datang menemuinya.

"Disini kamu ternyata, aku kira kamu dimana!" Ucap Cruz tersenyum pada Maira.

"Ya, aku dari disini karena disini suasananya sangat indah, hingga mampu menenangkan perasaanku!" Jawab Maira tersenyum pada Cruz.

Cruz pun berdiri untuk melihat pemandangan kota Verona dari atas gedung rumahnya.

***
Disisi lain kota Verona, Laura dan Orlando sedang menikmati indahnya senja di Piazza Delle erde sembari melihat indahnya jembatan tua, roman theatre Dan giardino giusti.

Orlando mengisengi Laura dengan meniup balon sabun ke arah wajah Laura hingga membuat Laura kaget hingga dia langsung berdiri.

"Ih, dokter jahil banget sih!" Gumam Laura ngambek sambil memalingkan wajahnya dari Orlando.

"Yah, yah. Kok ngambek sih, ntar kalau kamu ngambek aku gak akan jadi kasih kamu ini!" Ucap Orlando tersenyum sembari memegang sebuah boneka panda yang akan dia berikan pada Laura.

Laura yang tadinya ngambek langsung tersenyum manis sambil mengambil Bonek itu, dari Orlando karena dirinya memang menyukai panda.

"Kok, dokter tau sih kalau aku sangat suka boneka panda?" Tanya Laura tersenyum sembari memeluk boneka panda.

"Karena, karena aku tahu semuanya tentang kamu!" Jawab Orlando tersenyum pada Laura.

Karena hari sudah mulai gelap, Orlando pun mengajak Laura kembali ke vila tempat mereka menginap.

***
Didalam mobil saat mereka jalan arah pulang ke vila, tanpa sadar Laura tertidur.

Orlando kemudian memarkirkan mobilnya di tepi jalan untuk menyelimuti Laura dengan jaketnya.

Tanpa disadari ternyata Maira dan Cruz baru saja melewati jalan yang mana jalan itu, tempat Orlando memarkirkan mobilnya. Akan tetapi takdirlah yang tidak ingin mereka bertemu dalam waktu dekat.

"Kamu itu, selalu saja tertidur jika sudah didalam mobil!" Ucap Orlando tersenyum sembari menyelimuti Laura dengan jaketnya.

"Oh, ya Maira. Kamu mau langsung pulang atau mampir kerumah sakit dulu untuk melihat kak Siddarth?" Tanya Cruz pada Maira.

"Aku langsung kerumah sakit aja karena aku harus gantian dengan mama kamu untuk menjaga Siddarth!" Jawab Maira tersenyum pada Cruz yang ada disampingnya.

Setelah menyelimuti Laura, Orlando kemudian menyetir mobilnya dan melanjutkan perjalanan pulang.

***
Sesampainya di villa Orlando membuka pintu mobil untuk membawa Laura turun dari mobil dengan cara menggendongnya karena dia tidak mau membangunkan Laura yang sedang tertidur pulas karena lelah seharian berkeliling kota Verona.

"Good night bawelku, have nice dream!"  Ucap Orlando tersenyum sembari mencium kening Laura.

Orlando kemudian menyelimuti Laura lalu mematikan lampu kamar Laura dan pergi dari kamar Laura.

***
Malam itu, memang sangat dingin. Oleh karena itu, Orlando pergi ke dapur untuk membuat segelas teh hangat namun tanpa dia sadari ternyata hidungnya berdarah lagi.

Dengan cepat Orlando mengambil tisu lalu mengelap darah di hidungnya.

"Ya, Tuhan! Apa umurku sudah tidak lama lagi, jika iya, aku mohon beri aku sedikit waktu lagi untuk merasakan yang namanya kebahagiaan dan cintai karena aku baru saja merasakan kebahagiaan itu!" Ucap Orlando menangis.

Setelah meminum teh hangat, Orlando pun masuk kamarnya untuk beristirahat agar dia tidak kelelahan dan jatuh pingsan seperti biasanya.

***
Orlando berjalan ke meja rias kamarnya untuk melepaskan wig yang dia pakai karena sebenarnya dia sudah botak akibat kemoterapi yang sering dia lakukan.

"Apa aku harus selamanya menggunakan wig ini? Akankah selamanya aku harus menutupi penyakitku ini, dari semua orang terutama dari Laura?" Tanya Orlando pada dirinya sendiri sambil melihat dirinya di cermin.

Orlando kemudian meletakkan wignya di meja riasnya lalu dia pergi ke tempat tidurnya.

***
Laura sedang berjalan di taman rumah Juliet dengan mengenakan gaun putih yang sangat indah.

Saat tengah berjalan dia melihat Siddarth sedang berdiri diatas balkon rumah Juliet sembari melemparkan senyuman padanya.

"Siddarth, kamu juga berada di Verona? Ya ampun! Aku sangat merindukanmu!" Ucap Laura tersenyum pada Siddarth.

Siddarth hanya tersenyum sembari melambaikan tangan ke arah Laura untuk menyuruhnya naik ke balkon menemuinya.

"Iya, tunggu aku! Aku akan kesana karena aku sangat merindukanmu sayangku!" Ucap Laura tersenyum sembari berlari ke rumah Juliet.

***
Sesampainya di balkon rumah Juliet, Siddarth sudah tidak ada disana melainkan dia melihat Siddarth berlumuran darah di tanah tepatnya dibawah balkon rumah Juliet.

"Siddarth!" Teriak Laura menangis melihat Siddarth yang berlumuran darah.

***
Laura kemudian tersadar dari mimpi buruknya itu, dengan nafas sesak saking ketakutannya dia akan mimpi itu.

"Ya, Allah! Huft! Pertanda apa itu? Kenapa aku bisa bermimpi seperti itu?" Ucap Laura dengan nafas yang masih terengah-engah.

Untuk menenangkan pikirannya, Laura pergi ke balkon kamarnya untuk melihat ke langit malam yang mampu memenangkan perasaanya.

"Ya Allah, aku harap dimana pun Siddarth berada, semoga dia selalu sehat hingga tiba saatnya nanti kami dipertemukan lagi, amin!" Pinta Laura penuh harap pada Allah.

***
Cruz sedang termenung sembari menatap foto Tiara, wanita yang meninggal karena dirinya.

"Tiara aku merasa sangat menyesal atas kejadian yang telah merenggut mu dariku dan dari orang-orang yang sayang padamu dan aku masih ingat kata-katamu padaku yaitu aku sudah berjuang untuk orang yang aku cintai meksipun pahit karena aku ingin dia merasa bahagia meski tidak bersamaku! Apa Mungkin inilah saatnya aku melakukan kata-katamu yaitu aku harus memperjuangkan cinta Laura yaitu mempersatukannya kembali dengan kak Siddarth karena aku tahu bagaimana rasanya kehilangan dan dijauhkan dari orang yang kita cintai!" Ucap Cruz dalam hatinya sambil menatap foto Tiara.

"Aku harus mempersatukan Laura kembali dengan kak Siddarth agar kak Siddarth sadar dari komanya sebelum Pernikahan Maira dan kak Siddarth berlangsung!" Ucap Cruz tersenyum.

" BERSAMBUNG"

Posting Komentar untuk "Cerbung, "Tangisan Cinta" Episode 16"

Kami menerima Kiriman Tulisan dari pembaca, Kirim naskah ke dengan subjek sesuai nama rubrik ke https://wa.me/+6282388859812 klik untuk langsung terhubung ke Whatsapp Kami.