Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Cerpen Misteri

                                   Lantai 2

                                 (Refniyati)

Sumber gambar by pinterest


“Kabari aja nanti.”

“Nanti nyusul”

“Mir, jemput ya!” 

“Okee.”

Pesan-pesan meluncur dari gawai yang kugenggam, pertemuan yang akan diadakan bersama beberapa orang kawan ini tanpa perencanaan yang panjang, tanpa drama-drama seperti biasanya. Reunian anak magang. Padahal baru dua hari berpencar. 

***

Siang itu langit tampak bersahaja, matahari semringah di antara deru ibu kota. Teriakan parau pedagang menjajakan dagangannya, klakson bersahutan, hilir mudik berselang. Beberapa saat  yang lalu aku tengah berkutat dengan jalanan bising itu, dan hal yang sama akan terjadi sebentar lagi. Menikmati deru kota ini, yang telah lama kutinggali.

Aku membenahi barang bawaan yang berserakan di kamar kos-kosan yang berukuran empat kali tiga meter. Pakaian kotor, buku-buku, maupun perhelatan lainnya yang sebelumnya kuhamburkan demi mencari benda yang paling berharga. Sebuah gelang, pemberian seseorang beberapa tahun yang lalu. Bentuknya memang sederhana dan terkesan biasa, namun orang yang memberikannya yang membuat gelang ini begitu istimewa. 

Setelah puas membolak-balik ransel tapi masih nihil. Aku berpikir keras coba mengingat kejadian yang kualami beberapa waktu ini.

Seingatku hanya melepasnya sekali saat mencuci, lalu memasanganya kembali. 

Bagaimana bisa terlepas dari tanganku. 

Piit. Piiiit. 

Selang beberapa saat suara klakson bergaduh.

Sebuah motor matic terparkir di halaman, perempuan dua puluh satu tahun dengan setelan kemeja dengan kulot hitamnya tampak meletakkan helm, namanya Mira, perkenalan kami terjadi sebulan yang lalu di tempat magang. Anaknya ceria, dan mudah bergaul. Seolah-olah kami telah bersama bertahun-tahun. 

“Cepat amat, Mir, baru aja kelar mandi,” balasku menyambutnya.

“Ya udah, buruan, katanya mau lihat senja. Ntar keburu ilang,” ucapnya.

Memang telah direncanakan kami akan melihat senja terlebih dahulu lalu setelahnya makan di restoran yang juga direkomendasikan oleh Mira. Menghabiskan waktu sebelum berpulang ke kotaku. 

Tanpa menyahut akupun kembali ke kamar, bersiap diri. Setelah cukup lama, akhirnya aku dan Mira pun melesat dalam keramaian ibu kota. Kami menuju tempat terbaik melihat senja yang menurut mira rekomended untuk seorang penyuka senja sepertiku.

“Dulu sih sering nikmati langit petang di sini, masih sama ternyata,”

ucapku bernostalgia. 

“Wah, iya? Berarti dulu pernah tinggal di kota ini juga?” tanya Mira.

“Enggak netap di sini sih, cuma sering mendatangi tempat ini,”

"Jauh banget sih dari tempatmu."

"Apalah arti sebuah jarak," balasku. 

Perbincangan kami pun mengalir begitu saja, hembusan angin yang lembut ditambah lagi  minuman coklat yang segar membuat suasana sejuk luar dalam.

“Mir, percaya gak kalo tempat tertentu itu bisa membuat kita sakit dan sembuh dengan sendirinya.”

“Nukerin kenangannya gitu?"

“Ya salah satunya.” 

"Danaunya enggak pernah kering ya mir?"

Tanyaku sembari melihat pada hamparan air di hadapan kami. 

Di sekitar danau ada banyak anak manusia, berpasang, bergerombolan , maupun tengah mematung sendirian.

Di ufuk, cahaya kemerahan memancar di sela dedaunan pohon yang menjulang, kilaunya memantul menyejukkan mata. 

Tringgg. Tringggg.

Sebuah dering panjang dari gawai di gengggaman. Kuusap icon telepon bewarna hijau itu ke atas dan berbincang dengan seseorang. Fakhri. Rekan magang. 

Tak lama Fakhri pun tiba di hadapan aku dan Mira. 

Tidak menyangka dalam sebuah acara mempertemukan beberapa anak manusia, dan berujung keakraban. Sebulan di karantina, membuat kita mengenal satu sama lain, saling berbagi dan bertukar pikiran. Teman yang asyik. 

“Irfan jadi datang?” tanyaku.

“jadi, katanya masih ada urusan.” 

Aku manggut-manggut. 

“katanya mau cari makan, kok di sini!” 

“Iya nanti, abis Magrib," timpal Mira.

Setelah sholat, kamipun melesat di keramaian ibu kota, melewati perdebatan panjang tentang tempat yang direkomendasikan Mira dan tempat yang diinginkan Fakhri. Aku mengikut saja mana baiknya. 

Setelah puas berdebat, tibalah di sebuah tempat makan yang cukup ramai.

Irfan telah bergabung dengan kami yang kukabari beberapa saat yang lalu.

“Guys, aku ngerasa capek banget sehabis kegiatan kita,” ucap Mira.

“Iya sama, Mir.”

“Tapi ini lain aja gitu, enggak kayak biasanya.”

"Serasa ada makhluk yang ngikutin aku," ucap Fakhri. 

Aku menelan ludah, meski suasana ramai tapi kudukku terasa merinding. Rupanya tak hanya aku yang merasakan aura yang berbeda. Teman-teman yang lain juga. 

"Aku mau cerita. Pas kita nyantai di balkon lantai 2, aku ngeliat poci," ucap Mira bergidik ngeri. 

"Pas mau masuk kamar, kaki aku dipegang, gila. Tangannya berlendir," timpal Fakhri menahan geli. 

"Guys, kirain aku aja yang ngalamin, dan itu cuma halusinasi yang berlebihan taunya kalian juga ya. Kalian tau nggak, pas pagi terakhir sebelum pulang, aku kan mau liat sunrise di atas. Nah, di tangga, ada cewek yang megang bunga melati dan rambutnya panjang banget nutupin sebelah mukanya dan natapnya tajam banget."

Teman-temanku tampak tercekat dan membenarkan posisi yang lebih berdekatan, suasana yang riuh ramai terasa mencekam.  

"Lantai 2 ada penunggunya guys, dan kawan yang lain juga banyak ngerasain hal aneh. Ada beberapa yang cerita ke aku pas kita di lapangan, tapi aku nanggepnya santai aja biar pada ngga ketakutan," beber Mira. 

"Bener. Nggak hanya sekali ngalamin, pas keluar kamar mandi malam itu, ada cewek yang duduk di tepi ranjang, ciri-cirinya kayak yang kamu bilang itu, Ref, pas Bang Aan bangun ceweknya hilang seketika. Aku ingat betul," ucap Fakhri meyakinkan. 

Lantai 2 yang dimaksud ialah hotel yang kami tempati saat magang kemarin. Dimana  terdapat kamar yang berhadapan sebanyak sepuluh kamar dan area balkon tempat yang cukup asyik untuk bersantai. Dihadapannya mengarah langsung ke jalan raya yang begitu ramai. Kala malam, lampu kota terlihat berpendar. Indah sekali. 

Namun anehnya hotel itu sepi, padahal tempatnya cukup strategis di tengah kota dan tempatnya cukup nyaman namun aura mistisnya begitu terasa. Para petugasnya pun tampak misterius, mukanya pucat dan jarang senyum.

Irfan sempat mengajaknya mengobrol beberapa kali tapi tak digubris. 

Omong-omong, Irfan hanya diam saja sejak kami datang. Biasanya anak itu paling tidak bisa diam dan selalu ada saja bahan candaan. Entah karena dia kecapekan setelah menyelesaikan pekerjaan, atau lainnya.

"Kamu sendiri gimana, Fan?" tanya Mira.

Irfan menatap kami bertiga secara bergantian dengan tatapan yang tajam. Terlihat sama seperti sorot mata gadis di lantai 2 itu. Aku melihat ke arah Fakhri yang tampak merasakan hal yang sama, ia pucat dan gemetar. Sedangkan Mira menggenggam tanganku cukup erat. Irfan tampak mengenakan gelang yang kucari.

"Fan, itu ...,"

Belum sempat melanjutkan kata-kata secepat kilat, Irfan berubah menjadi gadis dengan bunga melati yang rambutnya panjang itu serta tertawa panjang. 

Hihihihihi.

Hihihihihihihihi.

Sontak kami bertiga berlari, meja makan yang semulanya ramai kini enyah dari siapapun. Anehnya, ruangan itu berubah menjadi lorong lantai 2. Dimana terdapat kamar yang berhadapan dan banyak tubuh tergeletak di sana, itu mayat.





Posting Komentar untuk "Cerpen Misteri "

Kami menerima Kiriman Tulisan dari pembaca, Kirim naskah ke dengan subjek sesuai nama rubrik ke https://wa.me/+6282388859812 klik untuk langsung terhubung ke Whatsapp Kami.