Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Puisi - Ramai yang sepi.



Aku memperhatikan makhluk-makhluk berkepala yang berlalu lalang dilorong-lorong panjang dengan berbagai kesibukan.
Hanya memperhatikan, tanpa memperlihatkan bahwa aku ada ditengah keramaian.

Aku mendengarkan puluhan sumber suara yang membising disepanjang ruang dengan berbagai intonasi dan beragam bunyi.
Hanya mendengar, tanpa memproklamirkan bahwa aku diam ditengah kebisingan.

Aku berjalan lurus melalui tubuh-tubuh tegap tinggi yang mempersempit langkah kaki, yang memenuhi pijakan dari nyawa-nyawa yang berdegup jantungnya.
Hanya berjalan lurus, tidak menunjukkan bahwa aku bernafas diantara mereka, tidak menoleh ataupun bersapa ria.

Aku ini kenapa?

Aku menikmati tontonan kepala-kepala ini meski lebih suka menyendiri.
Aku sentiasa mendengar nyanyian berisik ini meski lebih mencintai sunyi.
Aku berhimpitan di tengah kaus warna-warni, meski hitam putih sudah menjadi identitas diri.

Aku adalah sendiri yang sunyi.
Aku adalah ramai yang sepi.
Aku adalah warna yang buta.
Aku adalah suara yang hampa.

Aku, adalah 'ada' yang bersembunyi.


-Tulisan bocah tengik tak tahu diri, ingin jadi Putri di negeri ilusi-

Posting Komentar untuk " Puisi - Ramai yang sepi."

Kami menerima Kiriman Tulisan dari pembaca, Kirim naskah ke dengan subjek sesuai nama rubrik ke https://wa.me/+6282388859812 klik untuk langsung terhubung ke Whatsapp Kami.