Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Tangisan Cinta 2, episode 1

 
Tangisan Cinta 2

Akhirnya cinta sejati berhasil menemukan jalannya untuk tetap bersama. Cinta, memang tahu kemana dia akan pulang.

Sejauh mana kaki melangkah, cinta lah yang akan menuntunnya menemukan cinta sejatinya. Sama seperti kisah cinta Siddarth dan Laura yang akhirnya bersatu setelah banyaknya cobaan serta tangisan dalam kisah cinta mereka.

Tetapi, mereka akhirnya bisa kembali bersama disaat mereka merasa jika harapan itu tidak ada. Akan tetapi, takdir yang mempersatukan kisah cinta mereka, dari tangisan menjadi Cinta.

***

Stockholm, Swedia. 

Di malam yang sangat indah, Laura menghabiskan waktu bersama suaminya Siddarth, menikmati keindahan kota Stockholm pada malam hari dari ketinggian menara Kaknas tower.

Laura terlihat sangat bahagia bisa menikmati keindahan kota Stockholm dari ketinggian 150 meter, apalagi pada malam hari. Keindahan kota Stockholm semakin terlihat sangat indah dan mempesona

"Bagaimana sayang? Apa kamu merasa bahagia?" Tanya Siddarth tersenyum sembari memeluk Laura dari belakang.

"Hmm, sayang! Gak usah kamu tanya lagi, apakah aku bahagia apa tidak! Karena, aku akan selalu bahagia jika aku selalu bersamamu! Karena, kamu adalah sumber kebahagiaan dalam hidupku!" Ucap Laura tersenyum sembari memegang tangan Siddarth yang memeluk tubuhnya.

***

Mereka melanjutkan perjalanan dari Kaknas tower ke salah satu restoran terkenal di kota Stockholm yang tak jauh dari pusat kota.

Sesampainya di restoran, Siddarth dengan romantisnya memberikan sebuah bangku untuk Laura.

"Silahkan duduk ratuku!" Ucap Siddarth tersenyum.

Laura tersenyum bahagia melihat sikap manis Siddarth padanya. Siddarth kemudian memanggil pelayan untuk memesan makanan.

Disudut restoran tepatnya 5 meja dari meja Siddarth Laura, ada seorang duda ganteng yang juga orang Indonesia tengah menyuapi anaknya makan.

"Gak! Ara gak akan mau makan sebelum mami datang!" Ucap Laura yang tidak mau makan.

"Ayolah nak, kamu makan sedikit saja! Nanti Daddy belikan kamu Barbie seperti yang kamu inginkan itu!" Bujuk Romeo pada Laura.

Laura yang tidak mau makan langsung berlari dari meja makan menuju keluar restoran.

"Laura!" Teriak Romeo sembari mengejar Laura.

Disaat Romeo memanggil nama Laura. Laura mengira jika dirinya yang dipanggil oleh seseorang yang suaranya sangat familiar baginya.

Siddarth memegang tangan Laura sembari bertanya kenapa Laura terlihat sangat bingung sembari melihat kesana-kemari.

"Gak kok, aku gak kenapa-kenapa!" Jawab Laura berpura-pura tersenyum pada Siddarth.

"Kenapa tadi aku seperti mendengar suara Romeo memanggil namaku ya? Tapi, rasanya tidak mungkin karena Romeo sudah lama meninggal!" Tanya Laura dalam hatinya.

Laura berusaha menenangkan pikirannya Sembari menikmati makanan yang baru saja diantarkan oleh pelayan.

Selesai makan Siddarth dan Laura ke kasir untuk membayar tagihan makanan mereka.

***

Di jalan pulang ke arah rumah Siddarth tanpa sengaja Laura melihat seorang wanita tengah mencoba untuk mengakhiri hidupnya di sebuah jembatan.

"Sayang, tunggu sebentar!" Ucap Laura pada Siddarth lalu keluar dari mobil.

Siddarth yang khawatir pada Laura, langsung menyusul Laura keluar dari mobil. Laura menghampiri wanita tersebut dan bertanya apa yang sedang dia lakukan malam-malam di jembatan dalam bahasa Swedia.

Alangkah kagetnya Siddarth disaat melihat wanita itu, berbalik badan ke arahnya. Ternyata wanita itu, adalah Sandrina cinta pertamanya saat dia SMA di Stockholm.

Sandrina langsung berlari ke arah Siddarth dan memeluknya dengan sangat erat serta ditemani air mata yang mengalir dari matanya.

Laura merasa heran kenapa tiba-tiba saja wanita asing itu, memeluk suaminya. Siddarth tidak mau membuat Laura salah paham sehingga dia mendorong Sandrina agar dirinya bisa terlepas dari pelukannya.

"Sayang! Aku mohon kamu jangan salah paham padaku karena aku tidak mungkin untuk kembali lagi dengan sandrina mantanku semasa SMA!" Ucap Siddarth berusaha jujur pada Laura.

"Ha? Mantan kamu?" Tanya Laura heran.

"Ya, sayang! Dulu, aku pernah bersekolah disini dan Sandrina adalah cinta pertamaku akan tetapi sekarang aku mau kamu menjadi cinta terakhir bagiku! Jadi, aku mohon agar kamu bisa memahami masa laluku. Karena, jujur aku tidak mau merahasiakan apapun darimu! Aku sangat mencintaimu!" Ucap Siddarth tersenyum lalu memeluk Laura.

Laura hanya bisa diam dan berusaha menghargai kejujuran suaminya. Sedangkan Sandrina memiliki niat baru dengan membuat Siddarth kembali ke pelukannya karena dia sangat tahu jika Siddarth adalah tipikal pria penyayang serta tidak tegaan pada wanita. Ditambah lagi mereka pernah memiliki hubungan pada masa lalu.

"Siddarth aku meminta maaf karena tadi aku tiba-tiba saja memeluknya kamu dan jujur aku memang berniat untuk mengakhiri hidupku. Sebab aku tidak mau diceraikan oleh mantan suamiku disaat aku tengah hamil anak kedua kami!" Ucap Sandrina menangis.

"Kenapa kamu meminta maafnya padaku? Harusnya kamu meminta maaf pada istriku karena bisa saja tadi istriku cemburu dan merasa sakit hati padamu!" Tanya Siddarth.

Sandrina menghampiri Laura lalu memeluknya untuk meminta maaf karena dia tidak sengaja memeluk suaminya.

"Ya, gak apa-apa kok, lagian aku juga mengerti apa yang tengah kamu rasakan saat ini, tetapi mengakhiri hidup bukanlah cara terbaik menyelesaikan masalah. Malahan itu, bisa menimbulkan masalah baru bagi mantan suami kamu dan juga keluarga kamu!" Jawab Laura tersenyum.

Sandrina tersenyum dan dia meminta bantuan Siddarth berserta Laura untuk memberikannya tempat tinggal karena dia tidak memiliki siapapun di Stockholm, bahkan rumahnya sudah disita oleh pihak bank sebab almarhum papanya kedaulatan korupsi di kantor.

Siddarth merasa kasihan pada Sandrina, dia meminta kemurahan hati istrinya agar Sandrina diperbolehkan untuk tinggal sementara dirumah mereka selagi hubungannya masih belum baik dengan mantan suaminya.

Dengan menghela nafas, serta dengan ketegaran hati. Laura mengizinkan Sandrina untuk tinggal bersama mereka.

"Terimakasih ya, Laura! Hmmm, kamu beruntung Siddarth bisa mendapatkan istri yang cantik dan baik seperti Laura!" Ucap Sandrina berterimakasih pada Laura dan memujinya.

"Ya, sudah. Ayo, kita pulang karena hari sudah sangat malam! Soalnya aku tidak mau istriku merasakan dinginnya malam!" Ucap Siddarth tersenyum sembari membuka jaketnya lalu memakaikannya ke tubuh Laura.

Sandrina iri dengan keromantisan Siddarth pada Laura. Dia juga menyesal telah memutuskan hubungannya dengan Siddarth.

"Sekarang aku tidak mau lagi kehilangan kesempatan untuk mendapatkan kamu kembali Sidd! Mungkin inilah, takdir tuhan untukku dengan membiarkan aku melepaskan Romeo dan aku mendapatkan kamu kembali!" Ucap Sandrina dalam hatinya sambil tersenyum jahat menatap Siddarth dan Laura.

***

Romeo termenung menatap keluar jendela rumahnya sembari mengelus foto Laura yang ada di hp nya. Dia menyesal mendengarkan hasutan orangtua Sandrina saat dirinya tengah hilang ingatan bahkan dia juga menyesal tidak sempat hadir disaat ibunya di makamkan.

"Harusnya kamu yang menjadi istriku Laura! Hmmm!" Ucap Romeo meneteskan air mata.

"Harusnya aku mati saja! Kenapa papa Sandrina harus menolongku waktu itu!' penyesalan Romeo pada takdir yang dia terima.

Romeo sengaja memberikan nama anaknya Laura agar kelak putrinya bisa seperti Laura yang memiliki hati yang sangat baik dan lembut, bukan seperti ibunya yang sangat licik.

Kini, apa yang bisa Romeo lakukan. Laura sudah menikah dengan Siddarth sedangkan dirinya yang kini sudah memiliki anak untuk dia urus.

***

Disaat tengah malam, Sandrina menyelinap masuk kamar Siddarth dengan maksud ingin mengajak Siddarth tidur dengannya.

Siddarth yang kaget langsung terbangun karena ada seseorang yang memegang tangannya.

"Sandrina! Apa yang kamu lakukan dikamarku?" Tanya Siddarth pelan pada Sandrina.

"Aku ingin menghabiskan malam bersamamu! Karena sudah lama kan, kita tidak bersama? Sekarang lah, saatnya untuk kita melepaskan kerinduan kita!" Jawab Sandrina tersenyum sembari mengelus dada bidang Siddarth.

Siddarth tidak mau kalau Laura sampai bangun bahkan sampai melihat Sandrina di kamarnya oleh karena itu, Siddarth menarik tangan Sandrina untuk mengusirnya keluar dari kamarnya.

***

Sesampainya diluar kamar, Siddarth memperingati Sandrina agar tidak melakukan hal yang bisa membuat hubungan rumah tangganya hancur karena dia sangat mencintai Laura dan dia tidak mau kehilangan Laura.

"Kalau kamu masih mau tinggal disini! Sebaiknya kamu jangan mencoba mendekati aku! Apalagi sampai membuat istriku cemburu atau bahkan sampai merusak rumah tangga ku karena aku tidak akan pernah tergoda padamu lagi! Kamu harus ingat itu!" Ancam Siddarth.

"Sekarang kamu pergi dan kembali ke kamar kamu! Jangan harap aku akan bertindak bodoh dengan mengikuti kemauan kamu!" Ucap Siddarth kesal lalu masuk kamar dan mengunci pintu kamarnya.

"Sekarang kamu bisa menolakku tetapi kita lihat saja apa yang akan terjadi kedepannya!" Ucap Sandrina tersenyum jahat.


"BERSAMBUNG"





Posting Komentar untuk "Tangisan Cinta 2, episode 1"

Kami menerima Kiriman Tulisan dari pembaca, Kirim naskah ke dengan subjek sesuai nama rubrik ke https://wa.me/+6282388859812 klik untuk langsung terhubung ke Whatsapp Kami.