Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Otak Overstimulasi : Ketika Generasi Z Kehilangan Fokus di Era Digital

Otak Overstimulasi: Ketika Generasi Z Kehilangan Fokus di Era Digital

Oleh: Nurma Yanti
"Kenapa ya, baca buku satu halaman aja rasanya berat, tapi scroll TikTok bisa berjam-jam?" Kalimat di atas mungkin terdengar akrab bagi banyak orang, terutama di kalangan Gen Z. Di tengah laju teknologi yang makin cepat dan derasnya arus informasi, muncul satu fenomena yang kini banyak diperbincangkan yakni overstimulasi otak.

Era Digital dan Ledakan Stimulus

Generasi Z mereka yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012 adalah generasi pertama yang sejak kecil sudah akrab dengan internet, media sosial, dan smartphone. Mereka tumbuh bersama teknologi, tapi juga jadi kelompok paling rentan terkena efek negatif dari paparan digital yang berlebihan. Konten pendek seperti TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts dirancang untuk memberi rangsangan visual dan audio yang cepat. Tanpa disadari, hal ini mengubah cara kerja otak kita.

Apa Itu Overstimulasi Otak?

Overstimulasi otak terjadi saat otak terus-menerus dibanjiri informasi, suara, gambar, dan notifikasi tanpa henti. Akibatnya, otak jadi “kewalahan” memproses semua rangsangan itu. Ini bisa menyebabkan gejala seperti:

  1.    .  Sulit fokus dalam waktu lama
  2. Cepat bosan terhadap aktivitas biasa
  3. Merasa gelisah saat tidak menggunakan HP
  4. Turunnya kemampuan konsentrasi dan daya ingat

Menurut ahli saraf Miftahul Jannah (2023), dopamin sangat berperan di sini. Setiap kali kita mendapat notifikasi atau menonton video seru, otak melepaskan dopamin. Penelitian (Khotimah, Supena, & Hidayat, 2019) juga menunjukkan bahwa multitasking digital secara berlebihan berdampak negatif pada working memory dan kemampuan fokus jangka panjang. Stimulasi digital berlebih dapat mengganggu aktivitas otak bagian prefrontal cortex (Rohmah et al., 2024).

Efek Jangka Panjang

Jika tidak ditangani, overstimulasi bisa berdampak pada:

1.     Pendidikan: Sulit fokus saat belajar.

2.     Kesehatan mental: Meningkatkan risiko kecemasan dan stres.

3.     Hubungan sosial: Kesulitan berinteraksi langsung.

Apa Solusinya?

Otak kita bisa dilatih kembali karena bersifat plastis (neuroplasticity). Beberapa langkah yang bisa dilakukan:

1. Batasi screen time.

2. Latihan fokus.

3. Meditasi.

4. Nikmati kebosanan.

5. Jadwalkan waktu tanpa gadget.

Waktunya Memilih

Generasi Z bukan generasi yang “lemah fokus”, tapi korban dari era yang terlalu banyak stimulus. Saatnya memberi ruang bagi otak untuk beristirahat dan berpikir mendalam.
Jadi, lain kali kamu merasa bosan saat belajar tapi bisa betah scroll TikTok 3 jam itu tanda, mungkin sudah waktunya kamu “detoks otak”.

Referensi :

Jannah, M. (2023). Perkembangan otak pada anak usia dini: Kajian dasar neurologi dan Islam. Bunayya: Jurnal Pendidikan Anak, 9(1), 171–180. https://doi.org/10.22373/bunayya.v9i1.18499

Khotimah, H., Supena, A., & Hidayat, N. (2019). Meningkatkan attensi belajar siswa kelas awal melalui media visual. Jurnal Pendidikan Anak, 8(1), 17–28. Tersedia secara daring di https://journal.uny.ac.id/index.php/jpa

Rohmah, A. H. S., Setiyani, A., Wardani, N. E. K., & Sukesi. (2024). Hubungan penggunaan gadget dengan interaksi sosial anak usia 4-6 tahun di KB TKIT Al Hikmah Surabaya. Gema Bidan Indonesia, 13(1), 25–33. https://doi.org/10.36568/gebindo.v13i1.204

 

Posting Komentar untuk "Otak Overstimulasi : Ketika Generasi Z Kehilangan Fokus di Era Digital"

Kami menerima Kiriman Tulisan dari pembaca, Kirim naskah ke dengan subjek sesuai nama rubrik ke https://wa.me/+6282388859812 klik untuk langsung terhubung ke Whatsapp Kami.