Ta’eun: Wabah yang Melumpuhkan Aceh pada Masa Kolonial Belanda
Ta’eun: Wabah yang Melumpuhkan Aceh pada Masa Kolonial Belanda
Di balik kemegahan masa lampau Aceh, tersimpan kisah kelam yang pernah mengguncang seluruh negeri. Pada tahun 1873, ta’eun, sebuah wabah mematikan, datang tanpa peringatan, menyapu desa dan kota, meninggalkan jejak duka yang mengubah sejarah Aceh untuk selamanya. Dari tragedi inilah masyarakat Aceh belajar tentang ketabahan, persatuan, dan cara menghadapi bencana yang tak terlihat. Aceh diuji oleh peristiwa yang tak hanya merenggut nyawa, tetapi juga mengguncang kekuatan batin seluruh rakyatnya.
Kejadian ini berawal pada tahun 1873, saat pasukan Belanda mendatangi Aceh dalam agresi militer II menggunakan kapal besar. Saat itu dalam kapal yang berlayar dari Batavia, mendadak awak kapal dan nakhodanya terjangkit penyakit menular yang menyebabkan muntah dan diare hebat berujung dehidrasi dan kematian. Semua orang yang berada di dalam kapal tersebut pun bingung, apa yang telah terjadi di saat itu. Sebelumnya, Penyakit menular ini sudah menyebar di Batavia. Nakhoda kapal tersebut yang bernama Nino Bixio merupakan salah satu yang terjangkit penyakit ini. Pimpinan Agresi, Jenderal Jan van Swieten, yang ikut dalam kapal itu meminta jasad Nino Bixio dibuang ke laut dan malah berakhir terdampar di pantai Aceh.
Jasad Nino Bixio yang terdampar ini, ditemukan oleh orang Aceh lalu dikuburkan. Namun tak lama setelah itu, banyak orang Aceh yang tiba tiba mengalami sejumlah gejala muntah dan diare hebat secara massal. Kedatangan serdadu Belanda dengan kapal yang sudah lebih dulu terjangkit penyakit ini membuat penyebarannya semakin mudah dan cepat. Sebanyak 150 serdadu Belanda terpaksa dikarantina di Pulo Aceh akibat wabah tersebut. Masyarakat Aceh yang tidak mengetahui bentuk atau sifat wabah ini menyebutnya ta’eun, istilah ta’eun atau tha’un berasal dari bahasa Arab yang berarti wabah penyakit. Belakangan, barulah diketahui penyakit yang dimaksud adalah kolera. Pada masa itu, penyebaran ta’eun disebabkan oleh kain-kain basah yang kotor atau dalam bahasa Aceh ija brok (kain kotor) sehingga saat itu masyarakat Aceh ramai-ramai membakar kain-kain tersebut agar terhindar dari ta’eun.
Selain merenggut nyawa ratusan tentara Belanda dan rakyat Aceh, wabah ta’eun juga merenggut nyawa sultan Aceh yaitu Sultan Alauddin Mahmud Syah yang wafat pada 26 Januari 1874. Ta’eun atau kolera ini diyakini menyebar melalui air dan makanan yang telah terkontaminasi. Oleh sebab itu, tentara Belanda mulai melakukan perbaikan sanitasi, penyuluhan kesehatan dan kebersihan serta pendirian pusat kesehatan dan rumah sakit. Salah satunya pendirian rumah sakit militer Belanda yang saat ini telah menjadi Rumah Sakit TK II Iskandar Muda (KESDAM). Masyarakat Aceh juga menggelar shalat dan doa bersama dengan tujuan tolak bala atau meminta pertolongan kepada Allah agar terhindar dari wabah penyakit dan marabahaya lainnya.
Dalam sejarahnya, ta’eun adalah wabah yang melanda Aceh pada tahun 1873 dan merupakan salah satu tragedi terkelam
yang mengguncang negeri Aceh. Wabah itu diduga berasal dari awak kapal Belanda yang tiba-tiba terjangkit penyakit menular yang dapat menyebabkan kematian. Ta’eun kemudian menyebar dengan cepat di tengah masyarakat Aceh. Setelah dicari tahu, ternyata wabah ta’eun ini merupakan penyakit yang mudah menular melalui kondisi yang tidak higienis. Masyarakat Aceh berusaha melawan dengan menjaga kebersihan, menjauhi barang-barang yang kotor, serta memperbanyak doa dan ikhtiar kepada Allah. Tragedi wabah tersebut menjadi pelajaran tentang pentingnya kesehatan, kebersihan, dan ketahanan masyarakat Aceh dalam menghadapi musibah.
Informasi Penulis
Nama Lengkap : Gebrina Mutiara Dinura
Prodi/kampus : Universitas Syiah Kuala, prodi Pendidikan Bahasa Inggris
Posting Komentar untuk "Ta’eun: Wabah yang Melumpuhkan Aceh pada Masa Kolonial Belanda"
Silahkan tinggalkan komentar untuk respon atau pertanyaan, kami akan balas secepat mungkin.