“Hero is me” , Fenomena tampil bak pahlawan atau karena murni dari hati dan dasar kemanusiaan ?
“Hero Is Me”, Fenomena Tampil Bak Pahlawan atau Murni dari Hati dan Dasar Kemanusiaan?
Oleh: A'ah Mar’atus Sholikhah
Banjir bandang besar yang melanda Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat telah memengaruhi sekitar 3,3 juta orang. Lebih dari 700 orang kehilangan nyawa, puluhan ribu bangunan hancur, termasuk sekolah, jembatan, dan rumah warga. Tidak hanya itu, keanekaragaman hayati juga ikut terdampak parah.
Banyak warga masih bertahan di pengungsian dengan kondisi serba terbatas. Krisis pangan, air bersih, pakaian, dan tempat tinggal yang layak menjadi masalah utama yang belum sepenuhnya teratasi.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa penyebab utama banjir adalah curah hujan ekstrem akibat Siklon Senyar serta kondisi daerah resapan air yang tidak mampu menampung volume hujan.
Dr. Ir. Hatma Suryatmojo, S.Hut., M.Si., IPU., dosen Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada, menjelaskan bahwa karakteristik geografis Sumatra yang memiliki lereng curam membuat wilayah ini rentan terhadap banjir besar. Aliran air bergerak cepat membawa material berat saat hujan turun deras.
Di tengah bencana yang membutuhkan empati dan aksi nyata, justru muncul fenomena pejabat yang dinilai lebih sibuk membangun citra diri. Korban bencana kerap dijadikan objek foto, bukan manusia yang sedang berjuang menghadapi trauma dan kehilangan.
Mulai dari memikul karung beras, membersihkan lumpur untuk kebutuhan dokumentasi, hingga memasang spanduk besar di posko bantuan, semua dilakukan seolah menunjukkan keterlibatan langsung, padahal substansi bantuan belum tentu tepat sasaran.
Fenomena ini dikenal dengan istilah “Hero Is Me”, yaitu tampil bak pahlawan demi validasi publik, bukan karena dorongan kemanusiaan yang tulus. Dalam perspektif sosiologi, perilaku ini berkaitan dengan stratifikasi sosial dan perubahan gaya hidup pejabat yang semakin jauh dari realitas rakyat.
Salah satu yang menuai kritik adalah aksi Menteri Koordinator Bidang Pangan yang memanggul karung beras dan membersihkan lumpur sambil didokumentasikan. Unggahan tersebut memicu puluhan ribu komentar warganet yang menilai aksi tersebut sebagai pencitraan berlebihan.
Konten ajudan Presiden juga menuai kecaman karena dinilai tidak empatik. Publik menyoroti kesenjangan antara fasilitas mewah yang dinikmati pejabat dengan kondisi para korban banjir yang harus tidur di pengungsian seadanya.
Meski demikian, tidak semua bantuan dilakukan demi popularitas. Masih banyak pihak yang bergerak tulus. Salah satunya adalah influencer Ferry Irwandi yang berhasil menggalang donasi sebesar 10,3 miliar rupiah dalam satu hari.
Sejumlah artis dan influencer lainnya juga turun langsung ke lapangan atau membuka donasi, seperti Praz Teguh, Sherina Munaf, Fiersa Besari, Zaskia Adya Mecca, hingga komunitas pendidikan dan kampus-kampus.
Bencana ini seharusnya menjadi pengingat bahwa kerusakan alam adalah akibat dari keserakahan manusia. Penebangan hutan, pertambangan ilegal, dan alih fungsi lahan memperparah risiko banjir dan kerusakan lingkungan.
Pemerintah dan pejabat publik perlu melakukan evaluasi kebijakan serta transparansi anggaran. Kekuasaan tidak boleh digunakan untuk kepentingan pribadi dengan mengorbankan kelestarian alam dan kesejahteraan rakyat.
Informasi Penulis / Biodata:
Nama: A'ah Mar’atus Solikah
Kampus: UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon
Program Studi: Tadris IPS
Organisasi: Himasos
Posting Komentar untuk "“Hero is me” , Fenomena tampil bak pahlawan atau karena murni dari hati dan dasar kemanusiaan ? "
Silahkan tinggalkan komentar untuk respon atau pertanyaan, kami akan balas secepat mungkin.