Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

"Ketika Sunyi Menjadi Anak" - Sebuah Cerpen Karya Vindy Yanti

"Ketika Sunyi Menjadi Anak"
Oleh : Vindy Yanti

Aku adalah Nara Lumakasih, biasa dipanggil Nara. Aku anak tunggal. Ibuku bernama Amara Setianingsih, dan ayahku bernama Luthfi Pamungkas. Sejak kecil, aku tumbuh sebagai anak yang membawa luka-luka yang tidak sepenuhnya lahir dari pengalamanku sendiri, melainkan mengalir pelan dari masa lalu ibuku, dari trauma yang tak pernah benar-benar selesai.

Ibuku sering berkata bahwa dalam hidupnya, ada sesuatu yang selalu mengikutinya. Sesuatu yang tidak bersuara dan tidak berwujud, tetapi kehadirannya terasa nyata. Ia menyebutnya sunyi.

Sunyi itu lahir dari masa kecil ibu yang penuh air mata dan ketakutan. Kekerasan, bentakan, dan tuntutan untuk selalu menjadi sempurna membuatnya terbiasa memendam segalanya seorang diri. Tidak ada ruang untuk menangis, apalagi mengeluh. Setiap luka harus disembunyikan, setiap rasa takut harus ditelan. Dari sanalah sunyi tumbuh dari tangis yang ditahan, dari rasa sakit yang tak pernah diberi nama. Ibu tidak pernah benar-benar sadar bahwa dirinya terluka, ia hanya belajar bertahan hidup dalam diam yang panjang.

Ketika ibu menikah dengan ayah, hidupnya perlahan berubah. Ayah adalah sosok yang lembut dan penuh kesabaran. Ia mencintai ibu tanpa syarat, tanpa tuntutan untuk menjadi sempurna. Untuk beberapa waktu, ibu merasa aman. Ia tertawa lebih sering, tidur lebih nyenyak, dan percaya bahwa hidup akhirnya berpihak padanya. Namun luka masa lalu tidak serta-merta menghilang. Sunyi itu tetap tinggal, tersimpan rapi di sudut hatinya, menunggu saat untuk kembali bernapas.

Saat ibu melahirkanku, ia bukan hanya melahirkan seorang anak. Tanpa ia sadari, ia juga mewariskan luka yang belum sempat ia sembuhkan. Aku tumbuh sebagai anak yang dipenuhi banyak tanya dan keheningan. Sejak kecil, aku sering merasa cemas dan takut tanpa alasan yang jelas. Ada perasaan gelisah yang datang tiba-tiba, seperti awan gelap yang menutupi langit cerah. Bukan karena aku tidak mampu mencintai diriku sendiri, melainkan karena ada luka lama yang hidup di tubuhku, luka yang tidak pernah kualami secara langsung, tetapi terasa nyata.

Suatu hari, ayah harus pergi ke luar kota karena pekerjaannya. Tinggallah aku dan ibu, berdua, dalam rumah yang terasa lebih sunyi dari biasanya.

Pagi itu cerah. Cahaya matahari masuk melalui jendela dapur. Ibu memanggilku sambil menyiapkan sarapan.

“Nara, sarapannya sudah siap. Cepat turun,” katanya.
“Iya, Bu. Nara turun,” jawabku sambil bergegas.

Kami duduk berhadapan di ruang makan. Aroma nasi hangat dan telur goreng memenuhi ruangan. Namun keheningan lebih mendominasi daripada percakapan. Bunyi sendok yang sesekali beradu dengan piring terdengar terlalu keras di telingaku.

“Ulangan matematika kemarin bagaimana?” tanya ibu akhirnya. Nadanya terdengar biasa, tetapi dadaku langsung terasa sesak.

Aku menunduk. Nilai ujianku berada di bawah rata-rata.

“Nilainya mana?” lanjutnya.

Tanganku gemetar saat menyerahkan kertas itu. Ibu membacanya perlahan, lalu menghela napas panjang.

“Kenapa nilaimu seperti ini?” suaranya mulai meninggi. “Kamu tidak belajar, atau kamu memang tidak bisa?”

Aku ingin menjelaskan bahwa aku sudah berusaha. Aku belajar hingga larut malam, aku mencoba memahami, tetapi kepalaku terasa penuh. Namun kata-kata itu terkunci di tenggorokanku.

“Nara, bicara,” katanya tegas.

Dengan bibir bergetar, aku hanya mampu berbisik, “Maaf, Bu.”

“Ibu tidak butuh maaf,” jawabnya cepat. “Ibu hanya ingin kamu bisa lebih baik.”

Aku tahu, kalimat itu lahir bukan dari kebencian. Ia lahir dari luka ibu sendiri dari masa kecil yang tidak pernah memberinya ruang untuk gagal.

Sering kali aku melihat ibu menangis sendirian di kamar. Tangannya gemetar, napasnya memburu, seolah ketakutan lama kembali menyerangnya. Aku berdiri di depan pintu, mendengarnya terisak, tetapi tidak tahu bagaimana cara menolong. Aku masih terlalu kecil untuk memahami, terlalu takut untuk bertanya.

Sejak saat itu, sunyi semakin dekat denganku. Ia hadir di sela-sela pelajaran, menyelinap di setiap langkahku, dan duduk berat di dadaku setiap malam. Aku merasa sendiri, bahkan ketika ibu ada di rumah.

 

Suatu sore, ibu menatapku lama.

“Kamu kenapa akhir-akhir ini pendiam?” tanyanya pelan.

Aku menunduk. “Tidak apa-apa, Bu.”

Ibu mengangguk kecil. “Kamu mirip ibu dulu,” gumamnya, lebih kepada dirinya sendiri.

Malam-malamku dipenuhi tangis yang kutahan. Aku takut salah, takut gagal, takut hidup. Jantungku sering berdebar tanpa sebab, dan tidur menjadi sesuatu yang sulit kuraih. Aku lelah berpura-pura baik-baik saja.

Hingga suatu hari, dengan sisa keberanian yang kupunya, aku bicara.

“Bu… Nara capek,” kataku lirih. “Nara sering takut tanpa tahu kenapa. Bolehkah kita ke psikolog?”

Ibu terdiam lama. Wajahnya tegang, seolah sedang melawan sesuatu di dalam dirinya. Lalu ia mengangguk pelan.

“Iya, Nak,” katanya akhirnya.

Di ruang yang tenang itu, aku belajar memberi nama pada perasaanku. Aku bercerita tentang rasa takut, tentang cemas, tentang sunyi yang tak pernah pergi. Setelah beberapa kali pertemuan, psikolog itu menjelaskan bahwa aku mengalami anxiety, gangguan kecemasan. Ia menuliskan semuanya dalam sebuah surat. 

Suatu malam, ketika aku tertidur, ibu membaca surat itu. Tangannya gemetar. Air matanya jatuh tanpa suara. Di sana, ibu menemukan lukaku dan juga luka dirinya sendiri.


Keesokan harinya, ibu memelukku erat.

“Maafkan ibu, Nara,” bisiknya. “Ibu tidak sadar kalau kamu memikul beban sebesar ini.”

Sejak hari itu, ibu menemaniku menjalani terapi. Namun proses itu membuka kenyataan lain.ibu pun menyimpan gangguan mental yang berakar dari trauma masa kecilnya.

Kami akhirnya duduk di ruang tunggu yang sama. Bukan lagi sebagai ibu dan anak yang saling melukai dalam diam, tetapi sebagai dua manusia yang sama-sama terluka dan ingin sembuh.

Kami belajar bersama. Belajar mengenali luka, menerima masa lalu, dan memahami bahwa meminta bantuan bukanlah aib. Penyembuhan tidak datang sekaligus. Ia hadir perlahan, melalui langkah-langkah kecil yang kami tempuh berdampingan.

Sunyi tidak sepenuhnya hilang. Ia masih datang sesekali. Namun kini kami tahu cara menghadapinya.
Kami tidak sembuh dalam semalam.
Tetapi kami sembuh bersama.

Dan di sanalah aku mengerti arti nya luka tidak harus diwariskan. Sunyi tidak harus diteruskan. Ia bisa dihentikan, ketika ada keberanian untuk menyembuhkan bersama.


Biodata penulis
Nama lengkap : Vindy Yanti
Prodi : Tadris bahasa Indonesia
Kampus : Universitas islam negeri siber syekh nurjati Cirebon





Posting Komentar untuk ""Ketika Sunyi Menjadi Anak" - Sebuah Cerpen Karya Vindy Yanti"

Kami menerima Kiriman Tulisan dari pembaca, Kirim naskah ke dengan subjek sesuai nama rubrik ke https://wa.me/+6282388859812 klik untuk langsung terhubung ke Whatsapp Kami.