AI, Asisten Guru Kuatkan Pembelajaran Perubahan Iklim di Kelas
Nama Penulis: Fatimah Azuhra, Ikfina Nawal Fatina, Eva Fadilah
Prodi/ Kampus: Pendidikan Biologi, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Background
Cuaca yang tidak menentu, suhu udara meningkat, curah hujan tinggi, banjir dan kekeringan yang lebih sering terjadi, apakah kalian juga merasakan hal yang sama? Hal ini terjadi bukan tanpa alasan, melainkan dampak dari perubahan iklim yang terjadi secara global termasuk Indonesia.
Lalu apa yang bisa kita lakukan?
Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan mengintegrasikan materi perubahan dan pelestarian lingkungan dalam pembelajaran di sekolah. Meskipun isu perubahan iklim ini bukanlah hal yang sepenuhnya abstrak dan bahkan dapat dirasakan langsung oleh peserta didik, isu ini masih memiliki tantangan tersendiri untuk dapat diajarkan secara kontekstual dalam pembelajaran di kelas.
Guru perlu membantu peserta didik untuk memahami bahwa pengalaman sehari-hari yang dirasakan, merupakan bagian dari proses ilmiah yang lebih luas dan menyeluruh di alam. Oleh karena itu, guru harus bisa menghubungkan pengalaman peserta didik dengan data iklim, menyajikannya melalui visual yang mudah dipahami, serta membangun diskusi kelas yang tidak hanya informatif, tetapi juga mendorong peserta didik untuk berpikir kritis dan reflektif. Terdengar cukup kompleks memang, namun saat ini guru bisa memaksimalkan pembelajaran berbasis iklim yang lebih kontekstual dan bermakna dengan memanfaatkan teknologi AI (Artificial Intelligence).
Introduction AI
Siapa yang tidak tahu AI? Teknologi yang dirancang untuk meniru kecerdasan manusia dalam melakukan aktivitas tertentu seperti eksplorasi data, membuat gambar dan video, serta pembuatan desain audio. AI bisa melakukan banyak hal loh! termasuk AI untuk membantu guru dalam merencanakan, mengolah, hingga menyajikan pembelajaran secara lebih efektif. Sehingga dengan ini AI, secara tidak langsung juga mengurangi beban kerja guru.
Tapi, bagaimana ya caranya agar guru bisa mendapatkan manfaat AI secara maksimal khususnya dalam materi perubahan iklim? Yuk, kita kenalan terkait Pemanfaatan AI dalam Climate Change Education.
Inti (Tools AI & Prompting)
Ada berbagai macam AI yang bisa digunakan guru untuk mendukung pembelajaran. Dalam merencanakan pembelajaran, guru dapat menggunakan Consensus, Perplexity, Gemini, Research Rabbit, dan Claude AI untuk mencari informasi, pengolah kata, menganalisis, hingga merangkum. Nah, untuk membuat konten pembelajarannya guru dapat menggunakan Gamma, Slides, Descript, Canva, dan Veed IO. Berbagai konten pembelajaran dapat dihasilkan dengan berbantuan alat tersebut, mulai dari membuat presentasi, pembelajaran grafis, hingga menyunting video. Sementara itu, untuk AI yang digunakan dalam proses asesmen pembelajaran diantaranya Gradescope, Formative AI, Autodraw, dan AI Quiz. Seluruh alat tersebut dapat membantu guru dalam proses penilaian tugas dan ujian peserta didik.
Eits, tapi seluruh AI tersebut tidak dapat menghasilkan hasil yang maksimal tanpa prompting yang sesuai. Prompting adalah input berbasis teks yang kita berikan untuk mengarahkan keluaran AI. Tiga komponen utama yang harus ada dalam pembuatan prompt diantaranya konteks, tujuan, dan perintah. Berikut langkah-langkah yang perlu diikuti dalam pembuatan prompt. Pertama, tentukan tujuan dengan jelas terkait apa yang ingin dihasilkan. Kemudian pastikan desain prompt memberikan penjelasan secara spesifik, sesuai konteks yang dibutuhkan, dan mengandung instruksi yang jelas. Langkah terakhir jalankan prompt yang telah dibuat dan analisis hasilnya.
Teknik prompting yang bisa kamu gunakan adalah Few-shot Learning, yaitu dengan memberikan contoh dalam prompt untuk memandu AI menghasilkan apa yang diinginkan. Teknik lain yaitu Chain-of-Thought Prompting dengan membagi tugas menjadi langkah-langkah lebih kecil dalam prompt untuk membantu model berpikir dan menyelesaikan masalah.
Inti (AI CCE)
Khusus di matei perubahan iklim, terdapat beberapa AI yang bisa digunakan agar pembelajaran yang kompleks menjadi lebih mudah dipahami dan bermakna. Pertama, PhET. PhET Interactive Simulations adalah simulasi interaktif gratis untuk mata pelajaran matematika dan sains. PhET didesain agar para pengguna dapat belajar lewat eksplorasi dalam lingkungan visual dinamis yang membuat konsep "tak terlihat" jadi tampak, serta interaksi interaktif. Melalui PhET, peserta didik akan mengeksplorasi terkait cahaya tampak dan inframerah yang hanya berbeda pada panjang gelombang dan energi serta jumlah gas rumah kaca yang dapat mengubah jalur cahaya masuk dan radiasi keluar. Dalam proses pembelajarannya, guru juga dapat menggunakan generative AI Chat GPT untuk pemicu, pengarah, dan pengaya pertanyaan peserta didik setelah eksperimen dilakukan. Chat GPT dapat berperan untuk memberikan pertanyaan pemantik yang mendorong siswa untuk membuat pertanyaan lebih lanjut.
Kedua, untuk mengetahui seberapa banyak jumlah karbon yang diproduksi dapat melalui ACTnow. Salah satu fitur utama yang disediakan dalam aplikasi ini adalah pengukuran jejak karbon tiap individu dan pemantauan kebiasaan sehari-hari. Tools AI selanjutnya yang dapat digunakan adalah iTree, yang dapat digunakan untuk mengukur nilai ekologis dari pohon di ruang terbuka hijau, sehingga melalui aplikasi ini dapat menghitung penyerapan karbon dan pengurangan emisi gas karbon. selanjutnya guru dapat memodifikasi desain pembelajaran dari data yang disediakan dan menggunakan bantuan AI lainnya seperti Chat GPT dan Perplexity untuk mempersilahkan siswa melakukan eksplorasi dan analisis yang lebih dalam serta melakukan fact-checking atas solusi yang ditemukan.
AI hadir tidak untuk mengancam dan menggantikan peran guru dalam pembelajaran tetapi sebagai asisten dan mitra mengajar untuk melakukan pembelajaran yang lebih efektif dan bermakna serta memperkuat peran pedagogis guru dalam isu kompleks seperti perubahan iklim.


Posting Komentar untuk "AI, Asisten Guru Kuatkan Pembelajaran Perubahan Iklim di Kelas"
Silahkan tinggalkan komentar untuk respon atau pertanyaan, kami akan balas secepat mungkin.