Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Pameran SeruSaru: Saat Eksperimen Seni Mahasiswa Bertemu Publik Nyata

Pameran SeruSaru: Saat Eksperimen Seni Mahasiswa Bertemu Publik Nyata

Batu, 22 November 2025 —Tidak semua pameran seni memberi ruang bagi ketidakpastian. Namun Pameran SeruSaru 2025 di Galeri Raos Batu justru menjadikan proses, risiko, dan ketidaknyamanan sebagai bagian penting dari pengalaman artistik. Digelar sebagai bagian dari pembelajaran kelas Seni Eksperimental, pameran ini menghadirkan karya-karya mahasiswa yang berani keluar dari zona aman dan menguji batas praktik seni mereka di hadapan publik.

Sejak hari pembukaan, ruang pamer dipenuhi pengunjung dengan latar belakang beragam. Tidak hanya pelaku seni, tetapi juga masyarakat umum yang datang dengan rasa ingin tahu. Di ruang ini, audiens tidak sekadar melihat karya, tetapi diajak membaca proses, merasakan atmosfer, dan terlibat dalam dialog yang dibuka oleh para perupa muda.

Kurator pameran, Daniela Benedicta, menyebut SeruSaru sebagai ruang kebebasan yang tetap terarah. Melalui konsep Escapade dan SeruSaru, mahasiswa diberi keleluasaan bereksperimen, namun tetap melalui proses kuratorial yang ketat. “Respons audiens sejauh ini sangat positif. Mereka bisa menangkap arah eksperimen yang ingin dibangun,” ujarnya. Menurutnya, proses panjang yang dijalani mahasiswa tercermin pada kekuatan presentasi karya di ruang pamer.

Foto 1. Pameran Seru Saru yang diselenggarakan di Galeri Raos Batu

Foto 2. Dari atas ke bawah, venue pameran seru saru

Bagi sebagian pengunjung, SeruSaru menjadi pengalaman pertama bersentuhan dengan seni eksperimental. Dwi, pengunjung asal Malang, mengaku awalnya tidak memiliki ekspektasi khusus. “Biasanya saya melihat pameran lukisan. Di sini beda, tapi tetap bisa dirasakan. Walaupun saya tidak terlalu paham seni, pesannya sampai,” katanya.

Apresiasi juga datang dari seniman rupa Tamtama Anoraga. Ia menilai mahasiswa cukup berani menampilkan karya eksperimental sebagai karya yang matang, bukan sekadar percobaan. “Eksperimental di sini tidak disempitkan pada satu medium. Karya-karyanya hadir sebagai produk jadi. Itu menunjukkan keberanian dalam berkarya,” ujarnya. Meski mencatat keterbatasan ruang pamer, ia menilai hal tersebut wajar sebagai bagian dari proses awal.

Dari balik layar, proses menuju pameran menjadi pengalaman belajar yang tidak kalah penting. Keisya, salah satu panitia, menyebut banyak karya berkembang jauh dari versi awalnya. “Banyak yang direvisi, bahkan diulang. Tapi justru dari situ hasil akhirnya jadi lebih solid,” tuturnya.

Dosen pengampu mata kuliah Seni Eksperimental, Mayang Anggrian, menegaskan bahwa SeruSaru bukan sekadar pameran akhir semester. “Ini ruang belajar di hadapan publik. Mahasiswa belajar menerima ketidakpastian, mendengar umpan balik langsung, dan memahami bahwa karya seni tumbuh melalui dialog dan kolaborasi,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa tantangan ke depan adalah menjaga kedalaman riset agar eksperimen tidak berhenti pada sensasi, melainkan berkembang sebagai posisi artistik yang matang. (Rahma)




Posting Komentar untuk "Pameran SeruSaru: Saat Eksperimen Seni Mahasiswa Bertemu Publik Nyata"

Kami menerima Kiriman Tulisan dari pembaca, Kirim naskah ke dengan subjek sesuai nama rubrik ke https://wa.me/+6282388859812 klik untuk langsung terhubung ke Whatsapp Kami.