Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Busana Adat Ukigh, Penanda Identitas Budaya Kuantan Singingi

Busana Adat Ukigh, Penanda Identitas Budaya Kuantan Singingi

Oleh : Diandra Salsabillah Faradiba, saya mahasiswa FKIP UIR 

Busana adat merupakan bagian penting dalam sistem budaya masyarakat Indonesia. Di Kabupaten Kuantan Singingi, Provinsi Riau, masyarakat Kenegerian Lubuk Jambi mengenal busana adat khas bernama Ukigh. Busana ini tidak hanya berfungsi sebagai penutup tubuh, tetapi juga menjadi penanda identitas, martabat, dan nilai adat yang diwariskan secara turun-temurun.

Ukigh lazim dikenakan oleh Bujang dan Dara Kuantan Singingi dalam berbagai kegiatan adat, seperti pertemuan lembaga adat, penyambutan tamu kehormatan, rapat besar adat, serta perayaan budaya, termasuk festival perahu baganduang. Kehadiran busana ini menegaskan pentingnya adat sebagai landasan dalam kehidupan sosial masyarakat setempat.

Secara visual, busana Ukigh didominasi warna hitam sebagai warna dasar. Dalam tradisi Melayu, warna hitam melambangkan kewibawaan, keteguhan sikap, serta kedalaman nilai moral. Warna tersebut merepresentasikan karakter masyarakat adat yang menjunjung tinggi kehormatan, etika, dan tanggung jawab sosial.

Busana Ukigh dipadukan dengan kain bermotif tradisional yang memiliki nilai estetika sekaligus simbolik. Ragam hias yang digunakan mencerminkan hubungan manusia dengan alam, keseimbangan hidup, serta penghormatan terhadap leluhur. Setiap motif dan aksesoris tidak dipilih secara sembarangan, melainkan mengandung makna yang berkaitan dengan filosofi adat Kuantan Singingi.

Pada busana perempuan (Dara), tampak hiasan kepala berbentuk kerucut berwarna cerah yang menjadi salah satu ciri khas utama. Hiasan kepala ini melambangkan keanggunan, kehormatan, dan kedudukan perempuan dalam struktur adat. Sementara itu, busana laki-laki (Bujang) tampil sederhana namun berwibawa, mencerminkan nilai kepemimpinan, ketegasan, serta sikap arif yang diharapkan dari seorang laki-laki adat.

Makna busana Ukigh tidak terlepas dari fungsi sosialnya. Dengan mengenakan busana adat, seseorang menunjukkan kepatuhan terhadap norma dan aturan adat yang berlaku. Busana ini sekaligus menjadi pengingat bahwa setiap individu memiliki tanggung jawab untuk menjaga keharmonisan dalam kehidupan bermasyarakat.

Di tengah arus modernisasi dan globalisasi, keberadaan busana adat Ukigh menghadapi tantangan perubahan selera dan gaya hidup. Meski demikian, masyarakat Kuantan Singingi terus berupaya melestarikannya melalui kegiatan adat, pendidikan budaya, serta pemanfaatan media digital. Media sosial kini menjadi salah satu sarana efektif untuk memperkenalkan busana Ukigh kepada generasi muda dan khalayak yang lebih luas.

Pelestarian busana adat Ukigh bukan semata upaya mempertahankan bentuk pakaian tradisional, melainkan menjaga nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya. Melalui busana ini, masyarakat Kuantan Singingi menegaskan bahwa adat istiadat tetap relevan sebagai pedoman hidup di tengah perubahan zaman.

Sebagai bagian dari kekayaan budaya nasional, busana adat Ukigh layak mendapat ruang dalam wacana kebudayaan Indonesia. Upaya dokumentasi dan publikasi yang berkelanjutan diharapkan dapat memperkuat kesadaran publik akan pentingnya menjaga dan menghargai warisan budaya lokal.




Posting Komentar untuk "Busana Adat Ukigh, Penanda Identitas Budaya Kuantan Singingi"

Kami menerima Kiriman Tulisan dari pembaca, Kirim naskah ke dengan subjek sesuai nama rubrik ke https://wa.me/+6282388859812 klik untuk langsung terhubung ke Whatsapp Kami.