Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Hati Bumi yang terluka: Alarm Bahaya dari Hutan Merauke Papua Selatan

setiap tanggal 22 april dunia memperingati hari bumi, ada yang merayakan dengan sosialisasi tentang lingkungan dan ada yang bersenang-senang merayakan hari bumi tetapi, berbeda dengan Papua, Pulau di ujung Timur Indonesia Terancam kehilangan Hutan Yang Sudah Menjadi Rumah bagi Masyarakat Adat di merauke.

Bapak prabowo subianto membuat kebijakan agar papua mulai menanam kelapa sawit untuk ketersediaanya swasembada energi, pernyataan tersebut disampaikan kepada aparat daerah papua di istana negara, jakarta selasa (16/12/2025) sore. “Nanti kita berharap di daerah papua pun harus ditanam kelapa sawit supaya bisa menghasilkan BBM dari kelapa sawit” ujar bapak prabowo.

Pernyataan bapak prabowo tentu menjadi langka awal kerusakan, munculnya kerusakan yang dialami oleh Masyarakat adat papua. Bukan hanya persoalan tentan hutan yang dibabat tetapi adat istiadat dan kehidupan masyarakat berada di ujung tanduk.

Tentu mereka sudah melawan perampasan lahan untuk mempertahankan tempat tinggal mereka, berbagai cara sudah dilakukan tetapi suara dan air mata mereka tidak didengar dan dilihat.

Hutan Papua buka sekedar hamparan Pohon, melainkan rumah bagi keanekaragaman hayati dan kehidupan Masyarakat adat. Namun kini, Perlahan hutan itu digantikan oleh barisan tanaman Industri yang mengubah wajah alam secara drastis.

Berpuluh-puluh tahun Masyarakat Papua Menjaga hutan, dan hidup dari hutan. Hutan adalah segalanya bagi Masyarakat, mereka Menggunakan hasil alam untuk bertahan hidup, dari obat-obatan sampai mencari makan hal ini memicu kekhawatiran Masyarakat, bencana besar secara tidak langsung sedang diPersiapkan.

proyek food estate yang membuka lahan di merauke sebesar 20 juta hektar dalam kurung waktu yang cepat membawa kekhawatiran akan bencana alam. Tentunya masyarakat sudah menentang proyek ini bagi mereka adanya proyek ini secara tidak langsung membunuh masyarakat dan keragaman hayati di dalamnya.

Selain itu proyek ini tidak membawa kesejahteraan bagi masyarakat, yang ada akibat dari deforestasi hutan yang besar membuat kerusakan iklim yang sudah dirasakan masyarakat. menurut ketua-ketua marga di merauke dari proyek ini juga terjadi perang saudara kesejahteraan mana yang mereka maksud apakah dengan melihat hutan yang sudah menyediakan segala nya rusak?

karena sampai detik ini tidak ada hasil yang mereka bilang sebagai kesejahteraan. Menurut masyarakat adat mereka bukan tidak mau adanya kemajuan di tanah mereka tetapi bukan seperti ini caranya bukan dengan merusak tanah mereka.

Polisi secara tidak sah membubarkan, memukuli, dan menahan 11 demonstran papua di kota merauke, papua selatan, pada 25 januari 2026, walaupun sudah diselidiki oleh pihak berwenang terkait masalah ini tapi tetap saja ini adalah bukti ketidak adanya ruang bagi masyarakat untuk menyuarakan hak-hak mereka.

masyarakat tidak menolak adanya perkembangan demi keuntungan bersama tetapi bagaimana mereka bisa didengar, masyarakat adat hanya ingin mereka bisa dihargai di atas tanah mereka sendiri bukan dengan cara kasar dan memaksa.

Solidaritas merauke mewakili masyarakat adat malind, makleuw, yei, dan himaima yang terdampak PSN tersebut, menyatakan menolak food estate di merauke.

“karena menimbulkan pelanggaran HAM serius, hak hidup orang asli papua dan kerusakan lingkungan hidup” kata Teddy Wakum, juru bicara solidaritas merauke, dalam surat kepada DPD tertanggal senin 2 desember 2024 ini membuktikan usaha masyarakat untuk menolak proyek food estate tapi bisa dilihat dari tahun ke tahun tidak ada perubahan yang diinginkan oleh masyarakat.

Masyarakat menolak perampasan tanah adat ini karena mengancam kelangsungan hidup mereka.

bukan hanya masyarakat yang mendapat dampak negatif dari adanya kebijakan ini tetapi seluruh satwa alam, hewan endemik Pun tak luput dari dampak kebijakan ini.

Hal ini tentunya menjadi pertanyaan apakah pembukaan lahan pertanian ini benar-benar akan membawa kebaikan bagi masyarakat lokal atau justru menyisakan dampak yang harus mereka tanggung dikemudian hari.

Hutan hujan tropis yang seharusnya dilindungi kini justru diambang kepunahan. ini bukan untuk Kesejahteraan Masyarakat tetapi keserakahan untuk mengeksploitasi hasil alam.

Aksi demi aksi penolakan dari masyarakat adat selalu dihiraukan suara-suara para masyarakat adat tidak di dengar, pembukaan lahan sebesar 20 juta hektar di buka tanpa ada kesepakatan dengan masyarakat adat.

Ini tentunya menjadi ancaman besar bagi papua yang sedang mengalami deforestasi besar besaran. Memang benar kebijakan ini akan menguntungkan negara dan daerah tetapi apa gunanya negara yang memiliki kekayaan BBM tetapi secara tidak langsung perlahan membuat kehancuran bagi negeri sendiri.

secara ekonomi dijanjikan akan menjamin kesejahteraan masyarakat, rakyat di janjikan akan membayar 100.000 per hektar kepada masyarakat adat, tetapi yang adanya justru hak-hak masyarakat tidak diadili dalam deforestasi.

tak cuma itu masyarakat ketakutan dengan aparat bersenjata yang bertugas menjaga keamanan daerah proyek. Ini tentu menjadi kegelisahan masyarakat, tidak ada kebebasan suara di sini hak-hak kami diambil tanpa menimbang keputusan kami.

Mereka seakan-akan dibungkam tidak ada yang ingin mendengar suara kami.

Dampak dari deforestasi hutan hujan

hutan menjadi bagian dari kehidupan, sederhana kita tidak bisa hidup tanpa oksigen benar?

tak luput dari penyogok oksigen, bagi alam akar dari satu pohon yang sudah hidup selama beribu-ribu tahun sangat mempengaruhi tanah intinya dari satu pohon sudah memberikan banyak manfaat.

Apalagi untuk papua selatan hutan sangat berarti bagi masyarakat, para masyarakat yang masih sangat kental menjalani keseharian di dalam hutan, mereka sangat menghormati hutan dan secara ekologi jika hutan mengalami deforestasi berlebihan tentu menjadi masalah jangka panjang.

dan sekarang saja sudah banyak perubahan iklim di merauke, kerusakan ekologi akibat hilangnya hutan di wilayah merauke papua selatan membawa dampak besar terhadap keseimbangan lingkungan.

Hutan hujan sebelumnya berfungsi sebagai penyerap air dan penyeimbang iklim kini tidak lagi mampu menjalankan perannya, sehingga memicu peningkatan suhu, perubahan pola hujan serta resiko bencana seperti banjir dan kekeringan.

Selain itu, tanah menjadi lebih rentan terhadap erosi dan kehilangan kesuburan, yang pada akhirnya merusak ekosistem secara keseluruhan.

Hilangnya hutan hujan juga berarti hilangnya habitat bagi berbagai satwa, yang berujung pada penurunan keanekaragaman hayati hingga ancaman kepunahan spesies endemik.

Disisi lain, dampak tersebut turut dirasakan oleh manusia, terutama masyarakat adat yang sangat bergantung pada hutan sebagai sumber kehidupan.

Kerusakan hutan menyebabkan hilangnya sumber pangan, obat-obatan alami, serta nilai budaya yang telah diwariskan secara turun temurun.

Tidak hanya itu, kondisi lingkungan yang memburuk juga meningkatkan resiko penyakit dan memperbesar potensi konflik lahan akibat perebutan sumber daya.

Dalam jangka panjang, kerusakan ekologi ini tidak hanya mengancam keberlanjutan lingkungan, tetapi juga memperlemah stabilitas sosial dan ekonomi masyarakat di papua selatan.

iklim yang semakin tidak bisa ditebak dan berubah-ubah tanpa tanda-tanda yang jelas.

Danau yang menjadi tempat penyaluran air bagi masyarakat kini sudah tidak layak dikonsumsi, hewan-hewan yang biasa diburu untuk mencari nafkah sudah tidak terlihat lagi, ini menjadi tanda kerusakkan yang sedang dialami tentu kejadian ini seharusnya menjadi perhatian bersama.

Yaa tidak ada salahnya membuka lahan untuk sawit, singkong, dan tebu tetapi harus mempertimbangkan faktor lain juga.

Ibaratnya untuk apa negara kaya dengan BBM kalau secara perlahan hidup bumi kita semakin pendek, sekarang banyak sekali bencana alam yang diakibatkan oleh perbuatan manusia.

Hal ini tentu menjadi pertanyaan tentang adakah hak masyarakat yang ikut di pertimbangkan oleh pemerintah jika hutan terakhir ini hilang, lalu apalagi yang harus kita jaga?.

Hutan papua bukan hanya milik generasi saat ini, tetapi juga warisan bagi masa depan.

Sebagai anak muda yang akan memimpin negara ini dikemudian hari, mari kita bersama-sama mencerna kebijakan yang akan membawa kita ke arah mana dengan menimbang-nimbang seluruh kemungkinan yang akan terjadi.

Tentu kita tidak bisa hanya melihat secara perlahan tempat kelahiran, tanah kita tercinta dirampas dan dirusak.

Oleh karena itu, setiap kebijakan yang berpotensi merusak hutan harus dipertimbangkan secara bijak agar pembangunan tidak mengorbankan keberlanjutan.


Siti Umayiro Patiran
Mahasiswa Universitas Padjajaran

Posting Komentar untuk "Hati Bumi yang terluka: Alarm Bahaya dari Hutan Merauke Papua Selatan"

Kami menerima Kiriman Tulisan dari pembaca, Kirim naskah ke dengan subjek sesuai nama rubrik ke https://wa.me/+6282388859812 klik untuk langsung terhubung ke Whatsapp Kami.