Cerpen "Kepunan Pucuk seminyak" Karya : Musyawir
KEPUNAN PUCUK SEMINYAK
Karya : Musyawir
Sejak kecil, Salbiah saban hari mendengar cerita kampung nenek moyang mereka keluarga sebelah ayahnya, yaitu Haji Husen tentang berbagai makanan khas dan uni kampung moyang mereka yang kini jarang orang tau dan tidak familiyar dikau muda. Dari semua cerita yang banyak itu, ada makanan khas selalu membuat salbiah terkilan, yaitu pucuk seminyak. Dalam cerita keluarga sebelah orang tuanya, pucuk seminyak ialah sayuran hutan yang memiliki cita rasa yang sangat khas. Apalagi digulai perencah ikan salai atau digumal dengan masakan masakan kampung lainnya, cita rasa mampu menggugah selera asal. Dahulu tumbuhan seminyak banyak tumbuh di sepanjang kaki hutan dan mudah ditemui masyarakat yang tinggal di sekitar hutan kampung yang dilewati aliran Batang Lubuh.
Cerita itu hanya menjadi pengetahuan
tersemat dalam ingatan bagi Salbiah, bulan berganti tahun saat ini Salbiah
mengandung anak pertama bauh pernikahannnya. Masa masa kehamilan muda itu,
entah mengapa bayangan pucuk seminyak berseligau terus terlintas seakan
mengelilingi di alam pikiran Salbiah. Seakan terniang ditelinganya dengan cerita
orang tua saudara tentang cita rasa sayuran tersebut pucuk seminyak saat di
gumal dengan ikan salai, semakin besar pula keinginannya untuk mencicipinya
dalam suasana kecey berat ataus
sedang mengidam.
"Takut kepunan, kalau tidak dapat" katanya kepada sang suami.
Masyarakat Melayu memiliki kepercayaan dan pengetahuan mendalam tentang keinginan yang dimiliki seorang ibu saat dalam masa kehamilan yang selalu disebut dengan Kecey atau Mengidam jika tidak tercapai kemauannya itu takut kepunan, kepunan bukan setakat terpenuhinya keinginan terhadap makanan tertentu. Kepunan sering dikaitkan dengan perasaan yang terus terbawa dalam hati sang ibu, terlebih bagi perempuan melayu yang sedang mengandung. Nampaknya keinginan Salbiah sudah tidak bisa ditahan lagi sekaan pucuk seminyak yang digumal bersama ikan salai sudah terhidang di depannya, akhirnya keluarga kecil sepakat melakukan perjalanan ke kampung halaman Haji Husen. Mereka semua berharap dapat menemukan pucuk seminyak yang dahulu begitu terkenal di daerah itu. Perjalanan menuju kampung berlangsung cukup panjang. Sepanjang jalan, Haji Husen banyak bercerita tentang masa mudanya.
"Dulu, sepanjang hutan di Batang Lubuh itu hutan masih rapat," katanya sambil menunjuk ke arah luar jendela kendaraan. "Kalau mencari pucuk seminyak tak perlu jauh jauh. Agak naik kedarat Di tepi sungai, di batas dan semak kebun, banyak tumbuh sendiri." Salbiah mendengarkan kisah dengan penuh harap.
Dalam alam pikirannya, kampung itu masih seperti yang diceritakan ayahnya. Hutan hijau yang lebat, sungai yang jernih, dan tumbuhan liar yang tumbuh subur tanpa perlu ditanam. Namun sesampainya di kampung, kenyataan yang mereka temui jauh berbeda. Hutan hutan yang dahulu menjadi tempat tumbuh berbagai tanaman liar kini telah banyak berubah. Hamparan kebun kelapa sawit membentang luas menggantikan sebagian besar tumbuhan flora lama. Jalan tanah nan asri yang dahulu dinaungi pepohonan kini terbuka dan terdedah dan nampak gersang.
Ayah Salbiah mulai bertanya kepada
penduduk setempat.
"Long masih ada yang menjual
pucuk seminyak?"
“Tontu uwang kini seminyak Ongah”
Orang orang menjawab dengan bahasa logat daerah. Ada yang mengatakan bahwa pucuk seminyak hanya orang saat tertentu saja mencarinya sehingga para penjual dipasar atau dikedai dikampung kampung jarang memesan dan menjual pucuk seminyak. Ada pula yang mengatakan tanaman itu masih ada, tetapi semakin sulit ditemukan dikarenakan faktor alam flora yang tumbuhan sudah berganti flora baru.
Selepas zuhur sampai ke petang menjelang azan magrib berkumandang, mereka berkeliling kampung. Mereka mendatangi pasar, kedai harian bertanya kepada orang kampung tempatan masih belum juga ada tanda seikat pucuk seminyak atau, bahkan sampai keluar masuk kebun di pinggir jalan menyusuri beberapa kawasan yang mungkin ditumbuhi semak belukar. Namun hasilnya tetap sama.
Dan akhirnya pucuk seminyak yang dikeceykan Salbiah tidak berhasil ditemukan. Salbiah mulai memahami bahwa kampung yang hidup dalam cerita ayahnya adalah kampung bernuansa puluhan tahun nan lalu. Kampung yang kaya dengan hasil hutan, tempat masyarakat hidup berdampingan dengan alam. Sementara kampung yang berdiri di hadapannya saat ini telah berubah mengikuti arus zaman dan perpacuan pertumbuhan ekonomi.
Di sebelah malam setelah pencarian yang panjang melelahkan, mereka duduk di depan rumah keluarga.
"Zaman sangat banyak mengubah sendi kehidupan" ujar Haji Husen perlahan.
Matanya memandang jauh ke arah kebun sawit yang membentang di kejauhan.
"Dulu kami mengais rezeki dari sungai dan sepetak dua lahan pertanian. Sekarang ini sangat luar biasa lahan terbentang sejauh mata memandang."
Salbiah hanya melepas senyum ringan. Meski rasa kecewa sebab tidak menemukan pucuk seminyak, ia memahami bahwa perubahan itu adalah bagian dari perjalanan sebuah kampung. Karena takut kepunan, ibunya kemudian mengingatkan sebuah petuah lama yang diwariskan oleh orang orang tua.
"Kalau sesuatu yang diinginkan tak ditemukan, jilatlah telapak tangan sambil berniat dalam hati. Mudah mudahan tidak kepunan."
Salbiah pun tersenyum. Dengan
perlahan ia menjilat telapak tangannya sendiri, sebuah simbol sederhana yang
telah lama hidup dalam tradisi masyarakat Melayu. Semua yang melihatnya tertawa
kecil. Bukan karena menganggapnya aneh, melainkan karena mereka sadar bahwa di
balik keinginan terhadap pucuk seminyak tersimpan sesuatu yang lebih besar,
yaitu rasa dan kerinduan Haji Husen terhadap alam kampung yang pernah ada.
Salbiah memang tidak berhasil membawa pulang pucuk seminyak. Namun ia membawa pulang cerita tentang perubahan zaman, tentang hutan yang berganti menjadi kebun, dan tentang kenangan yang tetap hidup dalam ingatan orang tua dan sanak saudaranya. Yang paling dirindukan bukanlah rasa sebuah makanan, melainkan dunia yang pernah melahirkannya. Pucuk seminyak mungkin tidak rezekinya Salbiah sehingga tidak ditemukan, tetapi kisah tentangnya akan tetap tumbuh dalam ingatan, seperti akar yang masih tersembunyi di bawah tanah meskipun hutannya telah lama berubah.
Kepenuhan, Batang Lubuh 27 Maret
2026
Moes BM lahir Desa Kembung Luar Bengkalis. Kampung depan selat Melaka. Alumni Sastra Daerah/Melayu Fakultas Ilmu Budaya dan Magister Pedagogi Universitas Lancang Kuning Pekanbaru Aktif di Komunitas Teater Matan Riau.

Posting Komentar untuk "Cerpen "Kepunan Pucuk seminyak" Karya : Musyawir"
Silahkan tinggalkan komentar untuk respon atau pertanyaan, kami akan balas secepat mungkin.