Generasi Digital dan Perpustakaan: Masih Relevankah?
Generasi Digital dan Perpustakaan: Masih Relevankah?
Oleh ibnu
habil mahasiswa semester 2 manajamen pendidikan
Di
tengah genggaman ponsel pintar yang nyaris tak pernah lepas dari tangan anak
muda, gedung perpustakaan dengan rak-rak buku berjajar rapi kerap dipandang
sebagai peninggalan masa lalu. Mengapa harus berjalan ke perpustakaan jika
Google, YouTube, dan Chat GPT bisa menjawab segala pertanyaan hanya dalam
hitungan detik? Pertanyaan ini wajar muncul, terutama ketika generasi yang
lahir dan besar bersama internet generasi digital native kini mendominasi
populasi pengguna informasi di Indonesia. Namun, benarkah perpustakaan sudah
kehilangan tempatnya?
Minat
Baca yang Justru Menanjak
Data
resmi justru bercerita sebaliknya. Badan Pusat Statistik bersama Perpustakaan
Nasional RI mencatat Tingkat Kegemaran Membaca (TGM) masyarakat Indonesia terus
merangkak naik dalam lima tahun terakhir: dari 55,74 pada 2020, menjadi 59,52
(2021), 63,90 (2022), 66,77 (2023), hingga mencapai 72,44 pada 2024 angka
tertinggi dalam satu dekade terakhir berdasarkan survei nasional yang
melibatkan ratusan ribu responden di puluhan provinsi (BPS & Perpusnas,
2024; GoodStats, 2025). Yang menarik, generasi muda justru disebut sebagai
penyumbang terbesar tren kenaikan ini (GoodStats, 2025).
Perpusnas
juga melaporkan lonjakan signifikan pada pemanfaatan layanan digitalnya
pasca-pandemi, dengan lebih dari 30 juta akses daring melalui aplikasi seperti
iPusnas, Khastara, dan Indonesia OneSearch (Perpusnas RI, 2025). Jumlah unit
perpustakaan di seluruh Indonesia pun terus bertambah, mencapai 219.415 unit
pada 2024, meski distribusinya masih timpang dan terpusat di Pulau Jawa
(Perpusnas RI, 2025).
Meski
demikian, optimisme ini perlu dilihat secara berimbang. Sejumlah laporan
internasional, termasuk dari UNESCO dan PISA-OECD, masih menempatkan literasi
membaca Indonesia pada peringkat yang relatif rendah secara global, dan survei
CEOWORLD Magazine (2024) mencatat rata-rata masyarakat Indonesia hanya membaca
sekitar 5,91 buku per tahun peringkat ketiga di Asia Tenggara, di bawah
Singapura dan Malaysia (dikutip dalam Malline, 2025).
Perpustakaan
yang Berubah Wajah
Para
peneliti di bidang ilmu perpustakaan dan informasi sepakat bahwa relevansi
perpustakaan di era digital bukan soal bertahan dengan cara lama, melainkan
soal kemampuan beradaptasi. Sebuah kajian di Universitas Riau menemukan bahwa
perpustakaan perlu mengintegrasikan koleksi e-book, basis data digital, dan
layanan daring agar tetap relevan bagi Generasi Z, sekaligus menghadirkan
program literasi digital yang meningkatkan kecakapan teknologi informasi
penggunanya (Susilo, Satinem, & Sarkowi, 2024).
Transformasi
ini juga terlihat dari pergeseran fungsi ruang fisik perpustakaan. Sejumlah
perpustakaan perguruan tinggi kini mengusung konsep "ruang ketiga" (third
place) istilah yang dipopulerkan sosiolog Ray Oldenburg untuk menjadikan
perpustakaan bukan sekadar gudang buku yang sunyi dan kaku, melainkan pusat
interaksi sosial, kolaborasi, dan pengembangan diri mahasiswa, lengkap dengan
integrasi kedai kopi dan ruang diskusi (Gunawan, 2023; Candra, 2024).
Pergeseran dari reading center menuju learning center yang
kolaboratif ini dinilai menjadi standar baru pengembangan perpustakaan kampus
di Indonesia (Setiawan, 2024).
Di
sisi lain, peran pustakawan turut bergeser. Mereka tidak lagi sekadar penjaga
rak buku, melainkan fasilitator dan navigator informasi yang membantu pengguna
menyaring kredibilitas data di tengah banjir informasi digital sebuah
kompetensi yang semakin krusial mengingat derasnya arus misinformasi di media
sosial (Setyawan dkk., 2025; Putrayasa dkk., 2024).
Tantangan
yang Belum Selesai
Bukan
berarti jalan transformasi ini mulus. Sebuah kajian literatur terhadap
perpustakaan perguruan tinggi mencatat bahwa platform seperti Google,
Wikipedia, dan layanan e-book komersial menawarkan kecepatan dan kemudahan
akses yang membuat sebagian pengguna beralih dari perpustakaan konvensional,
memaksa institusi ini untuk terus memperbarui koleksi elektronik dan teknologi
layanannya agar tidak tertinggal (penelitian literatur 2020–2025 berbasis
kerangka IFLA, dikutip dalam ResearchGate, 2025).
Riset
lain juga menyoroti kecenderungan generasi muda mengonsumsi konten singkat dan
ringan di media sosial, yang di satu sisi memperluas akses literasi tetapi di
sisi lain berisiko menggerus kebiasaan membaca teks panjang secara mendalam
(Anhar dkk., 2024; Amalyah, 2024). Ketimpangan infrastruktur juga menjadi
pekerjaan rumah besar lebih dari separuh perpustakaan di Indonesia masih
terkonsentrasi di Jawa dan Sumatera, sementara wilayah timur seperti Papua dan
Maluku jauh tertinggal dari segi jumlah maupun kualitas layanan (Perpusnas RI,
2025).
Bukan
soal Bertahan, tapi Beradaptasi
Pertanyaan
"masih relevankah perpustakaan?" mungkin sejak awal kurang tepat
diajukan. Pertanyaan yang lebih relevan adalah: perpustakaan seperti apa yang
dibutuhkan generasi digital hari ini? Data dan riset lima tahun terakhir
menunjukkan jawabannya bukan pada mempertahankan model lama, melainkan pada
keberanian bertransformasi menggabungkan koleksi fisik dengan layanan digital,
menjadikan ruang baca sebagai ruang sosial, dan memposisikan pustakawan sebagai
pemandu literasi informasi di tengah lautan data yang kian deras.
Selama
transformasi itu terus berjalan, perpustakaan tidak sedang sekarat. Ia sedang
menulis ulang perannya untuk generasi yang tumbuh bersama layar bukan sebagai
pesaing teknologi, melainkan sebagai mitra yang menjaga agar kecepatan akses
informasi tidak mengorbankan kedalaman pemahaman.
Referensi
- Badan Pusat Statistik &
Perpustakaan Nasional RI. (2024). Survei Tingkat Kegemaran Membaca
Masyarakat 2024. Jakarta: BPS–Perpusnas.
- GoodStats. (2024, Oktober). Minat
Baca di Indonesia Naik, Perpusnas Pasang Target Ambisius pada 2024.
data.goodstats.id.
- GoodStats. (2025, Oktober). Minat
Baca Masyarakat Indonesia Meningkat! Gen Z Penyumbang Terbesar.
at-grc.com.
- Malline. (2025, Maret). Minat
Baca di Indonesia: Antara Optimisme Data Nasional dan Realitas Peringkat
Global. malline.id.
- Perpustakaan Nasional RI.
(2025, Oktober). Perpusnas Genjot Peningkatan Budaya Baca dan Literasi
melalui Program Inklusi dan Digitalisasi. perpusnas.go.id.
- Susilo, A., Satinem, Y., &
Sarkowi, S. (2024). Analisis Perpustakaan sebagai Sumber Literasi Generasi
Z di Era Digital. Tsaqifa Nusantara: Jurnal Pembelajaran dan Isu-Isu
Sosial, 3(2), 130–138. https://doi.org/10.24014/tsaqifa.v3i2.32368
- Vitriana, N. (2024).
Transformasi Perpustakaan di Era Digital Native. Librarium: Library and
Information Science Journal, 1(1), 59–69.
https://doi.org/10.53088/librarium.v1i1.693
- Gunawan, R. (2023).
Perpustakaan sebagai Ruang Interaksi Sosial Mahasiswa. Jurnal Ilmu
Sosial.
- Eksplorasi Peran Perpustakaan
sebagai Ruang Ketiga dalam Konstruksi Identitas Akademik Mahasiswa
Generasi Z.
(2024/2026). At-Tarbiyah: Jurnal Penelitian dan Pendidikan Agama Islam.
- Analisis Tantangan dan Peluang
yang Dihadapi Perpustakaan di Era Digital (kajian literatur 2020–2025 berbasis kerangka IFLA).
(2025). ResearchGate.
- Revitalisasi Literasi di Era
Digital: Peran Generasi Z dalam Gerakan Literasi Masyarakat. (2025). Vol. 5, No. 2, hlm.
310–326.
- CEOWORLD Magazine. (2024). Global
Reading Habits Ranking, sebagaimana dikutip dalam Malline (2025).
Posting Komentar untuk "Generasi Digital dan Perpustakaan: Masih Relevankah?"
Silahkan tinggalkan komentar untuk respon atau pertanyaan, kami akan balas secepat mungkin.