PENGARUH BAHASA GEN ALPHA TERHADAP CARA KOMUNIKASI DI ERA DIGITAL
PENGARUH BAHASA GEN ALPHA TERHADAP CARA KOMUNIKASI
DI ERliA DIGITAL
Atifah Subiyah Anzani¹, Nurul
Salma Choria², Satil Ramadhani³, Ihtifa Aswar4, Yusuf Maulana Ichsan5,
Wulan Azizah Salwa6, Valdo Berthano Ardiansyah7, Agile
Fatwa8
1Program Studi D3 Keuangan dan Perbankan, 2,3,4,5,6Program Studi D3 Manajemen Pemasaran, 7,8Program Studi Administrasi Perkantoran, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas
Andalas
Email:
2500512006_ihtifa@student.unand.ac.id
|
ABSTRAK Perkembangan
teknologi dan media sosial telah memunculkan berbagai istilah serta bentuk
bahasa baru yang banyak digunakan oleh Generasi Alpha dalam komunikasi
digital. Fenomena ini memengaruhi pola komunikasi masyarakat, khususnya
generasi muda, baik dalam interaksi sehari-hari maupun di media sosial.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pemahaman, frekuensi
penggunaan, tingkat ketertarikan, serta dampak penggunaan bahasa Generasi
Alpha terhadap cara berkomunikasi mahasiswa di era digital. Penelitian
menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan deskriptif melalui
penyebaran kuesioner daring kepada 60 mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Andalas sebagai responden. Data yang diperoleh dianalisis
menggunakan teknik deskriptif kuantitatif dalam bentuk persentase dan
disajikan melalui tabel maupun diagram. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
penggunaan istilah viral, singkatan, dan kosakata populer dari media sosial
telah menjadi bagian dari gaya komunikasi mahasiswa. Media sosial, terutama
TikTok, berperan besar dalam penyebaran bahasa tersebut. Meskipun demikian,
penggunaan bahasa Generasi Alpha lebih tepat digunakan dalam situasi
nonformal karena berpotensi menimbulkan kesalahpahaman dalam komunikasi
resmi. Kata Kunci: bahasa Generasi Alpha; komunikasi digital;
media sosial; mahasiswa; bahasa viral. |
1. PENDAHULUAN
Perkembangan teknologi digital
telah membawa perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk
dalam cara berkomunikasi. Kehadiran internet, media sosial, aplikasi pesan
instan, serta berbagai platform digital lainnya memungkinkan masyarakat untuk
berinteraksi dengan lebih cepat dan tanpa batas ruang maupun waktu. Perubahan
ini juga memengaruhi penggunaan bahasa, terutama di kalangan generasi muda yang
tumbuh dan berkembang di tengah kemajuan teknologi digital. Generasi Alpha
merupakan generasi yang lahir sekitar tahun 2010 hingga 2025 dan dikenal
sebagai generasi yang sejak kecil telah akrab dengan teknologi digital. Mereka
menggunakan gawai, media sosial, permainan daring, dan berbagai aplikasi
komunikasi sebagai bagian dari aktivitas sehari-hari. Kondisi tersebut
menyebabkan munculnya berbagai bentuk bahasa baru yang digunakan dalam
komunikasi digital. Kondisi tersebut menyebabkan munculnya berbagai bentuk
bahasa baru yang digunakan dalam komunikasi digital. Bahasa tersebut umumnya
berupa singkatan, istilah populer, kosakata serapan dari bahasa asing, serta
ungkapan yang berkembang melalui media sosial. Penggunaan bahasa Gen Alpha
semakin menarik untuk dikaji karena memberikan pengaruh terhadap pola
komunikasi masyarakat. Bahasa yang mereka gunakan cenderung lebih singkat,
kreatif, dan mengikuti tren yang sedang berkembang di dunia digital. Di satu
sisi, penggunaan bahasa tersebut dapat mempermudah komunikasi dan mempererat
hubungan sosial antargenerasi yang memiliki kesamaan lingkungan digital. Namun,
di sisi lain, penggunaan bahasa yang terlalu sering dapat menyebabkan
kesalahpahaman komunikasi, menurunkan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan
benar, serta menciptakan kesenjangan komunikasi dengan generasi yang lebih tua.
Fenomena ini menunjukkan bahwa perkembangan bahasa tidak dapat dipisahkan dari
perkembangan teknologi dan perubahan sosial masyarakat. Oleh karena itu,
diperlukan pemahaman yang lebih mendalam mengenai pengaruh bahasa Gen Alpha
terhadap cara berkomunikasi di era digital agar penggunaan bahasa tetap efektif
tanpa mengabaikan kaidah bahasa yang berlaku.
Perkembangan media sosial saat ini
telah mengubah cara anak-anak muda dalam berbicara dan bertukar pesan. Salah
satu bentuk perubahan yang paling nyata adalah munculnya ragam bahasa generasi
alfa, yaitu penggunaan kata-kata baru, singkatan, dan istilah populer yang
lahir dari dunia internet. Istilah-istilah ini sangat mudah ditemukan dalam
tayangan video di TikTok, Instagram, YouTube, permainan komputer (game
online), serta aplikasi pesan singkat. Contoh kata-kata yang sering dipakai
oleh anak muda saat ini antara lain cringe, healing, random,
rizz, NPC, delulu, sigma, dan skibidi.
Kalimat atau kata khusus tersebut biasanya digunakan untuk mengungkapkan
perasaan, pendapat, candaan, atau tanggapan terhadap sesuatu dengan cara yang
lebih pendek dan terasa seru. Ragam bahasa baru ini sangat menarik untuk
dipelajari karena pemakaiannya sudah semakin sering didengar dalam obrolan
sehari-hari. Meski demikian, kenyataannya belum semua orang mengerti arti dari
kata-kata tersebut. Anak-anak muda yang setiap hari bermain media sosial tentu
lebih mudah paham karena mereka sering melihat istilah itu di dunia digital.
Sebaliknya, kelompok orang yang jarang membuka media sosial, seperti sebagian
orang tua atau guru, sering kali merasa kebingungan untuk mengartikan maksud
dari bahasa anak muda ini. Perbedaan tingkat pemahaman inilah yang sering kali
memicu terjadinya salah paham saat mereka sedang berbicara satu sama lain. Di
samping masalah pemahaman, tingkat seringnya pemakaian bahasa generasi alfa ini
juga penting untuk diperhatikan. Tidak semua orang yang bermain media sosial
menggunakan istilah internet ini dengan cara yang sama. Ada sebagian anak muda
yang memakai bahasa baru tersebut hampir setiap hari, baik saat mengobrol
langsung, menulis komentar, maupun membuat unggahan di akun mereka. Namun, ada
juga orang yang hanya sekadar tahu beberapa kata tanpa pernah berniat untuk
ikut menggunakannya. Oleh karena itu, penting untuk diteliti seberapa sering
sebenarnya masyarakat, khususnya generasi muda, memakai bahasa internet ini
dalam kehidupan nyata mereka. Masalah lain yang perlu dilihat adalah seberapa
besar rasa suka atau ketertarikan masyarakat terhadap bahasa generasi alfa ini.
Sebagian orang mungkin merasa sangat tertarik memakai istilah tersebut karena
dirasa lucu, modern, praktis, dan bisa membuat suasana obrolan menjadi lebih
akrab serta santai. Namun, sebagian orang lainnya bisa jadi sama sekali tidak
tertarik. Alasan mereka adalah karena bahasa baru ini dianggap membingungkan,
terlalu cepat berganti dengan kata-kata baru lainnya, serta tidak sopan jika
dipakai dalam acara resmi. Rasa suka atau tidak suka inilah yang nantinya akan
memengaruhi seberapa sering seseorang mau belajar memahami dan menggunakan
bahasa tersebut. Melihat berbagai masalah yang ada, penelitian mengenai bahasa
generasi alfa ini menjadi sangat penting untuk dilakukan. Penelitian ini
bertujuan untuk mengukur tingkat kemudahan masyarakat dalam mengerti bahasa
internet, seberapa sering bahasa tersebut dipakai dalam kehidupan sehari-hari,
serta seberapa besar rasa tertarik masyarakat terhadap tren bahasa baru ini.
Melalui hasil penelitian ini, diharapkan masyarakat bisa mendapatkan gambaran
yang jelas mengenai bagaimana bahasa anak muda terus berkembang dan memengaruhi
cara berkomunikasi di zaman digital sekarang ini.
Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui penggunaan bahasa generasi alfa di kalangan anak muda, khususnya
dalam komunikasi melalui media sosial dan kehidupan sehari-hari. Adapun tujuan
khusus dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
- Mengetahui
tingkat kemudahan masyarakat dalam mengerti arti dari istilah-istilah
bahasa generasi alfa.
- Mengetahui
seberapa sering masyarakat, khususnya generasi muda, memakai bahasa
generasi alfa dalam percakapan sehari-hari dan media sosial.
- Mengetahui
tingkat rasa suka atau ketertarikan masyarakat terhadap penggunaan bahasa
generasi alfa.
- Mencari
tahu alasan-alasan yang membuat generasi muda memilih menggunakan bahasa
generasi alfa saat berbicara.
- Mengetahui
dampak penggunaan bahasa generasi alfa terhadap cara berkomunikasi anak
muda serta pemakaian bahasa Indonesia dalam situasi resmi maupun santai.
2. METODE
PENELITIAN
Penelitian ini menerapkan metode
kuantitatif dengan pendekatan deskriptif. Metode kuantitatif dipilih karena
data penelitian berwujud angka yang diperoleh dari jawaban responden lewat
kuesioner. Data tersebut lalu diolah untuk menggambarkan penggunaan bahasa
generasi Alpha serta dampaknya terhadap cara berkomunikasi mahasiswa di zaman
digital.
Jenis penelitian yang digunakan
yaitu penelitian survei. Cara ini dilakukan dengan mengumpulkan keterangan dari
para responden melalui daftar pertanyaan dalam kuesioner. Lewat cara ini,
peneliti bisa mengetahui pandangan, pengalaman, dan kebiasaan mahasiswa saat
memakai bahasa generasi Alpha dalam interaksi di media sosial maupun di
kehidupan sehari-hari.
Subjek penelitian ini adalah
mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Andalas. Kelompok tersebut
dipilih karena sangat aktif menggunakan media sosial dan kerap bersentuhan
dengan bahasa generasi Alpha dalam komunikasi digital. Sementara itu, objek
penelitian ini difokuskan pada penggunaan bahasa generasi Alpha serta
pengaruhnya bagi cara berkomunikasi mahasiswa di era digital.
Cara mengumpulkan data dilakukan
dengan membagikan kuesioner daring (online) kepada mahasiswa Fakultas Ekonomi
dan Bisnis Universitas Andalas. Lembar kuesioner tersebut memuat pertanyaan
seputar pemahaman responden, tingkat keseringan memakai bahasa tersebut,
ketertarikan mereka, hingga dampaknya terhadap pola komunikasi di masa digital.
Kuesioner daring dipilih karena dinilai lebih efisien, mudah disebarkan, serta
gampang diakses lewat gawai digital.
Data dari hasil kuesioner dianalisis
memakai teknik deskriptif kuantitatif. Langkah analisis dimulai dengan memilah
jawaban, menghitung jumlahnya, lalu mengubah data tersebut menjadi bentuk
persentase. Agar lebih mudah dipahami, hasil olah data disajikan dalam wujud
tabel, diagram, atau grafik. Hasil pengolahan ini menjadi dasar bagi peneliti
untuk menarik kesimpulan mengenai pengaruh bahasa generasi Alpha terhadap cara
berkomunikasi mahasiswa.
2.1 Lokasi Penelitian
1. Lokasi Penelitian
Penelitian ini ditujukan kepada
mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Andalas di Kota Padang,
Sumatera Barat. Berhubung pengumpulan data memakai kuesioner daring, para
responden dapat mengisi instrumen tersebut dari tempat tinggal masing-masing.
2. Waktu Penelitian
Penelitian ini dilangsungkan dengan rentang waktu 4
hai yaitu pada tanggal 6-9 Juni 2026. Pada tanggal tersebut, peneliti
menyebarkan kuesioner daring kepada mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Andalas selaku responden penelitian.
2.2 Tahap Pelaksanaan Penelitian
1. Tahap Persiapan
Peneliti memulainya dengan menetapkan topik dan judul
tentang pengaruh bahasa generasi Alpha terhadap komunikasi di era digital.
Selanjutnya, peneliti merumuskan masalah, menentukan tujuan, serta mengumpulkan
bahan rujukan terkait bahasa generasi Alpha, komunikasi digital, dan metode
kuantitatif. Langkah terakhir pada tahap ini adalah menyusun instrumen
kuesioner daring yang memuat pertanyaan sesuai tujuan penelitian.
2. Tahap Pengumpulan Data
Peneliti membagikan tautan kuesioner daring kepada
mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Andalas. Mahasiswa diminta
mengisi kuesioner sesuai dengan pengalaman serta pandangan pribadi mereka
mengenai penggunaan bahasa generasi Alpha. Seluruh jawaban yang masuk kemudian
dihimpun menjadi data utama penelitian.
3. Tahap Pengolahan dan Analisis Data
Setelah data terkumpul, peneliti memilah jawaban
responden berdasarkan kelompok pertanyaannya. Jawaban tersebut dihitung
jumlahnya dan diubah ke dalam bentuk persentase, tabel, atau diagram. Data lalu
dibedah dengan teknik deskriptif kuantitatif untuk melihat gambaran umum serta
dampak penggunaan bahasa generasi Alpha bagi komunikasi mahasiswa.
4. Tahap Penyusunan Laporan
Langkah paling akhir adalah menyusun laporan
penelitian. Laporan ini ditulis berdasarkan data otentik yang telah dianalisis
sebelumnya. Isi laporan mencakup hasil temuan, pembahasan mendalam, kesimpulan,
serta saran mengenai pengaruh bahasa generasi Alpha terhadap gaya komunikasi
mahasiswa di era digital.
3. HASIL DAN
PEMBAHASAN
3.1 Hasil
Penelitian
Penelitian ini dilakukan untuk
mengetahui pemakaian bahasa generasi Alpha serta dampaknya terhadap cara
berkomunikasi mahasiswa di zaman digital. Data dalam penelitian ini dikumpulkan
melalui penyebaran kuesioner daring kepada 60 responden. Responden tersebut
terdiri dari 39 perempuan dan 21 laki-laki yang sebagian besar merupakan
mahasiswa angkatan 2025 dari berbagai program studi. Berdasarkan hasil
kuesioner, TikTok menjadi media sosial yang paling sering digunakan oleh
responden. Sebanyak 17 responden menyatakan paling sering membuka TikTok,
sementara responden lain menggunakan TikTok bersamaan dengan Instagram,
WhatsApp, Telegram, atau X. Hal ini menunjukkan bahwa TikTok sangat dominan
digunakan dan berpotensi besar menjadi wadah penyebaran istilah atau bahasa
generasi Alpha.
Mengenai penggunaan bahasa generasi
Alpha dalam percakapan sehari-hari, sebanyak 25 responden memilih jawaban
netral. Selanjutnya, 12 responden menyatakan setuju dan 7 responden sangat
setuju bahwa mereka sering memakai bahasa tersebut dalam obrolan harian. Di
sisi lain, terdapat 13 responden tidak setuju dan 3 responden sangat tidak
setuju. Hasil ini menandakan bahwa tidak semua responden aktif menggunakan
bahasa generasi Alpha dalam komunikasi sehari-hari, tetapi sebagian dari mereka
sudah mulai menggunakannya. Meskipun demikian, penggunaan istilah yang sedang
viral dari media sosial tercatat cukup tinggi. Sebanyak 30 responden setuju dan
12 responden sangat setuju bahwa mereka menggunakan istilah viral dari
internet. Dengan kata lain, ada 42 responden atau sekitar 70% yang cenderung
menggunakan istilah viral saat berkomunikasi. Hanya 2 responden yang tidak
setuju, sedangkan 16 responden memilih jawaban netral.
Selain istilah viral, kebiasaan
menggunakan singkatan atau kata populer saat bertukar pesan digital juga sering
dilakukan. Sebanyak 28 responden setuju dan 13 responden sangat setuju bahwa
mereka kerap menyingkat kata ketika mengobrol lewat teks. Artinya, terdapat 41
responden atau sekitar 68,3% yang terbiasa memakai singkatan dan kata populer
dalam komunikasi digital mereka. Konten media sosial juga terbukti kuat
memengaruhi kosakata harian mahasiswa. Hal ini didukung oleh 28 responden yang
menyatakan setuju dan 14 responden sangat setuju bahwa tontonan di internet
mengubah kosakata mereka. Secara total, ada 42 responden atau 70% yang
merasakan pengaruh tersebut. Ditambah lagi, sebanyak 28 responden setuju dan 11
responden sangat setuju bahwa mereka selalu mengikuti tren bahasa yang sedang
viral di internet. Data tersebut membuktikan bahwa media sosial punya peran
besar dalam mengenalkan kosakata baru kepada mahasiswa.
Terkait tingkat pemahaman dalam
berkomunikasi, sebanyak 26 responden memilih jawaban netral terhadap pernyataan
bahwa bahasa generasi Alpha membuat pesan digital lebih cepat dimengerti.
Sementara itu, 14 responden menyatakan setuju, 6 responden sangat setuju, 11
responden tidak setuju, dan 3 responden sangat tidak setuju. Hasil yang hampir
mirip juga terlihat saat responden ditanya apakah mereka lebih mudah memahami
teman sebaya yang berbicara menggunakan bahasa generasi Alpha. Sebanyak 33
responden memilih jawaban netral, 11 responden setuju, dan 4 responden
menyatakan sangat setuju.
Mengenai daya tarik bahasa tersebut,
sebanyak 20 responden setuju dan 4 responden sangat setuju bahwa bahasa
generasi Alpha membuat komunikasi menjadi lebih menarik, walaupun 28 responden
lainnya lebih memilih jawaban netral. Di sisi lain, tingkat rasa percaya diri
mahasiswa dalam menggunakan bahasa generasi Alpha di media sosial menunjukkan
bahwa sebagian besar responden memilih netral, yaitu sebanyak 30 orang. Hanya
ada 11 responden yang setuju dan 3 responden sangat setuju, sedangkan 16
responden sisanya menyatakan tidak setuju atau sangat tidak setuju. Secara
keseluruhan, sebanyak 26 responden setuju dan 4 responden sangat setuju bahwa
penggunaan bahasa generasi Alpha sudah menjadi bagian dari gaya komunikasi
generasi muda saat ini. Sebanyak 24 responden memilih netral, dan hanya 6
responden yang tidak setuju. Hasil akhir ini menunjukkan bahwa bahasa generasi
Alpha mulai dikenal luas dan melekat dalam dunia komunikasi digital anak muda.
3.2 Pembahasan
Seringnya pemakaian istilah viral
dan singkatan membuktikan bahwa mahasiswa lebih menyukai bahasa yang praktis,
ringkas, dan sesuai dengan tren digital. Sebanyak 70% responden mengaku memakai
istilah viral dari media sosial, dan sekitar 68,3% responden sering menggunakan
singkatan atau kata populer saat berkirim pesan. Hasil ini menandakan bahwa
bahasa generasi Alpha lebih banyak dipakai dalam komunikasi santai, terutama
saat mahasiswa mengobrol lewat media sosial dan aplikasi pesan.
TikTok yang menjadi media sosial
paling populer juga menjadi penyebab utama munculnya bahasa generasi Alpha.
TikTok penuh dengan konten pendek, tren, dan istilah baru yang mudah ditiru
oleh pengguna. Ketika sebuah kata menjadi viral di TikTok, mahasiswa dengan
cepat menirunya dalam percakapan sehari-hari. Hal ini membuktikan bahwa media
sosial tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga menjadi wadah
lahirnya ragam bahasa baru.
Pengaruh media sosial terhadap bahasa sehari-hari juga
diperkuat oleh data bahwa 70% responden merasa kosakata mereka berubah karena
konten internet. Temuan ini menjelaskan bahwa bahasa di media sosial bisa masuk
ke dalam kebiasaan berbicara mahasiswa. Kata-kata yang awalnya hanya ada di
video atau kolom komentar kini beralih menjadi bahasa obrolan dengan teman
sebaya. Fenomena ini sesuai dengan sifat bahasa yang dinamis, yaitu selalu
berubah mengikuti perkembangan zaman dan lingkungan.
Meski begitu, hasil penelitian
menunjukkan bahwa bahasa generasi Alpha tidak selalu membuat komunikasi menjadi
lebih mudah dimengerti. Banyak responden yang memilih jawaban ragu-ragu atau
netral terkait kemudahan memahami bahasa ini. Hal tersebut terjadi karena
tingkat pemahaman setiap mahasiswa berbeda-beda. Mahasiswa yang aktif di dunia
digital akan lebih mudah paham, sedangkan mahasiswa yang jarang membuka media
sosial bisa merasa bingung dengan singkatan atau istilah asing tersebut.
Kenyataan ini menunjukkan bahwa
bahasa generasi Alpha memiliki dampak baik dan buruk. Pada satu sisi, bahasa
ini membuat obrolan terasa lebih akrab, seru, dan santai di lingkungan
pertemanan. Namun di sisi lain, bahasa ini bisa memicu salah paham jika orang
yang diajak bicara tidak mengerti artinya. Oleh karena itu, pemakaian bahasa
generasi Alpha harus disesuaikan dengan tempat dan orang yang diajak bicara
agar pesan tetap tersampaikan dengan tepat.
Di samping itu, tidak semua
mahasiswa merasa percaya diri menggunakan bahasa generasi Alpha di media
sosial, yang dibuktikan dengan banyaknya pilihan jawaban netral. Hal ini
menandakan bahwa meski bahasa tersebut sedang populer, tidak semua mahasiswa
suka memakainya. Sebagian mahasiswa tampaknya lebih nyaman menggunakan bahasa
yang umum, jelas, dan mudah dipahami oleh semua kalangan.
Secara keseluruhan, bahasa generasi
Alpha terbukti telah menjadi bagian dari gaya bicara anak muda di masa digital.
Penyebaran bahasa ini sangat dipengaruhi oleh media sosial melalui istilah
viral, singkatan, dan kata-kata populer. Namun, bahasa generasi Alpha hanya
cocok digunakan untuk situasi santai atau tidak resmi. Dalam situasi resmi,
seperti saat menulis tugas kuliah, presentasi, atau berbicara dengan dosen,
penggunaan bahasa Indonesia yang baku harus tetap diutamakan agar pesan
tersampaikan dengan jelas dan sopan.
4. SIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa bahasa Generasi
Alpha telah menjadi bagian dari pola komunikasi mahasiswa di era digital,
terutama dalam penggunaan media sosial dan aplikasi pesan instan. Sebagian
besar responden telah mengenal, memahami, dan menggunakan istilah viral,
singkatan, serta kosakata populer yang berkembang di internet dalam komunikasi
sehari-hari. Media sosial, khususnya TikTok, memiliki peran besar dalam
penyebaran dan perkembangan bahasa tersebut. Penggunaan bahasa Generasi Alpha
dinilai mampu membuat komunikasi menjadi lebih santai, menarik, dan sesuai
dengan tren digital yang sedang berkembang. Namun, penggunaan bahasa tersebut
tidak selalu mempermudah pemahaman pesan karena tingkat pemahaman setiap
individu berbeda-beda, sehingga berpotensi menimbulkan kesalahpahaman, terutama
ketika digunakan dalam komunikasi lintas generasi atau situasi formal. Oleh
karena itu, penggunaan bahasa Generasi Alpha perlu disesuaikan dengan konteks
komunikasi agar pesan dapat tersampaikan secara efektif tanpa mengabaikan
penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Sebagai rekomendasi, mahasiswa
diharapkan mampu menggunakan bahasa Generasi Alpha secara bijaksana dengan
menyesuaikan situasi dan lawan bicara, terutama tetap mengutamakan bahasa
Indonesia baku dalam kegiatan akademik dan komunikasi resmi. Selain itu,
peneliti selanjutnya dapat mengembangkan penelitian ini dengan melibatkan
responden yang lebih luas dari berbagai kelompok usia atau wilayah sehingga
diperoleh gambaran yang lebih komprehensif mengenai pengaruh bahasa Generasi
Alpha terhadap perkembangan komunikasi di masyarakat digital.
DAFTAR PUSTAKA
APJII. (2024). Survei penetrasi internet
Indonesia 2024. Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia.
Crystal, D. (2011). Internet linguistics: A
student guide. Routledge.
Crystal, D. (2014). Language and the internet
(2nd ed.). Cambridge University Press.
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan
Teknologi. (2022). Pedoman umum ejaan bahasa Indonesia (PUEBI).
McCrindle, M. (2021). The ABC of XYZ:
Understanding the global generations. McCrindle Research.
Nasrullah, R. (2017). Media sosial: Perspektif
komunikasi, budaya, dan sosioteknologi. Simbiosa Rekatama Media.
Nasution, A., Siburian, A. T., Saragih, T., &
Aritonang, H. (2025). Pengaruh gaya bahasa Gen Alpha terhadap kedudukan bahasa
Indonesia. Jurnal Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni, 3(5), 966–969.
https://doi.org/10.62379/jishs.v3i5.2735
Nur, A. M., Syihabuddin, & Azwan. (2026).
Determinasi makna melalui sense relations pada eksistensi bahasa Gen Alpha.
Lingua Rima: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, 14(1).
https://doi.org/10.31000/lgrm.v14i1.12763
Salwa, S., Andara, N., Syakira, S., Aqilah, S. T.,
& Andika, P. M. (2025). Penggunaan bahasa slang pada postingan dan kolom
komentar media sosial X di era Gen Alpha. Protasis: Jurnal Bahasa, Sastra,
Budaya, dan Pengajarannya, 3(2). https://doi.org/10.55606/protasis.v3i2.164
Sugihartati, R. (2020). Generasi milenial dalam
era digital. Airlangga University Press.
Tapscott, D. (2009). Grown up digital: How the
net generation is changing your world. McGraw-Hill.
We Are Social, & Meltwater. (2024). Digital
2024: Indonesia. We Are Social.
Yule, G. (2020). The study of language (7th
ed.). Cambridge University Press.
Posting Komentar untuk "PENGARUH BAHASA GEN ALPHA TERHADAP CARA KOMUNIKASI DI ERA DIGITAL"
Silahkan tinggalkan komentar untuk respon atau pertanyaan, kami akan balas secepat mungkin.