Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Resensi Buku "Tragedi Kemanusiaan, Identitas Budaya, dan Penghancuran Komunitas Bissu Bugis dalam Sejarah" Oleh Rizkia Aprilia Putri

TRAGEDI KEMANUSIAAN, IDENTITAS BUDAYA, DAN PENGHANCURAN KOMUNITAS BISSU BUGIS DALAM SEJARAH

Judul Buku : Tiba Sebelum Berangkat
Penulis : Faisal Oddang
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia
Tahun Terbit : 2018
Genre : Fiksi Historis / Realisme Magis
Bahasa : Indonesia

Tiba Sebelum Berangkat merupakan sebuah novel fiksi historis dengan nuansa realisme magis karya Faisal Oddang, penulis muda asal Sulawesi Selatan yang dikenal lewat kepekaan budaya dan kekuatan bahasanya. Novel ini mengajak pembaca menyelami dunia yang batas antara nyata dan gaib, serta antara masa lalu dan masa kini, menjadi begitu kabur dan lentur.

Kemudian kisah dalam novel ini membongkar memori kolektif masyarakat Bugis yang terluka melalui perjalanan spiritual dan fisik tokoh-tokohnya. Dalam novel ini juga tidak hanya menceritakan kekejaman fisik, tetapi juga pembunuhan karakter budaya yang sistematis. Dengan adanya narasi yang intim, kita diperlihatkan bagaimana sebuah komunitas yang dulunya memegang peran sakral dalam kerajaan Bugis yang dimana sebagai penjaga pusaka (araji') dan penasihat spiritual raja yang tiba-tiba runtuh menjadi kelompok yang paling diburu dan dinistakan. Konflik batin yang dialami para tokohnya mencerminkan benturan keras antara tradisi leluhur yang agung dengan modernitas agresif serta radikalisme agama yang dipaksakan secara politis.

Ketegangan cerita dalam novel ini semakin memuncak dimana  ketika ruang hidup para Bissu semakin menyempit. Mereka yang menolak tunduk terpaksa melarikan diri ke hutan, hidup dalam ketakutan, dan menyaksikan ritual-ritual suci mereka dilecehkan. Kmudian dalam cerita dalam novel ini dengan berani menggambarkan bagaimana identitas gender ketujuh dalam kosmologi Bugis ini dipretensi secara paksa, memaksa kita merenungkan kembali arti kemanusiaan di tengah kecamuk perang saudara. Jadi, di situlah letak kekuatan cerita ini, yaitu tidak sekadar merekam tragedi, melainkan menyelami trauma psikologis terdalam dari mereka yang dipaksa kehilangan dirinya sendiri demi bertahan hidup.

Melalui tokoh seorang Bissu bernama Mapata, novel ini mengungkap salah satu lembaran sejarah paling kelam di Sulawesi Selatan: penghancuran komunitas Bissu pada masa pemberontakan DI/TII di bawah pimpinan Kahar Muzakkar sekitar tahun 1950-an hingga 1960-an. Buku ini bukan sekadar fiksi hiburan, melainkan sebuah kesaksian sastra atas trauma sejarah yang hampir selalu absen dari buku-buku pelajaran resmi.

Sinopsis

Novel ini berpusat pada Mapata, seorang Bissu yang hidup di tengah pusaran konflik berdarah. Dalam kosmologi Bugis kuno, Bissu adalah pendeta spiritual yang tidak digolongkan sebagai laki-laki maupun perempuan. Mereka adalah perpaduan keduanya, manusia suci yang menjadi jembatan antara dunia manusia (lino) dan dunia para dewa (langi).

Ketika pemberontakan DI/TII meluas di Sulawesi Selatan, keberadaan Bissu dianggap sebagai praktik syirik yang harus diberantas. Operasi 'tobat' dipaksakan dengan kejam dimana para Bissu dihadapkan pada dua pilihan, kembali menjadi 'laki-laki normal' dan ikut berperang, atau mati di ujung bayonet. Mapata, yang memiliki kemampuan spiritual untuk melihat masa depan sebelum terjadi, harus menjalani takdir yang telah ia rasakan jauh sebelum tubuhnya sampai ke sana.

Dengan alur waktu yang bersifat sirkular dan non-linier, narasi bergerak maju-mundur antar tokoh dan dimensi waktu, menciptakan pengalaman membaca yang kaya sekaligus menantang. Konsep 'tiba sebelum berangkat' merepresentasikan kemampuan Mapata sekaligus filosofi waktu dalam tradisi Bugis itu sendiri.

Kelebihan

Faisal Oddang merangkai kalimat dengan ritme yang puitis namun tetap tajam, dipenuhi metafora lokal Bugis yang kaya sehingga pembaca seolah dapat merasakan aroma tanah Sulawesi secara langsung. Kedalaman riset budaya dan sejarah yang sangat solid menjadi fondasi kuat cerita ini. Kompleksitas karakter yang jauh dari hitam-putih, kemudian setiap tokoh digambarkan dengan lapisan psikologis yang realistis. Dan novel ini membuka wacana sejarah yang terlupakan dan menjadi semacam monumen bagi para korban sejarah yang selama ini dibungkam.

Kelemahan

Alur non-linier yang sangat dinamis dalam novel ini dapat membuat sebagian pembaca merasa disorientasi, terutama di bab-bab awal novel. Perpindahan sudut pandang dan lompatan waktu yang cepat menuntut tingkat konsentrasi yang tinggi. Novel ini juga kurang ramah bagi pembaca yang baru pertama kali berkenalan dengan genre realisme magis atau yang tidak familiar dengan latar budaya Bugis.

Kesimpulan

Novel Tiba Sebelum Berangkat ini merupakan sebuah mahakarya fiksi sejarah kontemporer Indonesia yang sangat penting. Dimana Faisal Oddang berhasil memberikan panggung dan suara kepada mereka yang selama ini dibungkam dan dihapus dari lembaran sejarah resmi bangsa. Lewat Mapata dan komunitas Bissu-nya, kita diingatkan bahwa identitas budaya adalah hak asasi yang tidak boleh dirampas atas nama kekuasaan dan ideologi apapun.

Sebuah novel yang menampar sekaligus memeluk, yang mengingatkan kita bahwa untuk benar-benar memahami ke mana kita melangkah hari ini, kita harus berani menengok jauh ke belakang.

Tentang Penulis : Rizkia Aprilia Putri, Mahasiswa S1 Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Mataram.




Posting Komentar untuk "Resensi Buku "Tragedi Kemanusiaan, Identitas Budaya, dan Penghancuran Komunitas Bissu Bugis dalam Sejarah" Oleh Rizkia Aprilia Putri"

Kami menerima Kiriman Tulisan dari pembaca, Kirim naskah ke dengan subjek sesuai nama rubrik ke https://wa.me/+6282388859812 klik untuk langsung terhubung ke Whatsapp Kami.