Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Resensi Novel "Ketika Ingatan Adalah Jalan Pulih" Oleh : Yolanda Martsya Putri

 

Ketika Ingatan Adalah Jalan Pulih
 Oleh : Yolanda Martsya Putri
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Mataram

Trauma, ingatan, dan proses penyembuhan dari luka masa lalu yang kelam, dibungkus oleh Sasti Gotama dalam  kisah pemulihan yang mendalam melalui novel Ingatan Ikan-Ikan. Fakta dikemas dengan balutan karya fiksi. Cerita dalam novel ini mengalir dengan menjadikan ikan mas koki bukan hanya sekedar hiasa cerita, melainkan simbol yang menghubungkan kehidupan para tokohnya.

Pemulihan. Kata yang paling tepat untuk mendeskripsikan novel Ingatan Ikan-Ikan (Bentang, 2026) karya Sasti Gotama, sebagai titik awal perjalanan pemulihan batin tokoh Lian yang memiliki kenangan kelam dan usaha untuk melupakannya itu dengan dikutuk menjadi ikan.

Bila mitos itu benar, bahwa ikan mas koki hanya mengingat selama tiga detik, Lian akan mengirim sure kepada Tuhan dan meminta untuk dikutuk menjadi ikan.

Novel ini berkisah tentang perjalanan tokoh-tokoh mengalami tragedi terjadi pada tahun 1998. Melalui sudut pandang orang ketiga serba tahu, pengarang menceritakan kehidupan para tokoh secara bergantian sehingga, membuat pembaca dapat memahami trauma, ingatan, dan pergulatan batin yang dirasakan oleh setiap tokoh  secara mendalam.

Sebagai pembaca, saya tidak pernah benar-benar menyaksikan bagaimana kelamnya kerusahan yang terjadi pada masa itu. Selama ini, tragedi 1998 dikenal sebagai bagian dari sejarah yang tertulis di buku atau dibicarakan secara singkat di lingkungan sekitar. Namun, melalui novel ini, saya seperti dipaksa masuk menjadi bagian dalam cerita, melihat bagaimana tragedi tersebut bukan sekedar catatan sejarah, melainkan luka nyata yang meninggalkan rasa takut, kehilangan, dan trauma mendalam bagi banyak orang. Pengarang berhasil membuat saya ikut merasakan kecemasan, kepanikan, bahkan rasa sesak yang dialami para tokoh ketika hidup mereka hancur dalam satu hari yang penuh kekacauan. 

Trauma yang dialami Lian menjadi bagian yang paling membekas “Lian takut mendengar tawa. Lian tak bisa kembali ke dunia manusia. Apa yang bisa Lian lakukan?” Pengarang menggambarkan bagaimana peristiwa dapat menghancurkan hidup seseorang dalam waktu yang sangat lama.

Mendadak tawa itu menjelma hujan berwarna putih berkilauan, tepung gandum yang seruncing jarum menghujani Lian hingga merasa nyeri yang begitu dasyat di perut bagian bawahnya. Kemudian menjelma akar pengakar yang merayapi dada, punggung, dan kepala Lian. Ketika Lian merasakan kesakitan yang hanya karena mendengar suara tawa, saya menyadari trauma tidak selalu terlihat secara fisik, tetapi dapat hidup diam-diam di dalam tubuh dan pikiran seseorang. Bagian ketika Lian menjadi korban pemerkosaan di tengah penjarahan juga tertulis dengan sangat menyakitkan tanpa harus penulis gambarkan secara berlebihan. Selama membaca, saya merasa sedih sekaligus marah dari tragedi tersebut Lian terus hidup dengan rasa malu, takut, dan merasa dirinya kotor akibat yang pernah terjadi padanya.

Selain Lian, kisah Ombak dan kehilangan adiknya, Awan, juga terasa sangat menyayat hati. Saya dapat merasakan kepanikan Ombak ketika mencari Awan di tengah kerusuhan, serta keputusaan yang ia rasakan saat melihat deretan kantong jenazah hangus. Entah mengapa Ombak tak sanggup mendekati kantong-kantong hitam itu. Pantatnya seolah terekat kan oleh lem super di kursi logam. Mungkin salah satu dari arang-arang itu adalah Awan, tetapi Awan-kah itu jika hanya berupa arang?.

Hamparan rumput hitam. Bukan, itu bukan rumput hitam. Lihatlah lebih dekat. Itu jajaran kantong hitam pekat salah satu kantong terbuka. Kaki sewarna arang mencuat. Dari kantong terdengar suara serak tercekat. “Mana sepatuku? Mana sepatuku?” Ombak terbangun dan ternanap. Tubuhnya basah oleh keringat.

Tragedi itu membuat hidup Ombak dipenuhi rasa bersalah dan kehilangan yang tidak akan pernah benar-benar selesai. Pengarang menunjukkan bahwa tragedi 1998 tidak hanya merenggut banyak nyawa manusia, tetapi juga turut menghancurkan kehidupan orang-orang yang ditinggalkan. Saat membaca, saya membayangkan betapa menakutkannya hidup di tengah situasi ketika manusia saling membenci, bangunan-bangunan dibakar, dan keselamatan dapat hilang kapan saja.

Pengarang tidak hanya berfokus pada luka, tetapi juga pada proses pemulihan para tokoh. Lian dan Ombak digambarkan sebagai dua orang yang mencoba untuk bertahan setelah ingatan buruk mereka dihapus melalui terapi dan program rekayasa ingatan. Pada awalnya mereka terlihat hidup tenang, tetapi novel ini menunjukkan bahwa luka yang dipaksa lupakan justru perlahan akan kembali mencari jalan pulang. Ketikan ingatan mereka muncul kembali, saya ikut merasakan kebingungan, kecewa, dan rasa sakit yang kembali menghantam keduanya. Di bagian ini saya memahami bahwa sembuh ternyata bukan tentang menghapus masa lalu saja, melainkan belajar soal hidup itu akan selalu berdampingan dengan ingatan yang pernah menghancurkan diri sendiri.

Hubungan antara Lian dan Ombak juga menjadi bagian yang paling emosional bagi saya. Kedekatan mereka terasa hangat sekaligus menyakitkan sebab dibangun dari luka dan kehilangan yang sama. Saya dapat merasakan bagaimana Ombak menjadi tempat pulang bagi Lian, sementara Lian menjadi satu-satunya orang yang benar-benar memahami rasa sakit Ombak. Ketika Ombak diketahui telah berkeluarga, saya ikut merasakan kecewa dan hancurnya perasaan Lian. Namun, di saat yang sama juga, saya memahami bahwa keduanya hanya sedang mencari tempat untuk sembuh dari luka yang selama ini mereka simpan sendirian. Novel ini menyadarkan saya satu fakta, terkadang manusia dapat menjadi luka sekaligus obat bagi manusia lainnya.

Bagian akhir novel ini meninggalkan kesan yang sangat mendalam bagi saya, ketika Lian mulai mempertanyakan apakah mengingat adalah sebuah kutukan atau justru sebuah cara untuk mencegah sejarah buruk agar tidak terulang kembali. Simbol ikan mas koki yang terus mengingat membuat saya memahami bahwa beberapa luka memang tidak akan pernah benar-benar hilang. Akan tetapi, melalui novel ini saya belajar bahwa mengingat bukan sekedar tenggelam dalam kesedihan, melainkan bentuk keberanian untuk mengakui bahwa peristiwa itu pernah terjadi. Ingatan para tokoh dalam novel ini bukan hanya tentang rasa sakit pribadi, tetapi tentang sejarah dan manusia-manusia yang pernah menjadi korban di dalamnya. Karena itulah, Ingatan Ikan-Ikan bukan hanya novel tentang trauma dan cinta, tetapi juga tentang bagaimana manusia perlahan bertahan hidup bersama luka yang mereka miliki.

 

Judul buku: Ingatan Ikan-Ikan

Penulis: Sasti Gotama

Penerbit: Bentang Pustaka

Tahun Terbit: Januari 2026

Tebal: 13 x 20,5 cm 184 halaman



Posting Komentar untuk "Resensi Novel "Ketika Ingatan Adalah Jalan Pulih" Oleh : Yolanda Martsya Putri"

Kami menerima Kiriman Tulisan dari pembaca, Kirim naskah ke dengan subjek sesuai nama rubrik ke https://wa.me/+6282388859812 klik untuk langsung terhubung ke Whatsapp Kami.