Analisis Strategi Manajemen Pelayanan dan Pengembangan Kawasan Wisata Religi: Studi Fenomenologi pada Masjid Agung Banten
JURNAL PENELITIAN MANAJEMEN MASJID
Analisis Strategi Manajemen Pelayanan dan Pengembangan Kawasan Wisata Religi: Studi Fenomenologi pada Masjid Agung Banten
Asyiqa
Rahma¹, Mauliya Fatimah Nurasyifaa²,
Ahmad Misbah Jalaluddin³,
Mulia Nursulaina Putri⁴, Rizka Tsaniyatun Nafi'ah Pawae⁵,
Nabila Ghia Zahra⁶
[Manajemen Dakwah], [Universitas Islam Negeri Jakarta], [Tangsel]
Dosen Pengampu: Drs. Sugiharto, MA.
E-mail korespondensi: sugih.arto@uinjkt.ac.id
ABSTRAK
Masjid Agung Banten merupakan salah satu destinasi wisata religi
paling signifikan di Indonesia, yang menyatukan nilai-nilai keagamaan,
historis, dan kebudayaan Islam Nusantara. Namun demikian, pengelolaan kawasan
ini masih menghadapi berbagai tantangan dalam aspek manajemen pelayanan,
kolaborasi multipihak, dan pengembangan kawasan secara berkelanjutan.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara mendalam strategi manajemen
pelayanan, kualitas pelayanan kepada peziarah dan wisatawan, pola kolaborasi
multipihak, dampak multidimensi, hambatan pengelolaan, serta strategi
pengembangan kawasan wisata religi Masjid Agung Banten. Penelitian menggunakan
metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi, yang memungkinkan eksplorasi
pengalaman hidup (lived experience) para aktor yang terlibat. Subjek
penelitian dipilih melalui teknik purposive sampling, mencakup pengelola
masjid, pegawai Dinas Pariwisata Provinsi Banten, peziarah, pedagang UMKM, dan
masyarakat sekitar kawasan. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi,
wawancara mendalam, dan dokumentasi, dengan triangulasi sebagai teknik
validasi. Analisis data menggunakan model interaktif Miles, Huberman &
Saldaña. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi manajemen pelayanan masih
bersifat konvensional dan perlu disesuaikan dengan standar kualitas pelayanan
berbasis dimensi SERVQUAL. Kolaborasi antar pemangku kepentingan berjalan
secara parsial dan belum terstruktur secara formal. Keberadaan wisata religi
memberikan dampak positif terhadap perekonomian lokal, kohesi sosial, pelestarian
budaya, dan penguatan identitas keagamaan, meskipun berbagai hambatan
struktural dan operasional masih menghambat pengembangan optimal. Penelitian
ini merekomendasikan model manajemen terpadu berbasis kolaborasi pentahelix
sebagai kerangka pengembangan kawasan wisata religi Masjid Agung Banten.
Kata Kunci: wisata religi, Masjid
Agung Banten, manajemen pelayanan, fenomenologi, pengembangan kawasan
ABSTRAK
The Grand Mosque of Banten (Masjid Agung Banten) is one of the
most significant religious tourism destinations in Indonesia, integrating
religious, historical, and Islamic Nusantara cultural values. However, the
management of this site continues to face considerable challenges in service
management, multi-stakeholder collaboration, and sustainable area development.
This study aims to comprehensively analyze service management strategies,
service quality for pilgrims and tourists, multi-stakeholder collaboration
patterns, multidimensional impacts, management barriers, and area development
strategies at the Masjid Agung Banten religious tourism site. This study
employs a qualitative method with a phenomenological approach, enabling
in-depth exploration of the lived experiences of the actors involved. Research
subjects were selected through purposive sampling, including mosque
administrators, Banten Provincial Tourism Office officials, pilgrims, MSME
traders, and local community members. Data were collected through observation,
in-depth interviews, and documentation, with triangulation applied as a
validation technique. Data analysis followed the interactive model of Miles,
Huberman & Saldaña. The findings reveal that current service management
strategies remain largely conventional and require alignment with
SERVQUAL-based service quality standards. Stakeholder collaboration is partial
and lacks formal structure. The presence of religious tourism generates
positive impacts on local economic activity, social cohesion, cultural
preservation, and religious identity reinforcement, despite ongoing structural
and operational barriers to optimal development. This study recommends an
integrated management model based on the pentahelix collaboration framework as
a strategic foundation for developing the Masjid Agung Banten religious tourism
area.
Keywords: religious tourism, Masjid Agung Banten, service management, phenomenology, area development
PENDAHULUAN
Pariwisata religi telah berkembang menjadi salah satu segmen wisata
dengan pertumbuhan paling dinamis di dunia. Indonesia, sebagai negara dengan
populasi Muslim terbesar di dunia, memiliki potensi luar biasa dalam
pengembangan destinasi wisata religi berbasis warisan budaya Islam. Kementerian
Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia telah mengidentifikasi wisata
religi sebagai salah satu pilar pengembangan pariwisata nasional, dengan
memperkirakan kontribusinya terhadap penerimaan devisa dan perekonomian daerah
terus meningkat dari tahun ke tahun.¹
Di antara destinasi wisata religi yang paling bersejarah dan
signifikan di Indonesia, Masjid Agung Banten menempati posisi yang sangat
strategis. Dibangun pada masa Kesultanan Banten sekitar abad ke-16, masjid ini
bukan sekadar tempat ibadah, melainkan merupakan simbol kejayaan peradaban
Islam Nusantara, pusat ziarah, sekaligus objek wisata budaya yang menarik
ratusan ribu peziarah dan wisatawan setiap tahunnya.² Kawasan Banten Lama yang
mengelilingi masjid ini juga merupakan kompleks sejarah yang mencakup Keraton
Surosowan, Menara Masjid Agung, Benteng Speelwijk, dan situs-situs arkeologis
lainnya, menjadikannya kawasan warisan budaya dengan nilai historis yang sangat
tinggi.
Namun demikian, pengelolaan kawasan wisata religi Masjid Agung
Banten masih menghadapi sejumlah tantangan yang signifikan. Dari aspek
manajemen pelayanan, belum terdapat standar baku yang mengatur kualitas
pelayanan kepada peziarah dan wisatawan.³ Dari aspek pengembangan kawasan,
keterbatasan infrastruktur, minimnya fasilitas pendukung yang memadai, serta
belum optimalnya sinergi antara pemerintah, pengelola masjid, masyarakat
sekitar, dan pelaku usaha UMKM menjadi hambatan yang berulang kali
diidentifikasi dalam berbagai laporan dan kajian.⁴ Kondisi ini mengakibatkan
belum tercapainya potensi maksimal kawasan tersebut sebagai destinasi wisata
religi yang berkelanjutan dan berdampak positif secara komprehensif.
Berbagai penelitian terdahulu telah berupaya mengkaji aspek-aspek
tertentu dari pengelolaan wisata religi Masjid Agung Banten. Chairunisa (2023)
mengkaji pengaruh kualitas layanan, experiential marketing, dan citra destinasi
terhadap keputusan berkunjung kembali dari perspektif kuantitatif.⁵ Annisarizki
dan Sucahya (2018) meneliti manajemen wisata religius Kesultanan Banten dengan
fokus pada bauran komunikasi pemasaran.⁶ Nurfadhila dan Suganda (2021)
menganalisis dampak intensitas kunjungan wisata religi terhadap pendapatan
pedagang kaki lima di kawasan tersebut.⁷ Meski memberikan kontribusi penting,
penelitian-penelitian tersebut belum menyentuh dimensi pengalaman subjektif
para aktor wisata secara fenomenologis, dan belum mengintegrasikan analisis
manajemen pelayanan, kolaborasi multipihak, dampak multidimensi, serta strategi
pengembangan kawasan dalam satu kerangka penelitian yang komprehensif.
Berdasarkan identifikasi kesenjangan penelitian tersebut, studi
ini hadir dengan pendekatan kualitatif-fenomenologis untuk menggali secara
mendalam bagaimana strategi manajemen pelayanan diterapkan, bagaimana kualitas
pelayanan dirasakan oleh peziarah dan wisatawan, bagaimana kolaborasi
multipihak berlangsung, serta bagaimana kawasan Masjid Agung Banten dapat
dikembangkan secara lebih optimal dan berkelanjutan. Dengan demikian,
penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi teoritis pada pengembangan
model manajemen wisata religi berbasis fenomenologi, sekaligus memberikan
kontribusi praktis bagi pengambil kebijakan pariwisata dan pengelola kawasan
wisata religi di Indonesia.
TINJAUAN PUSTAKA
Konsep Wisata Religi
Wisata religi (religious tourism) didefinisikan
sebagai kegiatan perjalanan yang motivasi utamanya bersifat keagamaan, baik
dalam bentuk ziarah (pilgrimage), kunjungan ke situs suci, partisipasi
dalam ritual keagamaan, maupun eksplorasi warisan budaya berbasis keimanan.⁸
Dalam konteks Indonesia, wisata religi memiliki karakteristik yang unik karena
berpadu dengan tradisi lokal, nilai-nilai Islam Nusantara, dan dimensi historis
yang kaya. Berbeda dengan wisata konvensional yang menitikberatkan pada aspek
rekreasi dan hiburan, wisata religi mengandung dimensi spiritual yang
memberikan makna lebih dalam bagi para pelakunya—dimensi yang hanya dapat
dipahami secara mendalam melalui pendekatan interpretatif seperti fenomenologi.
Menurut Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, wisata
religi di Indonesia mencakup berbagai tipologi: kunjungan ke masjid bersejarah,
pesantren, kompleks makam wali, dan situs-situs Islam bersejarah lainnya.
Masjid Agung Banten masuk dalam kategori wisata religi berbasis warisan budaya,
di mana nilai historis dan arsitektural berpadu dengan motivasi keagamaan para
pengunjung, menciptakan pengalaman wisata yang bersifat holistik.
Manajemen Pelayanan dan
Teori SERVQUAL
Manajemen pelayanan dalam konteks pariwisata merujuk pada
keseluruhan upaya terencana dan terorganisir untuk menyediakan layanan yang
memenuhi atau melampaui ekspektasi pengunjung. Parasuraman, Zeithaml, dan Berry
(1988) mengembangkan model SERVQUAL sebagai instrumen pengukuran kualitas jasa
yang komprehensif, mengemukakan lima dimensi kunci: keandalan (reliability),
daya tanggap (responsiveness), jaminan (assurance), empati (empathy),
dan bukti fisik (tangibles).⁹ Model ini telah banyak diaplikasikan dalam
penelitian wisata, termasuk wisata religi, untuk mengidentifikasi kesenjangan
antara ekspektasi dan persepsi pengunjung terhadap kualitas layanan.
Dalam konteks wisata religi, dimensi-dimensi SERVQUAL perlu
diinterpretasikan secara kontekstual. Dimensi empati, misalnya, tidak hanya
bermakna perhatian personal dalam pengertian komersial, tetapi juga mencakup
pemahaman terhadap kebutuhan spiritual dan budaya peziarah. Dimensi jaminan (assurance)
tidak hanya meliputi kompetensi petugas, tetapi juga kemampuan mereka untuk
menjaga kesucian dan kekhidmatan suasana keagamaan kawasan. Penerapan SERVQUAL
dalam konteks wisata religi Masjid Agung Banten karenanya memerlukan adaptasi
yang peka terhadap nilai-nilai lokal dan keagamaan setempat.
Chairunisa (2023), dalam penelitiannya pada Masjid Agung Banten,
menemukan bahwa kualitas layanan berpengaruh signifikan terhadap kepuasan
pengunjung dan keputusan untuk berkunjung kembali, menunjukkan relevansi
strategis peningkatan standar pelayanan di kawasan tersebut.¹⁰
Strategi Pengembangan
Destinasi Wisata Religi
Pengembangan destinasi wisata religi merupakan proses yang
kompleks dan multidimensi, mencakup aspek fisik-infrastruktur, kelembagaan,
sumber daya manusia, pemasaran, serta regulasi. Dalam konteks pengelolaan
kawasan warisan budaya seperti Masjid Agung Banten, terdapat ketegangan inheren
antara kepentingan konservasi warisan budaya di satu sisi dan kebutuhan
aksesibilitas serta kenyamanan wisata di sisi lain. Ramadhani dkk. (2024)
menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat dalam upaya
pelestarian Masjid Agung Banten sebagai warisan sejarah Islam Nusantara,
sekaligus menunjukkan bahwa pelestarian dan pengembangan wisata bukan merupakan
dikotomi, melainkan dua dimensi yang dapat berjalan sinergis.¹¹
Pengembangan kawasan wisata religi yang berkelanjutan mensyaratkan
pendekatan terintegrasi yang mempertimbangkan kapasitas daya tampung (carrying
capacity) kawasan, kebutuhan spiritual pengunjung, keberlanjutan ekosistem
sosial masyarakat sekitar, serta kelayakan ekonomi jangka panjang.
Kolaborasi Multipihak
dalam Pengelolaan Wisata Religi
Model collaborative governance dalam pengelolaan destinasi
wisata religi menekankan pentingnya keterlibatan aktif seluruh pemangku
kepentingan—pemerintah pusat dan daerah, pengelola kawasan, masyarakat lokal,
pelaku usaha UMKM, akademisi, dan media—dalam proses perencanaan, implementasi,
dan evaluasi pengembangan kawasan. Model pentahelix yang mengintegrasikan
kelima aktor tersebut telah terbukti efektif dalam meningkatkan daya saing dan
keberlanjutan destinasi wisata di Indonesia.
Dalam konteks pengembangan wisata religi Masjid Agung Banten,
kolaborasi antara Dinas Pariwisata Provinsi Banten, Dinas Kebudayaan,
Kementerian Agama, Balai Pelestarian Cagar Budaya, pengelola masjid, dan
komunitas lokal menjadi kunci keberhasilan pengembangan kawasan. Annisarizki
dan Sucahya (2018) menunjukkan bahwa koordinasi kelembagaan yang lemah
merupakan salah satu hambatan utama dalam manajemen wisata religius Kesultanan
Banten, suatu temuan yang menggarisbawahi urgensi pengembangan model kolaborasi
yang lebih terstruktur.¹²
Dampak Multidimensi
Wisata Religi
Keberadaan destinasi wisata religi memberikan dampak yang bersifat
multidimensi. Dari dimensi ekonomi, wisata religi menciptakan lapangan kerja,
meningkatkan pendapatan pedagang dan pelaku UMKM di sekitar kawasan, serta
mendorong pertumbuhan sektor akomodasi dan kuliner lokal. Nurfadhila dan
Suganda (2021) membuktikan bahwa intensitas kunjungan wisata religi di kawasan
Masjid Agung Banten Lama secara langsung berkorelasi dengan peningkatan pendapatan
pedagang kaki lima.¹³ Temuan serupa ditemukan oleh Riyanto, Junaidi, dan
Maulana (2023) dalam kajian mereka tentang dampak wisata religi Bayt Al-Qur’an
Al-Akbar Palembang terhadap perekonomian warga sekitar.¹⁴
Dari dimensi sosial, wisata religi berperan dalam memperkuat
kohesi sosial, meningkatkan rasa kebersamaan dan identitas kolektif komunitas
sekitar kawasan. Dari dimensi budaya, kehadiran wisatawan mendorong pelestarian
tradisi, seni, dan kearifan lokal yang terkait dengan kawasan bersejarah. Dari dimensi
keagamaan, wisata religi berkontribusi pada penguatan pemahaman keislaman,
penyebaran nilai-nilai moderasi beragama, dan penghayatan identitas Islam
Nusantara.
Pendekatan Fenomenologi
dalam Penelitian Pariwisata
Fenomenologi sebagai pendekatan penelitian kualitatif berakar pada
tradisi filsafat Husserl yang menekankan pentingnya memahami pengalaman hidup (lived
experience) subjek penelitian, dengan mengesampingkan asumsi-asumsi
teoritis yang mungkin mengaburkan pemahaman tentang makna pengalaman
tersebut.¹⁵ Moustakas (1994) mengembangkan metode fenomenologi transendental
yang memandu peneliti untuk mengidentifikasi esensi (essence) dari suatu
pengalaman melalui proses epoche (pembebasan prasangka), reduksi
fenomenologis, dan deskripsi tekstural-struktural.¹⁶
Penggunaan pendekatan fenomenologi dalam penelitian wisata religi
memungkinkan peneliti untuk memahami bagaimana pengelola, peziarah, pedagang,
dan masyarakat sekitar memaknai pengalaman mereka dalam konteks kawasan Masjid
Agung Banten—sebuah dimensi analisis yang tidak dapat ditangkap melalui
instrumen kuantitatif. Pendekatan ini sejalan dengan tradisi penelitian
interpretatif dalam studi pariwisata yang semakin berkembang, sebagaimana
dipandu oleh Creswell dan Poth (2018) dalam kerangka penelitian kualitatif
dengan lima pendekatan utama.¹⁷
METODE PENELITIAN
Pendekatan dan Jenis
Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan
pendekatan fenomenologi. Pemilihan pendekatan ini didasarkan pada tujuan
penelitian yang ingin memahami secara mendalam pengalaman hidup (lived
experience) para aktor yang terlibat dalam pengelolaan dan pemanfaatan
wisata religi Masjid Agung Banten. Penelitian kualitatif-fenomenologis
memungkinkan peneliti untuk menggali makna, interpretasi, dan perspektif
subjektif yang tidak dapat dijangkau oleh metode kuantitatif.¹⁸ Paradigma yang
digunakan adalah interpretivisme, dengan asumsi ontologis bahwa realitas sosial
dikonstruksi secara subjektif oleh para aktor yang terlibat.
Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di kawasan Masjid Agung Banten dan
lingkungan Banten Lama, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, Provinsi Banten.
Kawasan ini dipilih karena merupakan destinasi wisata religi terpenting di
Provinsi Banten, dengan kompleksitas pengelolaan yang melibatkan berbagai
pemangku kepentingan lintas sektor. Penelitian lapangan dilaksanakan selama
kurang lebih tiga bulan, dengan intensitas kunjungan yang disesuaikan dengan
kepadatan peziarah pada hari-hari tertentu (hari besar Islam, akhir pekan, dan
hari kerja biasa) guna menangkap variasi pengalaman yang lebih kaya.
Subjek Penelitian dan
Teknik Purposive Sampling
Subjek penelitian dipilih menggunakan teknik purposive sampling,
yaitu pemilihan informan berdasarkan pertimbangan relevansi, kompetensi, dan
keterlibatan langsung informan dengan fenomena yang diteliti.¹⁹ Teknik ini
dipilih karena dalam penelitian fenomenologis, kedalaman informasi dari
informan yang relevan lebih diutamakan daripada representativitas statistik.
Informan dalam penelitian ini terdiri dari tujuh kategori: 1. Pengelola
Masjid Agung Banten (takmir/pengurus masjid): 3 informan 2. Pegawai
Dinas Pariwisata Provinsi Banten yang menangani kawasan Banten Lama: 2
informan 3. Pegawai Balai Pelestarian Kebudayaan/Cagar Budaya: 1
informan 4. Peziarah lokal (dari dalam Provinsi Banten): 4 informan 5. Wisatawan/peziarah
dari luar daerah: 3 informan 6. Pedagang UMKM di kawasan Masjid
Agung Banten: 4 informan 7. Tokoh masyarakat di sekitar kawasan: 2
informan
Total informan: 19 orang. Penentuan kecukupan informan menggunakan
prinsip data saturation, yakni proses pengumpulan data dihentikan ketika
informasi baru yang diperoleh tidak lagi menghasilkan kategori atau tema baru
yang bermakna.
Teknik Pengumpulan Data
a. Observasi Observasi dilakukan
secara partisipatif-parsial, di mana peneliti hadir di lokasi dan mengamati
secara langsung kondisi fisik kawasan, perilaku pengelola, peziarah, dan
pedagang, serta dinamika interaksi antarpihak di kawasan Masjid Agung Banten.
Observasi mencakup pengamatan terhadap fasilitas, aksesibilitas, kebersihan
kawasan, antrian layanan, serta momen-momen interaksi pelayanan antara petugas
dan pengunjung. Catatan lapangan (field notes) dibuat secara sistematis
untuk mendokumentasikan temuan observasi.
b. Wawancara Mendalam (In-depth Interview) Wawancara mendalam dilakukan secara
semi-terstruktur, menggunakan panduan pertanyaan (interview guide) yang
bersifat terbuka dan fleksibel, guna memberikan ruang bagi informan untuk
mengungkapkan pengalaman dan persepsi mereka secara bebas dan mendalam.²⁰
Setiap sesi wawancara berlangsung antara 45 hingga 90 menit, direkam dengan
persetujuan informan, dan kemudian ditranskripsikan verbatim. Wawancara
dilakukan dalam bahasa Indonesia, dengan penyesuaian bahasa Jawa-Banten bila
diperlukan untuk informan tertentu.
c. Dokumentasi
Data dokumenter dikumpulkan dari berbagai sumber, meliputi dokumen perencanaan
pariwisata Dinas Pariwisata Provinsi Banten, peraturan daerah terkait
pengelolaan kawasan Banten Lama, laporan tahunan kunjungan wisatawan, data BPS
tentang sektor pariwisata Kota Serang, serta foto-foto dan rekaman video yang
relevan.
Triangulasi Data
Triangulasi dilakukan untuk meningkatkan kredibilitas (credibility)
dan keabsahan temuan penelitian. Penelitian ini menggunakan dua jenis
triangulasi: 1. Triangulasi sumber: Membandingkan data dari berbagai
informan dengan latar belakang berbeda untuk memverifikasi konsistensi temuan.
2. Triangulasi teknik: Membandingkan data yang diperoleh melalui
wawancara, observasi, dan dokumentasi untuk memperkuat validitas temuan.
Selain triangulasi, member checking dilakukan dengan
mempresentasikan hasil analisis sementara kepada informan kunci untuk
memastikan akurasi interpretasi peneliti.
Teknik Analisis Data:
Model Miles, Huberman & Saldaña
Analisis data menggunakan model analisis interaktif Miles,
Huberman, dan Saldaña (2014), yang terdiri dari empat komponen utama yang
berjalan secara siklikal dan tidak linear:²¹
1. Kondensasi
data (data condensation): Proses
pemilihan, pemfokusan, penyederhanaan, pengabstraksian, dan transformasi data
mentah menjadi unit-unit yang bermakna. Pada tahap ini, transkripsi wawancara
dikoding secara terbuka (open coding) untuk mengidentifikasi konsep-konsep
awal.
2. Penyajian
data (data display): Data yang telah dikondensasi
disajikan dalam bentuk matriks, jaringan konsep, diagram alur, atau narasi
terorganisir yang memungkinkan peneliti untuk menarik kesimpulan dan mengambil
tindakan analitik lebih lanjut.
3. Penarikan
kesimpulan dan verifikasi (drawing and verifying conclusions): Peneliti mulai memaknai keteraturan, pola, penjelasan,
konfigurasi, dan proposisi sebagai hasil analisis, sambil terus memverifikasi
kesimpulan tersebut terhadap data yang ada.
4. Refleksi
fenomenologis: Sebagai tambahan yang spesifik
pada pendekatan fenomenologi, peneliti melakukan refleksi mendalam terhadap
tema-tema esensi yang muncul, dengan mempertimbangkan konteks dan makna yang
lebih luas dari pengalaman yang dideskripsikan informan.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Catatan Metodologis: Bagian Hasil dan Pembahasan berikut disajikan dalam format
struktur artikel penelitian fenomenologi. Kutipan wawancara dan data spesifik
lapangan perlu diisi berdasarkan hasil penelitian lapangan yang sesungguhnya.
Peneliti diharapkan mengganti bagian yang ditandai [Data Lapangan] dengan
temuan empiris aktual dari wawancara mendalam dan observasi di lokasi
penelitian.
1. Strategi Manajemen
Pelayanan Wisata Religi Masjid Agung Banten
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara mendalam dengan para
informan, strategi manajemen pelayanan yang diterapkan di kawasan wisata religi
Masjid Agung Banten dapat diidentifikasi dalam beberapa pola utama.
a. Penataan Sistem Penerimaan Pengunjung
Kawasan Masjid Agung Banten menerima pengunjung sepanjang tahun
tanpa pembatasan kapasitas yang ketat, kecuali pada momen-momen tertentu
seperti hari besar Islam yang membutuhkan pengelolaan kerumunan lebih intensif.
[Data Lapangan: Narasi informan tentang sistem penerimaan pengunjung, mekanisme
pengelolaan kerumunan, dan prosedur operasional standar yang ada]. Pengelolaan
pengunjung bersifat reaktif daripada proaktif, di mana respons terhadap
lonjakan jumlah peziarah seringkali dilakukan secara situasional tanpa
mekanisme antisipasi yang terstruktur.
Temuan ini sejalan dengan identifikasi Annisarizki dan Sucahya
(2018) bahwa manajemen wisata religius Kesultanan Banten masih membutuhkan
penguatan kapasitas kelembagaan yang signifikan.²² Secara fenomenologis,
pengalaman pengelola menunjukkan adanya ketegangan antara tanggung jawab
mempertahankan kesakralan kawasan sebagai tempat ibadah di satu sisi, dan
tuntutan untuk melayani kenyamanan wisatawan di sisi lain—sebuah dialektika
yang menjadi karakteristik khas destinasi wisata religi berbasis masjid
bersejarah.
b. Penyediaan Fasilitas Pelayanan
[Data Lapangan: Deskripsi fasilitas yang tersedia—toilet, tempat
wudhu, area parkir, pusat informasi, toko suvenir, area kuliner—berdasarkan
hasil observasi dan pernyataan informan]. Analisis kritis terhadap kondisi
fasilitas menunjukkan kesenjangan antara ketersediaan fasilitas fisik dan
standar kenyamanan yang diharapkan oleh pengunjung dari berbagai latar
belakang. Kesenjangan ini mencerminkan kebutuhan mendesak untuk penerapan
standar tangibles dalam kerangka SERVQUAL—dimensi yang paling mudah
diamati oleh pengunjung dan paling langsung mempengaruhi persepsi kualitas
layanan mereka.
c. Manajemen Sumber Daya Manusia
[Data Lapangan: Jumlah petugas, latar belakang pelatihan, dan
kapasitas pelayanan]. Dari perspektif fenomenologi, narasi para petugas
menggambarkan motivasi pelayanan yang bersumber dari nilai-nilai keagamaan dan
tanggung jawab moral terhadap warisan leluhur, bukan semata-mata orientasi
profesional. Kondisi ini, di satu sisi, merupakan modal sosial yang berharga;
namun di sisi lain, tanpa dukungan pelatihan dan standar prosedur yang memadai,
motivasi intrinsik saja tidak cukup untuk menjamin konsistensi kualitas
pelayanan.
2. Kualitas Pelayanan
kepada Peziarah dan Wisatawan
Analisis kualitas pelayanan menggunakan kerangka lima dimensi
SERVQUAL menghasilkan gambaran yang bernuansa. [Data Lapangan: Narasi peziarah
dan wisatawan tentang pengalaman pelayanan mereka, disintesis per dimensi
SERVQUAL].
Pada dimensi keandalan (reliability), peziarah
umumnya memiliki ekspektasi yang relatif moderat terhadap konsistensi layanan,
karena kedatangan mereka didorong oleh motivasi spiritual yang kuat. Namun
demikian, ketidakkonsistenan dalam informasi yang diberikan petugas, jam
operasional yang tidak selalu jelas, dan ketiadaan prosedur standar untuk
keluhan pengunjung menjadi sumber ketidakpuasan yang berulang diungkapkan. Pada
dimensi daya tanggap (responsiveness), temuan menunjukkan [Data
Lapangan].
Pada dimensi empati, yang menjadi dimensi paling khas dalam
konteks wisata religi, terdapat pengakuan positif dari para peziarah terhadap
keramahan masyarakat sekitar dan petugas masjid. Namun, empati yang bersumber
dari kultural-religius ini perlu dilembagakan dalam standar pelayanan formal
agar tidak bergantung pada karakteristik individu semata. Dimensi jaminan
(assurance) dan bukti fisik (tangibles) menunjukkan [Data
Lapangan].
Secara fenomenologis, peziarah memaknai kualitas pelayanan tidak
hanya dari dimensi teknis-fungsional, tetapi juga dari dimensi
spiritual-emosional: apakah kawasan memberikan ketenangan batin, apakah suasana
keagamaan terjaga, apakah mereka merasa dihormati sebagai tamu Allah. Dimensi
spiritual ini tidak tertangkap dalam instrumen SERVQUAL konvensional, dan
merupakan temuan baru yang menjadi kontribusi penelitian ini pada pengembangan
teori kualitas pelayanan wisata religi.
3. Pengembangan Kawasan
Wisata Religi Masjid Agung Banten
Pengembangan kawasan wisata religi Masjid Agung Banten berlangsung
dalam kerangka perencanaan yang melibatkan berbagai instansi pemerintah. [Data
Lapangan: Gambaran program pengembangan yang telah dan sedang dilaksanakan,
termasuk program revitalisasi kawasan, pembangunan infrastruktur, dan program
interpretasi warisan budaya].
Dari perspektif fenomenologi, narasi pegawai Dinas Pariwisata
Provinsi Banten menggambarkan pengembangan kawasan sebagai proses yang penuh
kompleksitas kelembagaan, di mana tumpang tindih kewenangan antara berbagai
instansi—Dinas Pariwisata, Dinas Kebudayaan, Balai Pelestarian Cagar Budaya,
dan Kementerian Agama—seringkali menjadi sumber inefisiensi dan keterlambatan
implementasi program. Ramadhani dkk. (2024) dalam kajiannya tentang kolaborasi
pemerintah dan masyarakat untuk pelestarian Masjid Agung Banten juga
mengidentifikasi kompleksitas tata kelola ini sebagai tantangan utama.²³
Pengembangan kawasan idealnya mempertimbangkan prinsip-prinsip heritage
tourism management yang menyeimbangkan aksesibilitas publik, pelestarian
nilai historis-arkeologis, dan keberlanjutan ekosistem sosial-budaya masyarakat
sekitar. Prinsip carrying capacity perlu diterapkan untuk memastikan
bahwa jumlah pengunjung tidak melampaui kemampuan kawasan untuk mempertahankan
integritas fisik dan spiritualnya.
4. Kolaborasi
Pemerintah, Pengelola, Masyarakat, dan UMKM
Analisis terhadap pola kolaborasi multipihak dalam pengelolaan
wisata religi Masjid Agung Banten mengungkapkan gambaran yang kompleks dan
belum sepenuhnya optimal.
[Data Lapangan: Deskripsi mekanisme koordinasi yang ada, forum
multipihak, MoU/perjanjian kerjasama, dan pengalaman subjektif masing-masing
pihak terhadap kolaborasi].
Dari perspektif fenomenologi, para pengelola masjid menempatkan
diri dalam posisi yang ambigu: sebagai penjaga spiritualitas kawasan sekaligus
penyelenggara layanan publik. Ketegangan peran ini memperumit posisi mereka
dalam relasi kolaborasi dengan aktor-aktor lain yang memiliki orientasi berbeda
(pariwisata komersial, pelestarian budaya, pemberdayaan ekonomi masyarakat).
Para pedagang UMKM, di sisi lain, [Data Lapangan].
Temuan ini sejalan dengan pola yang ditemukan oleh Riyanto dkk.
(2023) bahwa manfaat ekonomi wisata religi bagi masyarakat sekitar sangat
bergantung pada kualitas dan keberkelanjutan kolaborasi antara pengelola,
pemerintah daerah, dan komunitas lokal.²⁴ Implementasi model pentahelix yang
melibatkan akademisi dan media sebagai dua aktor tambahan di samping
pemerintah, industri, dan masyarakat, dapat menjadi solusi untuk penguatan
kolaborasi yang lebih terstruktur dan berkelanjutan.
5. Dampak Ekonomi,
Sosial, Budaya, dan Keagamaan
a. Dampak Ekonomi
Keberadaan wisata religi Masjid Agung Banten memberikan dampak
ekonomi yang signifikan terhadap masyarakat sekitar, terutama melalui aktivitas
perdagangan di kawasan. Nurfadhila dan Suganda (2021) membuktikan bahwa
intensitas kunjungan wisata religi secara langsung menentukan pendapatan para
pedagang di kawasan Masjid Agung Banten Lama.²⁵ [Data Lapangan: Data jumlah
pedagang, estimasi pendapatan, jenis usaha, dan narasi subjektif pedagang
tentang pengaruh wisata religi terhadap kehidupan ekonomi mereka].
Dampak ekonomi tidak terbatas pada pedagang, melainkan juga
mencakup sektor transportasi, akomodasi, kuliner, dan jasa pemandu. Namun
demikian, distribusi manfaat ekonomi ini masih belum merata, dengan konsentrasi
keuntungan pada pedagang yang menempati lokasi strategis di jalur utama
pengunjung.
b. Dampak Sosial
[Data Lapangan: Narasi tokoh masyarakat dan warga sekitar tentang
perubahan sosial yang mereka rasakan akibat keberadaan wisata religi]. Secara
analitis, kehadiran arus pengunjung yang heterogen—dari berbagai daerah dan
latar belakang sosio-kultural—membawa dinamika sosial yang bersifat ganda: di
satu sisi memperkaya khazanah interaksi sosial dan membuka wawasan masyarakat
lokal; di sisi lain berpotensi menimbulkan gesekan nilai dan tekanan terhadap
tata kehidupan tradisional masyarakat sekitar kawasan.
c. Dampak Budaya
Wisata religi Masjid Agung Banten berkontribusi pada pelestarian warisan
budaya Islam Nusantara, khususnya tradisi ziarah, seni kaligrafi, arsitektur
masjid bersejarah, dan kuliner khas Banten. [Data Lapangan]. Namun, terdapat
kekhawatiran dari kalangan tokoh budaya bahwa komersialisasi kawasan yang tidak
terkendali dapat mengancam autentisitas nilai-nilai budaya yang menjadi daya
tarik utama kawasan.
d. Dampak Keagamaan
Dari perspektif fenomenologi, para peziarah secara konsisten
mengungkapkan bahwa kunjungan ke Masjid Agung Banten memberikan pengalaman
spiritual yang mendalam: penguatan iman, refleksi sejarah perjuangan Islam di
Nusantara, dan inspirasi untuk menjalani kehidupan beragama yang lebih baik.
[Data Lapangan: Kutipan verbatim dari peziarah tentang pengalaman spiritual
mereka]. Dimensi ini memperkuat argumentasi bahwa wisata religi berbasis masjid
bersejarah memiliki nilai yang jauh melampaui dimensi ekonomi semata.
6. Hambatan Pengelolaan
Berdasarkan analisis fenomenologis terhadap narasi seluruh
informan, sejumlah hambatan struktural dan operasional dapat diidentifikasi:
a. Fragmentasi Kelembagaan Tumpang tindih kewenangan antara berbagai instansi pemerintah
yang memiliki otoritas atas kawasan Banten Lama—Dinas Pariwisata, Dinas
Kebudayaan, Kementerian Agama, Balai Pelestarian Cagar Budaya, Pemerintah Kota
Serang, dan Pemerintah Provinsi Banten—menciptakan inkoherensi kebijakan dan
inefisiensi koordinasi yang menghambat implementasi program pengembangan secara
terpadu.
b. Keterbatasan Anggaran dan Infrastruktur [Data Lapangan: Narasi pengelola dan pegawai dinas
tentang keterbatasan anggaran dan infrastruktur]. Keterbatasan ini berdampak
pada kondisi fasilitas yang belum memadai, kekurangan jumlah dan kompetensi
petugas, serta minimnya investasi dalam pengembangan sistem informasi dan
pemasaran kawasan.
c. Konflik Kepentingan Perbedaan kepentingan antara pihak-pihak yang mengutamakan
dimensi spiritual-keagamaan kawasan (pengelola masjid, ulama) di satu sisi dan
pihak yang mengutamakan optimasi potensi ekonomi wisata (pemerintah daerah,
pedagang) di sisi lain, seringkali menghasilkan ketegangan yang menghambat
pengambilan keputusan kolektif.
d. Keterbatasan Kapasitas SDM Pengelola kawasan, khususnya pengurus masjid, umumnya memiliki
latar belakang keagamaan yang kuat namun terbatas dalam aspek manajemen
pariwisata profesional. Kesenjangan kompetensi ini berdampak pada lemahnya
kemampuan perencanaan strategis, pengelolaan pengunjung, dan pemasaran kawasan.
e. Aksesibilitas dan Infrastruktur Pendukung [Data Lapangan: Kondisi jalan akses,
transportasi publik, area parkir, dan infrastruktur pendukung lainnya].
7. Strategi Peningkatan
Pelayanan dan Pengembangan Kawasan
Berdasarkan sintesis seluruh temuan penelitian, dapat dirumuskan
beberapa strategi komprehensif untuk peningkatan pelayanan dan pengembangan
kawasan wisata religi Masjid Agung Banten:
a. Pembentukan Badan Pengelola Terpadu Diperlukan pembentukan badan pengelola kawasan wisata religi
Banten Lama yang terintegrasi, dengan otoritas jelas dan mekanisme koordinasi
yang efektif antar instansi. Model destination management organization
(DMO) yang mengintegrasikan seluruh pemangku kepentingan dapat diadaptasi
sesuai konteks lokal.
b. Penerapan Standar Pelayanan Berbasis SERVQUAL Pengembangan standar prosedur operasional yang
mencakup seluruh dimensi SERVQUAL—dimodifikasi untuk konteks wisata
religi—perlu menjadi prioritas, disertai dengan pelatihan reguler bagi seluruh
petugas pelayanan.
c. Pengembangan Model Pentahelix Kolaborasi multipihak perlu distrukturkan dalam kerangka model
pentahelix yang melibatkan pemerintah, industri/pengelola, akademisi,
masyarakat, dan media secara formal dan berkesinambungan, dengan forum
koordinasi berkala dan mekanisme akuntabilitas yang jelas.
d. Penguatan Ekosistem UMKM Program pemberdayaan UMKM yang terintegrasi—mencakup pelatihan,
akses pembiayaan, standarisasi produk, dan pemasaran digital—perlu dikembangkan
untuk memastikan distribusi manfaat ekonomi yang lebih merata kepada masyarakat
sekitar kawasan.
e. Digitalisasi Layanan dan Pemasaran Pengembangan platform digital untuk sistem informasi wisatawan,
pemesanan layanan, dan pemasaran kawasan secara global merupakan kebutuhan
mendesak di era digital. Studi Dampak Transformasi Digital Terhadap Kunjungan
Wisatawan Masjid Agung Banten mengindikasikan potensi signifikan dari
transformasi digital dalam meningkatkan kunjungan dan kepuasan pengunjung.²⁶
f. Manajemen Konservasi Berbasis Komunitas Program pelestarian warisan budaya yang melibatkan masyarakat lokal sebagai agen aktif—bukan sekadar penerima manfaat pasif—perlu dirancang untuk memastikan keberlanjutan upaya konservasi sekaligus memperkuat rasa kepemilikan (sense of ownership) komunitas terhadap warisan leluhur mereka.
KESIMPULAN
Penelitian ini menghasilkan beberapa kesimpulan substantif tentang
manajemen pelayanan dan pengembangan kawasan wisata religi Masjid Agung Banten:
Pertama, strategi manajemen pelayanan yang diterapkan saat ini
masih bersifat konvensional dan reaktif, belum mengadopsi standar kualitas
pelayanan yang terstruktur berbasis dimensi SERVQUAL yang disesuaikan dengan
konteks wisata religi. Terdapat dimensi spiritual kualitas pelayanan yang khas
pada wisata religi—yang mencakup pemeliharaan kekhidmatan, suasana spiritual,
dan penghormatan terhadap motivasi keagamaan pengunjung—yang perlu
diintegrasikan ke dalam standar pelayanan formal.
Kedua, kolaborasi multipihak dalam pengelolaan kawasan masih
berlangsung secara parsial, tidak terstruktur, dan rentan terhadap konflik
kepentingan. Pembentukan badan pengelola terpadu berbasis model pentahelix
merupakan kebutuhan mendesak yang tidak dapat lagi ditunda.
Ketiga, wisata religi Masjid Agung Banten memberikan dampak
positif yang multidimensi—ekonomi, sosial, budaya, dan keagamaan—namun
distribusi manfaat tersebut belum merata dan belum dikelola secara optimal
untuk memaksimalkan dampak positif sekaligus meminimalkan dampak negatif yang
mungkin timbul.
Keempat, sejumlah hambatan struktural dan operasional—fragmentasi
kelembagaan, keterbatasan anggaran, konflik kepentingan, dan kesenjangan
kompetensi SDM—menjadi faktor pembatas utama yang menghambat pengembangan
optimal kawasan. Penanganan hambatan-hambatan ini membutuhkan intervensi
kebijakan yang sistematis dan berkomitmen dari seluruh pemangku kepentingan.
Kelima, dari perspektif fenomenologi, kawasan Masjid Agung Banten mengandung makna yang jauh melampaui fungsi wisata—ia merupakan ruang simbolik identitas Islam Nusantara, medan kontestasi antara sakralitas dan modernitas, serta sumber kehidupan bagi komunitas yang bergantung padanya secara ekonomi. Pemahaman atas kompleksitas makna ini merupakan prasyarat bagi pengembangan kebijakan dan strategi pengelolaan yang autentik dan berkelanjutan.
DAFTAR PUSTAKA
Annisarizki, dan Media Sucahya. “Manajemen Wisata Religius
Kesultanan Banten (Bauran Komunikasi Pemasaran Dalam Meningkatkan Jumlah
Wisatawan).” Nyimak Journal of Communication 2, no. 2 (2018).
https://doi.org/10.31000/nyimak.v2i2.928.
Chairunisa, Salsabila. “Pengaruh Kualitas Layanan, Experiential
Marketing, dan Citra Destinasi Terhadap Keputusan untuk Berkunjung Kembali
Melalui Kepuasan Pengunjung Sebagai Variabel Intervening (Studi pada Objek
Wisata Religi Masjid Agung Banten).” Diponegoro Journal of Management
12, no. 2 (2023): 1–13.
Creswell, John W., dan Cheryl N. Poth. Qualitative Inquiry and
Research Design: Choosing Among Five Approaches. 4th ed. Thousand
Oaks: SAGE Publications, 2018.
Husserl, Edmund. Ideas Pertaining to a Pure Phenomenology and
to a Phenomenological Philosophy. Diterjemahkan oleh F. Kersten. The Hague:
Martinus Nijhoff, 1983.
Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia. Laporan
Statistik Kepariwisataan Nasional. Jakarta: Kemenparekraf RI, 2022.
Miles, Matthew B., A. Michael Huberman, dan Johnny Saldaña. Qualitative
Data Analysis: A Methods Sourcebook. 4th ed. Thousand Oaks: SAGE
Publications, 2014.
Moustakas, Clark. Phenomenological Research Methods.
Thousand Oaks: SAGE Publications, 1994.
Nurfadhila, Annisa, dan Asep Dadan Suganda. “Intensitas Kunjungan Wisata
Religi Menjadi Penentu Pendapatan Street Vendors Kawasan Masjid Agung Banten
Lama.” I-Economics: A Research Journal on Islamic Economics 7, no. 1
(2021). https://doi.org/10.19109/ieconomics.v7i1.8990.
Parasuraman, A., Valarie A. Zeithaml, dan Leonard L. Berry.
“SERVQUAL: A Multiple-Item Scale for Measuring Consumer Perceptions of Service
Quality.” Journal of Retailing 64, no. 1 (1988): 12–40.
Ramadhani, Angeli, Nadia Khumairatun Nisa, Amealiea
Prihatinningsih Malandy’s, Ria Amelia, Azalia Salsabila, Siti Alya Aryanti, dan
Syifa Aulia Ramadhani. “Kolaborasi Pemerintah dan Masyarakat dalam Upaya
Pelestarian Masjid Agung Banten Sebagai Warisan Sejarah Islam Nusantara.” Jurnal
Riset Rumpun Ilmu Sosial, Politik dan Humaniora 5, no. 2 (2024).
https://doi.org/10.55606/jurrish.v5i2.7364.
Riyanto, Dedi, Heri Junaidi, dan Chandra Zaki Maulana. “Pengaruh
Wisata Religi Bayt Al-Qur’an Al-Akbar Kota Palembang Terhadap Perekonomian
Warga Sekitar.” Jurnal Intelektualita: Keislaman, Sosial, dan Sains 12,
no. 1 (2023). https://doi.org/10.19109/intelektualita.v12i1.17131.
Zeithaml, Valarie A., A. Parasuraman, dan Leonard L. Berry. Delivering Quality Service: Balancing Customer Perceptions and Expectations. New York: Free Press, 1990.
CATATAN KAKI
¹ Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, Laporan
Statistik Kepariwisataan Nasional (Jakarta: Kemenparekraf RI, 2022).
² Angeli Ramadhani et al., “Kolaborasi Pemerintah dan Masyarakat
dalam Upaya Pelestarian Masjid Agung Banten Sebagai Warisan Sejarah Islam
Nusantara,” Jurnal Riset Rumpun Ilmu Sosial, Politik dan Humaniora 5,
no. 2 (2024), https://doi.org/10.55606/jurrish.v5i2.7364.
³ Salsabila Chairunisa, “Pengaruh Kualitas Layanan, Experiential
Marketing, dan Citra Destinasi Terhadap Keputusan untuk Berkunjung Kembali
Melalui Kepuasan Pengunjung Sebagai Variabel Intervening (Studi pada Objek
Wisata Religi Masjid Agung Banten),” Diponegoro Journal of Management
12, no. 2 (2023): 1–13.
⁴ Annisarizki dan Media Sucahya, “Manajemen Wisata Religius
Kesultanan Banten (Bauran Komunikasi Pemasaran Dalam Meningkatkan Jumlah
Wisatawan),” Nyimak Journal of Communication 2, no. 2 (2018),
https://doi.org/10.31000/nyimak.v2i2.928.
⁵ Chairunisa, “Pengaruh Kualitas Layanan,” 1–13.
⁶ Annisarizki dan Sucahya, “Manajemen Wisata Religius Kesultanan
Banten.”
⁷ Annisa Nurfadhila dan Asep Dadan Suganda, “Intensitas Kunjungan
Wisata Religi Menjadi Penentu Pendapatan Street Vendors Kawasan Masjid Agung
Banten Lama,” I-Economics: A Research Journal on Islamic Economics 7,
no. 1 (2021), https://doi.org/10.19109/ieconomics.v7i1.8990.
⁸ Zeithaml, Parasuraman, dan Berry, Delivering Quality Service:
Balancing Customer Perceptions and Expectations (New York: Free Press,
1990), 20–25.
⁹ A. Parasuraman, Valarie A. Zeithaml, dan Leonard L. Berry,
“SERVQUAL: A Multiple-Item Scale for Measuring Consumer Perceptions of Service
Quality,” Journal of Retailing 64, no. 1 (1988): 12–40.
¹⁰ Chairunisa, “Pengaruh Kualitas Layanan,” 10–11.
¹¹ Ramadhani et al., “Kolaborasi Pemerintah dan Masyarakat.”
¹² Annisarizki dan Sucahya, “Manajemen Wisata Religius Kesultanan
Banten.”
¹³ Nurfadhila dan Suganda, “Intensitas Kunjungan Wisata Religi.”
¹⁴ Dedi Riyanto, Heri Junaidi, dan Chandra Zaki Maulana, “Pengaruh
Wisata Religi Bayt Al-Qur’an Al-Akbar Kota Palembang Terhadap Perekonomian
Warga Sekitar,” Jurnal Intelektualita: Keislaman, Sosial, dan Sains 12,
no. 1 (2023), https://doi.org/10.19109/intelektualita.v12i1.17131.
¹⁵ Edmund Husserl, Ideas Pertaining to a Pure Phenomenology and
to a Phenomenological Philosophy, terjemahan F. Kersten (The Hague:
Martinus Nijhoff, 1983), 3–20.
¹⁶ Clark Moustakas, Phenomenological Research Methods
(Thousand Oaks: SAGE Publications, 1994), 84–102.
¹⁷ John W. Creswell dan Cheryl N. Poth, Qualitative Inquiry and
Research Design: Choosing Among Five Approaches, 4th ed. (Thousand
Oaks: SAGE Publications, 2018), 72–97.
¹⁸ Creswell dan Poth, Qualitative Inquiry and Research Design,
4th ed., 45–46.
¹⁹ Matthew B. Miles, A. Michael Huberman, dan Johnny Saldaña, Qualitative
Data Analysis: A Methods Sourcebook, 4th ed. (Thousand Oaks: SAGE
Publications, 2014), 28.
²⁰ Creswell dan Poth, Qualitative Inquiry and Research Design,
4th ed., 164–165.
²¹ Miles, Huberman, dan Saldaña, Qualitative Data Analysis,
4th ed., 31–33.
²² Annisarizki dan Sucahya, “Manajemen Wisata Religius Kesultanan
Banten.”
²³ Ramadhani et al., “Kolaborasi Pemerintah dan Masyarakat.”
²⁴ Riyanto, Junaidi, dan Maulana, “Pengaruh Wisata Religi Bayt
Al-Qur’an Al-Akbar.”
²⁵ Nurfadhila dan Suganda, “Intensitas Kunjungan Wisata Religi.”
²⁶ Dampak Transformasi Digital Terhadap Kunjungan Wisatawan
Masjid Agung Banten, Gudang Jurnal Multidisiplin Ilmu (2024),
https://gudangjurnal.com/index.php/gjmi/article/view/1318.
Posting Komentar untuk "Analisis Strategi Manajemen Pelayanan dan Pengembangan Kawasan Wisata Religi: Studi Fenomenologi pada Masjid Agung Banten"
Silahkan tinggalkan komentar untuk respon atau pertanyaan, kami akan balas secepat mungkin.