Lingkaran Kehidupan dalam Novela Kisah Ganjil Pelaut dan Keturunannya Karya Dewanto Amin Sadono Diresensi oleh : Aditia Sudarmaji
Judul Buku: Kisah Ganjil Pelaut dan Keturunannya
Penulis: Dewanto Amin Sadono
Penerbit: Rua Aksara
Tahun Terbit: Februari
Tebal: 12,5x18 cm, 128 halaman
"Apa
gunanya melawan sesuatu yang jauh lebih besar dari diri kita?" Pertanyaan
itu terus berputar di kepala saya setelah menutup lembar terakhir novela Kisah
Ganjil Pelaut dan Keturunannya karya
Dewanto Amin Sadono. Kadang hidup memang terasa seperti itu. Kita sudah
berusaha sekuat tenaga, mencari berbagai jalan keluar, memohon pertolongan ke
sana kemari, tetapi pada akhirnya tetap kalah oleh keadaan. Ketidakberdayaan, perasaan
itulah yang paling kuat saya rasakan ketika membaca novela ini.
Sejak halaman pertama,
saya langsung disuguhkan dengan kejadian aneh, seolah kejadian itulah yang
menyebabkan akhir pada novela ini. Dewanto Amin Sadono membawa pembaca masuk
perlahan ke kehidupan masyarakat pesisir yang sederhana. Namun semakin
jauh membaca, saya semakin menyadari bahwa kesederhanaan itu menyimpan tragedi
yang tidak pernah benar-benar selesai. Lembar demi lembar saya baca dengan
rasa penasaran yang terus bertambah. Saya ingin tahu apakah tokoh-tokohnya akan
berhasil keluar dari nasib yang seolah sudah ditentukan sejak mereka lahir.
Novela ini bercerita
tentang kehidupan keluarga nelayan di Dukuh Simonet, Wonokerto, Jawa Tengah.
Tokoh utama generasi pertama adalah Taslani, seorang buruh nelayan yang hidup
bersama istrinya, Casmonoh, dan anak mereka, Caslani. Kehidupan mereka tidak
pernah benar-benar tenang karena ancaman abrasi Laut Jawa yang terus menggerus
daratan tempat mereka tinggal. Kebun melati milik Casmonoh yang menjadi sumber
penghidupan keluarga perlahan hilang diterjang ombak. Laut yang seharusnya
menjadi tempat mencari nafkah justru berubah menjadi ancaman yang merampas
kehidupan mereka sedikit demi sedikit.
Taslani berusaha
melawan. Ia membuat tanggul, meminta bantuan orang pintar, hingga mencari
pertolongan kepada sosok mistis yang dipercaya masyarakat pesisir, yaitu Dewi
Lanjar. Namun semua usahanya berakhir sia-sia. Laut tetap datang, terus
mengambil apa yang mereka miliki. Hingga suatu hari Taslani menghilang dan
tidak pernah kembali.
Yang membuat kisah ini
semakin tragis adalah kenyataan bahwa kehidupan yang sama terulang pada
anaknya, Caslani. Ia tumbuh menjadi nelayan seperti ayahnya, menghadapi masalah
yang sama, melakukan usaha yang sama, bahkan mengambil keputusan yang sama.
Saat membaca bagian ini, saya seperti melihat roda kehidupan yang berputar di
tempat. Generasi berganti, tetapi nasib mereka tidak pernah
benar-benar berubah. Roda kehidupan keluarga nelayan ini baru bisa terputus pada
generasi setelah Caslani, yaitu pada anaknya, Taslani. Ia tidak mengikuti jejak
ayah dan kakeknya yang berusaha melawan lautan serta tidak menjadi nelayan.
Di sinilah
kekuatan utama novela ini. Dewanto Amin Sadono berhasil menggambarkan bagaimana
kemiskinan, lingkungan, dan tradisi dapat membentuk sebuah lingkaran kehidupan
yang sulit diputus. Laut dalam cerita ini bukan sekadar latar tempat, melainkan
seperti tokoh yang hidup. Ia hadir sebagai kekuatan besar yang selalu menang
atas manusia. Pembaca dibuat merasakan ketidakberdayaan para tokohnya ketika
berhadapan dengan alam yang terus bergerak tanpa bisa dihentikan.
Selain itu,
unsur mistis yang dihadirkan penulis memberikan warna tersendiri. Kepercayaan
masyarakat terhadap Dewi Lanjar, doa-doa, dan berbagai ritual yang dilakukan
menghadirkan nuansa realisme magis yang menarik, seolah kejadian seperti sudah
biasa kita dengar. Begitu juga dengan fakta tenggelamnya Dukuh Simonet, karena
abrasi dan banjir rob yang sudah berlangsung dari tahun 2005. Unsur tersebut
membuat cerita tidak hanya berbicara tentang kemiskinan atau abrasi, tetapi
juga tentang bagaimana manusia mencari harapan ketika logika dan usaha tidak
lagi mampu memberi jawaban.
Gaya bahasa
yang digunakan penulis cukup sederhana sehingga cerita mudah dipahami. Meski
mengangkat kehidupan masyarakat pesisir dengan berbagai persoalannya, novela ini
tetap terasa ringan untuk diikuti. Penulis juga mampu menggambarkan suasana
pantai utara Jawa dengan baik sehingga pembaca dapat membayangkan kerasnya
kehidupan yang dijalani para tokoh.
Namun, novela
ini bukan tanpa kelemahan. Alur cerita pada generasi Taslani dan Caslani yang
dibuat berulang, tidak ada perbedaan. Konflik yang dihadapi kedua tokoh hampir
sama dan penyelesaiannya pun berjalan dengan pola yang serupa. Selain itu, unsur mistis
yang menjadi bagian penting cerita terasa kurang dieksplorasi lebih dalam.
Pembaca tidak benar-benar mengetahui apa yang terjadi selama Taslani dan
Caslani menghilang bertahun-tahun setelah mencari Dewi Lanjar.
Kisah Ganjil Pelaut dan
Keturunannya tetap merupakan karya yang menarik untuk dibaca. Novela ini tidak
hanya menceritakan kehidupan nelayan, tetapi juga memperlihatkan bagaimana
seseorang bisa terjebak dalam lingkaran nasib yang diwariskan dari generasi ke
generasi. Melalui tokoh Tolani, generasi ketiga dalam keluarga tersebut,
Dewanto Amin Sadono seakan ingin menunjukkan bahwa perubahan selalu mungkin
terjadi, meskipun tidak mudah. Pendidikan menjadi jalan yang akhirnya mampu
memutus rantai kehidupan yang selama ini mengikat keluarganya.
Pada akhirnya, novela
ini meninggalkan satu pertanyaan yang terus mengusik saya: apakah manusia
benar-benar kalah oleh takdir, atau sebenarnya mereka hanya belum menemukan
cara untuk melawannya? Barangkali Dewanto Amin Sadono tidak memberikan jawaban
pasti. Namun melalui kisah keluarga nelayan ini, ia mengingatkan bahwa harapan akan
selalu ada selama manusia tidak berhenti mencari jalan keluar dari lingkaran
yang membelenggunya.
Penulis : Aditia Sudarmaji,
mahasiswa di Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Mataram.
Posting Komentar untuk "Lingkaran Kehidupan dalam Novela Kisah Ganjil Pelaut dan Keturunannya Karya Dewanto Amin Sadono Diresensi oleh : Aditia Sudarmaji"
Silahkan tinggalkan komentar untuk respon atau pertanyaan, kami akan balas secepat mungkin.