Novel The Wong Phan is Back_Endorsmen
Kata Pengantar
Novel The Wong Phan is Back ini lahir bukan semata dari keinginan
penulis, melainkan dari ingatan, jarak waktu, dan satu pertanyaan sederhana
dari seorang pembaca. Pada tahun 2015, saya menulis I Found You, lalu
melanjutkannya dengan My Empress from the Past. Dua novel itu
sesungguhnya lahir dari kegundahan hati saya. Kerinduan seorang sahabat yang
begitu berarti dalam hidup saya: Anton, sosok nyata yang menjadi jejak emosi,
keberanian, dan kesetiaan dalam dunia fiksi yang saya bangun.
Di dunia nyata, rasa kehilangan itu begitu kuat, hingga
bahkan setelah perpisahan kami 25 tahun lalu saat tamat SMK, Anton tidak pernah
benar-benar pergi dari alam bawah sadar saya. Hingga hari ini, saya telah 159
kali memimpikannya, sebuah angka yang tidak saya hitung untuk dikenang,
melainkan untuk dipahami, Bahkan potongan-potongan novel itu alurnya
datang 159 kali mimpi itu. Awalnya pada
tahun 2000, saya belum memiliki hape maupun komputer. Hanya menuliskan
mimpi-mimpi itu dalam buku sembarangan.
Tahun 2010-2015 saya
berada pada keterpurukan hidup, sosok Anton selalu diharapkan untuk hadir
melindungi. Novel I Found You dan Novel My Empress From The Past itu telah
menyelamatkan hidup saya. Karena novel itu meyembuhkan luka-luka dalam relung
hati.
Menariknya, di dunia nyata, setelah saya menikah dengan my
Superior Husband From America. Mr. John, mimpi-mimpi itu hampir sepenuhnya
menghilang. Dalam rentang waktu pernikahan dengan suami bule itu, Anton hanya
hadir dua kali di alam mimpi, seolah hati akhirnya menemukan bentuk
ketenangannya sendiri. Mungkin karena
suami saya di dunia nyata mampu memberikan apa yang saya harapkan di dalam
hidup, kenyamanan, dilindungi dan dicintai.
Bertahun-tahun kemudian, seorang pembaca datang dan
bertanya: “Kenapa kisah Wong Phan tidak dilanjutkan? Buatlah Wong Phan itu
kembali!” pembaca itu mengharapkan kehidupan Wong Phan dikembalikan.
“The Wong Phan Is Back” ditulis sebagai lanjutan sekaligus
kepulangan. Bukan sekadar sekuel, tetapi jawaban atas perjalanan panjang
seorang perempuan yang dipaksa menjadi sesuatu yang bukan dirinya, lalu
perlahan mencari jalan untuk kembali kepada keluarganya, kepada dirinya sendiri,
dan kepada kebenaran yang pernah direnggut darinya.
Novel ini tidak hanya bercerita tentang kekuasaan, bisnis
gelap, atau intrik internasional. Ia berbicara tentang pilihan yang tidak
pernah bebas, tentang cinta yang harus bertahan dari kejauhan, dan tentang
harga yang harus dibayar untuk tetap hidup ketika pulang bukan lagi perkara
jarak.
Untuk para pembaca lama, novel ini adalah janji yang
akhirnya ditepati. Untuk pembaca baru, ini adalah pintu masuk ke dunia Wong
Phan, dunia yang gelap, keras, tetapi tetap menyisakan harapan. Namun, seorang wanita harus tetap bertahan
dalam kebenaran.
Thanks to Allah SWT, yang telah mengirimkan ide dan memberikan kekuatan untuk menyelesaikan naskah ini. Terima kasih kepada satu pembaca yang bertanya, dan kepada banyak pembaca yang diam-diam menunggu. Novel ini ada karena kalian.
Salam Penulis
Arnita
Adam
Endorsmen
Saya membuka The
Wong Phan Is Back dalam suasana yang benar-benar saya siapkan untuk membaca
dengan utuh. Tidak terburu-buru, tidak sambil melakukan hal lain. Buku itu ada
di tangan dan sejak halaman pertama, saya langsung merasa sedang memasuki
sebuah perjalanan batin, bukan sekadar mengikuti alur cerita. Bahasa yang
digunakan terasa tenang, tetapi menyimpan tekanan emosi yang perlahan muncul ke
permukaan.
Ada banyak bagian yang
membuat saya berhenti sejenak, menahan napas, lalu melanjutkan lagi dengan
perasaan yang berbeda. Bukan karena ceritanya rumit, melainkan karena konflik
yang dihadirkan begitu manusiawi. Wong Phan digambarkan hidup di tengah dunia yang
keras, penuh kepentingan dan kekuasaan, namun ia tidak kehilangan sisi rapuhnya
sebagai manusia. Justru dari keretakan-keretakan itulah kekuatannya terasa
nyata.
Saat membaca, saya
seperti diajak menyusuri pilihan-pilihan hidup yang tidak pernah hitam putih.
Novel ini tidak menawarkan jawaban mudah. Ia memaksa pembaca untuk memahami
bahwa bertahan hidup sering kali berarti menanggung konsekuensi yang berat dan
pulang bukan selalu tentang kembali ke tempat asal, melainkan tentang
keberanian menghadapi kebenaran yang lama disembunyikan.
Semakin jauh halaman
berganti, semakin terasa bahwa kisah ini dibangun dengan emosi yang matang. Ada
cinta yang tidak berisik, ada kehilangan yang tidak selalu ditangisi, dan ada
harapan yang muncul diam-diam di sela-sela keterpurukan. Saya membaca dengan
perasaan campur aduk antara tegang, tersentuh, dan sesekali merenung tentang
pilihan hidup saya sendiri.
Ketika buku itu akhirnya saya tutup, cerita Wong Phan tidak ikut berhenti. Ia tertinggal di pikiran saya, mengajak berpikir tentang arti bertahan, tentang harga sebuah kejujuran, dan tentang kekuatan seorang perempuan yang tetap berdiri, bahkan ketika dunia tidak memberinya untuk pulang dengan mudah.
Daftar Isi
Hari
Pertama di Rumah Orang Asing
Pucuk di Cinta Tercapai Cita-cita
Laki-Laki yang Menonton dari Jarak Aman


Posting Komentar untuk "Novel The Wong Phan is Back_Endorsmen "
Silahkan tinggalkan komentar untuk respon atau pertanyaan, kami akan balas secepat mungkin.