Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

The Wong Phan is Back_Jilid 1


Aku telah menempuh perjalanan panjang, melewati hari-hari yang menguras harapan dan langkah-langkah yang hampir menyerah. Dalam lelah yang diam, aku tetap bertahan, meski sering bertanya apakah pencarian ini masih berarti. Hingga pada satu waktu yang tak terduga, semesta menjawab semua letihku. Aku berhenti mencari, dan di sanalah aku akhirnya menemukanmu.

 

The Man From America

A

ku berjalan ringan ke arah ruang keluarga, lalu duduk di sofa cokelat dengan motif batik. Kutekan tombol telepon dan menunggunya hingga tersambung.

“Hallo,” jawab suara di seberang telepon.

“Ton, jadi nonton PSMS gak ni?” celetukku di telepon. Tangan kanan menyibak rambut panjangku ke belakang.

“Sorry Li,  gue nggak jadi pergi, gue lagi sakit nih,” terdengar jawaban di seberang telepon.

“Sakit apa, Ton? Tadi, waktu pulang sekolah lo baik-baik aja,” gumamku.

“Sakit kepala gue kambuh lagi,” jawabnya singkat.

“Yaelah, gue pergi sendiri aja deh, ntar gue kabarin hasilnya,” gumamku kecewa.

Aku dan Anton punya banyak kesamaan. Aku suka bola, dia juga. Sama-sama cuek kalau soal penampilan. Aku suka musik, dia pun sama. Yang berbeda hanya agama kami, aku muslim, sementara dia Budha.

Ingat banget pertama kali kenal dia, waktu itu pas MOS. Dia jadi bahan olok-olokan kakak senior. Kak Dhea, seorang senior meminta Anton untuk menyanyi. Namun, karena suara cemprengnya yang mungkin tak layak untuk dipertontonkan, Anton menolaknya.

Kak Dhea memberikan donat ke Anton dan memintanya untuk memilih satu cewek dan menyuapinya dengan donat tersebut.

“Aku pilih dia kak,” ujar Anton yang membuatku sesak napas.

Dia memilihku? Sumpah demi apa aku terpaksa maju ke depan kelas, dengan canggung dia menyuapkan sepotong donat ke arahku. Enak juga sih, lumayan buat pengganjal perut. Semenjak saat itu, aku dan Anton berteman sampai sekarang.

Ah, kok jadi ngomongin dia sih. Entar aku telat lagi ke stadionnya.

***

Aku lebih suka di tribun VIP saat nonton bola, bersama Anton pun juga pasti memilih untuk duduk di tibun ini. Alasannya sih karena nyaman aja, lebih comfort  di sini.          Kini aku sedang duduk di barisan ketiga tribun VIP, stadion kebanggaan Kota Pekanbaru, Stadion Rumbai. Sorak-sorai para suporter mulai terdengar, beruntung aku datang lebih awal dan bisa memilih tempat duduk.

 

 

Seperti Harapan

S

epuluh menit sebelum pertandingan dimulai, para penonton sudah terlihat ramai memadati stadion. Semua terlihat gembira menyambut pertandingan penentu untuk PSPS. Jika tetap ingin melaju ke Liga Nasional, PSPS harus menang. 

Para penonton, sekitar 95% merupakan penggemar PSPS, terlihat dari jersey yang mereka pakai dan tulisan Askhar The King dari berbagai komunitas suporter di Pekanbaru. Hanya beberapa orang saja yang mendukung PSMS, yakni para pedagang  yang berasal dari Medan, namun tinggal di Pekanbaru.

Mataku beralih ke arah samping, sekelompok orang masuk menuju tempat duduk para pejabat dan tamu undangan, mulai dari Bapak Gubernur, Bapak Wali Kota dan para pejabat Caltex  yang berasal dari Amerika Serikat.

Prittt!!!!

Wasit meniup peluit panjang. Semua mata mulai tertuju ke lapangan. Pemain PSPS begitu semangat menghadapi pertandingan, sebagai tuan rumah dengan dukungan penuh suporternya, mereka sedikit di atas angin.     Pertandingan semakin seru tatkala memasuki menit ke 37, Irwanto yang berdiri pada posisi sayap kiri dari PSPS mengiring bola ke tengah, lalu menendangnya tinggi-tinggi ke kiri lapangan. Terus disambar oleh Daniel Bikio Osey yang diimpor dari Nigeria, bertugas sebagai gelandang di PSPS. Daniel menendang bola ke arah kanan, di sana ada Imam Faisal yang bertugas sebagai penyerang, dia langsung menyundul bola ke depan, tak pelak lagi gol pun bersarang di gawang lawan.  Gol!!!

Aku sudah berjingkrak-jingkrak sambil bertepuk tangan, lalu mengacungkan kedua jempolku ke arah pemain PSPS. Bukan aku saja yang merasakan kegembiraan luar biasa, hampir seluruh penonton merasakan hal yang sama, mereka mengekspresikannya dengan cara masing-masing.

Ada yang berteriak, “Hidup PSPS!”, memukul botol kosong air mineral, ada juga yang saling berpelukan saking bahagianya.

Deg ...

Pandanganku terhenti, kurasakan sepasang mata biru yang dari tadi memandangku. Blue eyesnya menjadi pusat perhatian bagi orang-orang di sekitarnya. Rambutnya yang pirang, serta bibirnya yang merekah sedari tadi menjadi bahan pembicaraan ibu-ibu di sampingku. Wajahnya mirip Taylor Hanson kawe saat masih muda.

“Why?” tanyaku sambil mengangkat dagu, dia tersenyum tipis ke arahku.

“Nothing,” ujarny sambil mengalihkan perhatiannya ke arah snack yang ada di mejanya.

“Dasar bule aneh,” desisku, semoga saja dia tak bisa bahasa Indonesia.

***

Aku berjalan tergesa keluar stadion. Mati aku kalau sampai telat untuk shalat jamaah sama ibu angkat dan keluarga.

Citt!!!!

Brukk!!!

Tak sempat memperhatikan jalan, sebuah BMW menyerempet kakiku. Untung refleksku bagus, aku mampu menghindar walau kaki sedikit lecet-lecet.

“Pak!!! Kalau bawa mobil hati-hati dong,” teriakku keras, sopir BMW itu pun sedikit takut karena teriakanku, mukanya memucat.

“Kamu gak papa, Dik?” tanya sang sopir.

“Gak papa gimana, Pak?  Lihat nih lecet-lecet gini,” gerutuku kesal.

“Kamu gak papa, Nak?” seorang bule paruh baya menghampiriku.

Ternyata pria bule itu bisa berbahasa Indonesia dengan baik dan benar. Ditanya seperti itu membuatku lemah, tidak sanggup meluapkan emosi, bagai api disiram air.

“Nggak apa-apa, hanya saja, lututku sedikit sakit diserempet mobil ini,” jawabku sambil memegang lutut.

Kalau begitu biar saya lihat,” pinta laki-laki itu.

“Nggak usah, nggak apa-apa kok,” jawabku memandang ke wajah pria itu, seperti pernah melihatnya.

“Kamu pulang naik apa? Biar saya antar, ya?” tawarnya.

Kalau aku tidak menerima niat baik orang ini, pasti tidak bisa shalat berjamaah. Ibu juga pasti khawatir kalau aku tidak pulang tepat waktu, mencari angkot di jalan yang sedikit macet seusai pertandingan seperti ini juga tak mudah. Tanpa berpikir panjang, aku mengangguk..

Sang sopir membukakan pintu belakang, aku pun bergegas masuk. Di sampingku ada seorang cowok yang mungkin seusia denganku, tengah bermain tabnya.

What the ...

Si annoying bule itu kini duduk di sampingku, itu lho yang di stadion terus memperhatikanku.

“Namamu siapa, Nak?” ujar bule paruh baya tadi.

”Aku, Lia, Om. 

Sambil mengulurkan tangannya, bule tua itu melanjutkan ucapannya, “Kenalkan, Om Franklin, manager di Caltex. Dan ini anak Om, Benyamin Franklin. Panggil saja Ben. Om berasal dari Amerika, tapi istri om berasal dari Italia,” ucap Om Frank memperkenalkan diri.

Aku hanya mengangguk-angguk sementara Ben terlihat enggan untuk terlibat obrolan denganku. Sombong sekali dia, uh.

“Om, bisa gak mobilnya kencengan dikit? Aku bisa telat shalat jamaah nih, Om,” pintaku pada Om Frank. Dia pun memerintahkan sopirnya untuk lebih cepat, baik sekali dia, gak kayak Ben.

“Jadi kamu bukan orang Pekanbaru?” Om Frank memulai obrolan.

“Iya, Om, Aku orang kampung yang sekolah di SMK Negeri 1 Pekanbaru. Karena di kabupaten tempatku, belum ada sekolah kejuruan. Untung saja NEM-ku tinggi, Om. Jadi, aku di terima. Beruntung sekali kan aku, Om?” cerocosku.

“Lalu kamu tinggal di sini sama siapa?”  tanya Om Frank.

“Sama ibu angkat aku, Om,” celetukku sambil tersenyum, Ben terlihat mulai tertarik untuk mendengarkan ceritaku walau gak ikut berkomentar.

“Bagaimana dengan orang tua angkat kamu? Mereka baik?” tanya Om Frank lagi.

“Alhamdulillah orang tua angkatku baik banget, Om. Ibu gak pernah absen nanyain tentang shalat, ayah pun juga sangat perhatian.” jawabku memberi penjelasan.

“Jadi, Lia bisa baca Al-Qur’an?” tanyanya sambil menyebut namaku. Yah namaku itu, agak sedikit aneh bila orang lain menyebutku dalam obrolan, tapi aku cukup bersyukur mempunyai nama ini.

“Kalau baca saja, insyaallah Aku bisa. Tapi tidak bisa menerjemahkannya,” jawabku jujur.  Mengapa Om Frank tahu tentang Al-Qur’an?” tanyaku heran, aku kira dia bukan seorang muslim.

“Dulu Om orang Kristen, tetapi sekarang Muslim,” jawabnya.

“Subhanallah.” Aku terkejut tak menyangka.

Kalau begitu, bisakah Lia membantu Om untuk mengajar Ben membaca Al-Qur’an? tawarnya padaku.

Apa? Membantu Ben untuk belajar membaca Al Qur’an? Dekat dengannya saja sudah membuat jantungku berdetak tak normal. Bagaimana bisa mengajarinya membaca Al Qur’an?

“Apa? Anak Om yang ini? Kak ... Ben?” ujarku menggantung.

“Iya, dia muallaf, baru tahun ini dia belajar tentang Islam, jadi bagaimana?” tanya Om Frank memastikan.

“Tapi kenapa harus aku, Om?’ tanyaku melirik Ben yang sedari tadi diam saja, dia gak bisu kan? Tapi kenapa dia tidak ikut bicara?

“Tapi kenapa harus aku, Om?” ulangku ragu.

Om Frank tersenyum. “Ben itu orangnya tak suka digurui, mungkin jika yang mengajar seumuran dengannya, dia akan nyaman,” jelas Om Frank.

Aku manggut-manggut. “Nanti aku pikirkan yah, Om? Semoga aja orang tuaku mengizinkan.”

“Oke fine, gak papa,” ujar Om Frank.

Anak sama Bapak beda jauh yah, apa jangan-jangan Ben anak angkat? Ah ... sudahlah.

 

 

My Best Friend

“T

on … PSPS menang! Golnya cantik banget lagi, apalagi stikernya PSPS, itu Imam Faisal mencentak golnya dengan indah, pokoknya pertandingannya tidak bisa dilupakan!” cerocosku, tanpa permisi langsung duduk di samping Anton. Namun, hanya dibalas dengan senyuman.

Kelas kami memang kelas unggulan, dari 45 siswa dalam satu lokal. Hanya 9 orang pribumi termasuk aku, dan yang lainnya WNI keturunan China.

“Kamu masih sakit kepala, Ton?” aku bertanya lagi untuk meyakinkan kalau sahabatku ini baik-baik saja. 

“Gak, jadi kemarin loe pulangnya gimana?” tanya Anton yang terlihat menyesal karena tak bisa mengantarku, terlihat dari mukanya yang ditekuk.

“Dianter sama bule,” jawabku singkat sambil menaruh tasku di laci.

“Hah? Kok bisa?” teriak Anton kaget.

“Setdah, itu mulut apa speaker mushola? Kenceng amat,” gumamku kesal. “Ceritanya panjang.” Lalu menceritakan semuanya pada Anton.

“Jadi loe mau ngajarin si Annoying bule itu?” tanya Anton.

“Ben, ton. Namanya Ben,” protesku.

“Tapi kan loe yang bilang dia annoying, yah gue kan cuman ngikutin cara loe,” gumam Anton.

Maybe, tapi gak tahulah,” gumamku sambil tersenyum. Beruntung aku punya sahabat seperti Anton, dia baik dan selalu menjagaku, you are the best friend deh, Ton.

“Loe kenapa senyum-senyum?” tanya Anton sambil menyentuh keningku.

“Apaan sih? Loe kira gue sakit,” celetukku.

“Habisnya tingkah loe mencurigakan, kayak orang kesambet, mikirin si bule, ya? Ahahaha,” gumam Anton sambil tertawa.

“Sialan loe,” gumamku mencubit pinggang Anton.



Lagumu

A

ku memandangi Anton yang sedari tadi komat-kamit sambil menghapal sesuatu di kertas putih yang berada di tangannya.

“Ton, lagi ngapain?” tanyaku.

“Ngapalin lagu,” gumamnya tak menoleh.

Aku meraih kertas di tangan Anton, lalu tertawa terbahak. “Gak salah nih, Ton. Selera kamu jadul banget,” gumamku sambil membaca lirik lagu di kertas Anton.

“Jadul gini loe juga ga apal kan?” ledek Anton.

“Beuh, kalau cuman ngapalin lagu sih gampang,”  gumamku.

“Coba ini kamu apalin,” gumam Anton. Dia pun mulai bernyanyi dan aku mengikutinya. Entah kenapa aku cepat menghafalnya.

“Weh, bisa juga loe ngapalin lagu cepet,” puji Anton.

“Iya dong, sekarang mana janji loe, loe kan mau ngajarin gue lagu china,” todong gue pada Anton.

 “Loe mau lagu apa?” tanya Anton.

“Terserah loe aja, gue mana tahu?” jawabku.

“Baiklah, kalau begitu lagu yang cocok untuk loe,” Anton terlihat berpikir keras terlihat dari keningnya penuh kerutan. Lalu mengambil pena dan mulai menuliskan liriknya.

“Lagu yang pas buat loe, Pie Won Wei Sou Sei,” gumamnya.

“Boleh deh,” jawabku.

“Hm .... ehm ... oke, ikutin gue, ya?” pinta Anton.

Anton mulai menyanyikan lagu yang ditulisnya di selembar kertas, kuikuti syair dan lirik dari lagu tersebut.

“Nah, sekarang coba loe yang nyanyi sendiri, Ronaldo!” pinta Anton kepadaku.

Panggilan itu memang khusus diberikan Anton untukku. Karena aku salah satu fans dari pemain Real Madrid itu sih.

Anton menyodorkan kertas yang bertulisan lagu tersebut. Aku mulai menyanyikannya dengan serius. Dia mendengarkan dengan seksama, seperti pakar musik yang menilai setiap syair muridnya.

“Sudah bagus Ronaldo, coba lebih keras lagi,” pinta Anton.

Aku mengulangi kembali lagu itu dengan suara yang lebih keras. Namun, anehnya semua orang China yang ada di kelas, saling berpandangan dan tersenyum. Seolah-olah sedang menonton pertujukan yang membuat mereka tertawa terbahak-bahak.  Atau mereka sedang merasa geli terhadap sesuatu.

“Bagus Ronaldo, ulangi lagi.

Aku kembali mengulangi lagu itu dengan suara yang agak keras, karena sudah percaya diri oleh pujian yang diucapkan Anton.

“Ronaldo, gue ke toilet dulu, ya?” celetuk Anton.

Sambil mengganguk tanda setuju, aku masih tetap menyanyikannya, meskipun Anton sudah berlalu pergi.  Setelah selesai menyanyikan lagu yang diajarkan Anton, ada rasa puas menjalar di dada Aku.

Tanpa sadar, Wuching sudah berdiri di sampingku. Tanpa memperdulikan kehadiran Wuching, aku tetap saja meneruskan nyanyian. Sementara Wuching serius memperhatikan lembaran kertas yang dinyanyikan.

“Kamu tau nggak arti dari lagu ini?” ucap Wuching pelan setelah aku selesai menyanyikan lagu itu.

“Nggak, gue nggak tahu, Wu,” jawabku.

“Hm,” Sejenak Wuching menarik napas panjang, sepertinya arti dari lagu itu sangat serius. “Jangan tanya aku siapa? Aku orang gila, dan sebentar lagi masuk rumah sakit jiwa,” belum sempat Wuching mengartikan semua lagu, Aku sudah setengah berteriak

“ANTON!!!! Awas loe yah!” gumamku sambil mengepalkan tangan.

 

 

Posting Komentar untuk "The Wong Phan is Back_Jilid 1"

Kami menerima Kiriman Tulisan dari pembaca, Kirim naskah ke dengan subjek sesuai nama rubrik ke https://wa.me/+6282388859812 klik untuk langsung terhubung ke Whatsapp Kami.