Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

The Wong Phan is Back_Jilid 2 karya Arnita Adam

 


Be a Teacher

P

ulang sekolah aku langsung mendirikan shalat Dzuhur dan berganti pakaian, ingat kan hari ini pertama kali aku mengajar si Ben.

“Kamu cantik banget?”  ujar Ibu tanpa mengedipkan mata.

Ah, masa sih?

“Ibu mah bisa aja,” jawabku sambil tersenyum.

“Serius deh hari ini kamu banget, apanya yang beda yah?” ujar Ibu mengerutkan kening sambil menowel pipiku.

Hm ... putri Ibu yang cantik, masih ingat kan pesan Ibu?” ibu kembali menggodaku.

“Pesan yang mana, Bu?” aku balik bertanya, tetapi sedetik kemudian mengingat sesuatu.

“Ingat, Bu. Sesudah shalat mesti minta jodoh yang beriman dan shaleh kan?” tebakku pada pesan yang selalu Ibu ucapkan.

Ibu menyentil keningku. “Kamu itu selalu itu yang diapalin, jaga sopan santun di rumah orang, Nak,” ujar Ibu sambil mengelus kepalaku.

“Iya, Ibu. Aku tahu, aku berangkat dulu, ya?” ujarku sambil mencium tangan Ibu.

Aku pun berjalan ke arah mobil BMW yang sudah terparkir rapi di halaman, rupanya sopir Om Frank sudah lama menunggu.

Istana Putih

I

ni rumah atau istana? Pikirku saat pertama kali menginjakkan kaki di halaman rumah Om Frank. Rumah dengan desain klasik Eropa yang halamannya seluas lapangan bola ini benar-benar indah. Arsitekturnya mewah, pasti Om Frank membayar mahal untuk para desainer dan arsitek rumah ini.

“Mari masuk, Miss Lia. Tuan dan Nyonya menunggu di ruang keluarga,” ucap sang pelayan sambil mengantarku memasuki  rumah. 

Tampilan ruang keluarga mewah nan elegan lewat desain klasik Eropa menyambutku ketika memasuki rumah ini. Balutan dinding keluarga dengan cat warna putih dengan dekoratif bunga anggrek, membuat ruangan tampak mewah. 

Ruangan itu dihiasi furnitur dan aksesoris dengan desain serta detail khas arsitektur klasik. Satu set sofa  berhiaskan cushion, dipadukan dengan side table kembar di sisi kanan kirinya, lengkap dengan lampu meja pada ruang keluarga. Lukisan floral besar berbingkai emas berpadu coklat, diapit oleh dua buah jam gantung dengan detail yang unik.

“Assalamua’laikum,” Aku menyapa orang-orang yang duduk di sofa megah yang teletak di ruang keluarga.  Dua wanita paruh baya dengan penampilan wah sedang duduk santai di sofa.

Seorang wanita paruh baya menghampiriku sambil tersenyum lebar, wajahnya cantik hampir mirip Olla Ramlan. Dia pun langsung menarikku dalam pelukannya.

“Kenalkan saya Shelly! Mamanya Ben,” ucap wanita itu, kemudian mendarat ciumannya di pipi kanan dan kiriku, wangi aroma parfum Tante Shelly pun memenuhi hidungku. Berbeda dengan wanita yang masih duduk di sofa dan tak menyapaku, Tante Shelly sangat ramah.

“Ini Tante Vivi,” ujar Om Frank sambil memperkenalkan Tante Vivi padaku. Aku mengulurkan tanganku dan mencium punggung tangan Tante Vivi ketika dia menyambutnya. 

“Oh, ya. Ben sudah menunggumu di ruang shalat,” ujar Om Frank, lalu meminta pelayannya untuk menunjukkan padaku dimana Ben berada.

Aku melongok dan kagum dengan dekorasi musholla yang dilengkapi dengan aksesoris pajangan-pajangan ayat-ayat  Al-Quran dalam bingkai-bingkai indah. Bukan itu saja, ruangan itu juga dilengkapi dengan rak yang berjejer dipenuhi buku-buku Islam. 

Aku senang melihatnya karena sangat suka membaca. Ketika melihat susunan buku-buku Islam, dadaku seolah-olah meledak ingin menelan semua isi buku-buku itu di dalam batok kepala. Di samping rak buku paling kanan ada whiteboard ukuran satu meter. Karpet warna merah hati yang diimpor dari Italy menambah kemewahan ruangan sholat itu. Tampaknya setiap ruangan didesign dengan penuh pertimbangan dan kemewahan.

Ben terlihat tampan dengan koko putih yang dikenakannya, sampai-sampai aku tak sadar sudah berapa lama berdiri tanpa menyapanya.

“Hei, kenapa berdiri di situ,” ujar Ben tak suka lalu mengangsurkan buku yang dibacanya.

“Eh, asalamu’ailakum,” ujarku gugup.

“Wa’alaikumussalam,” jawab Ben cuek.

Rasanya kesal sekali selama dua jam mengajari Ben, dia sama sekali gak mau bicara padaku. Uh, menyebalkan bukan? Dia bahkan terlihat cuek dengan pelajaran yang aku berikan, ini anak niat berlajar gak sih?

“Gimana, Lia? Ben mau belajar?” tanya Tante Shelly ketika aku hendak beranjak pulang.

Aku menoleh, memastikan Ben sedang tidak mendengar pembicaraan kami. “Nggak tante, Ben mah dari  tadi cuman diem aja, apa dia dari dulu emang gitu?” tanyaku penasaran.

Raut muka Tante Shelly mendadak sedih. “Ben seperti itu sejak Barney meninggal, Barney itu saudara kembarnya Ben. Dia meninggal saat bermain ice skating bersama Ben. Ben sangat terpukul dan sejak itu dia menyalahkan dirinya sendiri,” gumam Tante Shelly sedih.

Om Frank yang baru saja datang langsung merengkuh pundak Tante Shelly. “Dia juga jadi pendiam, namun sejak kemarin dia lihat kamu di Stadion, Om merasa pandangannya berbeda sama kamu. Om lihat Ben jadi semangat hidup lagi, yah walaupun belum seperti itu.”

“Lia mau gak tinggal di sini?” tanya Tante Shelly padaku.

Hah? Tinggal di rumah sebagus ini? Siapa sih yang gak mau? Siapa pun pasti mau kan, yah? Tapi bila harus seatap sama Ben, si bule aneh itu, duh, gimana yah?

“Lia mau kan? Kalau perlu, nanti Tante izinin ke orang tua angkat di sini dan orang tua kandung kamu di kampung. Ya kan, Pa?” ucap Tante Shelly meminta persetujuan Om Frank.

“Hm gimana yah, Tante,” gumamku sambil berpikir.

Tante Shelly menggenggam tanganku. “Tante mohon,” gumamnya dengan wajah sedih.

Aku pun mengangguk pelan.

 

Hari Pertama di Rumah Orang Asing

R

asanya asing, rumah ini besar namun sepi. Ini hari pertamaku tinggal di sini. Tante Shelly dan Om Frank baik sekali padaku, awalnya ibu angkatku tak setuju. Namun Om Frank dan Tante Shelly meyakinkannya bahwa aku akan baik-baik saja tinggal bersama mereka.

“Kamu udah bangun?” sapa Tante Shelly, jam baru menunjukkan pukul  04.50, adzan Subuh baru saja terdengar.

“Iya, Tante,” ujarku sambil mengamit mukenaku menuju mushola keluarga Ben.

“Jangan panggil tante, panggil mama dong, sayang,” ujar Tante Shelly sambil mengelus kepalaku yang sudah mengenakan mukena,

“Kak Ben mana Te, eh ... Ma?” tanyaku yang masih keliru memanggil mama atau tante.

“Kak Ben shalat sendiri di kamarnya,” gumam Tante Shelly sambil tersenyum.

Ben sudah benar-benar bisa shalat sendiri kan?

“Sekalipun muallaf dia sudah hapal kok kalau soal Shalat,” gumam Tante Shelly seolah bisa membaca pikiranku. Aku pun manggut-manggut sambil tersenyum.

 

Menakhlukkanmu

B

enar kata Tante Shelly, Ben itu suka sekali melamun. Bahkan di tengah taman anggrek putih yang indah ini, dia malah melamun sendirian. Lama-lama dia bisa gila kalau terus-terusan seperti itu.

“Assalamu’alaikum,” sapaku sambil tersenyum, lalu duduk di ujung kursi taman yang sama dengannya.

Ben hanya menoleh sekilas, lalu diam lagi. Ya Allah ... makhluk apa sih ini anak?

“Eh, kalau gak jawab salam itu dosa lho,”  celetukku sambil memandang ke arah Ben.

“Wa’alaikumussalam,” ujar Ben ketus.

“Melamun gak akan nyelesain masalah kamu, Kak. Kamu lagi ada masalah, ya?” ujarku pura-pura tak tahu.

Dia mendelik ke arahku, lalu berdiri dengan rahang mengeras.

“Bukan urusanmu,” ketusnya.

“Kamu gak kasihan apa, Kak, sama orang tua kamu? Tiap hari kerjaan kamu cuman bengong kayak sapi ompong!” ujarku setengah berteriak membuat langkah Ben berhenti.

“Tahu apa kamu tentang masalahku?” ujarnya berbalik dan menatapku tajam.

“Aku gak tahu, tapi mungkin Al-Qur’an bisa memberi solusi akan masalahmu yang kelihatannya rumit itu,” ujarku.

Ben menaikkan alisnya, dia mulai tertarik sepertinya. “Sok tahu kamu,” ujar Ben ketus.

“Makanya, Kakak, belajar Al Qur’an dong biar tahu,” pancingku  pada Ben.

“Kalau aku gak nemu solusi dari masalahku, gimana?” tanyanya dengan nada mulai merendah.

“Aku mau deh jadi budak kamu seumur hidup, yang penting kamu mau belajar dulu,” bujukku pada Ben.

“Oke deal, buktikan kata-kata kamu,” ujar Ben menyeringai.

Ya Allah, bantu aku! Jangan sampai deh aku jadi budaknya dia seumur hidup.

 

 

Mari Mengaji

S

etelah memulai doa, aku mulai mengenalkan huruf hijaiyah pada Ben. Pada dasarnya belajar mengaji sama dengan belajar membaca pada huruf latin, pembedanya hanya huruf dan bacaannya dalam huruf Arab. 

Rupanya Ben sangat cerdas, dia bahkan sudah mampu membaca Iqro 3 dalam waktu singkat. Subhanallah.

 “Terima kasih, Lia, kamu telah berhasil membuat Ben mau belajar mengaji.” Seusai mengaji, Tante Shelly yang saat ini kupanggil Mama itu langsung memelukku.

“Allah yang telah membukakan pintu hati Kak Ben, Ma,” jawabku dengan senyuman.

“Menurut Lia, lebih baik Mama panggil guru mengaji yang sebenarnya. Kami akan belajar bersama-sama,” usulku pada Mama.

“Baik, akan Mama usahakan guru yang terbaik,” sela Mama gembira.

“Bagaimana dengan Kak Ben? Mau kan kita belajar bersama?” tanyaku meminta persetujuan Ben.

Ben melirikku dengan tatapan tak terbaca. “Boleh, tapi mana jawaban kamu tentang masalahku?’ todong Ben padaku, benar-benar tak sabaran.

 “Aku tahu Kak Ben menyalahkan diri sendiri atas kematian Barney. Tapi sebenarnya itu bukan salah Kakak.  Kematian seseorang bukan di tangan manusia, tetapi di tangan Allah. Kecelakaan itu hanya sebagai penyebab saja. Bagi orang yang beriman, ia akan mengambil pelajaran. Bagi yang tidak beriman akan menyalahkan diri sendiri. Bahkan ada yang sampai bunuh diri,” timpalku.

Ben sedikit kaget kenapa aku bisa tahu masalahnya.

“Mama yang memberi tahu, Ben,” ujar Mama menengahi.

“Lia benar, Ben. Teknisi asal Inggris, Gavin Prince Jones. Diduga bunuh diri karena dikejar-kejar rasa bersalah telah menyebabkan kecelakaan pesawat Air Asia QZ 8501. Dia berpikir dialah yang harus bertanggung jawab atas kecelakaan pesawat yang menewaskan 162 orang itu,” sambung Mama Shally.

“Dia bunuh diri karena tidak beriman. Orang yang beriman sentiasa diberikan ketenangan batin oleh Allah SWT,” jawabku.

“Orang yang beriman itu yang seperti apa?” tanya Ben.

“Seseorang yang beriman hanya diketahui dirinya sendiri dan Allah SWT,” gumamku.

“Iya, tapi bagaimana caranya kita mengetahui diri kita sudah beriman?” desak Ben.

“Dalam Al-Qur’an Allah menjelaskan ‘Sesungguhnya orang-orang yang beriman  ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-NYA bertambahlah iman mereka,’” jawabku.

“Ada kalimat seperti itu dalam Al-Qur’an?” Ben semakin penasaran.

“Ada!” Aku  pun mengambil Al-Qur’an dan mencari ayat tersebut. “Ini Kak, surah An-Faal ayat 2,” ujarku sambil menunjukkan terjemahan ayat tersebut kepada Kak Ben. 

Ah, aku sedikit lega, sepetinya aku tak perlu menjadi budaknya seumur hidup. Iyeah!

 

 

Ujian

S

alahkan saja Anton, udah tahu Bu Santiang itu killer, malah ngajak ngobrol pas dia belum datang. Mana pas dia muncul, aku dan Anton lagi tertawa lebar gitu. Kebayang gak gimana marahnya dia? Saking marahnya, jawaban lembar ujian kami ditahan selama 30 menit. Jadinya sisa waktuku dan Anton buat mengerjakan soal ujian pun berkurang.

“Lu sih, Ton. Udah tahu Bu Santiang killer, loe malah cuman cengangas-cengenges kayak gitu,” ujarku kesal pada Anton.

“Habisnya dia muncul pas timingnya gak tepat sih,” gerutu Anton.

“Gue gak yakin nilai gue bagus. Loe tahu, jawaban nomer 41 aja gue ngasal,” celetuk Anton.

“Apalagi gue, saking buru-burunya gue mah cuman aji mumpung,” decakku sebal. “Sudahlah, ke kantin yuk. Laper!” ajakku yang langsung disusul Anton.

***

“Gila, kok bisa?”jerit Anton yang terdengar sampai di luar kelas.

“Woy, ngapain sih loe?” ujarku yang baru muncul dari kantin. Ujian sudah selesai, jadi tak ada mata pelajaran, cuma ada beberapa untuk yang remidi.

“Lihat nih, loe dapat nilai sembilan,” ujar Anton menunjukkan kertas jawaban ujian sejarah milikku.

“Buset, ini serius?” ujarku tak percaya.

“Gue malah lebih rendah dari loe,” geleng Anton tak percaya.

Kenapa perasaanku jadi gak enak sama Anton, ya? Tapi kan ini hasil kerja kerasku sendiri. Sudahlah, dienakin ajalah. 

 

 

Ulang Tahun Kak Ben

C

antik ...

Belum pernah aku memakai gaun secantik ini, malam ini adalah ulang tahun Ben. Di rumah akan diadakan pesta untuknya. Mama membelikanku gaun pesta hijau tosca selutut dengan renda-renda kecil yang sangat indah.

Ben calling ...

Aku menatap smartphone, melihat nama Ben, aku langsung mengangkatnya.

 Hi, it’s me baby?  I’m sorry. Listen, i’m gonna be late tonight, so don’t stay up and wait for me! Oke?” suara Ben di seberang telpon, dia memakai bahasa Inggris. Untung saja Mama mengajariku bahasa tersebut, jadi aku bisa walau sedikit-sedikit.

Where are you?” tanyaku

 Say that again you really dropping out. I think my battery must be low. Listen, if you can hear me, we’re going to a place nearby, alright. Gotta go,” jawabnya.

“Where are you?” Aku mengulang pertanyaannya lagi, namun sambungannya terputus.

Aneh? Ada apa dengan Ben, jantungku mendadak tak karuan. Kuaktifkan navigasi dan segera melacak lokasinya. Dia membuatku cemas.

 “Ma, Kak Ben minta aku ke butik, ada yang penting katanya,” gumamku sambil berpamitan pada Mama dan memakai jaketku.

“Biar sopir yang nemenin kamu, Sayang,” ujar Mama.

“Gak usah, Ma. Sekarang kan aku bisa nyetir,” gumamku menolak tawaran Mama.

“Ya udah ini kuncinya,” ujar mama menyerahkan kunci BMW Silver  ke arahku.

“Makasih, Ma,” ujarku, lalu mencium pipi Mama dan bergegas pergi.

“Kamu hati-hati, ya?” pesan Mama yang kujawab dengan anggukan.

***

Hampir aku tak percaya ketika tombol navigasiku menunjuk ke arah gedung tua tiga lantai di hadapanku. Sedang apa Ben di sini? Gak mungkin kan dia sedang shopping.

Jangan-jangan dia ...






Posting Komentar untuk "The Wong Phan is Back_Jilid 2 karya Arnita Adam"

Kami menerima Kiriman Tulisan dari pembaca, Kirim naskah ke dengan subjek sesuai nama rubrik ke https://wa.me/+6282388859812 klik untuk langsung terhubung ke Whatsapp Kami.