The Wong Phan is Back_Jilid 3 karya Arnita Adam
Terpenjara
|
B |
enar kan dugaanku? Ben diculik. Untungnya aku mampu masuk
mengendap-ngendap dan menemukan Ben di lantai 3 gedung ini.
“Kak,” bisikku dari jauh ketika melihat
Ben.
Ben terlihat menunduk dengan tubuh
terikat. Pantesan kata-katanya di telepon berbahasa Inggris, sebelumnya juga
terdengar aneh dengan memanggilku baby. Ternyata dia dalam pengawasan penjahat.
Tanpa pikir panjang aku mendekati Ben, mengangkat dagunya agar melihatku.
Ya Tuhan, dia babak belur, bahkan ada
bekas darah di sudut bibirnya. “Kak, kamu gak papa?” ujarku menepuk-nepuk pipi
Ben.
Ben terlihat merespon panggilanku dan
membuka mata. “Lia, kamu ngapain di sini?” bisik Ben lemah.
“Aku akan bantuin, Kakak. Ayo kita
keluar dari sini,” ujarku sambil melepas tali-tali di tubuh Ben.
Hampir saja aku berhasil kabur, tapi
ada 3 orang bertubuh seperti binaragawan
menghadangku. Aku pun langsung pasang kuda-kuda, gini-gini aku jago
Taekwondo sabuk hijau pas di SMP. Semoga saja gak lupa gerakannya.
Dalam beberapa pukulan, aku menang. Namun
sayang, lima orang lainnya mengepungku, aku hampir mengalahkan kelimanya. Namun
naas, demi melindungiku, Kak Ben terkena pisau yang dibawa salah satunya.
“Kakak!!!” teriakku ketika melihat
darah di lengan Ben.
Ben mencengkeram bahuku, dia terlihat
kesakitan.
“Kamu gak papa kak?” lirikku.
Gak ada cara lain, pikirku. Aku pun
mengeluarkan bubuk merica dan smoke bom yang aku siapkan ketika
mengetahui navigasi Kak Ben tidak mengarah ke butik. Lalu segera menarik Kak
ben keluar gedung. Aku berhasil.
***
“Kita ke rumah sakit,” ujarku sambil
menyalakan starter mobil. Aku baru saja menelpon polisi dengan anonim,
untungnya mereka cepat datang.
“Gak, aku gak mau ke rumah sakit,”
gumam Ben. “Kita pulang!” lanjutnya dengan tegas.
“Apa! Pulang? Kakak gak liat lengan Kakak
terluka?” ujarku kesal, dia benar-benar keras kepala.
“Pokoknya aku gak mau ke rumah sakit,
aku gak pengen bikin Mama sedih,” tutur Ben.
“Mereka juga pasti sedih kalau liat Kakak
kayak gini,” gumamku dengan nada merendah.
“Kamu cari ide kek, apa kek. Biar Mama
gak tahu kita kayak gini!” ujar Ben marah-marah.
Kok jadi dia yang sewot sih! Haish!
“Vampire!” ujar Ben menjetikkan
tangannya.
“Vampire? Maksud kamu?” tanyaku tak
mengerti.
“Kita pakai make up vampire, ambil
kotak P3k di dashboard, sini aku ajarin!” ujar Ben sambil menyobek lengan
jaketnya dengan gunting.
Aku pun menuruti, idenya cukup
briliant. Bahkan Mama dan Papa tak tahu bahwa kostum Ben yang berdarah-darah
itu adalah darah beneran.
Ben ... kamu itu keras kepala, tapi
sebenarnya kamu baik. Tapi ide kostume
Vampire dalam pesta ulang tahun Ben menjadi topik unik yang masuk akal untuk
semua orang.
Janji
|
A |
ku mengendap-ngendap memasuki kamar Kak Ben seusai pesta.
“Assalamu’alaikum,” ujarku sambil mengetuk pintu kamarnya.
“Wa’alaikumussalam,” jawab suara Ben
dari dalam, dia terlihat meringis menahan sakit.
“Kamu ngapain ke sini?” tanya Ben
sambil menekan luka di lengannya. Darahnya sudah berhenti, namun nyerinya
belum.
“Ini aku bawakan obat, Kak. Biar gak
infeksi,” ujarku sambil meletakkan obat di nakas.
“Maksih,” gumam Ben lirih.
Ceklek. Pintu kamar terbuka, ada Mama
di sana! Gawat! Semoga Mama gak curiga.
“Lia, Mama cariin ke mana-mana,
ternyata kamu di sini?” celetuk Mama sambil mendekatiku.
“Iy ... Iya, Ma. Aku lagi nemenin Kak
Ben, pengen bantuin bersihin make-upnya,” ujarku.
“Oh, ya udah nanti kalau udah selesai
langsung tidur ya?” pesan Mama sebelum pergi dan aku mengangguk.
Huuuh ... untung Mama gak lihat. Ben
pun terlihat menghela napas lega sepertiku.
“Lia,” panggil Ben sebelum aku keluar.
“Iya,” gumamku.
“Kamu kenapa baik sekali ma aku?” tanya
Ben dengan nada rendah.
“Hm ....” aku mengambil napas panjang
mencari jawaban yang pas. “Karena aku adik kamu, jadi wajar dong kak kalau aku
baik ma kamu,” tuturku ringan.
“Mau berjanji denganku? Jangan
tinggalkan aku!” pinta Ben.
Aku mengangguk tulus, “Inshaa Allah,” jawabku sambil tersenyum.
My Best
Friend
|
A |
ku masih tak habis pikir motif dari penculikan Ben, kenapa
dia disekap di gudang milik keluarga Anton. Bagaimana aku bisa tahu? Anton
pernah mengajakku ke sana dan tempat itu yang jadi tempat penyekapan Ben
kemarin.
“Woi, ngelamun aja loe,” ujar Anton
menepuk bahuku.
“Loe ngagetin gue aja, kalau gue
jantungan gimana?” ujarku sewot bercampur kesal.
“Ke mana aja loe?” tanyaku setelah dua
hari gak lihat kehadirannya di kelas ini.
“Cie ... kangen yah?” ujar Anton
menowel daguku.
“Ih, ge-er loe,” ucapku sambil
mengerucutkan bibir.
“Kalau kangen ngaku aja lagi, loe lagi
ada masalah? Pagi-pagi udah melamun,” tebak Anton.
“Loe emang selalu ngerti gue, Ton.
Tentang Kak Ben, kemarin dia diculik. Dan loe tahu, dia disekap di gudang milik
keluarga loe,” ujarku dengan mata menyelidik. Aku gak berharap Anton terlibat
dalam penculikan ini.
“Hah? Serius loe?” ujar Anton kaget tak
percaya.
“Loe nggak ... terlibat kan?” tanyaku
menyelidik.
“Eng ... enggaklah. Buat apa gue nyulik
Ben?” ujar Anton tergagap, ada yang aneh dengan dirinya.
Kecelakaan
|
K |
ring ... kring ...
Telepon berdering cukup keras pagi ini, tumben ada yang
nelpon pagi-pagi.
“Biar Mama aja yang angkat,” ujar Mama
saat aku hendak mengambil gagang telepon dan mengangkatnya.
“Halo,” ujar Mama menyapa suara di
seberang sana.
“....”
“Apa?” suara Mama berubah menjadi parau.
Mama pun limbung dan jatuh pingsan.
“Mama!!! Kak Ben, Mama pingsan!!”
ujarku setengah berteriak meminta bantuan Ben.
“Halo, ini siapa?” ujarku mengambil
alih gagang telepon yang masih tersambung.
“Ya ini kami dari kepolisian, mau
memberitahukan bahwa Bapak Franklin mengalami kecelakaan helikopter menuju
Minas, beliau saat ini sudah dalam perjalanan menuju rumah sakit.
“Ada apa?” tanya Ben dengan wajah
panik.
“Papa kecelakaan di Minas, kak,”
ujarku.
“Apa? Sekarang Papa di mana?” tanya Ben
panik, lalu membantu menggendong Mama ke sofa panjang.
“Di rumah sakit, Kak. Cepetan Kakak ke
sana!” pintaku pada Ben.
“Lalu, Mama gimana?” tanya Ben
khawatir.
“Biar aku yang jagain, Kak. Papa lebih
butuh Kakak sekarang,” ujarku mendorongnya untuk segera pergi, Ben pun
mengangguk.
***
Mama baru saja sadar dari pingsan, aku
pun dengan sabar menunggu dan menghibur Mama agar tak sedih.
“Bagaimana keadaan Papa?” ujar Mama
dengan suara lirih dan hampir terisak.
“Papa insyaAllah baik-baik saja,”
gumamku sambil menepuk pundak Mama.
Tring! Sebuah pesan dari Ben, aku pun
segera membukanya.
From:
Kak Ben Papa butuh tambahan darah B, aku sedang di PMI
sekarang.
“Ada apa?” tanya Mama dengan kening
berkerut. “Dari kakakmu yah?” tanya mama khawatir.
Aku menganggguk. “Papa butuh donor
darah, Ma. Ini Kak Ben lagi di rumah sakit.
Mama pun bangun menuju brankas, lalu
mengambil uang di sana. Masih dengan tubuh lemas dan hampir terjatuh jika aku
tak memeganginya, Mama memberikan uang itu padaku.
“Kamu susul Ben, dia pasti butuh ini,”
ujar Mama sambil memberikan kunci mobil padaku.
“Tapi, mama,” ujarku masih khawatir
dengan keadaan mama.
“Mama baik-baik saja, nanti mama nyusul
ke sana,” gumam Mama.
“Baik, Ma.” Aku pun segera berangkat
menyusul Kak Ben. Semoga Papa baik-baik saja, jaga Papa, Ya Allah.
PMI
|
K |
ak Ben terlihat mondar-mandir di depan loket PMI, dia
terlihat akan menelpon seseorang.
“Kak,” sapaku lirih.
“Untung aja kamu datang, kamu bawa uang
cashnya?” tanya Ben dengan nada lega, aku pun mengangguk.
“Ini, Kak,” ujarku sambil menyerahkan
koper ke arah Kak Ben.
Kak Ben pun menyerahkan uang di koper
dan menukarnya dengan beberapa kantong darah. Kami pun segera kembali di rumah
sakit.
***
Beberapa hari ini keadaan Om Frank
sudah membaik, ah maksudku keadaan Papa. Bahkan Papa sudah pulang dari rumah
sakit.
“Hai, Pa!” sapaku bahagia ketika
melihat Papa sudah sembuh.
“Hai anakku yang cantik,” ujar Papa
yang masih terbaring di ranjang, aku pun segera memeluknya. Mama yang berada di
sampingnya juga turut memelukku.
“Papa sudah baikan?” tanyaku.
Papa tersenyum lebar. “Alhamdulillah, Nak.
Papa lagi pengen banget makan salad nih, tapi Lia yang buat. Kira-kira Lia mau
gak yah buatin salad buat Papa?” ujar Papa dengan kening dikerut-kerutkan.
“Mau lah, Pa. Apa sih yang gak buat Papa?
Ya udah aku buatkan dulu, ya?” kataku, lalu meminta izin untuk membuatkan
salad.
“Iya, yang enak, ya?” ucap Mama sambil
tersenyum.
***
“Kamu lagi ngapain!” teriak Tante Vivi
dengan nada tinggi, hampir saja gelas yang kupegang meloncat jika aku tak
berhasil menangkapnya.
“Eng, lagi bikin salad dan susu buat Papa,
Tante,” ujarku dengan hati yang masih tak karuan. Entah kenapa dari awal aku
datang di rumah ini, Tante Vivi yang paling gak welcome sama kehadiranku.
“Mau dibantu?” ujarnya tersenyum manis,
dia gak lagi kesambet kan?
“Gak usah Tante, ini sudah selesai
kok,” ujarku.
Tiba-tiba saja aku merasa ingin pipis. “Tante
nitip dulu yah, aku mau ke toilet,” kataku pada Tante Vivi, dia pun mengangguk.
***
Aku
ke kamar Papa dengan nampan berisi susu dan salad.
“Wah kelihatannya enak,” kata Papa.
Mama pun membantu membawakan meja kecil
ke atas ranjang.
Aku hanya tersenyum, “ Dicoba ya, Pa? Semoga
Papa suka.”
Mama menyuapkan sepotong buah ke Papa,
dia pung mengangguk-angguk sambil tersenyum.
“Enak kok, Lia.” Papa lalu meminum susu buatanku.
Uhuk!!! Papa pun terbatuk dan memegangi
tenggorokannya.
“Papa!” ujarku panik. Tak berapa lama Papa
pingsan.
“Mama!” teriakku lagi ketika melihat Mama
ikut pingsan. Kak Ben datang dengan wajah panik. Sementara Tante Vivi
menyeretku keluar ruangan.
“Kak Ben, tolong aku,” lirihku pada
Ben, namun dia hanya diam dan menatapku dengan tatapan kebencian.
BRAKK!!! Tante Vivi melempar koper dan
barang-barangku keluar rumah.
“Pergi kamu dari sini, pembunuh!!!!
Jangan sekali-kali kamu datang ke sini lagi!” ujar Tante Vivi galak.
Tuhan, aku bukan pembunuh.
Kembali
Pulang
|
A |
khirnya aku kembali ke rumah ini, kuseka air mata, aku tak
ingin membuat ibu angkat bersedih.
“Lia ...,” ujar Ibu setengah berteriak
ketika melihatku.
“Ibu,” aku pun segera memeluknya erat,
tak kuasa air mataku terjatuh.
“Kamu kenapa, nak? Kenapa menangis?”
tanya Ibu.
Aku menggeleng. “Gak papa, Bu. Aku
kangen ibu?” ujarku sambil melepas pelukan.
“Kakak!” ujar Welna, adik angkatku yang
langsung memeluk juga.
“Kakak gak akan pergi lagi kan?”
tanyanya polos.
“Nggak, Dik,” jawabku.
“Ada apa? Kenapa kamu membawa koper, Nak?”
tanya Ibu.
“Keluarga Om Frank pindah ke Amerika,
Bu. Jadi, bolehkah aku tinggal di sini lagi?” tanyaku.
“Tentu saja boleh, Nak,” gumam Ibu
sambil tersenyum.

Posting Komentar untuk "The Wong Phan is Back_Jilid 3 karya Arnita Adam"
Silahkan tinggalkan komentar untuk respon atau pertanyaan, kami akan balas secepat mungkin.