Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

The Wong Phan is Back_Jilid 6 karya Arnita Adam

 


TELL ME! WHAT’S THE TRUE?

M

obil Baracuda yang membawa Lia ke kedutaan China melaju tenang di jalanan yang sepi. Ada dua mobil polisi lain yang mengawal ke kedutaan, rencananya Lia akan diserahkan ke kedutaan China, selanjutnya akan menjalani proses hukum di sana.

“Ton ...,” gumam Lia mengajak bicara Anton yang sedari tadi diam.

Anton ditugaskan khusus untuk mengawal Lia. Di kursi belakang penumpang yang dipisahkan oleh jaring-jaring besi dengan bagian kemudi mobil, di situlah Anton dan Lia berada.

“Hmm,” jawab Anton malas.

“Kamu masih gak percaya kalau aku Lia?” ujar Lia lirih.

Anton menatap Lia lekat-lekat. Mana mungkin Anton percaya gadis yang ada di hadapannya ini Lia, dari segi wajah saja tidak mungkin.

“Harus berapa kali gue bilang, Lia itu sudah mati. Loe bukan Lia,” tegas Anton.

“Bagaimana kalau gue bener-bener Lia? Andai gue bisa membuktikan sama loe, apa loe akan percaya?” ujar Lia menatap Anton dalam.

“Bukti? Cih ... mana mungkin kamu dapat membuktikannya,” decak Anton tak percaya. Dia benar-benar muak dengan wanita di hadapannya ini.

“Gue tahu, Nama Loe Anton Lee. Agama Budha, loe sering manggil gue Ronaldo dan gue manggil loe Bufon. Loe paling sebel kalau gak bisa nonton PSMS, loe suka nonton film horror, tapi takut hantu, loe pernah suka sama gue. Tapi gue lebih memilih Kak Ben. Cita-cita loe pengen jadi dokter, tapi orang tua loe gak setuju. Kita punya sandi rahasia, when you believe ... i will believe you too. Dan lagu favorit kita adalah Shania Twin, From This Moment,” ujar Lia panjang lebar.

Anton terdiam. Mana mungkin seorang Wong Phan tahu banyak hal tentang Anton. “Dari mana loe tahu semua itu?’ ujar Anton mulai mempercayai perkataan Wong Phan.

“Gue Lia, Ton. Sahabat loe, cinta pertama loe, sekaligus penyebab hati loe patah untuk pertama kali,” Lia bercerita dengan mata berkaca-kaca.

“Loe masih gak percaya juga, loe sering salah nyanyiin lagu kesukaan kita pas bait ini. I live only for you  happiness and for you love at last that I breath. From this moment on. Fro m this moment as long as I live I will love you I promise you this. There is nothing I wouldnt give from this moment on --“ Lia bersenandung dengan air mata berlinang.

Tiba-tiba Anton menarik Lia dalam rengkuhannya. Rasa bersalah menyelinap di hatinya, bagaimana dia memperlakukan Lia selama ini dengan segala perlakuan kasar? Andai saja dia tahu Wong Phan adalah Lia sejak awal, ia tak akan pernah menyakitinya sedikit pun. Anton mulai mempercayai perkataan Wong Phan.

“Maafin gue, Li ... Ah ... bodoh, kenapa gue gak pernah percaya loe dari awal?” desis Anton menyesal.

“Gak papa, aku ngerti kok, Ton. Yang penting sekarang kamu percaya aku,” Lia menangis dalam pelukan Anton.

Anton melepas pelukan Lia, lalu mengusap kedua belah pipinya yang penuh air mata. “Mulai sekarang gue janji bakal jagain loe, Li,” gumam Anton pelan sembari mengusap rambut Lia pelan.

Duar!!!  Suara dentuman keras terdengar dari luar mobil yang ditumpangi Anton dan Lia, dalam hitungan beberapa detik, mobil mereka oleng.

 

STAY WITH ME

”A

pa yang terjadi?” tanya Lia panik, Anton mengintip dari balik  jendela mobil.

   “Sial! Kita diserang,” ujar Anton memicingkan matanya dari celah jendela. Di luar, empat mobil mengepung mereka. Satu dari arah barat, timur, utara, dan selatan. Lia ikut merangkak, lalu duduk di samping Anton.

“Mereka lagi ...,” desis Lia kesal. Matanya terpaku pada segerombolan orang yang mengepung mobil polisi yang mengawal mereka.

“Mereka siapa?” tanya Anton penasaran.

“The Darkness Of The Street, rival sejati Black Hole. Bagaimana mereka tahu aku ada di sini? Ah ... sial, ini pasti ulah Ayex. Dia pasti kecewa karena aku gagal menjalankan operasi Double Seven yang diperintahkannya,” decak Lia kesal.

“Operasi Double Seven, apa itu?” Anton penasaran.

“Operasi penyelundupan narkotika yang sedang kujalankan. Dalam tujuh hari aku harus kembali, kalau tidak, Ayex harus menyerahkanku pada The Darkness Of The Street,” tutur Lia panjang.

“Kamu dijadikan tumbal? Benar-benar kurang ajar,” ujar Anton geram, tangannya mengepal kuat.

“Ayex membuat perjanjian dengan The Darkness Of The Street, Black Hole dan The Darkness berebut tender pengiriman barang ilegal terbesar di Asia. Black Hole menang tender, tapi The Darkness tak terima. The Darkness mengancam Black Hole akan menyerang markas mereka besar-besaran. Jika hanya bertarung satu lawan satu, mungkin kita akan menang, tapi The Darkness punya sesuatu yang menyangkut hidup dan matiku,” desis Lia dengan mata menerawang.

“Sesuatu yang menyangkut hidup dan matimu?” tanya Anton heran.

Lia mengangguk kemudian dia menunjuk bagian perutnya. Menarik sedikit kaos yang dikenakannya. Mata Anton terbelalak, sebuah jahitan besar masih terlihat bekasnya di perut Lia.

“Di dalam perutku ini ada narkotika, selain operasi transplantasi kulit dan wajah yang mengubahku menjadi Wong Phan, mereka juga menanamkan barang ini dalam perutku. Narkotik ini adalah barang sengketa antara Black Hole dan The Darkness. Jika dalam tujuh hari aku tak kembali, maka The Darkness berhak membunuhku,” gumam Lia sedih.

Satu mobil polisi yang mengawal mereka berhasil dilumpuhkan The Darkness.

“Kamu tunggu di sini, biar aku hadapi mereka,” gumam Anton sembari meraih pistol dari balik sakunya.

“Nggak, Ton. Jangan!” Lia meraih lengan Anton, bagaimanapun dia tak ingin Anton terlibat masalah ini. “Bukan kamu yang mereka cari, tapi aku ... aku saja yang ke luar, kamu tunggu di sini,” pesan Lia.

Kali ini giliran Anton yang mencekal pergelangan tangan Lia. “Nggak ... aku gak akan biarin kamu ngorbanin diri lagi!” teriak Anton.

Lia menggeleng, The Darkness hanya mengincar Wong Phan. Jadi, dia tak ingin Anton terluka jika harus bertarung dengan mereka.

“Aku bilang nggak! Mereka cuman nyari aku! Aku mohon, Ton! Kali ini turutin apa mauku,” tutur Lia dengan wajah memohon.

Dug!!! Terdengar suara pintu mobil mereka digedor dengan kuat dari luar.

“Wong Phan!!! Kami tahu kamu di dalam, keluarlah sebelum kami meledakkan mobil ini,” ancam seseorang dari luar.

“Gawat ... mereka sudah di sini,” ujar Lia semakin panik, “Apa yang harus kita lakukan?” teriak Lia frustasi.

Pintu mobil terus digedor dari luar, suara tembakan berkali-kali mencoba menembus kaca anti peluru mobil yang ditumpangi mereka.

“Wong Phan! Jika dalam hitungan ke sepuluh kamu tidak ke luar. Maka kami benar-benar akan meledakkan mobil ini!” teriak seseorang dari balik mobil.

“Anton! Apa yang harus kita lakukan? Argh ...!” ujar Lia histeris, Anton terlihat berpikir keras.

“Sepuluh ... sembilan ...,” seseorang di luar mobil mulai menghitung mundur.

“Tembak aku!” pinta Anton sambil menyerahkan pistol ke arah Lia. Lia menggeleng, Anton sudah gila memintanya untuk menembak seseorang yang sangat disayanginya.

“Delapan ... tujuh ....”

“Cepat Lia! Tembak aku! Mereka akan segera tiba di sini!” perintah Anton agar Lia menuruti permintaannya.

“Nggak, Ton. Kamu gila apa memintaku untuk menembakmu?” Lia tak mengerti dengan ide gila Anton.

“Tembak Lia ... tembak di bagian sini!” tunjuk Anton pada kaki kirinya.

“Aku gak mau ... aku ga mau, Ton,” Lia menolak permintaan Anton tegas.

“Lima ... empat ...,” hitungan ke sepuluh itu pun telah berjalan mundur. Mobil mereka terkepung dari segala arah.

“Come on! You can do it,” desak Anton, Lia memejamkan matanya lalu menghela napas panjang.

Duar!!! Suara tembakan terdengar bersamaan dengan pintu mobil yang didobrak paksa.

 

 

DISASTER

L

ia menjerit keras ketika tembakannya tepat menyentuh kaki kiri Anton. Anton terlihat kesakitan, walau dia menutupinya dari Lia dan pura-pura pingsan.

“Angkat tangan!” perintah seseorang berbaju hitam dengan pistol yang mengarah ke Lia.

Refleks, Lia menjatuhkan pistol dari tangan kanannya. Pistol tersebut terlempar begitu saja di lantai.

“Wong Phan ... Ikut kami!” perintah pria berbaju hitam dengan ban kapten di lengannya. Beberapa orang berpakaian senada mencoba mendekati Wong Phan.

Wait! Kalian gak bisa membawaku begitu saja,” gumam Wong Phan, otaknya terus berpikir bagaimana caranya dia bisa meloloskan diri,

“Kenapa?” gumam sang pemimpin pasukan yang wajahnya tak asing bagi Lia, pernah Ayex bercerita pria ini bernama Braid.

“Ini tak sesuai perjanjian, Braid,” tolak Lia menepis tangan Braid mencoba meraih lengannya.

“Why? Ini hari ketujuh, kamu tahu kan jika dalam hari ketujuh kamu gagal, maka harus menyerah pada The Darkness of The Streets,” ucap Braid sinis.

I know, tapi hari ketujuh belum berakhir, aku akan menyerah besok,” gumam Lia.

“Hahaha ... kau kira kami akan percaya begitu saja denganmu? Cih! Kami tahu kamu licik, jangan banyak bicara! Ikut dengan kami!” desak Braid sambil menodongkan pistol tepat di kening Braid.

Dug! Bug! Dalam sekali pukulan, Lia berhasil mencekal tangan Braid dan menguncinya di belakang tubuhnya.

“Cih ... harusnya dari awal aku gak percaya padamu Wong Phan,” ujar Braid kesal.

“Sayangnya kamu percaya,” desis Lia menyeringai.

Braid tak tahu kalau kemampuan bertarung Wong Phan semakin jago, hanya dalam beberapa detik mampu melumpuhkan Braid.

“Mundur! Atau aku bunuh Braid. Jatuhkan senjata kalian!” teriak Lia memberi perintah. Kelima anak buah Braid pun meletakkan senjatanya di lantai, dengan kaki pincang, Anton memunguti senjata mereka.

Lia berjalan mendorong bahu Braid, diikuti dengan Anton di belakangnya. Rencana Lia dan Anton berhasil. Anton berpura-pura mati karena tembakan Lia. Di saat  yang tepat Anton akan muncul dan membantu serangan Lia.

Duar!!! Tanpa sepengetahuan Lia, anak buah Braid masih menyisakan satu pistol di sakunya. Tembakan itu tepat mengenai lengan kiri Lia. Darah merah mengalir dari lengan yang terkena tembakan.

“Lia!!!” teriak Anton panik.

Dengan cepat Anton mengeluarkan pistol dari balik sakunya. Baku tembak tak dapat dihindarkan lagi, Lia menutup telinganya sambil merunduk. Dalam hitungan beberapa detik, Braid dan anak buahnya berhasil dilumpuhkan Anton.

“Lia, kamu gak papa?’ ujar Anton sembari merengkuh tubuh Lia yang bergetar.

“Hiks ... kamu gak kenapa-napa kan?” ujar Lia berbalik tanya. Tangannya menangkup wajah Anton.

“Bertahanlah, bantuan akan segera datang ...,” celetuk Anton. Sepuluh menit kemudian bantuan datang, Anton dan Lia segera dilarikan ke rumah sakit.

 

THEY DON’T KNOW US

H

ampir tiga hari Lia pingsan, untung saja Anton dan Lia tiba di rumah sakit tepat waktu dan Anton lebih cepat sadar bila dibanding Lia. Operasi pengangkatan peluru mereka berhasil dijalankan.

Lia dijaga ketat di ruang isolasi rumah sakit internasional Singapura, untuk penjahat sekelas Wong Phan, polisi Singapura menerapkan sistem penjagaan ganda. Area tempat Lia dirawat bahkan disterilkan sejauh dua puluh meter.

Hanya pihak-pihak tertentu yang diperbolehkan masuk ke ruangan Lia, salah satunya adalah Anton.

“Bro ... kopi,” ujar Rizal menyodorkan kopi ke arah Anton.

Dari kemarin Anton tak pernah beranjak dari kamar Lia. Alasannya sederhana, karena ia ingin menjaga Lia, meskipun dari pihak kepolisian sempat melarang. Karena Wong Phan, Anton menjadi terluka.

Untungnya Anton punya alasan kuat untuk menjaga Lia, karena dia adalah ketua tim dalam misi rahasia penangkapan Wong Phan.

Why? Kenapa lagi muka loe kusut kayak gitu?” tanya Rizal.

Anton menarik napas panjang lalu menghembuskannya kasar. “Dia benar-benar Lia, Zal,” desis Anton dengan nada rendah, diciumnya aroma kopi yang mulai menghangat dari balik cangkir yang dipegangnya.

“Hah! Serius loe? Kok bisa?” Rizal berteriak tak percaya.

Anton menggeleng pelan, bibirnya menyentuh bibir cangkir yang berisi mochaccino, lalu menyesapnya pelan.

“Dia sudah cerita semuanya. Ini semua ulah Black Hole dan Lia jadi korbannya. Wong Phan sebenarnya sudah mati, Lia dijadikan percobaan dalam operasi transplantasi wajah Wong Phan,” Anton bercerita dengan tangan mengepal.

“Berengsek, gila tuh Black Hole,” geram Rizal sambil menggeleng-gelengkan kepala.

“Dia hapal semua tentang gue. Dia bukan Wong Phan dan bodohnya gue gak pernah percaya sama dia. Dia bahkan hapal sandi yang kami buat bersama, sandi yang hanya aku dan Lia tahu. Gue bodoh banget gak percaya dia sejak awal, ini semua salah gue!” sesal Anton.

Rizal mendekati Anton lalu menepuk pundaknya pelan.

“Bukan salah loe, Bro! Loe gak usah nyalahin diri sendiri, yang penting sekarang loe lega kan kalau Lia masih hidup?” tanya Rizal.

Anton mengangguk pelan. “Iya, tapi yang jadi masalah sekarang, gimana caranya gue ngebuktiin kalau Lia gak salah? Semua orang percaya bahwa dia adalah Wong Phan,” decak Anton sambil mencengkeram rambutnya kuat, pandangannya tertunduk.

“Iya juga sih, bukannya seminggu lagi Wong Phan, eh maksudku Lia akan disidang?” Rizal mengingatkan. Dan yang membuat Anton makin menyesal, bahwa dialah yang menangkap Wong Phan.

Sidang kasus Lia memang sudah diajukan minggu lalu, pemerintah China bahkan sudah setuju jika Wong Phan diadili di Negara Singapura. Singapura adalah negara anti narkoba dan anti bisnis ilegal, sudah pasti Wong Phan akan dijerat pasal berlapis dan kemungkinan besar akan dipenjara seumur hidup atau menjalani hukuman mati.

***

Lia mengerjapkan matanya perlahan, seperti dejavu ruangan putih dengan bau khas rumah sakit ditemuinya kembali.

“Kamu sudah bangun?” tanya Anton dengan wajah gembira, hatinya lega karena Lia sudah sadarkan diri.

“Anton, aku di mana?” tanya Lia sambil memegang kepalanya yang sedikit pusing. Terasa nyeri di bagian lengannya yang diperban.

“Rumah sakit, mau aku panggilkan dokter?” tawar Anton, Lia menggeleng kecil.

Kilatan kejadian baku tembak itu terulang kembali, terakhir kali Lia ingat sebelum dia masuk ke ruang operasi, setelah itu semuanya gelap. Anton membantu Lia menyandarkan punggungnya di ranjang. Lia senang karena dirinya masih bisa melihat Anton lagi.

“Kamu sudah baikan?” tanya Lia memastikan keadaan Anton.

“Iya, sudah lebih baik karena lihat kamu,” goda Anton sambil mengerling nakal.

Lia mencubit lengan Anton kecil, pipinya bersemu merah.

“Gombal kamu,” decak Lia pura-pura ngambek.

“Gombal-gombal gini kamu suka ‘kan?” Ujar Anton menaikkan sebelah alisnya, lalu mengerling nakal.

“Kamu mau ke mana?” tanya Lia ketika melihat sebuah koper kecil di sisi ranjang.

“Aku harus pergi jauh, kamu jaga diri baik-baik, ya? Jangan lupa makan, salat, jaga diri baik-baik,” tutur Anton sambil mengelus pipi kanan Lia pelan.

“Aku ikut ... please, Ton. Jangan tinggalin aku,” rengek Lia.

Anton menggeleng, lalu menepis tangan Lia di lengannya pelan.

“Kamu gak bisa ikut, Li. Aku harus pergi sendiri,” jawab Anton pelan.

“Kenapa?” tutur Lia kecewa.

“Kamu harus menjalani persidangan esok,” gumam Anton.

Besok pagi adalah persidangan kasus Wong Phan, sekalipun Lia belum sembuh benar, dia tetap diwajibkan mengikuti persidangan.

“Please, Ton. Jangan tinggalin gue,” tutur Lia memelas.

Anton menggeleng. Telihat semburat kecewa di mata Lia. Anton sebenarnya tak tega meninggalkan Lia sendiri, tapi dia harus melakukannya.




Posting Komentar untuk "The Wong Phan is Back_Jilid 6 karya Arnita Adam "

Kami menerima Kiriman Tulisan dari pembaca, Kirim naskah ke dengan subjek sesuai nama rubrik ke https://wa.me/+6282388859812 klik untuk langsung terhubung ke Whatsapp Kami.