Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Advokasi Ruang Publik Kota Batu: Sinergi Practice Based Research, Pengelolaan Arsip, dan Persiapan Pameran Panen 3 Jalan bersama Pemuda Bundle

Advokasi Ruang Publik Kota Batu: Sinergi Practice Based Research, Pengelolaan Arsip, dan Persiapan Pameran Panen 3 Jalan bersama Pemuda Bundle

Batu- Pada 8 Agustus 2026, Tim Wargarupa UB melaksanakan rangkaian kegiatan program Pengabdian Inovasi Seni Nusantara dengan mitra kolektif seni Pemuda Bundle. Bertempat di bata Merah, mereka mendiskusikan persiapan pameran partisipatoris Panen Tiga Jalan untuk September mendatang. Mayang Anggrian selaku ketua pelaksana menyampaikan bahwa riset juga dapat memiliki outlet artistik. Di kesempatan tersebut ia menyampaikan materi dari riset ke seni. Menurutnya terdapat berbagai proses kreatif yang dapat dilalui oleh seniman agar gagasan yang ingin diungkapkan dapat beresonansi dengan pengunjung. Salah satu metodenya adalah Practice Based Research (PBR). Sejumlah mahasiswa Seni Rupa UB ikut terlibat sebagai penyelenggara sekaligus peserta, yakni Tabina Kayla Aisya, Nova Adinda Nur Inayah, dan Gilang Alif Armaya.

Dalam kegiatan ini Tim Wargarupa bekerja sama dengan komunitas pegiat seni dari Batu, Pemuda Bundle, menggunakan praktik berbasis riset sebagai pondasi dalam kreasi karya partisipatoris bertemakan folklor Kota Batu. Dalam kesempatan tersebut Mayang menegaskan bahwa pameran ini nantinya juga memuat tujuan advokasi aktivasi ruang publik di Kota Batu. Kegiatan ini merupakan bagian dari program pengabdian kepada masyarakat yang didanai oleh Direktorat PPM, Ditjen Risbang Kemdiktisaintek, tahun pendanaan 2026. Luaran yang diharapkan dari rangkaian kegiatan ini adalah toolkit PBR dan SOP yang dapat digunakan kembali apabila kolektif seni Pemuda Bundle menggelar pameran serupa di kemudian hari.

Praktik berbasis riset memiliki prinsip kerja kolektif melalui pengembangan karya secara berkelompok, dimana warga masyarakat  ikut andil dalam memproduksi makna karya seni. Dalam diskusi tersebut Mayang juga menyampaikan dalam penyajian karya, prinsip interaktif dan partisipatoris penting turut dijaga. Sebagai pembanding, workshop turut memaparkan sejumlah studi kasus riset berbasis identitas lokal dari inisiatif seni lainnya. Pameran yang tengah disiapkan bersama Pemuda Bundle sendiri diberi nama Panen 3 Jalan, mengangkat tiga tahapan: Temuan, Ramuan, dan Jamuan.

Anggun Setiawan sebagai kurator dari pemuda Bundle menindaklanjuti progress kerja tiap kelompok seni yang akan memproduksi karya. Pada sesi diskusi muncul catatan bahwa kolektif tidak selalu berupa satuan yang terorganisir secara ketat, dan seniman yang berkarya di dalamnya tidak selalu memposisikan dirinya sebagai bagian dari masyarakat luas. Anggun juga mengingatkan pentingnya ketelitian dalam memilih medium sejak awal, sebab pemilihan medium sudah membawa makna tersendiri begitu konsep karya terbentuk, dan biasanya temuan baru dari masyarakat justru muncul setelah pemilihan medium tersebut dipertimbangkan secara matang.

Di kesempatan tersebut tim Warga Rupa UB juga membahas pengelolaan arsip untuk artist-run initiative (ARI). Mayang menyampaikan bahwa arsip yang dikelola kolektif seni dan ARI dikategorikan sebagai community archive, berbeda dari arsip institusional yang umumnya didukung staf, arsiparis, kurator, serta anggaran yang jelas. Dua prinsip metadata yang diperkenalkan dalam pengelolaan arsip adalah FAIR (findable, accessible, interoperable, dan reusable) dan CARE (kolektif, komunitas berkendali, tanggung jawab pengelola, etika) terhadap komunitas juga dibahas. Workshop turut mengidentifikasi tiga risiko yang paling sering muncul dalam kelola arsip komunitas

 

[Dokumentasi foto: Tri Aji Berlianto]

Pemuda Bundle yang diwakili Ardiansyah Praihantanto merespon workshop tersebut dengan merefleksi pentingnya menemukan visi bersama yang lebih kuat, mengingat banyak kegiatan yang telah dijalankan komunitas dengan tujuan yang ingin memberi kontribusi bagi ekosistem seni di kota Batu. Kholili juga menambahkan kilas balik sejarah Pemuda Bundle yang lahir dari kegelisahan bersama Pemuda Bundle untuk berdonasi. “karya yang kami buat kala itu hasilnya disumbangkan kepada penyandang disabilitas dan panti asuhan, sehingga sejak awal kolektif Pemuda Bundle, walaupun bergiat di seni kami juga ingin berfokus pada isu kemanusiaan.” pungkasnya.

[Dokumentasi foto: Tri Aji Berlianto]

Sesi ditutup dengan koordinasi persiapan pameran Panen 3 Jalan yang dipimpin Anggun Setiawan sebagai kurator. Masing-masing kelompok seni partisipatoris memaparkan konsep dan ancangan karya, serta memperjelas pilihan kegiatan dan mediumnya masing-masing. Melalui rangkaian workshop ini, penerapan Practice Based Research, pengelolaan arsip yang berkelanjutan, serta pematangan konsep karya untuk pameran Panen 3 Jalan pada akhirnya bermuara pada satu tujuan yang sama, yakni advokasi ruang publik di Kota Batu. Riset yang digali secara kolektif dan partisipatoris bersama warga, arsip yang dikelola dengan prinsip FAIR and CARE agar tetap dapat diakses dan dimanfaatkan komunitas, hingga karya-karya yang mengangkat folklor dan kearifan lokal seperti kisah petani jeruk dan erupsi Gunung Panderman, menjadi cara Pemuda Bundle bersama Tim PISN Universitas Brawijaya menghadirkan kembali suara warga ke ruang-ruang publik kota.

 

[Dokumentasi foto: Tri Aji Berlianto]

Dengan demikian, pameran Panen 3 Jalan diharapkan tidak sekadar menjadi ajang presentasi karya, melainkan juga ruang temu dan dialog yang memperkuat peran ruang publik Kota Batu sebagai wadah ekspresi bersama. (Tabina)

 

Posting Komentar untuk "Advokasi Ruang Publik Kota Batu: Sinergi Practice Based Research, Pengelolaan Arsip, dan Persiapan Pameran Panen 3 Jalan bersama Pemuda Bundle"

Kami menerima Kiriman Tulisan dari pembaca, Kirim naskah ke dengan subjek sesuai nama rubrik ke https://wa.me/+6282388859812 klik untuk langsung terhubung ke Whatsapp Kami.