The Wong Phan is Back, Jilid 5 karya Arnita Adam
Simalakama
|
H |
ampir enam bulan aku berada di negeri asing ini, hidupku
sempurna. Ada Mama Shelly, Kak Ben, dan Anton yang membuat hidupku berwarna.
Alunan lagu Baby I Miss You
mengalun dari nada dering ponselku.
Ben calling ...
“Halo,” sapaku pada Kak Ben di seberang
sana.
“Kamu segera ke rumah sakit California,
Mama kecelakaan,” suara Ben terdengar parau di ujung telepon.
“Apa?” gumamku gugup.
“Aku kirimkan lokasinya lewat chat,” ujar
Kak Ben menutup telepon.
Dua puluh menit aku baru sampai ke
alamat yang diberikan Kak Ben. Dari jauh, aku melihat Kak Ben tengah
memukul-mukul tembok rumah sakit.
“Kak Ben, stop!” jeritku sambil menahan
tangan Kak Ben yang telah lebam merah untuk memukul tembok lagi.
“Mama ...,” ujar Kak Ben dengan nada
parau, di sudut matanya ada air mata.
“Mama kenapa, Kak?” tanyaku
mengguncang-guncangkan bahu Kak Ben.
“Mam meninggal,” lirih Kak Ben sambil
memelukku erat.
“Nggak mungkin, enggak mungkin, Kakak
... ini pasti bohong kan! Bohong kak ... hu ... hu ... hu ... hiks.” Aku pun
ikut menangis.
Ben mengelus lembut punggungku, “Aku
gak bohong, mMama sudah meninggal.”
“Tuan Ben, Nona Lia, bisa kita bicara,”
ujar Mr Smith, pengacara keluarga Papa.
Aku dan Ben mengangguk, lalu mengikuti
langkahnya menuju ruang tunggu rumah sakit.
“Ada apa?” tanya Ben tegas.
“Saya ingin membacakan surat wasiat
dari Nyonya Shelly, sebelum meninggal beliau ingin surat ini dibaca sebelum dia
dikuburkan,” ujar Mr Smith, lalu membuka map di tangannya.
“Saya
yang bertandatangan dibawah ini, Shally Franklin dengan kesadaran dan
sebenar-benarnya saya menuliskan surat wasiat yang akan disampaikan saat saya
telah meninggal. Maka dari itu hendaklah anak-anak saya mematuhinya.
-
Sebuah perusaaan perbukuan Wide World Book Industry di
California - Amerika Serikat.
-
Satu komplek perumahan di California – U S A
-
Satu komplek perumahan keluarga Franklin di Pekanbaru-
Indonesia
-
Sebuah Villa di Roma – Italia
-
Satu buah lapangan Golf di Medan - Indonesia
-
26 Apertement di Los Angeles – Amerika Serikat
-
17 mobil mewah di California
-
3 kapal pesiar di pelabuhan Venesia – Italia
-
2 buah helikopter di Pekanbaru-Indonesia
-
5 buah yacht di perairan San Fransisco- Amerika Serikat
-
Perternakan kuda di Bostorb, L A – USA
Dan semua kekayaan atas
nama keluarga Franklin diwariskan kepada Benyamin Franklin dengan syarat-syarat
sebagai berikut.
Benyamin Franklin harus
menikah dengan Aprilia Rastika, putri Indonesia.
Benyamin dan Aprilia
boleh bercerai apabila mereka sudah mempunyai anak dan anak mereka akan menjadi
ahli waris keluarga Franklin ketika anak itu berumur 17 tahun.
Mereka boleh bercerai
dan tidak memiliki anak, setelah umur pernikahan mereka 2 tahun.
Apabila mereka bercerai
sebelum sebelum mempunyai anak atau sebelum jangka waktu 2 tahun, maka semua
kekayaan keluarga Franklin disumbangkan ke panti Amal kecuali perumahan yang
berada di California akan tetap diwariskan kepada Benyamin Franklin.
Pernikahan dilaksanakan
sebelum jenazahku dikuburkan.
Demikanlah surat wasiat
ini dibuat dengan sebenar-benarnya dan dapat dijalankan sesuai amanat.
California, US. yang membuat wasiat – Shally Franklin.” Tutur Mr. Smith menutup mapnya.
Menikah? Dengan Kak Ben?
“Enggak, aku gak mau menikah dengan Kak
Ben,” ucapku.
Kak Ben hanya terdiam dan tak banyak
bicara. Kalau hubungan adik kakak, Lia sama sekali tak keberatan.
“Kak Ben itu egois, pendiam, jarang
ngomong, mana mungkin aku mau menikah dengannya,” cerocosku begitu saja.
Ben mendelik ke arahku, “Kamu pikir aku
juga mau menikah denganmu?” ujarnya. “Argh ... kenapa Mama mesti ninggalin
pesan seperti ini?” ucap Ben sambil menjambak rambutnya kasar.
“Tuan Ben, penghulunya sudah datang,”
ujar Mr. Webster pada Ben.
“Peng ... peng ... penghulu?” tanyaku
tak percaya, bagaimana mungkin? Baru saja mereka memintaku untuk menikah dengan
Kak Ben, lalu secepat kilat penghulu datang. Ayolah, ini bukan cerita fiksi
kan?
Kak Ben mengangguk dan meminta Mr.
Webster pergi. “Ayo,” gumamnya sambil berdiri.
“Ayo ke mana?” tanyaku kesal.
Kak Ben kembali duduk, lalu menangkup
wajahku dengan kedua tangannya.
“Aku tahu kamu tak mencintaiku, tapi
belajarlah mencintaiku demi Mama. Please, menikahlah denganku,” ucap Kak Ben
dengan tegas, namun sorot matanya lembut.
Seperti dihipnotis, aku pun menyetujuinya.
Maumu
|
“K |
amu mau berangkat kuliah dengan pakaian seperti itu?” ujar Kak
Ben dingin ketika sedang sarapan pagi ini.
“Iya, memang kenapa?” tanyaku sedikit
kasar.
“Aku gak suka,” ucapnya sambil menyesap
kopi di cangkirnya.
“Emangnya kenapa? Yang makai baju kan
aku, kenapa kamu ribet?” ucapku
sarkastik.
“Kamu lupa siapa aku?” tanyanya
mengangkat sebelah alis.
Aku melupakan sesuatu, tadi malam dia
baru menyandang status sebagai suamiku. Tapi tetap saja dia tak berhak untuk
mengatur hidupku.
“Eng, iya aku tahu. Tapi apa salahnya
sih pakaianku?” ujarku sambil memasukkan sesendok nasi goreng ke mulut.
Ben menaruh kopinya di meja dengan
kasar, “Dress ketat tanpa blazer, serta
celana jeans masih nanya di mana salahnya? Hah!” ujar Kak Ben sambil bangkit
dari duduknya.
“Aku juga biasanya kan kayak gini,”
ujarku dengan muka cemberut.
“Tapi sekarang jangan dibiasakan!!” bentaknya,
lalu menarik tanganku kasar.
“Heh, lepasin! Ini sakit tau!” cicitku
sambil mengempaskan tangannya. Namun sayang, tenaganya lebih besar.
Brakk!!! Ben membuka pintu lemari
kasar. Lalu memilihkanku sebuah rok panjang dan kaos longgar lengan panjang.
“Aku gak mau!” teriakku pada Ben.
“Kamu
ganti atau aku ...,”
“Atau apa?” Aku melototkan mataku,
dikiranya aku takut padanya apa, sorry yah!
“Atau aku yang gantiin kamu pakai baju
ini,” ujuarnya berbisik di telingaku dengan penuh penekanan. Dia menyeringai.
“Eh ... ba ... baiklah.” Membayangkan
dia menggantikan pakaianku saja sudah cukup mengerikan, jadi aku memilih untuk
mengalah.
“Bagus,” ujarnya dengan tangan yang
mengelus puncak kepalaku.
***
“Ini elo, Ron?” ujar Anton dengan mata
tak berkedip ketika aku sampai kampus. Beberapa mahasiswa lain menatapku juga
dengan tatapan yang entah tak kumengerti.
“Aku aneh ya?” ujarku sambil memilin-milin
ujung jilbab.
“Eng ... enggak, kamu ... cantik,”
gumam Anton.
“Makasih, tapi gue sebel banget deh
sama yang namanya Kak Ben. Loe tahu gak dia mulai cerewet banget sama gue
sekarang,” cerocosku pada Anton.
“Ya wajarlah, dia kan suami loe
sekarang,” tutur Anton dengan wajah sedih.
“Loe tahu dari mana?” kataku histeris,
pasalnya aku belum memberi tahu siapapun.
“Yah, jangankan gue, seluruh dunia juga
tahu kali,” ujar Anton sambil menyodorkan I-phonenya ke arahku.
Aku tercengang. Ada beberapa headline di surat kabar, serta komentar-komentar para netizen yang mendadak membuatku sesak napas.
You Will Know Me
|
A |
ku menaiki Queen White milik Kak Ben dengan kesal,
berkali-kali aku memukulnya.
Aku kesal dengan tingkah Kak Ben yang
seenak jidatnya memerintahkanku ini-itu. Kuda putih ini kesayangan Kak Ben,
bahkan dia lebih menyayangi ini dari pada aku.
Senja hampir menghilang, aku segera
menuju kamar dan mandi, berkuda membuatku gerah.
Brakk!!! Pintu kamar terbuka sesaat
setelah aku selesai mengganti pakaian.
“Apa yang kamu lakukan pada Queen?”
tanya Kak Ben dengan wajah geram.
“Aku ... aku tidak melakukan apa-apa.” Aku
berjalan mundur saat Ben mulai mendekat, sial langkahku terganjal almari di
belakangku.
“Kau tahu! Dia hampir mati karenamu!”
ujar Kak Ben mencekal kedua tanganku.
“Aku sudah bilang aku tak melakukan
apa-apa,” bentakku.
“Pelayan bilang padaku tadi sore kau
menungganginya dan dia terluka sekarang! Semua ini gara-gara kau!” teriak Kak Ben
marah.
“Lalu bagaimana dengan lukaku?! Kau
juga kan yang membuatnya?!” teriakku pada Kak Ben.
Dia termenung. Seperti mau bicara,
namun tak bisa, cengkeramannya di lenganku mulai mengendur. Tanpa berkata dia
berbalik menuju pintu.
“Ceraikan aku,” gumamku lirih, namun
aku tahu Kak Ben mendengarnya.
Aku tak pernah tahu kalau kuda itu dulunya milik Barney yang dipelihara oleh Kak Ben hingga kini, dengan penuh kasih sayang.
Tenggelam
|
E |
embusan angin laut mungkin bisa menenangkanku sekarang. Aku
pergi ke San Fransisco dan berlayar
dengan yatch milik keluarga Franklin.
“Nona, sudah saatnya kapal untuk balik
ke pelabuhan,” ucap penjaga kapal padaku.
Aku bergeming. Aku masih ingin di sini,
menyaksikan senja yang sangat indah. “Aku masih mau di sini, sebentar saja,”
pintaku pada penjaga kapal.
“Tapi Nona. Hari sudah mulai malam,
sebentar lagi hujan dan kemungkinan akan ada badai yang datang,” ujarnya
hati-hati.
“Aku masih ingin di sini!” ujarku
dengan nada tinggi.
Hari sudah mulai gelap, gerimis mulai
turun, aku pun masuk ke dalam kapal. Hujan mulai menggila, kurasakan ombak
begitu besar mengguncang kapal.
Tuhan ... ini semua salahku, andai aku
tak egois.
Brakk!! Duash!!! Sebuah ombak besar
mengguncang kapal, berkali-kali.
“Aaa!!!” teriakku panik, kapal pun
oleng, aku terjatuh pertama kali. Air asin dan dinginnya mulai merasuk ke
rongga mulutku.
“Tuhan tolong aku, Kak Ben ....” Entah
kenapa aku masih memikirkannya. Apa mungkin aku mencintainya. Sesaat sebelum
melihat semuanya gelap. Aku merasa seperti melihat Kak Ben berenang ke arahku.
Di Mana?
|
A |
ku di mana? Ruangan dengan lukisan pohon-pohon hijau dan
aroma parfum aftershave terasa tak asing, Itu yang kutemukan ketika pertama
membuka mata.
“Nyonya sudah sadar?” ucap Alicia,
pelayan di keluarga Franklin langsung menyapaku sambil membawa nampan berisi
bubur dan segelas susu.
“Iya,” ujarku sambil mencoba duduk.
Alicia meletakkan nampannya di nakas,
lalu membantuku untuk bersandar di sisi ranjang.
“Syukurlah, aku di mana, Alice?”
tanyaku masih bingung.
“Kamar Tuan Ben,” jawab Alicia
tersenyum.
“Oh, lalu Ben di mana sekarang?”
tanyaku.
“Di ruang perpustakaan,” jawab Alicia
sambil menyodorkan semangkuk bubur yang masih panas di hadapanku. Ben sama
sekali tak peduli padaku, buktinya dia lebih memilih bekerja dari pada
menungguku di sini.
“Nyonya tahu, Tuan Ben sangat khawatir
dengan keadaan Nyonya,” ucap Alicia.
Aku berusaha menelan bubur yang terasa
hambar di mulutku. “Oh ya?” ujarku cuek
“Bahkan dia sampai tak tidur selama 3
hari untuk menjaga nyonya. Setiap malam Tuan Ben tidur di sisi Nyonya sambil
menggenggam erat tangan Nyonya, bahkan bubur yang Nyonya makan sekarang adalah
buatannya,” ujar Alicia.
Uhuk!!
Bubur yang aku makan, langsung keluar
dari mulutku berkat ucapan Alicia. Alicia pun menyodorkan sapu tangan ke
arahku.
“Kamu gak bercanda kan?” tanyaku dengan
tatapan serius ke arah Alicia. Kak Ben peduli padaku? Sejak kapan?
“Enggak lah, Nyonya. Bahkan Tuan Ben
juga yang sudah menyelamatkan Nyonya. Sore itu ada penjaga kapal yang telepon
ke rumah saat Nyonya gak mau diajak pulang, Tuan Ben panik dan langsung
menyusul Nyonya,” ujar Alicia.
“Sekarang dia di mana, Alice?” tanyaku
pada Alicia.
Benarkah dia peduli padaku? Jadi,
selama ini aku salah paham padanya? Aku
pun bangkit dan mencoba berdiri, kuarasa sudah lebih baik sekarang, walau ada
beberapa bagian tubuh yang masih ngilu.
“Di ruang perpustakaan,” jawab Alicia
kedua kalinya.
Aku pun segera menuju ke sana.
***
“Kamu yakin mau melakukan ini, Tuan?”
ujar seseorang dari balik pintu perpustakaan. Hampir saja aku membuka pintu,
namun langkahku terhenti di depannya.
“Yakin, sumbangkan saja seluruh
kekayaan keluarga Franklin ke panti asuhan,” ucap Ben pada seseorang di dalam
sana.
Aku merapatkan telinga ke pintu.
“Aku tak ingin istriku berpikir kalau
aku menikahinya hanya karena harta keluarga Papa,” kata Kak Ben.
Aku? Dia menyebut namaku dengan
istriku. Tuhan .... rasanya seperti ada yang meloncat-loncat di hatiku.
“Baiklah kalau itu mau, Tuan,” kata
laki-laki bersuara khas itu.
“Satu lagi, aku ingin kau mengurus
surat perceraianku dengan istriku, secepatnya,” ucap Kak Ben.
“Ce ... rai ..,” desisku pelan.
Tiba-tiba saja jantungku terasa nyeri
sekarang. Ada apa denganku? Kemarin kata pisah darinya seolah kado terindah
sepanjang ulang tahunku. Tapi sekarang?
“Ya, aku ingin bercerai dengannya,” ucap
Kak Ben tegas.
“Tapi kenapa, Tuan? Bukankah wasiat
nyonya kalian harus menunggu sampai punya anak atau sampai 2 tahun pernikahan?”
tanya sang pengacara.
“Bagaimana aku bisa punya anak
dengannya, bahkan untuk menyentuhnya saja aku tak bisa,” gumam Ben.
Tes .... Air mataku jatuh begitu saja.
Hatiku rasanya nyeri. Aku berjalan mundur, namun sialnya langkahku terganjal
sesuatu yang besar.
Prang!!! Sebuah vas besar terempas di
lantai. Aku panik, dan segera memunguti pecahan vas itu.
Rasa nyeri terasa di ujung jari ketika
pecahan vas itu mengenai tanganku. Darah merembes dari luka yang cukup besar
karenanya.
“Lia, apa yang kamu lakukan?” gumam Ben
sambil menghampiriku, secepat kilat dia meraih tanganku dan mengarahkan ke
mulutnya.
Dari jarak sedekat ini aku bisa melihat
raut wajahnya yang khawatir. Detak jantungku tak karuan. Dia tampan, Tuhan.

Posting Komentar untuk "The Wong Phan is Back, Jilid 5 karya Arnita Adam"
Silahkan tinggalkan komentar untuk respon atau pertanyaan, kami akan balas secepat mungkin.