The Wong Phan is Back Jilid 8 karya Arnita Adam
MY NAME IS WONG PHAN
|
“A |
pa
yang kamu inginkan, Kak?” ujar Lia pada lelaki yang masih duduk di sampingnya.
“Calm baby,
kamu gak ingin mengetahui sesuatu yang lebih penting dari yang kamu tanyakan?
Misalnya kenapa kamu berada
di rumah sakit ini? Kenapa kulit kamu yang kecokelatan mendadak berubah putih?”
gumam Ayex. Jelas saja bukan rumah sakit resmi, melainkan rumah sakit bedah
bayangan.
Lia melotot tajam ke arah Ayex,
lalu mengarahkan pandangannya ke arah tangan. Benar yang dikatakan Ayex, kulit Lia tak lagi
kecokelatan, cenderung putih bersih, seperti kulit para gadis Chinese.
“Maksud kamu?” tanya Lia tak mengerti.
“Look!”
perintah Ayex sambil menyodorkan sebuah cermin ke arah Lia.
Prang!!! Cermin itu refleks dilempar
Lia ke lantai dan pecah menjadi beberapa bagian, Ayex tersenyum puas.
“Apa yang telah kamu lakukan?!” teriak
Lia sekencang-kencangnya. Air mata jatuh dari bilik matanya dan lolos begitu
saja.
“Ha ... ha ... ha ..., cantik bukan?”
ujar Ayex tersenyum puas, rencana yang dijalankannya berhasil.
“Kembalikan wajahku!!!” teriak Lia sambil memukul wajah
Ayex, namun sayang pukulannya meleset.
Ayex dengan sigap menangkap pukulan
Lia. Dia adalah senior Lia di kelas Taekwondo, jadi wajar saja jika jurus-jurus
Lia dia hafal.
“Percuma saja kau ingin memukulku, tak
akan pernah bisa,” desis Ayex.
“Kamu jahat! Apa salah aku sama kamu?”
tanya Lia sembari mengusap air matanya.
“Karena aku tahu kamu pernah
mencintaiku, cuman kamu yang pantas untuk menjalankan misi ini,” gumam Ayex.
“Misi? Maksud kamu?” Lia tak mengerti.
Sejak awal Lia percaya bahwa Ayex adalah pria baik, namun
ternyata tak pernah seperti yang Lia bayangkan.
“Wong Phan, wajah dan kulit tubuh kamu
adalah milik Wong Phan. Dokter di Klinik Cleveland memang benar-benar hebat,
tranplantasinya berjalan sempurna,” tutur Ayex sambil bertepuk tangan.
“Wong Phan? Siapa dia?” tanya Lia pada
Ayex.
“Wong Phan, dia wakil ketua Dragon
Fire, organisasi penyelundupan narkotika terbesar di Asia Tenggara. Sebuah misi rahasia tengah
dijalankannya, namun dia berkhianat. Dia mati dibunuh oleh
Mr. Jack, ketua Dragon Fire,” tutur Ayex bercerita.
“Lalu apa hubungannya denganku?” Lia
tak terima dirinya dijadikan pengganti Wong Phan sekarang.
“Cuman kamu yang cocok dengan wajah
Wong Phan, hanya yang bergolongan darah B yang cocok untuk operasi ini, dan
kamu orangnya, Li. Sekarang kamu seorang Wong Phan, kamu harus meneruskan misi
ini!” tegas Ayex.
“Aku gak mau, aku ingin pulang,” Lia
memberontak, dengan kasar mencabut selang infus di tubuhnya.
“Buat apa kamu pulang? Hah! Lia udah
mati!” Ayex melempar sebuah koran ke arah Lia.
Sebuah headline membuat Lia terpaku. “Seorang wanita bernama Aprilia Rastika dinyatakan
meninggal dalam sebuah kecelakaan.”
“Aku yang memasukkan mayat Wong Phan ke
travel yang kamu tumpangi, semua keluargamu sudah mengira kamu mati. Jadi
jangan harap kamu bisa pulang!” ancam Ayex sambil mencengkeram pipi Lia kasar.
“Turuti saja apa kataku, apa kamu lebih memilih mati sia-sia? Operasi
tranplantasi kulit dan organ yang ditanamkan dalam tubuhmu berpotensi mengalami
komplikasi yang cukup serius. Ada narkoba seberat tujuh puluh gram yang di
tanam di dalam rahim kamu, kamu hanya bisa bertahan hidup dengan obat ini. Kalau kamu mau, aku
bisa saja membuang obat ini dan kamu mati begitu saja. Tapi aku yakin kamu
bukan gadis yang mudah menyerah dan ingin mati sia-sia!” Ayex menjelaskan
sambil memamerkan sebuah botol kecil berisi pil-pil kecil di dalamnya.
Bayangan wajah Ben, Anton, Ibu, Ayah,
dan Ibu angkat, serta Welna adik angkatnya muncul berentetan di pikiran Lia.
Walaupun kecil kemungkinan untuk bertemu dengan mereka, namun Lia tak ingin
berhenti berharap. Setidaknya hidup lebih baik, daripada mati sia-sia.
“Kamu gak ada pilihan lain, Lia. Suka
gak suka, kamu harus tetap menjalankan misi ini! Kamu mengerti Wong Phan? Ha …
ha … ha …,” ujar Ayex tertawa puas.
BLACK HOLE
|
H |
ampir
sebulan Lia hidup sebagai Wong Phan. Apartemen
mewah dengan segala fasilitasnya diberikan oleh Ayex. Sebagai gembong bisnis
ilegal kelas dunia, hal semudah itu tentunya bukan masalah.
Black Hole sendiri adalah organisasi
penjualan bisnis illegal, partner organisasi Dragon Fire yang berpusat di
Hongkong. Dipimpin oleh Mr. Jack, juga Wong Phan yang tak lain adalah kekasih
gelap dari Ayex.
Ayek mengajari Lia jurus-jurus
taekwondo dan juga pengetahuan lima bahasa. Ayex merasa terpukul ketika
tahu bahwa Wong Phan dibunuh Jack, dia
belum ikhlas dengan kepergiaan Wong Phan. Selain karena masih membutuhkan dalam
operasi penyelundupan narkoba langka ke Singapura, dia juga masih membutuhkan
untuk terus di sampingnya.
Ayex melempar selembar tiket dan
pasport ke arah Lia. Sebuah tiket pesawat jurusan Singapura dan paspor dengan
nama Wong Phan.
“Ini apa?” tanya Lia tak mengerti.
“Ini misi kita, kirimkan barang itu ke
Singapura” tegas Ayex sambil menunjuk perut Lia. ”Di bandara akan ada yang menjemputmu,
serahkan pada mereka dan segera kembali
ke sini. Kamu gak boleh gagal, operasi ini bernilai puluhan milyar. Kalau kamu
gagal, maka aku gak segan-segan membunuhmu!” ancam Ayex sembari melemparkan earphone ke arah Lia. “Pakai itu, jangan pernah lepaskan. Aku akan
mengawasimu dari sini!”
Mendadak pandangan Lia mulai kabur,
dadanya terasa sesak. Udara seolah menipis, sudah saatnya ia minum obat, namun
sedari tadi Ayex tak memberikannya.
“Ayex ... aku ... beri ... berikan
obatnya,” ujar Lia. Ayex tersenyum menyeringai.
Hidup Lia memang tergantung pada obat.
Ayex merasa menang bahwa apa yang selalu dimintanya tak pernah ditolak Lia.
Sekalipun Lia melakukannya dengan terpaksa.
***
Changi International Airport,
Singapura.
Lia baru saja mendarat dari pesawat.
Udara hangat Singapura menyambut, Lia berjalan santai sambil mengamati bandara
dengan konsep go green dan anti global
warming.
Hati Lia berdebar-debar ketika harus
melewati antrian boarding pass.
Barang mahal yang ada di tubuhnya bisa jadi alasan Lia ditangkap di negara
asing ini. Namun, Lia dapat bernapas lega ketika lolos begitu saja melewati boarding pass.
“Keluar dari bandara, di depan ATM ada
orang berjaket hitam yang tengah menunggumu,” perintah Ayex melalui earphone.
Pandangan Lia terpaku ketika melihat
wajah yang dirindukannya selama ini tak jauh darinya. Dia terlihat gagah dengan
seragam hitam-putih. Dari jarak beberapa meter, Lia masih mampu mengenali wajah
Anton, tak menyangka akan bertemu dengannya lagi.
Dengan cepat Lia berlari ke arah Anton,
lalu menepuk pundaknya pelan. Anton menoleh dan menatap Lia penuh tanda tanya.
“Anton ...,” desis Lia dengan mata yang
dengan cepat berkaca-kaca.
“Yes, who are you?’
tanya Anton dengan nada heran.
“Halo! Lia apa yang sedang kamu
lakukan? Menjauh dari dia, dia itu polisi. Bodoh!!” teriak Ayex dari earphone yang dipakai Lia.
Lia tak peduli, dia sudah muak dengan
Ayex. Dalam sekali hentakan, earphone
yang menempel di telinga dibuangnya.
“Anton ...,” ujar Lia memeluk Anton.
Tiba-tiba. Anton merasa tak asing
dengan wajah Lia, dia terlihat sedang
mengingat-ingat sesuatu.
“Who are you! Go away
from me!” perintah Anton sambil berusaha melepaskan pelukan Lia.
“Ini gue Ton! Gue Lia! Gue Ronaldomu, Ton! Kamu masih ingat aku kan?” Lia
menangis di hadapan Anton.
“Nggak ... loe bukan Lia! Lia sudah
mati,” Anton menggeleng-gelengkan kepalanya dan berjalan selangkah mundur.
“Percayalah, Ton! Ini gue ... gue Lia,” Lia semakin terisak.
Anton bergeming, masih bingung dengan
gadis yang tiba-tiba terisak di depannya. “Jangan bergerak!” dengan cekatan
Anton menarik kedua tangan Lia dan memborgol keduanya.
Anton baru ingat bahwa gadis di hadapannya
itu adalah Wong Phan, target operasi yang selama ini dicarinya. Ah, beruntung
sekali Anton, bahkan Wong Phan datang sendiri tanpa harus dicari.
BELIEVE
ME
|
P |
lak!!!
Pukulan
bertubi-tubi terus menghujani pipi manis gadis itu. Lia memilih bungkam, sesi
interogasi dirinya berlangsung cukup lama.
“Siapa namamu?” ujar
Anton geram, tiap kali Lia ditanya siapa namanya, dia akan menjawab bahwa
dirinya adalah Aprilia Rastika, bukan Wong Phan. Hal itu membuat Anton geram. Gadis yang bersusah payah ia coba untuk
ihklaskan, namun belum dapat benar-benar ihklas.
“Aprilia,” gumam Lia lagi, ujung
bibirnya berdarah akibat pukulan Anton.
“Loe! harus berapa kali gue bilang, Lia
sudah mati! Jangan membuat kesabaran gue habis,” geram Anton kesal, dengan
geram tangannya memukul Wong Phan sekali lagi.
“Harus berapa kali gue bilang, Lia
masih hidup. Ini gue, Ton! Ini gue, Lia,” Lia
meyakinkan Anton, tapi bagi Anton sungguh mustahil Lia menjadi seorang Wong
Phan, Queen of The Dragon Fire.
Anton menarik kemeja yang digunakan Lia
ke atas, terpampang sebuah Tato naga besar dari balik punggungnya.
“Lia-ku tak punya tato, jadi jangan
pernah mengaku-ngaku sebagai Lia,” geram Anton, lalu menggiring Lia ke ruang
isolasi penjara.
“Anton, please believe me!” pekik Lia dengan napas tertahan, Anton terlihat
tak acuh dan meninggalkan Lia di ruangan gelap yang cukup pengap itu sendirian.
***
Anton mendesah frustasi, Lia
benar-benar membuatnya stress.
“Loe kenapa, bro?” tanya Rizal, rekan
satu tim Anton dalam misi penangkapan Wong Phan.
“Gue lagi pusing. Loe tahu Wong Phan
kan? Masa dia terus menerus mengaku sebagai Lia, mantan kekasih tertunda gue,”
ujar Anton frustasi.
“Apa? Mantan kekasih tertunda, kasian
banget hidup loe, udah jadi mantan ... kekasih ... tertunda lagi,” ledek Rizal.
“Gue lagi serius nih,” ujar Anton
mendelik ke arah Rizal.
“Ops oke, jangan pasang wajah
menyeramkan kayak gitu, kesannya loe kayak mau nelen gue,” tutur Rizal sambil
duduk di hadapan Anton.
“Sialan loe,” umpat Anton dengan wajah
kesal.
“Oke, sekarang ceritain apa yang
membuat loe kesal sama dia,” gumam Rizal sambil menopang dagu dan menatap Anton
lekat-lekat.
“Gue bakal cerita, tapi gak usah
mandang gue dengan tatapan seolah loe mengagumi gue gitu. Gue masih normal,
Bro!” celetuk Anton.
Rizal mengangguk-angguk kecil, lalu
menunggu Anton mulai bercerita.
“Dia itu aneh, kemarin waktu di bandara
dia nyamperin gue. Dia meluk gue dan mengaku sebagai Lia. Ditambah lagi dia
menangis tersedu-sedu. Bukankah itu aneh?” gumam Anton mengerutkan keningnya.
”Tak mungkin seorang Wong Phan bersikap seperti itu.” Anton mulai berjalan lalu
lalang di depan Rizal sambil berpikir keras.
“Aneh kenapa? Bukankah wajar kalau
seorang wanita itu menangis. Mungkin dia terharu melihat ketampananmu,” timpal
Rizal yang langsung mendapat pelototan dari Anton.
“Dia itu penjahat! Sejak kapan penjahat
nyamperin polisi, pakai nangis segala?” decak Anton.
“Bisa jadi dia benar-benar Lia, Ton,”
Rizal berpendapat.
“Lia sudah mati, Zal. Bahkan sebulan
lalu gue datang ke rumahnya dan melihat jenazahnya langsung. Mana mungkin orang
yang sudah mati bisa hidup kembali dengan wajah yang berbeda pula?” sangkal
Anton.
Rizal terlihat berpikir keras. “Mungkin
saja dia bermetamorfosis sekaligus bereinkarnasi atau bereinkarbubur lah jadi
sosok yang baru, bisa saja kan?” celetuk Rizal belepotan.
“Loe bikin gue tambah pusing, bahasa
loe itu vikinisasi banget,” gumam Anton menoyor kepala Rizal, lalu
meninggalkannya.
“Ton, dengerin gue dulu!” teriak Rizal,
namun Anton tak menggubrisnya.
EMPTY HEART
|
B |
en sampai di depan rumah Lia di Indonesia menjelang
Maghrib. Setelah hampir sebulan tak mendapat
kabar dari Lia, Ben memutuskan pergi ke Indonesia. Bu Dewi, ibu angkat Lia
menyambutnya ramah.
“Assalamu’alaikum, Bu,” Ben mengucapkan
salam.
“Wa’alaikum salam Nak Ben, mari silakan
masuk,” gumam Bu Dewi mempersilahkan Ben.
Keadaan di rumah ini masih sama saat
terakhir kali Ben mengunjunginya. Rumah sederhana, namun penuh kasih sayang.
Ben duduk dengan gelisah.
“Ada apa, Nak Ben? Kenapa kamu
kelihatannya gelisah seperti itu?” tanya Bu Dewi.
Bu Dewi sengaja tak memberi tahu Ben
tentang kematian Lia. Kejadiannya begitu cepat, jenazah Lia dimakamkan tanpa
sepengetahuan Ben.
“Saya mencari Lia, Bu. Lia ada di rumah kan? Sebulan ini dia tak menjawab telepon dari saya,” tutur
Ben resah.
Bu Dewi terlihat bingung
menyampaikannya. Ben mungkin akan shock dengan kepergian Lia. Matanya tiba-tiba perih,
gumpalan kristal itu pun terjatuh begitu saja.
“Lia ... Lia ...,”
“Lia kenapa Bu? Ada apa dengan Lia?’
ujar Ben menggoncang-goncangkan bahu Bu Dewi.
“Lia sudah meninggal,” desis Bu Dewi
terisak. Ben sangat shock
mendengarnya.
“Nggak mungkin ... ini pasti bohong
kan, Bu?” ujar Ben memastikan, tapi dari sorot mata Bu Dewi tak ada setitik pun
kebohongan di dalamnya.
***
Dingin menerpa pipi Lia, ia
mengerjapkan mata. Lia menyentuh pipinya yang basah karena percikan air dari
tangan Anton. Wajah Anton mulai terlihat jelas saat pertama kali dia membuka
mata.
“Anton ...,” desis Lia tak percaya.
“Iya ini gue, bangun loe! Besok loe akan dipindahkan!” teriak Anton sambil
menyodorkan piring berisi nasi dengan lauknya. “Makan itu! Lalu
bersiap-siaplah. Gue harap loe cepet dihukum mati, biar gak lihat loe lagi,”
celetuk Anton kesal.
Setiap kali melihat Wong Phan atau Lia, dia selalu
marah-marah. Ia tak mau memandang wajah Wong Phan. Karena setiap kali memandang mata Wong Phan, darah Anton
berdesir. Aneh memang, mata itu tak pernah asing bagi Anton.
“Terima kasih,” desis Wong Phan dengan
nada lirih, namun masih dapat didengar oleh Anton.
Anton berdiri dan beranjak meninggalkan
Lia. Berdekatan dengannya membuat Anton naik darah.
“Anton Lee,” lirih Lia lagi.
Deg ... Anton terpaku, dari mana penjahat Wong Phan tahu
nama aslinya? Dia benar-benar tak percaya.
***
“Kenapa lagi, Bro? Tampang loe kusut kayak jomblo pas malam
mingguan,” tanya Rizal menepuk-nepuk bahu Anton yang tengah menikmati secangkir
kopi di Marina Bay restoran.
“Loe lagi ... loe ngikutin gue?” Anton
mendelik pada Rizal.
Rizal nampak berbeda dengan setelan jas
dan kemeja putih juga sepatu loofer
yang senada dengan pakaiannya.
“Pede amat, gue mau kencan, Bro! Loe gak liat gue udah
seganteng Serkan Cayoglu gini,” decak
Rizal kesal dan memasang tampang cool.
“Serkan Cayoglu? Siapa tuh?” ujar Anton sambil mengaduk-aduk
black coffee miliknya yang mulai
dingin.
“Itu pemeran drama Turki, Kiraz
Mevsimi. Jangan bilang loe gak pernah nonton TV, pantesan aja jomblo terus,”
ledek Rizal.
“Loe aja yang kayak emak-emak nontonnya
begituan, mending gue jomblo elegan,” celetuk Anton tak terima dibilang jomblo.
Andai saja Lia lebih peka bahwa ia
mencintainya dulu, mungkin dia gak jomblo lagi sekarang.
“Loe kenapa sih, Bro? Ada masalah?’
ujar Rizal. Melihat tampang Anton yang murung Rizal mengerti bahwa Anton sedang
dalam masalah. “Wong Phan lagi?” tebak Rizal.
Anton mengangguk, tebakan Rizal benar.
“Gue kaget, dia tahu nama asli gue,” desis Anton sambil menghela napas panjang.
“Padahal loe tahu sendiri kan, kalau di Singapura gak banyak yang tahu
identitas asli gue,” ucap Anton merasa heran dengan keganjilan Wong Phan.
“Mungkin dia googling kali,” celetuk Rizal enteng.
“Mana ada di google data tentang gue,
loe tahu kan semua data pribadi gue hapus dari sosial media?” tutur Anton.
Sebagai anggota intelegent Singapura,
memang data pribadi anggotanya disembunyikan, bahkan mereka harus ganti nama
untuk melindungi keluarga dari ancaman musuh.
“Iya juga ya, mungkin dia benar-benar
Lia kali. Bisa jadi dia operasi rekonstruksi wajah jadi Wong Phan,” gumam
Rizal.
“Kalau pun iya begitu, untuk apa? Apa
untungnya bagi Lia buat rekonstruksi wajah seorang gerbong mafia? Terus siapa yang mati waktu itu, gue lihat
dengan mata kepala gue sendiri kalau Lia udah mati,” desis Anton geram.
“Kalau soal itu i
don’t know,” ujar Rizal mengangkat bahu.
TELL ME! WHAT’S THE TRUE?
|
M |
obil
Baracuda yang membawa Lia ke kedutaan China melaju tenang di jalanan yang sepi.
Ada dua mobil polisi lain yang mengawal ke kedutaan, rencananya Lia akan
diserahkan ke kedutaan China, selanjutnya akan menjalani proses hukum di sana.
“Ton ...,” gumam Lia mengajak bicara
Anton yang sedari tadi diam.
Anton ditugaskan khusus untuk mengawal
Lia. Di kursi belakang penumpang yang dipisahkan oleh jaring-jaring besi dengan
bagian kemudi mobil, di situlah Anton dan Lia berada.
“Hmm,” jawab Anton malas.
“Kamu masih gak percaya kalau aku Lia?”
ujar Lia lirih.
Anton menatap Lia lekat-lekat. Mana
mungkin Anton percaya gadis yang ada di hadapannya ini Lia, dari segi wajah saja
tidak mungkin.
“Harus berapa kali gue bilang, Lia itu
sudah mati. Loe bukan Lia,” tegas Anton.
“Bagaimana kalau gue bener-bener Lia?
Andai gue bisa membuktikan sama loe, apa loe akan percaya?” ujar Lia menatap
Anton dalam.
“Bukti? Cih ... mana mungkin kamu dapat
membuktikannya,” decak Anton tak percaya. Dia benar-benar muak dengan wanita di
hadapannya ini.
“Gue tahu, Nama Loe Anton Lee. Agama
Budha, loe sering manggil gue Ronaldo dan gue manggil loe Bufon. Loe paling
sebel kalau gak bisa nonton PSMS, loe suka nonton film horror, tapi takut
hantu, loe pernah suka sama gue. Tapi gue lebih memilih Kak Ben. Cita-cita loe
pengen jadi dokter, tapi orang tua loe gak setuju. Kita
punya sandi rahasia, when you believe ...
i will believe you too. Dan lagu favorit kita adalah Shania Twin, From This
Moment,” ujar Lia panjang lebar.
Anton terdiam. Mana mungkin seorang Wong Phan tahu banyak
hal tentang Anton. “Dari mana loe tahu semua itu?’ ujar Anton mulai mempercayai
perkataan Wong Phan.
“Gue Lia, Ton. Sahabat loe, cinta pertama loe, sekaligus
penyebab hati loe patah untuk pertama kali,” Lia bercerita dengan mata
berkaca-kaca.
“Loe masih gak percaya juga, loe sering
salah nyanyiin lagu kesukaan kita pas bait ini. I live only for you
happiness and for you love at last that I breath. From this moment on.
Fro m this moment as long as I live I will love you I promise you this. There
is nothing I wouldnt give from this moment on --“ Lia
bersenandung dengan air mata berlinang.
Tiba-tiba Anton menarik Lia dalam
rengkuhannya. Rasa bersalah menyelinap di hatinya, bagaimana dia memperlakukan
Lia selama ini dengan segala perlakuan kasar? Andai saja dia tahu Wong Phan
adalah Lia sejak awal, ia tak akan pernah menyakitinya sedikit pun. Anton
mulai mempercayai perkataan Wong Phan.
“Maafin gue, Li ... Ah ... bodoh, kenapa gue gak pernah
percaya loe dari awal?” desis Anton menyesal.
“Gak papa, aku ngerti kok, Ton. Yang
penting sekarang kamu percaya aku,” Lia menangis dalam pelukan Anton.
Anton melepas pelukan Lia, lalu
mengusap kedua belah pipinya yang penuh air mata. “Mulai sekarang gue janji
bakal jagain loe, Li,” gumam Anton pelan sembari mengusap rambut Lia pelan.
Duar!!! Suara dentuman keras terdengar dari luar mobil
yang ditumpangi Anton dan Lia, dalam hitungan beberapa detik, mobil mereka
oleng.
STAY
WITH ME
|
”A |
pa yang terjadi?” tanya Lia panik, Anton mengintip dari
balik jendela mobil.
“Sial!
Kita diserang,” ujar Anton memicingkan matanya dari celah jendela. Di luar,
empat mobil mengepung mereka. Satu dari arah barat, timur, utara, dan selatan.
Lia ikut merangkak, lalu duduk di samping Anton.
“Mereka lagi ...,” desis Lia kesal.
Matanya terpaku pada segerombolan orang yang mengepung mobil polisi yang
mengawal mereka.
“Mereka siapa?” tanya Anton penasaran.
“The Darkness Of The Street, rival sejati Black Hole. Bagaimana mereka tahu aku ada di sini? Ah ... sial, ini
pasti ulah Ayex. Dia pasti kecewa karena aku gagal menjalankan operasi Double
Seven yang diperintahkannya,” decak Lia kesal.
“Operasi Double Seven, apa itu?” Anton penasaran.
“Operasi penyelundupan narkotika yang
sedang kujalankan. Dalam tujuh hari aku harus kembali, kalau tidak, Ayex harus
menyerahkanku pada The Darkness Of The Street,” tutur Lia panjang.
“Kamu dijadikan tumbal? Benar-benar
kurang ajar,” ujar Anton geram, tangannya mengepal kuat.
“Ayex membuat perjanjian dengan The Darkness Of The Street,
Black Hole dan The Darkness berebut tender pengiriman barang ilegal terbesar di
Asia. Black Hole menang tender, tapi The Darkness tak terima. The Darkness
mengancam Black Hole akan menyerang markas mereka besar-besaran. Jika hanya bertarung satu lawan satu, mungkin kita akan
menang, tapi The Darkness punya sesuatu yang menyangkut hidup dan matiku,”
desis Lia dengan mata menerawang.
“Sesuatu yang menyangkut hidup dan
matimu?” tanya Anton heran.
Lia mengangguk kemudian dia menunjuk
bagian perutnya. Menarik sedikit kaos yang dikenakannya. Mata Anton terbelalak,
sebuah jahitan besar masih terlihat bekasnya di perut Lia.
“Di dalam perutku ini ada narkotika,
selain operasi transplantasi kulit dan wajah yang mengubahku menjadi Wong Phan,
mereka juga menanamkan barang ini dalam perutku. Narkotik
ini adalah barang sengketa antara Black Hole dan The Darkness. Jika dalam tujuh
hari aku tak kembali, maka The Darkness berhak membunuhku,” gumam Lia sedih.
Satu mobil polisi yang mengawal mereka berhasil dilumpuhkan
The Darkness.
“Kamu tunggu di sini, biar aku hadapi mereka,” gumam Anton
sembari meraih pistol dari balik sakunya.
“Nggak, Ton. Jangan!” Lia meraih lengan Anton, bagaimanapun
dia tak ingin Anton terlibat masalah ini. “Bukan kamu yang mereka cari, tapi
aku ... aku saja yang ke luar, kamu tunggu di sini,” pesan Lia.
Kali ini giliran Anton yang mencekal pergelangan tangan Lia.
“Nggak ... aku gak akan biarin kamu ngorbanin diri lagi!” teriak Anton.
Lia menggeleng, The Darkness hanya mengincar Wong Phan. Jadi,
dia tak ingin Anton terluka jika harus bertarung dengan mereka.
“Aku bilang nggak! Mereka cuman nyari aku! Aku mohon, Ton!
Kali ini turutin apa mauku,” tutur Lia dengan wajah memohon.
Dug!!! Terdengar suara pintu mobil mereka digedor dengan
kuat dari luar.
“Wong Phan!!! Kami tahu kamu di dalam, keluarlah sebelum
kami meledakkan mobil ini,” ancam seseorang dari luar.
“Gawat ... mereka sudah di sini,” ujar Lia semakin panik,
“Apa yang harus kita lakukan?” teriak Lia frustasi.
Pintu mobil terus digedor dari luar, suara tembakan
berkali-kali mencoba menembus kaca anti peluru mobil yang ditumpangi mereka.
“Wong Phan! Jika dalam hitungan ke sepuluh kamu tidak ke
luar. Maka kami benar-benar akan meledakkan mobil ini!” teriak seseorang dari
balik mobil.
“Anton! Apa yang harus kita lakukan? Argh ...!” ujar Lia
histeris, Anton terlihat berpikir keras.
“Sepuluh ... sembilan ...,” seseorang di luar mobil mulai
menghitung mundur.
“Tembak aku!” pinta Anton sambil menyerahkan pistol ke arah
Lia. Lia menggeleng, Anton sudah gila memintanya untuk menembak seseorang yang
sangat disayanginya.
“Delapan ... tujuh ....”
“Cepat Lia! Tembak aku! Mereka akan segera tiba di sini!”
perintah Anton agar Lia menuruti permintaannya.
“Nggak, Ton. Kamu gila apa memintaku untuk menembakmu?” Lia
tak mengerti dengan ide gila Anton.
“Tembak Lia ... tembak di bagian sini!” tunjuk Anton pada
kaki kirinya.
“Aku gak mau ... aku ga mau, Ton,” Lia menolak permintaan
Anton tegas.
“Lima ... empat ...,” hitungan ke sepuluh itu pun telah
berjalan mundur. Mobil mereka terkepung dari segala arah.
“Come on! You can do it,” desak Anton, Lia memejamkan
matanya lalu menghela napas panjang.
Duar!!! Suara tembakan terdengar bersamaan dengan pintu
mobil yang didobrak paksa.
DISASTER
|
L |
ia
menjerit keras ketika tembakannya tepat menyentuh kaki kiri Anton. Anton
terlihat kesakitan, walau dia menutupinya dari Lia dan pura-pura pingsan.
“Angkat tangan!” perintah seseorang berbaju hitam dengan
pistol yang mengarah ke Lia.
Refleks, Lia menjatuhkan pistol dari tangan kanannya. Pistol
tersebut terlempar begitu saja di lantai.
“Wong Phan ... Ikut kami!” perintah pria berbaju hitam
dengan ban kapten di lengannya. Beberapa orang berpakaian senada mencoba
mendekati Wong Phan.
“Wait! Kalian gak
bisa membawaku begitu saja,” gumam Wong Phan, otaknya terus berpikir bagaimana
caranya dia bisa meloloskan diri,
“Kenapa?” gumam sang pemimpin pasukan yang wajahnya tak
asing bagi Lia, pernah Ayex bercerita pria ini bernama Braid.
“Ini tak sesuai perjanjian, Braid,” tolak Lia menepis tangan
Braid mencoba meraih lengannya.
“Why? Ini hari ketujuh, kamu tahu kan jika dalam hari
ketujuh kamu gagal, maka harus menyerah pada The Darkness of The Streets,” ucap
Braid sinis.
“I know, tapi hari
ketujuh belum berakhir, aku akan menyerah besok,” gumam Lia.
“Hahaha ... kau kira kami akan percaya begitu saja denganmu?
Cih! Kami tahu kamu licik, jangan banyak bicara! Ikut dengan kami!” desak Braid
sambil menodongkan pistol tepat di kening Braid.
Dug! Bug! Dalam sekali pukulan, Lia berhasil mencekal tangan
Braid dan menguncinya di belakang tubuhnya.
“Cih ... harusnya dari awal aku gak percaya padamu Wong
Phan,” ujar Braid kesal.
“Sayangnya kamu percaya,” desis Lia menyeringai.
Braid tak tahu kalau kemampuan bertarung Wong Phan semakin
jago, hanya dalam beberapa detik mampu melumpuhkan Braid.
“Mundur! Atau aku bunuh Braid. Jatuhkan senjata kalian!”
teriak Lia memberi perintah. Kelima anak buah Braid pun meletakkan senjatanya
di lantai, dengan kaki pincang, Anton memunguti senjata mereka.
Lia berjalan mendorong bahu Braid, diikuti dengan Anton di
belakangnya. Rencana Lia dan Anton berhasil. Anton berpura-pura mati karena
tembakan Lia. Di saat yang tepat Anton
akan muncul dan membantu serangan Lia.
Duar!!! Tanpa sepengetahuan Lia, anak buah Braid masih
menyisakan satu pistol di sakunya. Tembakan itu tepat mengenai lengan kiri Lia.
Darah merah mengalir dari lengan yang terkena tembakan.
“Lia!!!” teriak Anton panik.
Dengan cepat Anton mengeluarkan pistol dari balik sakunya.
Baku tembak tak dapat dihindarkan lagi, Lia menutup telinganya sambil merunduk.
Dalam hitungan beberapa detik, Braid dan anak buahnya berhasil dilumpuhkan
Anton.
“Lia, kamu gak papa?’ ujar Anton sembari merengkuh tubuh Lia
yang bergetar.
“Hiks ... kamu gak kenapa-napa kan?” ujar Lia berbalik
tanya. Tangannya menangkup wajah Anton.
“Bertahanlah, bantuan akan segera datang ...,” celetuk
Anton. Sepuluh menit kemudian bantuan datang, Anton dan Lia segera dilarikan ke
rumah sakit.
THEY
DON’T KNOW US
|
H |
ampir
tiga hari Lia pingsan, untung saja Anton dan Lia tiba di rumah sakit tepat
waktu dan Anton lebih cepat sadar bila dibanding Lia. Operasi pengangkatan
peluru mereka berhasil dijalankan.
Lia dijaga ketat di ruang isolasi rumah sakit internasional
Singapura, untuk penjahat sekelas Wong Phan, polisi Singapura menerapkan sistem
penjagaan ganda. Area tempat Lia dirawat bahkan disterilkan sejauh dua puluh
meter.
Hanya pihak-pihak tertentu yang diperbolehkan masuk ke
ruangan Lia, salah satunya adalah Anton.
“Bro ... kopi,” ujar Rizal menyodorkan kopi ke arah Anton.
Dari kemarin Anton tak pernah beranjak dari kamar Lia.
Alasannya sederhana, karena ia ingin menjaga Lia, meskipun dari pihak
kepolisian sempat melarang. Karena Wong Phan, Anton menjadi terluka.
Untungnya Anton punya alasan kuat untuk menjaga Lia, karena
dia adalah ketua tim dalam misi rahasia penangkapan Wong Phan.
“Why? Kenapa lagi
muka loe kusut kayak gitu?” tanya Rizal.
Anton menarik napas panjang lalu menghembuskannya kasar. “Dia
benar-benar Lia, Zal,” desis Anton dengan nada rendah, diciumnya aroma kopi
yang mulai menghangat dari balik cangkir yang dipegangnya.
“Hah! Serius loe? Kok bisa?” Rizal berteriak tak percaya.
Anton menggeleng pelan, bibirnya menyentuh bibir cangkir
yang berisi mochaccino, lalu menyesapnya pelan.
“Dia sudah cerita semuanya. Ini semua ulah Black Hole dan
Lia jadi korbannya. Wong Phan sebenarnya sudah mati, Lia dijadikan percobaan
dalam operasi transplantasi wajah Wong Phan,” Anton bercerita dengan tangan
mengepal.
“Berengsek, gila tuh Black Hole,” geram Rizal sambil
menggeleng-gelengkan kepala.
“Dia hapal semua tentang gue. Dia bukan Wong Phan dan
bodohnya gue gak pernah percaya sama dia. Dia bahkan hapal sandi yang kami buat
bersama, sandi yang hanya aku dan Lia tahu. Gue bodoh banget gak percaya dia
sejak awal, ini semua salah gue!” sesal Anton.
Rizal mendekati Anton lalu menepuk pundaknya pelan.
“Bukan salah loe, Bro! Loe gak usah nyalahin diri sendiri,
yang penting sekarang loe lega kan kalau Lia masih hidup?” tanya Rizal.
Anton mengangguk pelan. “Iya, tapi yang jadi masalah
sekarang, gimana caranya gue ngebuktiin kalau Lia gak salah? Semua orang
percaya bahwa dia adalah Wong Phan,” decak Anton sambil mencengkeram rambutnya
kuat, pandangannya tertunduk.
“Iya juga sih, bukannya seminggu lagi Wong Phan, eh maksudku
Lia akan disidang?” Rizal mengingatkan. Dan yang membuat Anton makin menyesal,
bahwa dialah yang menangkap Wong Phan.
Sidang kasus Lia memang sudah diajukan minggu lalu, pemerintah
China bahkan sudah setuju jika Wong Phan diadili di Negara Singapura. Singapura
adalah negara anti narkoba dan anti bisnis ilegal, sudah pasti Wong Phan akan
dijerat pasal berlapis dan kemungkinan besar akan dipenjara seumur hidup atau
menjalani hukuman mati.
***
Lia mengerjapkan matanya perlahan, seperti dejavu ruangan putih dengan bau khas
rumah sakit ditemuinya kembali.
“Kamu sudah bangun?” tanya Anton dengan wajah gembira,
hatinya lega karena Lia sudah sadarkan diri.
“Anton, aku di mana?” tanya Lia sambil memegang kepalanya
yang sedikit pusing. Terasa nyeri di bagian lengannya yang diperban.
“Rumah sakit, mau aku panggilkan dokter?” tawar Anton, Lia
menggeleng kecil.
Kilatan kejadian baku tembak itu terulang kembali, terakhir
kali Lia ingat sebelum dia masuk ke ruang operasi, setelah itu semuanya gelap.
Anton membantu Lia menyandarkan punggungnya di ranjang. Lia senang karena
dirinya masih bisa melihat Anton lagi.
“Kamu sudah baikan?” tanya Lia memastikan keadaan Anton.
“Iya, sudah lebih baik karena lihat kamu,” goda Anton sambil
mengerling nakal.
Lia mencubit lengan Anton kecil, pipinya bersemu merah.
“Gombal kamu,” decak Lia pura-pura ngambek.
“Gombal-gombal gini kamu suka ‘kan?” Ujar Anton menaikkan
sebelah alisnya, lalu mengerling nakal.
“Kamu mau ke mana?” tanya Lia ketika melihat sebuah koper
kecil di sisi ranjang.
“Aku harus pergi jauh, kamu jaga diri baik-baik, ya? Jangan
lupa makan, salat, jaga diri baik-baik,” tutur Anton sambil mengelus pipi kanan
Lia pelan.
“Aku ikut ... please,
Ton. Jangan tinggalin aku,” rengek Lia.
Anton menggeleng, lalu menepis tangan Lia di lengannya
pelan.
“Kamu gak bisa ikut, Li. Aku harus pergi sendiri,” jawab
Anton pelan.
“Kenapa?” tutur Lia kecewa.
“Kamu harus menjalani persidangan esok,” gumam Anton.
Besok pagi adalah persidangan kasus Wong Phan, sekalipun Lia
belum sembuh benar, dia tetap diwajibkan mengikuti persidangan.
“Please, Ton. Jangan tinggalin gue,” tutur Lia memelas.
Anton menggeleng. Telihat semburat kecewa di mata Lia. Anton
sebenarnya tak tega meninggalkan Lia sendiri, tapi dia harus melakukannya.
ALONE
|
S |
idang kasus Wong Phan pagi ini berjalan lancar, Lia tak
punya harapan lagi untuk bebas dari hukuman. Dia juga tak mengelak segala
kejahatan yang diajukan oleh jaksa penuntut umum. Beberapa orang yang hadir di
persidangan bahkan dibuat heran.
Wong Phan yang biasanya selalu temperamen dan emosional,
kini menjadi pendiam dan penurut. Ada beribu tanya tanpa jawaban dari
orang-orang yang hadir di persidangan,
“Kenapa kamu hanya diam saja, kamu bahkan gak mengelak
tuntutan dari jaksa penuntut umum?” ujar Smith, pengacara yang dibayar oleh
pihak Singapura untuk Lia.
“Untuk apa? Toh ... mereka semua juga gak akan percaya
padaku,” desis Lia pelan.
“Kau ingin mati?” decak Smith dengan nada tinggi. Dia tak
menyangka kliennya ini sudah kehilangan harapan hidup.
“Memangnya ada kesempatan untukku hidup?” tanya Lia
sarkastik.
Smith terdiam, memang kecil kemungkinan Lia untuk hidup.
Bahkan untuk keringanan hukuman yang akan diberikan saja cukup sulit. Wong Phan
adalah residivis kelas kakap, berkali-kali dia tercatat melarikan diri dari
penjara. Belum beberapa kasusnya di bidang narkotika dan penyeludupan.
“Kau ini benar-benar gila,” ujar Smith frustasi, baru kali
ini dia menemukan klien seperti Lia.
Sidang kasus Lia ditutup dengan keputusan yang akan
dibacakan pada sidang kedua yang akan diadakan dua minggu lagi.
***
Di ruangan gelap nan pengap, Lia duduk termenung, ingatannya
melayang pada Ben. Dia merindukan sosok yang kini menjadi kakak baginya.
Bayangan Ibu Dewi juga turut mengusik pikirannya. Ibu Dewi termasuk wanita
dekat dengan hatinya, karena semenjak Lia tamat SD, dia bersekolah di luar
daerah kelahirannya.
Bagaimana kabar ibu di
rumah? Apa dia baik-baik saja? Atau justru dia sudah percaya kalau aku
benar-benar meninggal?
“Tahanan nomor 303 segera habiskan makananmu. Lalu akan
kubawa kamu keluar, sebentar lagi kamu akan menjalani sidang lanjutan!” teriak
penjaga penjara dengan kasar. Dia melempar sebuah nampan berisi makanan ke arah
Lia.
Lia menatap piring berisi nasi dan lauk yang tak menggugah
selera. Bayangan masakan Ibu yang lezat melintas di pikirannya. Dengan enggan
diraihnya piring berisi nasi tersebut dan memakannya dengan terpaksa.
***
“Saudari Wong Phan. Apakah Anda mengakui bahwa narkoba
seberat tujuh gram itu adalah barang milik Anda?” tanya Sang Hakim di
persidangan.
Smith melirik Wong Phan dengan gelengan kecil, namun Wong
Phan malah menganggukkan kepalanya.
“Bodoh, kamu benar-benar bodoh Wong Phan,” desis Smith.
Usahanya untuk membela Wong Phan atau sekedar meringankan beban hukumannya
semakin sulit.
“Apa benar Anda menjadi bagian Black Hole sekaligus Wakil
Ketua dari organisasi penyelundupan
terbesar di Asia tersebut?” tanya sang hakim lagi.
“Iya!” jawab Wong Phan tegas.
“Apa benar, Saudari Wong Phan terlibat dalam operasi Double
Seven yang diketuai oleh Ayex?” sang hakim mengajukan pertanyaan lagi.
Tak ada pengelakan dari Wong Phan, dengan tegas dia
mengangguk. Sang hakim pun menghela napas berat, lalu melanjutkan membacakan
keputusannya.
“Berdasarkan bukti-bukti yang diajukan dari jaksa penuntut
umum dan pengakuan para saksi serta pengakuan dari Saudari Wong Phan sendiri,
maka dengan ini pengadilan memutuskan bahwa Saudari Wong Phan dijatuhi
hukuman---“
“Tunggu!” sebuah suara bariton menginterupsi, mata seluruh
hadirin langsung tertuju pada pemilik suara. Ketika mata cokelat milik lelaki
itu bertemu dengan pandangan Lia. Lia tertegun.
NEED YOU
NOW
|
A |
nton
berjalan santai dengan tatapan
orang-orang yang memandangnya memasuki ruangan persidangan.
“Tunggu Pak Hakim, saya punya bukti bahwa Wong Phan tak
bersalah,” tutur Anton sambil menyerahkan beberapa dokumen ke arah hakim.
Anton kemudian berjalan ke arah Lia, lalu berbisik di
telinganya.
“Aku di sini. Jangan takut,” bisik Anton pelan.
Lia tersenyum lega. Awalnya dia berpikir bahwa Anton akan
meninggalkannya sendiri, tapi ternyata salah.
“Kamu ke mana aja?” tanya Lia dengan mata yang mulai
mengembun.
“Panjang ceritanya, nanti akan aku ceritakan,” gumam Anton
mengelus pipi kanan Lia pelan.
Lia mengangguk, lantas melemparkan senyum ke arah Anton.
Anton membalasnya dengan senyuman pula. Hatinya sedikit lega dan tenang dengan
kedatangan lelaki itu.
“Saudara Anton, saya kira bukti-bukti yang Anda ajukan tidak
dapat kami terima,” ujar Hakim pemimpin persidangan.
Anton berdiri dengan tenang, seluruh pandangan tertuju
padanya. Tak lupa beberapa kamera yang membidikan gambar ke arahnya. Sidang
kasus Wong Phan memang disiarkan langsung lebih dari 34 Stasiun TV dari
beberapa negara.
“Bapak Hakim yang terhormat, seluruh dokumen yang saya
berikan adalah benar. Saya juga telah menyertakan beberapa bukti konkrit
mengenai pembelaan saya terhadap Wong Phan. Ehm ... maksud saya Lia,” ujar
Anton tegas, lalu mengarahkan pandangannya ke arah kamera yang tengah merekam
gambar dirinya.
“Nama gadis ini bukan Wong Phan, dia adalah Aprilia Rastika.
Gadis ini menjadi korban dari kelicikan Black Hole, dia dioperasi oleh dokter
di Klinik Ceverland, negara bagian Ohio. Wong Phan sebenarnya telah meninggal,
hanya saja wajah dan kulitnya ditranplantasikan kepada gadis ini. Saya juga membawa bukti konkrit, jenazah Wong
Phan yang dipalsukan menjadi Lia telah kami lakukan penyelidikan dan
otopsi. Di situ ada surat keterangan dari Dokter Klinik Ceverland dan
juga pengakuan beberapa anak buah Ayex yang berhasil kami interogasi. Jenazah
Wong Phan dengan transplantasi wajah Lia telah selesai diotopsi dan hasilnya
menyatakan bahwa jenazah itu adalah milik Wong Phan,” tutur Anton panjang
lebar.
Sang Hakim terlihat berpikir keras, semua bukti-bukti dan dokumen yang diberikan
Anton diterima oleh pengadilan. Sementara keputusan pengadilan ditangguhkan
hingga sidang berikutnya.
I DON’T WANNA LOST YOU
|
A |
lunan
lagu Megan Trainor feat John Legend
berjudul
Like I am Gonna Lose you mengalun pelan di restoran The Cliff yang berada di
kawasan Sentosa Island. Di sudut restoran tengah terlihat dua orang yang tengah
diam sambil menatap ke arah lautan.
“Jangan liat aku kayak gitu,” gerutu Lia.
Sedari tadi Anton tak berhenti memandang dengan tatapan
memuja. “Memangnya kenapa sih? Masa cuman ngelihatin gitu aja gak boleh?”
celetuk Anton sambil menopangkan wajah
dengan kedua dagunya.
“Risih tau, ada yang salah ya dengan penampilanku?” ujar Lia
risih.
Dress biru laut selutut dengan krystal slarovsky yang
melingkar dari bagian bahu hingga punggungnya terasa pas dengan tubuh mungil
Lia.
“Enggak kok, kamu cantik,” tutur Anton sembari mencubit pipi
mungil Lia.
“Aw ... sakit tau!” refleks Lia berteriak sambil memegang
pipinya, tangan kanan Anton refleks juga memegang bekas cubitan tangannya.
“Sakit, ya? Yang mana yang sakit? Coba lihat,” ujar Anton
memajukan kepalanya untuk melihat pipi Lia.
Wajah Anton begitu dekat, membuat Lia kesulitan bernapas.
Aroma gel rambut yang maskulin berpadu dengan parfum after shave tercium lembut dari jarak sedekat ini. Lia mendadak
kesulitan bernapas, dari jarak sedekat ini dia dapat melihat mata cokelat
Anton.
“Masih sakit?’ ujar Anton membuyarkan lamunan Lia.
“Eng .... Enggak kok,” ujar Lia menjauhkan wajahnya.
Semburat merah muncul di pipinya.
“Cie blushing,”
goda Anton mengerling ke arah Lia.
“Apaan sih, siapa yang blushing?”
elak Lia. Lia pun mencoba mengalihkan perhatian Anton. “Oh ya, Ton. Kamu
kok bisa sih dapat semua bukti-bukti tentang Wong Phan? Makasih banget, ya? Kalau
bukan karena kamu, aku mungkin sudah gak ada lagi di dunia ini,” lirih Lia
dengan suara tertahan.
“Waktu itu aku bingung gimana caranya ngebuktiin kalau kamu
gak salah, sampai akhirnya punya ide untuk ke rumahmu. Di sana aku dan tim
dokter yang khusus kubawa dari sini melakukan penyelidikan dan otopsi terhadap
mayat Wong Phan. Hasilnya itu bisa jadi bukti kalau kamu gak bersalah,” tutur
Anton.
“Sekali lagi makasih ya, Ton?” Lia mengulang ucapan terima
kasihnya.
“Nothing udah jadi
tugasku untuk melindungi orang yang aku sayang,” celetuk Anton yang membuat
hati Lia menghangat.
“Kamu itu bisa aja,” gumam Lia dengan pipi bersemu merah.
Malam
ini rencananya Anton ingin melamar Lia. Di bawah bintang-bintang Sentosa Island dan juga suasana
romantis restoran The Clif tentunya akan membuat Lia terkesan.
“Li,”
ucap Anton tertahan. Lelaki itu menatap Lia dengan jantung yang berdebar
kencang.
“Hm
...,” gumam Lia sambil mengunyah sepotong beef
steak di mulutnya.
“Kamu
mau gak ... ehm ... eng ....,”
Bruuk!!!
Tiba-tiba saja tubuh Lia ambruk ke lantai, cairan pekat menglir dari mata,
hidung dan juga telinganya.
“Lia
... kamu kenapa?” ujar Anton dan dengan sigap membopong tubuh Lia.
***
Hampir
3 jam Lia berada di depan emergency room, sedari tadi Anton mondar-mandir
sendirian di depan ruang Lia dirawat.
“What happen?” tanya Rizal yang baru saja
datang setelah Anton mengabarinya.
“Lia
pingsan,” jawab Anton singkat.
“Kok
bisa?” tanya Rizal lagi.
“Entahlah,
gue baru mau lamar dia, lalu tiba-tiba dia pingsan. Ada banyak darah di mata,
hidung, juga telinganya.” Gumam Anton cemas.
“Apa
Lia punya penyakit yang mungkin dia
derita?” tanya Rizal, Anton menggeleng.
“Setahuku
tak punya,” celetuk Anton singkat.
Setelah
menunggu hampir empat jam, seorang dokter
ke luar dari ruangan Lia dirawat. “Keluarga Aprilia Rastika?” Dokter
tersebut bertanya kepada Anton yang dijawab dengan anggukan mantap.
“Bagaimana
keadaan Lia, Dok? Apa Lia baik-baik saja?” Anton mengajukan banyak pertanyaan
pada sang dokter.
“Mari
ikut ke ruangan saya,” celetuk sang dokter, Anton pun mengikuti Dokter Mac,
nama yang tercantum di seragamnya.
***
Dokter Mac menghela napas panjang, seolah berat
memberitahukan keadaan Lia pada Anton. Anton yang duduk di hadapannya terlihat
resah dan menunggu apa.
“Pasien Lia mengalami komplikasi pada jaringan kulitnya.
Operasi tranplantasi kulitnya kurang berhasil, dia harus menjalani operasi
ulang. Hal ini disebabkan karena rusaknya beberapa sel-sel jaringan kulit yang
gagal berkembang dan menyatu dengan kulit asli,” desah Dokter Mac.
Anton tak dapat menyembunyikan kesedihan. Dia baru saja
bertemu dengan gadis yang telah lama terpisah darinya, tapi kenapa Tuhan
secepat ini mengambilnya kembali? Benar-benar tak adil, kenapa bahagia selalu
datang dan pergi dengan cepat?
“Tolong lakukan apa saja demi kesembuhan Lia, Dok,” pinta
Anton pada Dokter Mac.
“Lia membutuhkan operasi secepatnya, jika tidak, maka resiko
terburuknya adalah kematian,” Dokter Mac menghela napas berat.
“Sayangnya operasi ini hanya bisa dilakukan oleh Dokter di
Clinik Ceverland. Hanya mereka yang bisa melakukannya. Tapi sayangnya seminggu
yang lalu Klinik Ceverland resmi ditutup karena operasi ilegal transplantasi
kulit. Jika dalam dua puluh empat jam tak mendapat perawatan, bisa dipastikan
nyawanya akan terancam,” ujar Dokter Mac menopang dagu.
“Lalu gimana caranya kita mendapatkan dokter buat Lia, Dok?”
ujar Anton berpikir keras.
“Kamu harus bisa cari dokter tersebut, bagaimanapun caranya.
Oh ya, Lia juga butuh obat kekebalan
tubuh. Sepertinya hampir empat minggu ini dia tak mengkonsumsi, kami
butuh sampel obat tersebut. Jika kamu bisa mendapatkannya, kami bisa membuat
obat kekebalan tubuh untuk Lia,” gumam Dokter Mac.
Sebelumnya Lia pernah cerita pada Anton bahwa Ayex yang
membawa obat kekebalan tubuhnya. Untungnya Lia juga memberi tahu Anton tempat
persembunyian Ayex. Malam itu juga Anton berangkat ke markas Black Hole.
HEART
BEAT
|
L |
ia
membuka matanya perlahan, dilihatnya
Anton tengah tertidur dengan pulas di sofa. Sudah berapa hari dia pingsan, Lia
bahkan tak mengingatnya. Ada rasa sakit di bagian perut, tenggorokannya terasa
kering.
Lia berusaha meraih gelas di nakas, pelan-pelan ia
mengulurkan tangan untuk meraih gelas di sampingnya. Namun sayang, jemari Lia
terlebih dahulu menyenggol gelas yang dengan cepat meluncur ke lantai.
“Lia ...,” gumam Anton yang terbangun, lalu mendekatinya.
“Kamu sudah sadar?” ujar Anton girang, dia memeluk Lia dengan perasaan bahagia.
“Apa yang terjadi, Ton?” tanya Lia.
Anton mengambil gelas baru lalu mengisinya dengan air
mineral dan menyerahkannya pada Lia. “Minum dulu.”
Lia meraih gelas yang disodorkan Anton lalu meneguknya
perlahan.
“Kamu sudah selesai dioperasi, narkoba di perutmu telah
berhasil dikeluarkan. Tapi sayang, dokter tak bisa mengembalikan wajah kamu,
Li,” tutur Anton sedih.
Lia tersenyum tipis, lalu meraih pergelangan tangan Anton
dan menggenggamnya lembut. “Gak papa, Ton,” desis Lia tanpa nada kecewa.
“Ya udah kamu istirahat, ya? Aku mau ke kantor Kedutaan buat
nyerahin data-data tentang Ayex biar segera diproses,” ujar Anton sambil meraih
beberapa dokumen di sofa, lalu memakai jaketnya.
“Iya,” jawab Lia singkat.
“Kamu aman di sini, rumah sakit ini milik kepolisian
Singapura, di sini penjagaannya sangat ketat,” gumam Anton menyentuh kepala Lia
Lia mengangguk sambil tersenyum ke arah Anton.
***
“Li, apa kamu yakin
dengan keputusan kamu?”tanya Anton dengan wajah bimbang.
Riuh suara ombak yang bertubrukan dengan karang terdengar di
antara hamparan pasir putih dan udara sejuk pantai tempat mereka berada.
“Yakin, Ton. Aku ingin pulang dan memulai kehidupan baru di
sana,” celetuk Lia dengan mata memandang langit.
“Kamu bisa memulainya di sini, Li. Jika kamu mau,” ujar
Anton dengan napas tertahan, “menikahlah denganku,” lanjutnya.
Pernyataan itu meluncur begitu saja di bibir Anton, dia tak
ingin kehilangan Lia untuk kesekian
kalinya. Lia menggeleng, wajah Anton terlihat kecewa.
“Kenapa? Apa kau tidak mencintaiku?” tanya Anton dengan
tatapan tak percaya. Lia menolak pernyataan cintanya dua kali.
“Aku dan kamu beda, Ton. Aku gak bisa menjalani cinta dengan
dua keyakinan berbeda, Ton,” desis Lia.
Anton meraih tangan Lia dan menggenggamnya tulus. Lia dapat
merasakan bahwa Anton kecewa, tapi ini mungkin pilihan yang terbaik.
“Aku bisa pindah agama jika kamu mau,” tutur Anton mantap,
apa pun akan dilakukannya demi Lia.
Lia menarik tangannya dari genggaman Anton. Lalu meraih
pundaknya dengan kedua tangannya.
“Nggak, aku gak mau kamu pindah agama karena aku. Agama itu
tentang keyakinan, Ton. Bukan tentang cinta. Aku yakin kita akan sama-sama
bahagia, walau tak bersama. Jika memang kamu adalah takdirku, maka sampai kapan
pun aku tak akan mampu menjauh darimu, percayalah. Someday if you mine, i’ll be yours,” Lia menepuk pundak Anton
lembut.
Senja ini ada hati yang tengah terluka tentang cinta, sebuah
perpisahan tentang dua takdir yang seharusnya bersatu. Mereka tak pernah tahu
rencana Tuhan selanjutnya, yang mereka tahu perpisahan ternyata lebih pahit
dari secangkir kopi.
WITHOUT
YOU
|
L |
ia
menyeret pelan koper yang dibawanya, sedari tadi Anton mengantarnya dalam diam.
“Aku harus pergi, kamu jaga diri baik-baik ya?” gumam Lia
sebelum beranjak.
Anton mengangguk pasrah, tak ada seulas senyum di bibirnya.
“Li, aku sayang kamu,” ucap Anton pelan, namun Lia pasti mendengarnya.
“Aku juga, tapi maaf kita nggak bisa sama-sama,” gumam Lia
sambil menepuk pundak Anton pelan.
Baru kali ini Anton merasakan patah hati dalam skala yang
sama untuk kedua kalinya. Dulu saat Lia memilih Ben, Anton merasakan patah hati
yang masih bisa dimaklumi, tapi sekarang seperti kehilangan semangat hidup.
Lebih dari lima tahun Anton memendam perasaannya terhadap
Lia. Takdir seolah tak pernah memberikan kesempatan padanya untuk bilang cinta.
Dan hari ini dia gagal mempertahankan bidadari hati itu untuk terus di
sampingnya.
Ah, cinta memang selalu begitu, kadang epilognya memang tak
pernah tertebak. Anton menghela napas panjang, batinnya masih tak terima
melepas Lia.
“Insyaallah, jika jodoh kita akan ketemu lagi kok,” tutur
Lia sambil mengembangkan senyum di bibirnya.
“Aku pergi, ya? Kamu jaga diri baik-baik,” pesan Lia sambil
menyeret koper untuk segera check in.
“Jangan lupa kabarin aku ya?” teriak Anton mela mbaikan
tangan.
Lia menjawab dengan anggukan.
***
Senja baru saja turun di peraduan, semilir angin membelai
rona merah di ufuk Barat. Lia berjalan santai sambil menyeret koper yang
dibawanya.
“Ibu, aku pulang
...,” gumam Lia dalam hati.
Terbayang wajah ibu angkatnya yang sangat dirindukan. Telah
lama ia tak merihat wajah Ibu yang menyayanginya seperti anaknya sendiri. Ibu
yang telah merawatnya dengan penuh kasih sayang sebelum Lia menjadi bagian dari
keluarga Franklin, keluarga Ben.
Lamunan panjang Lia terhenti ketika taksi yang ditumpanginya
telah sampai di depan rumah. Rumah dengan halaman luas nan hijau yang hampir
tujuh tahun ini dia tinggalkan. Lia mengetuk pintu rumah bercat hijau tosca itu
pelan. Terdengar sahutan seseorang dari dalam yang tengah menuju pintu.
“Assalamu’alaikum,” Lia mengucapkan salam, rumah ini sedikit
kelihatan kusam dengan dinding cat yang warnanya sudah pudar. Walau masih
terawat, tapi tak seasri waktu pertama kali Lia tinggal di sini.
“Wa’alaikum salam, maaf ... mau cari siapa ya, Nak?” tutur
Bu Dewi heran ketika melihat sosok gadis cantik berparas oriental yang datang
ke rumahnya.
Tak bisa menahan gejolak perasaannya Lia langsung memeluk Bu
Dewi erat, sementara yang dipeluk hanya bisa terheran ketika Lia menangis di balik pelukannya.
“Kamu kenapa nangis, Nak?’ tanya Bu Dewi tak mengerti.
Lia melepas pelukannya, lalu menghapus air mata dengan
sebelah tangannya.
“Nggak ... gak papa kok, Bu. Saya hanya terharu, wajah Ibu
mirip dengan ibu saya di rumah,” jelas Lia.
Tidak mungkin bagi Lia untuk menjelaskan bahwa dia adalah
Lia. Sementara wajah Wong Phan masih melekat pada dirinya. Akan sulit
menjelaskannya pada Bu Dewi, selain akan membangkitkan kenangannya terhadap
Lia, tentunya juga akan menambah luka yang baru saja kehilangan anak angkatnya.
“Kamu siapa, Nak? Mau cari siapa?” tanya Bu Dewi lagi.
“Saya Wong Phan, Bu. Saya teman facebook Lia, bisakah Ibu
mengantarkan saya ke rumah Pak Lurah?” tutur Lia pelan.
Bu Dewi mengangguk-angguk paham. “Oh ... kamu itu bule ya,
Nak? Pengen melapor ke Pak Lurah gitu?” tebak Bu Dewi.
Lia asal mengangguk. “Iya, Bu. Saya berasal dari China,
sedang melakukan penelitian tentang budaya di Indonesia,” celetuk Wong Phan
dengan senyum ramah.
“Baik, ayo Ibu antar, Nak,” celetuk Bu Dewi sambil berjalan
ke luar rumah diikuti oleh Lia menuju ke rumah Pak Lurah.
***
Kehadiran Lia di kota itu menjadi pusat perhatian seluruh
warga. Kecantikan wajah orientalnya serta mata sipit berwarna kecokelatan itu
menjadi buah bibir seluruh warga. Jarang ada
bule secantik dia.
Warga sudah berkumpul di balai, Lia berdiri dengan anggunnya
menggunakan gaun selutut bermotif bunga-bunga kecil.
“Baiklah bapak-bapak juga ibu-ibu, terima kasih atas
kehadirannya di sini. Langsung saja, perkenalkan gadis ini bernama Wong Phan,
dia adalah warga keturunan China yang menetap di Indonesia. Dia tak punya sanak
saudara di sini, adakah yang bersedia menjadi keluarga angkat dari Wong Phan?”
tutur Pak Lurah.
Semua yang hadir terlihat senang, bahkan hampir sebagian
besar warga mengacungkan tangan ingin menjadi keluarga angkat Wong Phan. Pak
Lurah terlihat bingung mengambil keputusan, mata Wong Phan terpaku pada sosok
setengah baya yang sangat dia rindukan.
Pak Arifin beserta isterinya yang tak lain adalah Bu Dewi.
Bu Dewi terlihat tersenyum ke arah Wong Phan. Entahlah, semenjak Wong Phan
datang ke ke rumahnya, Bu Dewi tak henti-hentinya membicarakan dirinya. Bahkan
bilang ingin mengangkat Wong Phan menjadi anaknya.
“Berhubung banyak yang ingin menjadi orang tua Wong Phan,
maka biar Wong Phan sendiri yang memilihnya. Silakan, Nak,” ujar Pak Lurah
mempersilakan.
Wong Phan berjalan memilih orang tua angkatnya, satu per
satu dilewatinya. Lia terus berjalan lurus tanpa menoleh, dia berhenti pada
satu keluarga yang diinginkannya. Ia sudah menentukan pilihan.
“Saya pilih mereka, Pak,” ujar Wong Phan pada Pak Lurah.
Bu Dewi langsung memeluk Lia dengan perasaan bahagia. Lia
pun juga sangat bahagia, meskipun dia menjadi bagian dari keluarganya sendiri
dengan sosok lain.
“Selamat datang di keluarga Arifin, Nak,” tutur Pak Arifin.
Lia mengambil telapak tangan Pak Arifin, lalu menciumnya.
Pak Arifin mengelus rambut Lia pelan.
“Terima kasih, Pak,” ujar Lia tulus.
Bahagia menyelimuti keluarga Arifin, Bagi Bu Dewi, mereka
seperti menemukan anak yang telah lama hilang, walaupun memang sebenarnya Wong
Phan adalah Lia, anak angkat mereka sebelumnya.
Lia sendiri memilih ikhlas tanpa menyalahkan kilasan takdir
yang telah mengubah dirinya. Bersyukur adalah cara yang terbaik sekarang, Allah
memang selalu memberikan kebahagiaan pada hamba-hambanya yang sabar.
MISS YOU AGAIN
|
S |
Satu
tahun kemudian ...
emenjak
tinggal dengan keluarga Arifin, hidup Lia menjadi berwarna. Namanya kini
berubah menjadi Fitria Amanda, nama yang diberikan oleh keluarga Arifin. Lia
mengubah penampilannya, sekarang memakai jilbab.
Rasanya nyaman tinggal di keluarga Arifin, meski sampai
sekarang mereka belum tahu bahwa gadis yang mereka angkat menjadi anak adalah
anak angkat mereka sebelumnya.
Bu Dewi mengahampiri Lia seusai salat Ashar di kamarnya. Lia
terlihat sedang melipat mukena yang baru saja dilepasnya.
“Nak,” sapa Bu Dewi menghampiri Lia yang duduk di ranjang,
beliau lalu ikut duduk di sampingnya.
“Iya, Bu. Kenapa?”
ujar Lia meneliti wajah Bu Dewi lekat-lekat, ada kegundahan di sana.
“Ibu ingin tanya, tapi kamu jangan marah ya, Nak?” tukas Bu
Dewi, Lia mengangguk pelan. “Kenapa kamu menolak lamaran para pemuda itu, Nak?
Apa ada yang kurang dari mereka?” tanya Bu Arifin.
Banyak pemuda yang melamar dan menginginkan Lia menjadi
isterinya, namun sayang Lia selalu menolak tiap lamaran yang datang. Bukan
karena tampang yang pas-pasan ataupun masalah materi yang mereka miliki, namun
karena satu hal.
“Bu, sebenarnya gak ada yang kurang dari mereka. Mereka
semua baik, namun sepertinya aku yang gak pantas buat mereka,” tutur Lia sedih.
“Jangan bicara begitu, Nak. Setiap orang berhak untuk
dicintai, termasuk kamu,” tutur Bu Dewi menggenggam tangan Lia.
“Tapi Bu, Aku takut mereka gak bisa nerima apa adanya.
Terlebih karena ini,” Lia menunjukkan bagian punggungnya pada Bu Dewi.
Sebuah tato besar dengan gambar naga yang menjulurkan lidah,
serta tulisan Queen Of The Dragon Fire melekat di punggungnya yang putih.
“Nak, setiap orang punya masa lalu, pasti akan ada seseorang
yang mau mencintai kamu apa adanya,” hibur Bu Dewi.
“Sebenarnya ada, Bu. Namun sayang, aku menyia-nyiakannya,
bahkan sekarang tak tahu dia di mana,”
tutur Lia dengan suara parau.
“Kalau jodoh gak akan ke mana kok, Nak. Oh ya bukannya kamu
ada jadwal ngajar anak-anak TPA? Buruan
siap-siap, nanti telat loh,” Bu Dewi mengingatkan.
Lia mengangguk, setiap sore dia mengisi kesibukan harinya
dengan mengajar di TPA (Taman Pendidikan A-Qur’an) Ar-Rahman. Menghabiskan
waktu bersama anak-anak sungguh menyenangkan. Selain itu juga mendirikan taman
bacaan yang menyewakan buku bacaan gratis, tentunya dengan bantuan dari Ben,
kakak sekaligus mantan suaminya.
Lia menghubungi Ben beberapa bulan yang lalu, awalnya Ben
tak percaya sampai harus datang ke Indonesia. Lia juga menjelaskan semua
peristiwa yang menimpa dirinya, termasuk dengan perubahan wajah menjadi Wong
Phan.
Selama Lia kembali ke rumah Bu Dewi, Ben sering bekunjung. Tidak
seperti dulu, perasaan Ben berubah. Ben tak lagi mengharapkan Lia untuk kembali
padanya. Sebab tahu, tidak semua cinta berakhir dengan memiliki seseorang.
Melihat Lia bahagia walau tanpanya, itu lebih dari cukup.
Perusahaan Ben
memberikan cukup bantuan, mereka membantu pembangunan jalan, masjid,
perpustakaan, dan taman baca di kelurahan ini. Lia benar-benar bangga mempunyai
sosok kakak seperti Ben.
***
Rinai hujan yang jatuh senja ini mengingatkan Lia pada
Anton. Dulu dia sering melewatkan waktu untuk sekedar bercengkerama dengan
hujan bersama Anton, membiarkan rintik terjatuh begitu saja membasahi mereka,
walau sehari kemudin Lia selalu terserang flu.
Lia memang sedikit kewalahan mengajar anak-anak di sini,
pasalnya tenaga pengajar di sini terbatas. Hanya Lia dan Anida saja. Kebetulan
sore ini Anida tidak bisa hadir, jadi terpaksa Lia mengajar sendirian.
Dari kejauhan, Lia melihat sosok pria tampan tengah
menerobos hujan dengan payung hitam menuju ke arah TPA. Lia seperti
mengenalnya, tapi entah di mana.
“Assalamu’alaikum,” ujar pria tersebut memberi salam, lalu
melepas sandal yang dikenakannya.
“Wa’alaikum salam,” sahut Lia sambil menundukkan
pandangannya.
Lia tersentak ketika dia mengangkat pandangannya sekilas dan
melihat wajah tampan dengan hidung lancip dan bibir tipis yang telah lama dia
rindukan.
Kristal bening meluncur begitu saja dari sudut matanya, dia
mencoba mengalihkan pandangan matanya. Seolah tak percaya bahwa pria yang baru
saja diimajinasikan muncul di hadapannya tiba-tiba.
“Anton ...,” desis Lia tak percaya.
MY EMPRESS FROM THE PAST
|
“N |
ama
saya Muhammad Syura,” gumam pemuda yang tadi disebutnya Anton.
Lia mengeleng tak percaya. Dia hapal dengan wajah Anton,
suaranya, bahkan gerak-geriknya. Walaupun dengan mata terpejam, dia mampu
mengingatnya.
“Kamu Anton kan?” tunjuk Lia pada lelaki yang mengaku
sebagai Muhammad Syura.
Anton menggeleng. Hujan masih belum puas memabasahi bumi,
keadaan TPA mulai sepi. Hanya ada beberapa anak yang masih main-main menunggu
hujan reda.
“Iya aku Anton, tapi itu dulu sebelum aku masuk Islam.
Namaku sekarang Muhammad Syura,” gumam Anton sambil menatap rintik-rintik hujan
yang berjatuhan.
Hening sejenak, hanya gumaman rintik dan nyanyian hujan yang
terdengar. Lia meremas-remas ujung jilbabnya. Duduk dengan Anton dalam jarak
sejauh ini saja sudah membuatnya grogi.
“Kamu apa kabar, Li?” gumam Anton tanpa menoleh.
“Aku baik, Ton. Kamu sendiri kenapa bisa masuk Islam?” tanya
Lia heran dengan penampilan Anton. Dia bahkan seorang ustaz sekarang, dia
pulalah yang membantu mengajar di TPA Ar-Rahman sore ini.
“Ceritanya panjang, yang jelas karena hidayah dari Allah.
Setelah penolakanmu, aku belajar tentang Islam,” jelas Anton singkat.
Lia manggut-manggut kecil.
“Li, kamu sudah punya suami?” tanya Anton pada Lia.
Lia menggeleng, lalu berpikir sejenak. “Belum, Ton,” tutur
Lia dengan hati deg-degan.
“Kenapa?” tanya Anton menarik kedua alisnya.
“Aku takut gak ada yang bisa nerima aku apa adanya. Mana ada
sih Ton cowok yang ingin nikah dengan
mantan narapidana?” celetuk Lia dengan air mata tertahan.
“Kok kamu ngomongnya gitu?” tukas Anton.
“Ton, sekalipun aku bukan Wong Phan asli, nama itu sudah
melekat pada diriku. Bahkan tato di punggungku ini juga tak bisa dihapus, mana
ada yang pengen nikah sama cewek tatoan?” gerutu Lia dengan bibir mengerucut.
“Kalau ada pria yang ingin menikah dengan kamu, apa kamu
menerimanya?” tanya Anton dengan wajah tertunduk.
“Tergantung siapa dulu pria itu,” gumam Lia memandangi ujung
gamis yang dipakainya.
“Kalau pria itu aku?” tutur Anton tegas.
Lia tak sanggup menoleh, dia takut pertahanannya runtuh
lagi.
“Aku tahu, aku belum jadi imam yang sempurna buat kamu, tapi
apa kamu mau menyempurnakan imanku, Aprilia Rastika?” pinta Anton pada Lia.
Betapa bahagianya Lia,
pria yang kini dirindukan telah hadir di hadapannya. Bahkan Anton juga
melamar Lia yang terlihat bimbang.
Hujan di batas senja itu telah reda, aroma pertichor menguar dari balik tanah.
Udara segar selepas hujan menjadi penyejuk di antara dua hati yang tengah jatuh
cinta.
***
Gamis berwarna cokelat dengan jilbab lebar senada terlihat
cantik, apalagi dengan wajah mungil Lia. Dirinya tengah memandangi anak-anak
hujan yang tengah berlarian dari balik jendela kamarnya.
Ceklek! Ibu Dewi muncul, lalu mendekati Lia yang masih
termenung. “Udah mau Maghrib, kenapa jendelanya belum ditutup?” tukas Bu Dewi.
Lamunan Lia terpecah.
“Eh, anak Ibu yang cantik, kenapa melamun?” ujar Bu Dewi,
merengkuh pundak Lia.
“Nggak kok, Bu. Siapa yang melamun? Aku lagi nikmatin hujan
di luar sana,” elak Lia.
Bu Dewi tersenyum tipis, dia tahu Lia sedang menutupi
kegundahan hatinya.
“Ada apa? Ayo cerita sama Ibu apa yang membuat kamu
melamun.”
Lia menghela napas panjang, lalu mulai bercerita. Tentang
Anton yang mencintainya, tentang keraguan dan ketakutan batinnya untuk
melangkah ke jenjang yang lebih serius.
“Nak, jangan sia-siakan orang yang benar-benar tulus
mencintaimu, atau kamu akan menyesal nantinya,” tukas Bu Dewi, lalu menutup
jendela di samping Lia.
Hujan di luar sana semakin deras. Gemericik air yang jatuh
menimbukan bunyi yang cukup keras. Malam ini biarlah Lia memeluh gundah
hatinya, berharap esok mentari kan membawa seluruh kesedihannya.
***
Suara azan Maghrib terdengar dari Mushola Al-Mustaqim di
samping rumah Lia. Suara sang muazin sore ini terdengar asing di telinga Lia.
Lia segera mengambil air wudu, mengenakan mukena, dan bergegas menuju mushola.
Betapa kagetnya ketika pemilik suara azan yang merdu itu adalah Muhammad Syura,
atau yang lebih dikenal dengan nama Anton.
“Subhanallah,” desis Lia dalam hati.
Diam-diam batinnya mengagumi sosok Anton, tak menyangka
perubahan yang terjadi dalam dirinya. Bahkan Anton juga yang menjadi imam salat
Maghrib kali ini.
Bacaan salatnya begitu fasih, ayat-ayat yang dibacanya
mengalun merdu. Lia semakin yakin bahwa Anton adalah calon pendamping yang
tepat untuk menjadi imamnya.
Selepas salat Maghrib, Lia pulang dengan perasaan bahagia.
Di sudut kamar, dia mengambil i-phonenya dan sebuah kertas kecil yang dia
selipkan di meja. Nomor telepon yang diberikan Anton sewaktu hujan di TPA senja
itu.
Lia menunggu dengan gelisah, untuk beberapa saat hanya nada
sambung yang terdengar.
“Assalamu’alaikum,” suara bariton Anton terdengar dari
seberang sana.
“Wa’alaikumusalam,” desis Lia dengan suara bergetar.
“Iya, Lia ada apa?” tanya Anton tanpa basa-basi.
Lia menghela napas panjang, berat baginya untuk mengatakan
apa yang ingin dia sampaikan. Ditambah lagi dengan detak jantungnya yang tak
karuan.
“Eng ... begini Ton, apa tawaran kamu sore itu masih
belaku?” tanya Lia dengan hati-hati.
“Tawaran yang mana, ya?” ujar Anton pura-pura lupa.
Lia menghela napas panjang, lalu diam beberapa saat. “Aku
mau menikah denganmu,” desis Lia pelan.
“Apa? Aku gak salah dengar kan Lia?” ujar Anton girang,
lamarannya diterima oleh Lia. Benar memang, kalau jodoh itu tak kan
kemana-mana.
“Enggak, aku mau nikah sama kamu,” tutur Lia sedikit lebih
keras kali ini.
“Alhamdulillah, terima kasih Ya Allah ... Engkau mengabulkan
doaku,” ucap Anton penuh syukur.

Posting Komentar untuk "The Wong Phan is Back Jilid 8 karya Arnita Adam"
Silahkan tinggalkan komentar untuk respon atau pertanyaan, kami akan balas secepat mungkin.