Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

The Wong Phan is Back_Jilid 4 karya Arnita Adam

Kompetensi

A

ku sudah duduk di kursi ujian semester akhir, mendadak terasa asing di ruang kelas pagi ini. Kursi dan meja diatur dengan jarak satu meter. Antara meja yang satu dengan lainnya. Di depan kelas terdapat dua buah kursi pengawas.

 “Ronaldo, bagaimana dengan alat tulismu, apa semuanya sudah lengkap?” Anton sudah duduk di kursi sampingku. Siswa-siswi yang lain juga sudah duduk di kursi masing-masing sesuai nomor ujian.

“Iya udah,” jawabku singkat.

Entah mengapa hari ini seperti ada beban berat di pikiranku. Pasalnya, aku harus dapat nilai tujuh jika ingin lulus di ujian ini.

Dua orang pengawas ruangan telah masuk dan duduk di bangku pengawas. Setelah memberikan pengarahan tentang pelaksanaan ujian, pengawas itu mulai membagikan soal. Seperti yang telah diterangkan semula, soalnya bukanlah berbentuk pilihan ganda atau uraian, melainkan nota-nota dan neraca awal dari sebuah perusahaan.

Setelah mengucap basmalah, pertarungan mulai berlangsung ketika jam menunjukkan pukul 8 tepat. Tidak ada yang bergeming, semua sibuk memencet-mencet kalkulator dan menulisnya di kolom jurnal, kemudian dipindahkan ke buku besar, lalu ke jurnal penyesuaian. 

Sesekali kuteguk air mineral yang ada di atas meja.  Ujian ini tak ada istirahat, jadi pihak sekolah memperbolehkan siswa membawa air minum.

 “Ronaldo sudah dapat labanya?” Anton berbisik, aku menggeleng lemah.

“Catat Ronaldo, labanya sembilan belas juta delapan ratus sepuluh ribu,” gumam Anton memberi jawaban.  “Sudah Ronaldo?”

Sudah” jawabku.

“Cocokkan dengan jurnal penyesuaian,” sambung Anton.

Aku menjawab dengan anggukan. Pada dasarnya akuntansi keuangan sama dengan matematika. 1 + 1 = 2. Jadi, apabila sudah tepat labanya, maka secara otomatis semuanya sudah benar, sebab angka-angka itu saling berhubungan. Tapi entah apa yang membuatku tidak mau memakai pendapat Anton. Aku tahu betul kalau yang dikatakan Anton itu kemungkinan besar jawaban yang sebenarnya.

Tetapi hari ini, aku ingin membulatkan tekad bahwa apa yang kudapat hari ini adalah benar-benar hasil usahaku, hasil pemikiranku sendiri, bukan hasil pemikiran orang lain.  Jika Anton tahu nanti, pasti akan kecewa sekali kalau aku tidak mengikuti kata-katannya, tapi biarlah.

 

Pisah

T

on, loe dipanggil tuh,” ujarku menunjuk Mc di atas panggung, hari ini hari perpisahan sekolah.

“Gue? Kok cuman gue doang, harusnya kan sama loe, jawaban kita kan sama?” jawab Anton celingukan.

Aku meringis, Anton tak tahu bahwa jawabanku tak sama persis dengannya. “Tau ah, mungkin gue salah nulis angka, cepetan maju gih,” ujarku.

Anton pun menurut dan maju menerima penghargaan siswa terbaik. “Ini buat loe aja,” gumam Anton sambil menyodorkan trophy ke arahku.

“Kok gue? Yang terbaik kan loe?” tanyaku.

Anton menggeleng sambil tersenyum. “Loe yang bikin gue kayak gitu, gue bakal kangen sama loe,” ucap Anton dengan mata menerawang, dia pun mengambil jemariku lalu menggenggamnya lembut.

“Ikutlah denganku, ke Singapura atau ke Hongkong,” pintanya.

Aku menggeleng. “Gue gak bisa, Ton, gue mau pulang ke kampung aja,” gumamku lirih.

Anton mengelus puncak kepalaku, “Gue tahu loe bakal nolak ini, tapi setidaknya gue sudah berusaha. Gue bakal kangen loe, Ronaldo,” ujar Anton memelukku.

   “Gue juga, Bufon,” ujarku membalas pelukannya.


Sendiri

H

ampir lima bulan aku tak mendengar kabar Anton, sekarang aku sudah menjadi mahasiswi di salah satu peguruan tinggi di Sumatera Utara.

Aku pun menimang-nimang kartu nama pemberian Anton sebelum berpisah, lalu memencet nomernya di handphoneku.

“Halo,” sapa suara di seberang sana..

“Halo, bisa bicara dengan Anton Lee?” tanyaku.

“Anton Lee? Ini siapa ya? Maaf Mbak salah sambung,” ujarnya dengan nada kesal.

“Salah sambung? Gak mungkin, Mbak, ini benar nomer 0741 22437-kan?” tanyaku.

“Benar Mbak, oh mungkin yang mbak maksud pemilik rumah ini yang lama, kami baru pindah ke rumah ini sebulan yang lalu,” gumamnya.

“Apa? Pindah? Mbak tahu gak mereka pindah ke mana?” tanyaku, kenapa Anton gak bilang-bilang sih kalau pindah.

“Wah, gak tahu, Mbak,” ujarnya sambil menutup telepon.

Jahat  banget kamu, Ton! Pindah gak bilang-bilang, aku kan kangen sama kamu.

 

Tak Padam

“A

nton!” pekikku tertahan ketika melihatnya di hadapanku. Matanya yang sipit, juga celotehnya yang jahil selalu kurindukan.

“Loe ke mana aja? Pindah?” tanyaku padanya yang hanya tersenyum tipis.

“Panjang ceritanya,” Anton mengambil air mineral di meja, lalu meneguknya hingga tandas.

“Gue bakal dengerin kok,” ujarku menggoyang-goyangkan lengannya.

“Gue gak ke mana-mana kok. Sekalipun jauh, gue tetap di samping loe,” ujarnya sambil tersenyum. “Makan yuk,” tarik Anton yang langsung mengajakku ke kantin.

Brukk!!!

Karena tak fokus, aku menabrak tembok di depanku. Eh tunggu ... ini bukan tembok? Tapi lantai ... Kurasakan tulang punggungku pegal-pegal, kantin tempat aku dan Anton berada berubah jadi kamar.

Jadi ... semua itu hanya mimpi?

“Gue kangen loe, Ton,” lirihku.

  

Biasakan

A

ku sudah lulus kuliah, sekarang menjadi staff pengajar di salah satu SD di sini.

Tok ... tok ... tok ...

Bu Arnia, kepala sekolah masuk dan menginterupsi acara mengajarku.

“Bu Aprilia, bisa ikut saya sebentar,” ujar Bu Arnia, tumben dia memanggilku di saat jam mengajar seperti ini, pasti ada sesuatu yang penting.

“Iya, Bu. Sebentar, saya akan segera ke ruangan Ibu,” ujarku sambil membereskan pekerjaanku.

Hatiku berdebar ketika melangkah ke ruangan Bu Arnia, di sana sudah menunggu Bu Arnia dan dua orang asing yang tak kukenal.

“Silakan duduk, Bu Lia,” ujar Bu Arnia, aku pun memilih kursi lalu duduk di samping Bu Arnia

Perkenalkan saya Webster dan teman saya ini Fredric. Kami dari perusaaan Wide World Book Industri. Yang berpusat di Amerika Serikat,”  ucap bule bernama Webster yang bermata cokelat itu kepadaku.

“Perusahaan WWBI bergerak dibidang percetakan, penerbitan, dan pemasaran buku berbasis dunia. Jadi, perusahaan kami bermaksud memberikan beasiswa pasca sarjana kepada orang-orang yang dianggap mampu menganalisis, memasarkan, dan mengkaji ulang, serta menulis buku yang akan diterbitkan perusahaan ini.  Setiap benua, kami memberikan satu beasiswa untuk satu orang, kecuali di benua Asia kami memberikan 2 orang beasiswa. Mengingat benua ini sangat luas, satu untuk warga Indonesia dan 1 lagi warga China,” ucap Mr. Fredic menjelaskan.

“Lalu apa hubungannya dengan saya, Pak?” tanyaku penasaran.

“Ibu Aprilia lah yang terpilih untuk mendapatkan beasiswa tersebut,” gumam Pak Fredic yang kontan membuatku terkejut.

“Hah? Aku?” ucapku tak percaya, ini mimpi bukan sih, Tuhan?

 

Pucuk di Cinta Tercapai Cita-cita

A

ku menatap gamang surat kontrak yang disodorkan Mr. Webster. Sementara Bu Arnia sudah mengangguk-angguk memintaku untuk segera menandatangani surat kontrak itu.

Mataku terpaku pada 3 lembar surat kontrak yang berisi pasal-pasal beserta fasilitas yang akan aku terima selama belajar di Amerika. Pandangan mataku terhenti pada nama di akhir surat kontrak.

“Benyamin Franklin?” tanyaku dengan napas tercekat.

“Iya, beliau direktur WWBI. Anda mengenalnya miss Lia?” tanya Mr. Webster.

Aku menggeleng pelan, ini pasti bukan suatu kebetulan, kenapa Kak Ben memilihku? Apa dia ingin balas dendam padaku?

“Bagaimana Miss Lia? Silakan tanda tangan di sini,” pinta Mr. Fedric sambil menyodorkan bolpoint ke arahku.

“Apa hanya aku yang mendapat beasiswa ini?” tanyaku janggal.

“Ada tujuh orang dari negara berbeda, salah satunya Miss Lia, Freed, Janson, Anton Lee ..,”

“Anton Lee?” ujarku memotong perkataan Mr. Webster.

“Iya, Anton Lee yang berasal dari Hongkong,” timpal Mr. Fedric.

“Boleh saya lihat profilnya?” pintaku.

Mr. Webster mengaduk-aduk isi tasnya, lalu memberikan stopmap kuning ke arahku. “Ini,” gumamnya.

“Anton ...,” pekikku hampir berteriak, tanpa pikir panjang, aku segera menandatangi surat kontrak tersebut.

Bayangan tentang Anton dan kerinduanku yang telah lama menanti sebuah pertemuan menari-nari di pikiran. “Kita akan bertemu, Bufon,” lirihku sambil tersenyum.

 

Negeri Asing

A

ku tiba di lobi hotel berbintang lima di kota Los Angeles, setelah terbang lebih dari 18 jam, akhirnya aku tiba di sini. Dari tadi debar jantungku tak karuan.

Pukul 8 malam, aku turun menuju ke meeting room yang sudah disulap menjadi ruangan pesta penyambutan para penerima beasiswa.

Anton, dia pasti ada di sini. Hati rasanya seperti ada kupu-kupu yang terbang, aku sudah lama menantikan ini.

“Miss Lia, kamu cantik sekali malam ini,” puji Mr. Webster yang langsung mendapat sikutan dari Mr. Fedric.

“Terima kasih, Anda juga tampan,” pujiku tulus.

“Mari saya kenalkan Anda dengan teman-teman Anda,” kata Mr. Fredic.

Aku pun mengikuti langkahnya, ada lima orang asing yang tengah menyambutku dengan ramah, tapi ke mana Anton?

“I am sorry, i am late,” suara bariton yang sudah kuhapal membuatku menoleh.

“An ... ton, “ ujarku tak percaya. Jas hitam dan kaos denim yang menempel di tubuhnya sungguh membuatnya tampan.

“Ronaldo?” Anton kaget, debaran jantungku kupastikan tak normal untuk saat ini. “Kamu ...,” spechless Anton merengkuh tubuhku ke dalam pelukannya.

“Ton, hentikan. Semua orang memandang ke arah kita,” ujarku sedikit risih.

“Bodo amat dengan semua orang, gue kangen sama loe,” ujar Anton yang langsung meluruhkan hatiku. Aku pun membalas pelukannya. Air mataku langsung lolos begitu saja.

“Gue juga, kamu jahat, hiks ... ke mana saja kamu selama ini, hiks,” ujarku terisak.

“Ceritanya panjang.”

“Ehem ...,” suara bariton lain terdengar dari belakangku, Anton pun melepas pelukannya.

“Kak Ben ....” Aku menoleh dan berkata dengan gugup.

“Ada yang ingin bertemu denganmu,” ujar Ben padaku, dengan cepat dia menarik lenganku untuk mengikutinya.

“Kak Ben lepasin, apa-apaan sih,” ujarku menepis lengannya kasar, sakit tau!

“Berisik! Diam saja kamu,” bentak Kak Ben.

Kak Ben membawaku ke sebuah kamar di hotel ini, jangan-jangan dia mau ... Argh!!!! Tidak!!!

“Lia.” Sebuah suara lembut menyambutku.

“Mama,” ujarku tertahan, Mama pun memelukku erat, dia menangis dalam pelukanku.

“Mama kenapa menangis?” tanyaku pelan.

“Maafin Mama, Sayang. Mama gak percaya sama kamu, ternyata yang meracuni papa adalah Tante Vivi. Bik Ijah sempat memergoki Tante Vivi memasukkan racun ke susu Papa dan dia takut untuk bilang ke Mama karena diancam Tante Vivi,” ucap Mama sambil terisak.

Aku tersenyum, walau terlambat, namun kebenaran telah terungkap.

“Gak papa, Ma,” ujarku sambil melepas pelukan Mama.

“Kamu mau kan tinggal bareng Mama lagi? Mama kangen sama kamu,” pinta mama.

“Tapi, Ma. Bagaimana dengan penerima beasiswa lain, mereka pasti akan berpikir ada diskriminasi?” tanyaku.

“Masalah itu biar aku yang urus,” gumam Ben.

“Baiklah,” jawabku pasrah.

Ben adalah diretur dari WWBI (World Wide Book Industry). Baginya, mengurusi masalah seperti ini tak akan sulit. Hampir satu jam aku mengobrol dengan Mama hingga waktunya kembali ke kamar.

“Lia,” gumam Kak Ben sambil mencekal lenganku sebelum aku melangkah pergi. Dalam satu sentakan, dia menariknya, dan membuatku jatuh dalam pelukannya.

“Maafkan aku,” gumam Kak Ben.

Aku tersenyum, lalu menepuk-nepuk punggungnya. “Gak papa, Kak.”

“Aku merindukanmu,” gumamnya lirih, namun kudengar. Jantungku terasa ingin berhenti sekarang.





Posting Komentar untuk "The Wong Phan is Back_Jilid 4 karya Arnita Adam"

Kami menerima Kiriman Tulisan dari pembaca, Kirim naskah ke dengan subjek sesuai nama rubrik ke https://wa.me/+6282388859812 klik untuk langsung terhubung ke Whatsapp Kami.