The Wong Phan is Back_Jilid 8 karya Arnita Adam
MY NAME IS WONG PHAN
|
“A |
pa
yang kamu inginkan, Kak?” ujar Lia pada lelaki yang masih duduk di sampingnya.
“Calm baby,
kamu gak ingin mengetahui sesuatu yang lebih penting dari yang kamu tanyakan?
Misalnya kenapa kamu berada
di rumah sakit ini? Kenapa kulit kamu yang kecokelatan mendadak berubah putih?”
gumam Ayex. Jelas saja bukan rumah sakit resmi, melainkan rumah sakit bedah
bayangan.
Lia melotot tajam ke arah Ayex,
lalu mengarahkan pandangannya ke arah tangan. Benar yang dikatakan Ayex, kulit Lia tak lagi
kecokelatan, cenderung putih bersih, seperti kulit para gadis Chinese.
“Maksud kamu?” tanya Lia tak mengerti.
“Look!”
perintah Ayex sambil menyodorkan sebuah cermin ke arah Lia.
Prang!!! Cermin itu refleks dilempar
Lia ke lantai dan pecah menjadi beberapa bagian, Ayex tersenyum puas.
“Apa yang telah kamu lakukan?!” teriak
Lia sekencang-kencangnya. Air mata jatuh dari bilik matanya dan lolos begitu
saja.
“Ha ... ha ... ha ..., cantik bukan?”
ujar Ayex tersenyum puas, rencana yang dijalankannya berhasil.
“Kembalikan wajahku!!!” teriak Lia sambil memukul wajah
Ayex, namun sayang pukulannya meleset.
Ayex dengan sigap menangkap pukulan
Lia. Dia adalah senior Lia di kelas Taekwondo, jadi wajar saja jika jurus-jurus
Lia dia hafal.
“Percuma saja kau ingin memukulku, tak
akan pernah bisa,” desis Ayex.
“Kamu jahat! Apa salah aku sama kamu?”
tanya Lia sembari mengusap air matanya.
“Karena aku tahu kamu pernah
mencintaiku, cuman kamu yang pantas untuk menjalankan misi ini,” gumam Ayex.
“Misi? Maksud kamu?” Lia tak mengerti.
Sejak awal Lia percaya bahwa Ayex adalah pria baik, namun
ternyata tak pernah seperti yang Lia bayangkan.
“Wong Phan, wajah dan kulit tubuh kamu
adalah milik Wong Phan. Dokter di Klinik Cleveland memang benar-benar hebat,
tranplantasinya berjalan sempurna,” tutur Ayex sambil bertepuk tangan.
“Wong Phan? Siapa dia?” tanya Lia pada
Ayex.
“Wong Phan, dia wakil ketua Dragon
Fire, organisasi penyelundupan narkotika terbesar di Asia Tenggara. Sebuah misi rahasia tengah
dijalankannya, namun dia berkhianat. Dia mati dibunuh oleh
Mr. Jack, ketua Dragon Fire,” tutur Ayex bercerita.
“Lalu apa hubungannya denganku?” Lia
tak terima dirinya dijadikan pengganti Wong Phan sekarang.
“Cuman kamu yang cocok dengan wajah
Wong Phan, hanya yang bergolongan darah B yang cocok untuk operasi ini, dan
kamu orangnya, Li. Sekarang kamu seorang Wong Phan, kamu harus meneruskan misi
ini!” tegas Ayex.
“Aku gak mau, aku ingin pulang,” Lia
memberontak, dengan kasar mencabut selang infus di tubuhnya.
“Buat apa kamu pulang? Hah! Lia udah
mati!” Ayex melempar sebuah koran ke arah Lia.
Sebuah headline membuat Lia terpaku. “Seorang wanita bernama Aprilia Rastika dinyatakan
meninggal dalam sebuah kecelakaan.”
“Aku yang memasukkan mayat Wong Phan ke
travel yang kamu tumpangi, semua keluargamu sudah mengira kamu mati. Jadi
jangan harap kamu bisa pulang!” ancam Ayex sambil mencengkeram pipi Lia kasar.
“Turuti saja apa kataku, apa kamu lebih memilih mati sia-sia? Operasi
tranplantasi kulit dan organ yang ditanamkan dalam tubuhmu berpotensi mengalami
komplikasi yang cukup serius. Ada narkoba seberat tujuh puluh gram yang di
tanam di dalam rahim kamu, kamu hanya bisa bertahan hidup dengan obat ini. Kalau kamu mau, aku
bisa saja membuang obat ini dan kamu mati begitu saja. Tapi aku yakin kamu
bukan gadis yang mudah menyerah dan ingin mati sia-sia!” Ayex menjelaskan
sambil memamerkan sebuah botol kecil berisi pil-pil kecil di dalamnya.
Bayangan wajah Ben, Anton, Ibu, Ayah,
dan Ibu angkat, serta Welna adik angkatnya muncul berentetan di pikiran Lia.
Walaupun kecil kemungkinan untuk bertemu dengan mereka, namun Lia tak ingin
berhenti berharap. Setidaknya hidup lebih baik, daripada mati sia-sia.
“Kamu gak ada pilihan lain, Lia. Suka gak suka, kamu harus tetap menjalankan misi ini! Kamu mengerti Wong Phan? Ha … ha … ha …,” ujar Ayex tertawa puas.
BLACK HOLE
|
H |
ampir
sebulan Lia hidup sebagai Wong Phan. Apartemen
mewah dengan segala fasilitasnya diberikan oleh Ayex. Sebagai gembong bisnis
ilegal kelas dunia, hal semudah itu tentunya bukan masalah.
Black Hole sendiri adalah organisasi
penjualan bisnis illegal, partner organisasi Dragon Fire yang berpusat di
Hongkong. Dipimpin oleh Mr. Jack, juga Wong Phan yang tak lain adalah kekasih
gelap dari Ayex.
Ayek mengajari Lia jurus-jurus
taekwondo dan juga pengetahuan lima bahasa. Ayex merasa terpukul ketika
tahu bahwa Wong Phan dibunuh Jack, dia
belum ikhlas dengan kepergiaan Wong Phan. Selain karena masih membutuhkan dalam
operasi penyelundupan narkoba langka ke Singapura, dia juga masih membutuhkan
untuk terus di sampingnya.
Ayex melempar selembar tiket dan
pasport ke arah Lia. Sebuah tiket pesawat jurusan Singapura dan paspor dengan
nama Wong Phan.
“Ini apa?” tanya Lia tak mengerti.
“Ini misi kita, kirimkan barang itu ke
Singapura” tegas Ayex sambil menunjuk perut Lia. ”Di bandara akan ada yang menjemputmu,
serahkan pada mereka dan segera kembali
ke sini. Kamu gak boleh gagal, operasi ini bernilai puluhan milyar. Kalau kamu
gagal, maka aku gak segan-segan membunuhmu!” ancam Ayex sembari melemparkan earphone ke arah Lia. “Pakai itu, jangan pernah lepaskan. Aku akan
mengawasimu dari sini!”
Mendadak pandangan Lia mulai kabur,
dadanya terasa sesak. Udara seolah menipis, sudah saatnya ia minum obat, namun
sedari tadi Ayex tak memberikannya.
“Ayex ... aku ... beri ... berikan
obatnya,” ujar Lia. Ayex tersenyum menyeringai.
Hidup Lia memang tergantung pada obat.
Ayex merasa menang bahwa apa yang selalu dimintanya tak pernah ditolak Lia.
Sekalipun Lia melakukannya dengan terpaksa.
***
Changi International Airport,
Singapura.
Lia baru saja mendarat dari pesawat.
Udara hangat Singapura menyambut, Lia berjalan santai sambil mengamati bandara
dengan konsep go green dan anti global
warming.
Hati Lia berdebar-debar ketika harus
melewati antrian boarding pass.
Barang mahal yang ada di tubuhnya bisa jadi alasan Lia ditangkap di negara
asing ini. Namun, Lia dapat bernapas lega ketika lolos begitu saja melewati boarding pass.
“Keluar dari bandara, di depan ATM ada
orang berjaket hitam yang tengah menunggumu,” perintah Ayex melalui earphone.
Pandangan Lia terpaku ketika melihat
wajah yang dirindukannya selama ini tak jauh darinya. Dia terlihat gagah dengan
seragam hitam-putih. Dari jarak beberapa meter, Lia masih mampu mengenali wajah
Anton, tak menyangka akan bertemu dengannya lagi.
Dengan cepat Lia berlari ke arah Anton,
lalu menepuk pundaknya pelan. Anton menoleh dan menatap Lia penuh tanda tanya.
“Anton ...,” desis Lia dengan mata yang
dengan cepat berkaca-kaca.
“Yes, who are you?’
tanya Anton dengan nada heran.
“Halo! Lia apa yang sedang kamu
lakukan? Menjauh dari dia, dia itu polisi. Bodoh!!” teriak Ayex dari earphone yang dipakai Lia.
Lia tak peduli, dia sudah muak dengan
Ayex. Dalam sekali hentakan, earphone
yang menempel di telinga dibuangnya.
“Anton ...,” ujar Lia memeluk Anton.
Tiba-tiba. Anton merasa tak asing
dengan wajah Lia, dia terlihat sedang
mengingat-ingat sesuatu.
“Who are you! Go away
from me!” perintah Anton sambil berusaha melepaskan pelukan Lia.
“Ini gue Ton! Gue Lia! Gue Ronaldomu, Ton! Kamu masih ingat aku kan?” Lia
menangis di hadapan Anton.
“Nggak ... loe bukan Lia! Lia sudah
mati,” Anton menggeleng-gelengkan kepalanya dan berjalan selangkah mundur.
“Percayalah, Ton! Ini gue ... gue Lia,” Lia semakin terisak.
Anton bergeming, masih bingung dengan
gadis yang tiba-tiba terisak di depannya. “Jangan bergerak!” dengan cekatan
Anton menarik kedua tangan Lia dan memborgol keduanya.
Anton baru ingat bahwa gadis di hadapannya itu adalah Wong Phan, target operasi yang selama ini dicarinya. Ah, beruntung sekali Anton, bahkan Wong Phan datang sendiri tanpa harus dicari.
BELIEVE
ME
|
P |
lak!!!
Pukulan
bertubi-tubi terus menghujani pipi manis gadis itu. Lia memilih bungkam, sesi
interogasi dirinya berlangsung cukup lama.
“Siapa namamu?” ujar
Anton geram, tiap kali Lia ditanya siapa namanya, dia akan menjawab bahwa
dirinya adalah Aprilia Rastika, bukan Wong Phan. Hal itu membuat Anton geram. Gadis yang bersusah payah ia coba untuk
ihklaskan, namun belum dapat benar-benar ihklas.
“Aprilia,” gumam Lia lagi, ujung
bibirnya berdarah akibat pukulan Anton.
“Loe! harus berapa kali gue bilang, Lia
sudah mati! Jangan membuat kesabaran gue habis,” geram Anton kesal, dengan
geram tangannya memukul Wong Phan sekali lagi.
“Harus berapa kali gue bilang, Lia
masih hidup. Ini gue, Ton! Ini gue, Lia,” Lia
meyakinkan Anton, tapi bagi Anton sungguh mustahil Lia menjadi seorang Wong
Phan, Queen of The Dragon Fire.
Anton menarik kemeja yang digunakan Lia
ke atas, terpampang sebuah Tato naga besar dari balik punggungnya.
“Lia-ku tak punya tato, jadi jangan
pernah mengaku-ngaku sebagai Lia,” geram Anton, lalu menggiring Lia ke ruang
isolasi penjara.
“Anton, please believe me!” pekik Lia dengan napas tertahan, Anton terlihat
tak acuh dan meninggalkan Lia di ruangan gelap yang cukup pengap itu sendirian.
***
Anton mendesah frustasi, Lia
benar-benar membuatnya stress.
“Loe kenapa, bro?” tanya Rizal, rekan
satu tim Anton dalam misi penangkapan Wong Phan.
“Gue lagi pusing. Loe tahu Wong Phan
kan? Masa dia terus menerus mengaku sebagai Lia, mantan kekasih tertunda gue,”
ujar Anton frustasi.
“Apa? Mantan kekasih tertunda, kasian
banget hidup loe, udah jadi mantan ... kekasih ... tertunda lagi,” ledek Rizal.
“Gue lagi serius nih,” ujar Anton
mendelik ke arah Rizal.
“Ops oke, jangan pasang wajah
menyeramkan kayak gitu, kesannya loe kayak mau nelen gue,” tutur Rizal sambil
duduk di hadapan Anton.
“Sialan loe,” umpat Anton dengan wajah
kesal.
“Oke, sekarang ceritain apa yang
membuat loe kesal sama dia,” gumam Rizal sambil menopang dagu dan menatap Anton
lekat-lekat.
“Gue bakal cerita, tapi gak usah
mandang gue dengan tatapan seolah loe mengagumi gue gitu. Gue masih normal,
Bro!” celetuk Anton.
Rizal mengangguk-angguk kecil, lalu
menunggu Anton mulai bercerita.
“Dia itu aneh, kemarin waktu di bandara
dia nyamperin gue. Dia meluk gue dan mengaku sebagai Lia. Ditambah lagi dia
menangis tersedu-sedu. Bukankah itu aneh?” gumam Anton mengerutkan keningnya.
”Tak mungkin seorang Wong Phan bersikap seperti itu.” Anton mulai berjalan lalu
lalang di depan Rizal sambil berpikir keras.
“Aneh kenapa? Bukankah wajar kalau
seorang wanita itu menangis. Mungkin dia terharu melihat ketampananmu,” timpal
Rizal yang langsung mendapat pelototan dari Anton.
“Dia itu penjahat! Sejak kapan penjahat
nyamperin polisi, pakai nangis segala?” decak Anton.
“Bisa jadi dia benar-benar Lia, Ton,”
Rizal berpendapat.
“Lia sudah mati, Zal. Bahkan sebulan
lalu gue datang ke rumahnya dan melihat jenazahnya langsung. Mana mungkin orang
yang sudah mati bisa hidup kembali dengan wajah yang berbeda pula?” sangkal
Anton.
Rizal terlihat berpikir keras. “Mungkin
saja dia bermetamorfosis sekaligus bereinkarnasi atau bereinkarbubur lah jadi
sosok yang baru, bisa saja kan?” celetuk Rizal belepotan.
“Loe bikin gue tambah pusing, bahasa
loe itu vikinisasi banget,” gumam Anton menoyor kepala Rizal, lalu
meninggalkannya.
“Ton, dengerin gue dulu!” teriak Rizal,
namun Anton tak menggubrisnya.
EMPTY HEART
|
B |
en sampai di depan rumah Lia di Indonesia menjelang
Maghrib. Setelah hampir sebulan tak mendapat
kabar dari Lia, Ben memutuskan pergi ke Indonesia. Bu Dewi, ibu angkat Lia
menyambutnya ramah.
“Assalamu’alaikum, Bu,” Ben mengucapkan
salam.
“Wa’alaikum salam Nak Ben, mari silakan
masuk,” gumam Bu Dewi mempersilahkan Ben.
Keadaan di rumah ini masih sama saat
terakhir kali Ben mengunjunginya. Rumah sederhana, namun penuh kasih sayang.
Ben duduk dengan gelisah.
“Ada apa, Nak Ben? Kenapa kamu
kelihatannya gelisah seperti itu?” tanya Bu Dewi.
Bu Dewi sengaja tak memberi tahu Ben
tentang kematian Lia. Kejadiannya begitu cepat, jenazah Lia dimakamkan tanpa
sepengetahuan Ben.
“Saya mencari Lia, Bu. Lia ada di rumah kan? Sebulan ini dia tak menjawab telepon dari saya,” tutur
Ben resah.
Bu Dewi terlihat bingung
menyampaikannya. Ben mungkin akan shock dengan kepergian Lia. Matanya tiba-tiba perih,
gumpalan kristal itu pun terjatuh begitu saja.
“Lia ... Lia ...,”
“Lia kenapa Bu? Ada apa dengan Lia?’
ujar Ben menggoncang-goncangkan bahu Bu Dewi.
“Lia sudah meninggal,” desis Bu Dewi
terisak. Ben sangat shock
mendengarnya.
“Nggak mungkin ... ini pasti bohong
kan, Bu?” ujar Ben memastikan, tapi dari sorot mata Bu Dewi tak ada setitik pun
kebohongan di dalamnya.
***
Dingin menerpa pipi Lia, ia
mengerjapkan mata. Lia menyentuh pipinya yang basah karena percikan air dari
tangan Anton. Wajah Anton mulai terlihat jelas saat pertama kali dia membuka
mata.
“Anton ...,” desis Lia tak percaya.
“Iya ini gue, bangun loe! Besok loe akan dipindahkan!” teriak Anton sambil
menyodorkan piring berisi nasi dengan lauknya. “Makan itu! Lalu
bersiap-siaplah. Gue harap loe cepet dihukum mati, biar gak lihat loe lagi,”
celetuk Anton kesal.
Setiap kali melihat Wong Phan atau Lia, dia selalu
marah-marah. Ia tak mau memandang wajah Wong Phan. Karena setiap kali memandang mata Wong Phan, darah Anton
berdesir. Aneh memang, mata itu tak pernah asing bagi Anton.
“Terima kasih,” desis Wong Phan dengan
nada lirih, namun masih dapat didengar oleh Anton.
Anton berdiri dan beranjak meninggalkan
Lia. Berdekatan dengannya membuat Anton naik darah.
“Anton Lee,” lirih Lia lagi.
Deg ... Anton terpaku, dari mana penjahat Wong Phan tahu
nama aslinya? Dia benar-benar tak percaya.
***
“Kenapa lagi, Bro? Tampang loe kusut kayak jomblo pas malam
mingguan,” tanya Rizal menepuk-nepuk bahu Anton yang tengah menikmati secangkir
kopi di Marina Bay restoran.
“Loe lagi ... loe ngikutin gue?” Anton
mendelik pada Rizal.
Rizal nampak berbeda dengan setelan jas
dan kemeja putih juga sepatu loofer
yang senada dengan pakaiannya.
“Pede amat, gue mau kencan, Bro! Loe gak liat gue udah
seganteng Serkan Cayoglu gini,” decak
Rizal kesal dan memasang tampang cool.
“Serkan Cayoglu? Siapa tuh?” ujar Anton sambil mengaduk-aduk
black coffee miliknya yang mulai
dingin.
“Itu pemeran drama Turki, Kiraz
Mevsimi. Jangan bilang loe gak pernah nonton TV, pantesan aja jomblo terus,”
ledek Rizal.
“Loe aja yang kayak emak-emak nontonnya
begituan, mending gue jomblo elegan,” celetuk Anton tak terima dibilang jomblo.
Andai saja Lia lebih peka bahwa ia
mencintainya dulu, mungkin dia gak jomblo lagi sekarang.
“Loe kenapa sih, Bro? Ada masalah?’
ujar Rizal. Melihat tampang Anton yang murung Rizal mengerti bahwa Anton sedang
dalam masalah. “Wong Phan lagi?” tebak Rizal.
Anton mengangguk, tebakan Rizal benar.
“Gue kaget, dia tahu nama asli gue,” desis Anton sambil menghela napas panjang.
“Padahal loe tahu sendiri kan, kalau di Singapura gak banyak yang tahu
identitas asli gue,” ucap Anton merasa heran dengan keganjilan Wong Phan.
“Mungkin dia googling kali,” celetuk Rizal enteng.
“Mana ada di google data tentang gue,
loe tahu kan semua data pribadi gue hapus dari sosial media?” tutur Anton.
Sebagai anggota intelegent Singapura,
memang data pribadi anggotanya disembunyikan, bahkan mereka harus ganti nama
untuk melindungi keluarga dari ancaman musuh.
“Iya juga ya, mungkin dia benar-benar
Lia kali. Bisa jadi dia operasi rekonstruksi wajah jadi Wong Phan,” gumam
Rizal.
“Kalau pun iya begitu, untuk apa? Apa
untungnya bagi Lia buat rekonstruksi wajah seorang gerbong mafia? Terus siapa yang mati waktu itu, gue lihat
dengan mata kepala gue sendiri kalau Lia udah mati,” desis Anton geram.
“Kalau soal itu i
don’t know,” ujar Rizal mengangkat bahu.

Posting Komentar untuk "The Wong Phan is Back_Jilid 8 karya Arnita Adam"
Silahkan tinggalkan komentar untuk respon atau pertanyaan, kami akan balas secepat mungkin.