Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

The Wong Phan is Back_Jilid 9 karya Arnita Adam

 

Who Knows?

W

ajah cantik dengan gamis putih serta jilbab penuh dengan hiasan bunga itu tengah resah menunggu di kamarnya. Di ruang tamu, Anton akan melangsungkan ijab qabul. Lia menunggu dengan tenang sebelum dering ponselnya mengusik penantiannya.

Anton calling ...

Tertera nama Anton di layar I-phone-nya. Lia mengerutkan kening, bukannya Anton tengah bersiap-siap untuk melakukan ijab qabul?

“Li, aku bingung nih,” celetuk Anton dari seberang sana, dia bahkan lupa mengucapkan salam.

“Kamu itu kebiasaan, ucapin salam dulu kenapa,” celetuk Lia cemberut.

“Assalamu’alaikum calon isteriku,” Anton mengucapkan salam.

“Wa’alaikum salam, nah gitu dong,” ucap Lia, “Kamu bingung kenapa?” tanya Lia santai.

“Eng ... Ehm ... eng ...,” Anton bergumam  tak jelas. Dia bingung menyusun kata-kata yang ada di pikirannya.

“Ada apa sih, Ton?” Lia bertanya-tanya cemas.

“Aku bingung, ngucapin ijab qabul pakai nama kamu yang mana. Wong Phan, Aprilia Rastika, atau Fitria Amanda,” celoteh Anton yang langsung membuat Lia tertawa.

“Ya Allah ... aku kira ada apaan, kamu itu bikin deg-degan,” gerutu Lia pelan.

“Aku kan bingung, Li. Habisnya nama kamu banyak banget,” celetuk Anton.

“Terserah kamu aja deh,” jawab Lia pasrah.

Lia kira Anton menelpon untuk menanyakan sesuatu yang penting. Namun ternyata dia malah menanyakan hal yang konyol hanya tentang nama yang akan diucapkan saat ijab qabul.

“Ya udah deh ... Li ... I love you,” celetuk Anton sebelum menutup telepon

Jantung Lia langsung berdebar keras.

***

Anton tengah menatap Lia, gadis yang telah resmi menjadi isterinya. Lia tengah menyisir rambut panjangnya yang sebahu. Anton berjalan mendekati Lia pelan dan langsung memeluknya dari belakang. Lia tersentak, tubuhnya menegang.

“Alhamdulillah, sekarang kamu jadi milikku,” bisik Anton di telinga Lia sambil menyelusupkan kepalanya di bahu Lia.

“Iya,” jawab Lia singkat sambil tersenyum.

Tring!!! Dering hape Anton menginterupsi, Anton melepaskan pelukannya lalu meraih hapenya di nakas.

“Sayang, kamu kayaknya perlu baca ini deh,” Anton menunjuk ke arah tabletnya. Lia pun meletakkan sisir lalu berjalan ke sisi ranjang.

“Apa?” tanya Lia dengan alis terangkat.

Sebuah berita dengan headline di surat kabar versi online membuat Lia terpaku.

Berita Terkini Pagi, seorang tahanan yang bernama Ayex Sudarma, yang ditahan karena kasus pengedar obat-obat terlarang di wilayah Asia Tenggara, kemarin sore dieksekusi mati.  Hukuman mati itu diberlakukan karena ia membunuh narapidana satu sel dengannya. Anehnya  sebelum Ayex menerima hukuman mati itu, ia selalu mengatakan, “Adaboru nasolabo, adaboru nasolabo, adaboru nasolabo.” Apakah arti kalimat itu? Mungkinkah sandi pembuka brankas rahasia? Atau kata simbol lainnya yang hanya pihak tertentu yang faham akan kalimat itu?

Adaboru nasolabo, adaboru nasolabo, adaboru nasolabo,”  desis Lia pelan.

“Apa artinya itu?” tanya Anton penasaran.

“Perempun sialan, itu sandi khusus para anggota Black Hole sebagai ungkapan kekecewaan,” ucap Lia dengan senyum kecut.

“Bagiku kamu itu adaboru nalabo,  gumam Anton sambil merengkuh Lia dalam pelukannya.

“Apa itu adaboru nalabo?” tanya Lia sambil memeluk Anton.

“Perempuan beruntung, he ... he ...,” ujar Anton nyengir.

“Bahasa mana itu?” tanya Lia penasaran.

“Bahasa hatiku ...,” celetuk Anton asal.

“Ih ... gombal kamu,” Lia mencubit perut Anton.

Lia merasa beruntung memiliki seorang Anton sebagai pendamping hidupnya. Cinta itu kadang terlalu rumit dimengerti dan jodoh adalah sebuah misteri yang cukup sulit dipecahkan.

-Tamat-

 

The Wong Phan Is Back

(Skuel My Empress From The Past)

cinta jarak jauh yang terpaksai, ketika perpisahan datang bukan karena keinginan, melainkan keadaan. Aku terjebak di lingkungan kriminal yang gelap, hidup di antara bahaya dan kesalahan, namun bayangan tentang cinta dan harapan untuk kembali membuatku bertahan. Di tengah tekanan, marabahaya dan maut, aku berjuang pulang bukan hanya kepadamu, tetapi juga kepada diriku sendiri.

 

Kehidupan Bahagia

A

nton dan Lia telah memiliki seorang putra yang telah genap berusia satu tahun. Rumah tangga mereka tampak sempurna, sebuah keluarga kecil yang utuh, hangat, dan penuh tawa. Aan Lee menjadi pusat dunia mereka, cahaya yang menutupi sisa-sisa luka masa lalu.

Ben, mantan suami Lia. Pria yang pernah berdiri di sisinya saat dunia runtuh, lalu pergi ketika mereka sama-sama tak sanggup bertahan. Perceraian itu tidak pernah benar-benar selesai di hati siapa pun, terutama Ben.

Ben selalu berkunjung secara berkala. Mereka makan bersama, duduk dalam satu meja, berbagi senyum. Anton menyambut Ben dengan sikap dewasa, meskipun bayangan kejadian mereka saling pukul dan jungkir balik memperebutkan Lia, sesekali muncul. Ia tahu, ada bagian dari masa lalu yang tidak bisa ia hapus, sekeras apa pun ia mencintainya. Sebab itulah Anton memutuskan untuk berdamai dengan masa lalu mereka, termasuk berdamai dengan Ben.

Lia berada di tengah-tengah. Ia adalah seorang istri, seorang ibu, dan juga seorang wanita yang pernah gagal mempertahankan pernikahan pertamanya.

Suatu malam, setelah makan bersama, suasana menjadi sunyi. Ben akhirnya berkata lirih bahwa ia hanya ingin memastikan Lia bahagia. Anton menggenggam tangan istrinya lebih erat, seolah menegaskan bahwa kebahagiaan Lia kini adalah tanggung jawabnya.

Lia menunduk. Di antara dua pria yang pernah dan sedang mencintainya, ia menyadari satu hal pahit,  masa lalu tidak pernah benar-benar pergi. Ia hanya belajar duduk diam di sudut ruang. Meskipun Ben pernah menjadi mantan suaminya di masa lalu, hubungan mereka kini terjalin sebagai kakak dan tetap saling menghormati.

 

 

 

Sakit Lagi

K

etika Aan menginjak usia dua tahun, seperti biasanya, Ben selalu berkunjung, tinggal di rumah mereka sekitar seminggu.  Anton, Lia, dan si kecil Aan selalu merasa bahagia setiap kali kedatangan Ben.

Ben kembali datang berkunjung kali ini. Tanpa diduga, penyakit Lia kambuh lagi. Kondisi kesehatannya menurun drastis, dan muncul tanda-tanda serius yang selama ini berusaha mereka lupakan.

Anton sangat memahami situasi itu. Kejadian tersebut mengingatkannya pada masa lalu, saat ia pernah mengurus Lia sebagai tawanan, sebelum akhirnya Lia harus dirujuk ke Cleveland-Amerika. Pengalaman itu masih membekas kuat dalam ingatannya.

Melalui negosiasi yang panjang dan tidak mudah antara Ben, pemerintah Amerika, dan pihak Rumah Sakit Cleveland, akhirnya diputuskan bahwa Lia harus segera diterbangkan kembali untuk mendapatkan penanganan lanjutan. Sedangkan Aan ditipkan kepada Bu Dewi.

Penanganan transplantasi kulit Lia, akhirnya menunjukkan hasil yang dinanti, tetapi kemenangan itu terasa sangat panjang. Dua minggu penuh rasa nyeri, doa yang tak putus, dan malam-malam panjang di ruang rawat. Ketika ia bangun pagi itu, wajahnya tampak lebih tenang, namun sorot matanya menyimpan kelelahan seorang wanita yang telah berjuang terlalu lama.

Ben dan Anton masih setia menunggu, berdiri di tempat yang sama seperti hari-hari sebelumnya. Mereka melihat Lia bukan lagi sebagai sosok yang rapuh, melainkan sebagai wanita yang telah dipaksa hidup kuat, bertahan dengan luka, baik di tubuh maupun di hatinya.

Dokter akhirnya memperbolehkannya pulang. Sebuah kalimat sederhana yang seharusnya membawa kebahagiaan, tetapi justru menjadi awal dari kenyataan lain yang sulit diterima Lia.

“Selama ini, hijab yang selalu dikenakan  saudari Lia,  tanpa sadar telah menutup sirkulasi udara di area kulit yang menjalani transplantasi. Tidak ada infeksi, tidak ada komplikasi serius. Namun demi pemulihan, saya menyarankan agar area paha dan lengannya juga kepala diberi ruang selalu terbuka demi kesembuhan jangka panjang,” terang Dr. James

Keputusan itu semakin menghimpit batin Lia karena ia tahu persis apa yang selama ini diajarkan. Menutup aurat bukan baginya sekadar kewajiban lahiriah, melainkan bentuk ketaatan dan penjagaan diri. Di setiap majelis, ia selalu berkata bahwa aurat adalah kehormatan, bukan beban. Bahwa menjaga tubuh adalah bagian dari menjaga iman.

Kini, kata-kata itu bergema kembali di kepalanya, bukan sebagai tuntutan, melainkan sebagai ujian. Sebuah kondisi darurat yang tidak pernah ia bayangkan akan menjadi bagian dari hidupnya.

Air matanya jatuh satu per satu. Lia menggeleng pelan, seolah menyangkal pikirannya sendiri.

“Tidak… aku tahu hukum-Mu, ya Allah. Aku tahu darurat memberi keringanan,” katanya lirih, tangisannya tak bersuara.

Tangisan Lia tiba-tiba terhenti ketika terdengar suara langkah kaki mendekati pintu. Ia terkejut, buru-buru mengusap wajahnya, berusaha menenangkan napas yang masih tersendat. Pintu terbuka perlahan.

Anton masuk lebih dulu, diikuti Ben di belakangnya. Di tangan mereka tergenggam map berisi dokumen dan tiket semua sudah diurus, semua sudah siap untuk kembali ke Indonesia.

“Semua sudah beres,” kata Anton pelan, suaranya penuh kelegaan yang tertahan. “Kita bisa pulang besok.”

Lia hanya mengangguk. Ia berusaha tersenyum, tetapi Anton langsung menyadari mata istrinya yang memerah. Ia mendekat tanpa bertanya, duduk di sampingnya, menggenggam tangannya erat. Tidak ada desakan, tidak ada pertanyaan. Hanya kehadiran.

Ben berdiri sedikit menjauh. Tatapannya tertahan pada wajah Lia yang menunduk. Ia tahu, wanita di hadapannya bukan hanya sedang pulih dari luka fisik, tetapi juga dari pertarungan batin yang tidak semua orang sanggup jalani.

“Kamu tidak sendiri, Lia,” ucap Ben akhirnya, suaranya rendah dan hati-hati. “Apa pun yang kamu takutkan … kita hadapi sama-sama.”

Ya, Ben benar, sejak Lia SMK dan mengajari Ben mengaji, semua masalah hidup, mereka lalui bersama. Lia menelan ludah. Air matanya kembali menggenang.

“Aku Cuma … belum siap dilihat orang,” katanya lirih. “Aku takut mereka lupa siapa aku sebenarnya.”

Anton menggeleng pelan. “Kalau ada yang hanya melihat pakaianmu, bukan hatimu,” katanya tegas namun lembut, “maka itu bukan kesalahanmu.”

Lia menunduk, lalu mengangguk pelan. Di antara dua pria itu, suaminya yang setia serta masa lalunya yang kini berdiri dan terus mendampingi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Cleveland Airport

L

ia belum juga merasa nyaman dengan pakaian yang harus ia kenakan. Atasan tanpa lengan berwarna putih dan celana pendek berbahan jeans terasa asing di tubuhnya, seolah bukan miliknya.

Ia berjalan menunduk, berusaha menghindari tatapan orang-orang yang lalu lalang. Bukan karena ada yang benar-benar memperhatikannya, melainkan karena pikirannya sendiri terlalu bising. Sebagai wanita yang terbiasa menjaga aurat, kondisi ini membuatnya resah dan canggung.

Anton menyadari kegelisahan itu. Ia berjalan sedikit di depan, lalu di samping, memastikan tubuhnya menjadi penghalang alami dari pandangan yang membuat Lia tak tenang. Tangannya sesekali terulur, menggenggam tangan Lia dengan erat, seolah berkata tanpa kata: aku di sini.

“Pegang aku saja,” ucap Anton pelan. “Tidak apa-apa.”

Lia mengangguk, menggenggam tangan suaminya lebih kuat.

Langkah mereka pelan, tapi pasti. Setiap meter yang mereka lalui adalah perjuangan kecil bagi Lia menahan rasa tidak nyaman, ia selalu berpikir seolah-olah sedang pamer aurat dengan pakaian setengah telanjang.

***

Ben akhirnya tidak ikut mengantar mereka pulang. Ia berdiri di bandara Cleveland lebih lama dari yang ia rencanakan, menatap dua sosok yang perlahan menjauh. Lia, wanita yang pernah menjadi bagian penting dalam hidupnya, dan Anton, pria yang kini menjadi tempat pulangnya Lia.

Perjalanan kembali ke Indonesia kali ini hanya dilalui oleh Lia dan Anton. Berdua. Tanpa Ben. Lia duduk di dekat jendela pesawat, memandang langit yang perlahan gelap. Di balik rambut lurus yang yang menutupi sebagian wajahnya, matanya basah. Ia tidak menoleh ke mana pun, melainkan menyandarkan wajahnya di jendela, Lia menghibur hatinya.

Perjalanan itu masih panjang. Mereka harus transit di Hongkong kota yang menjadi pusat Dragon Fire.

 

 

 

 

 

 

 

 

Penculikan

M

asa transit itu berlangsung delapan jam, waktu yang panjang bagi Lia. Setelah makan siang sederhana di bandara, ia menarik napas dalam-dalam, lalu menatap Anton.

“Aku ke toilet sebentar,” katanya pelan.

Anton mengangguk, matanya mengikuti langkah Lia yang menjauh. Ia tetap duduk di tempat semula, namun pandangannya tak lepas dari arah Lia pergi, seolah ada firasat yang tak bisa ia jelaskan.

Lima menit berlalu. Sepuluh menit. Anton mulai gelisah. Ia melirik jam tangannya berulang kali. Keramaian bandara terasa semakin bising, sementara pikirannya dipenuhi kemungkinan-kemungkinan yang membuat dadanya sesak.

Ketika lima belas menit berlalu dan Lia belum juga kembali, Anton berdiri. Kekhawatiran itu tak lagi bisa ia tahan. Ia melangkah cepat menuju toilet wanita, berhenti beberapa meter dari pintu masuk, menjaga jarak dengan sopan.

“Li, Lia …,” panggilnya pelan, ragu, namun jelas ada kecemasan dalam suaranya.

Tak ada jawaban.

Anton berdiri di sana, mencoba tetap tenang, meski jantungnya berdetak lebih cepat. Ia tidak berani masuk, hanya menunggu di dekat pintu, memperhatikan setiap orang yang keluar. Dalam hati, ia berdoa agar Lia baik-baik.

Di balik pintu itu, Lia sedang berjuang dengan pergulatan batinnya sendiri setelah melihat cermin besar di toilet. Bukan karena fisiknya, melainkan karena perasaan yang kembali menyesak. Pertarungan batin antara tidak rela berpakaian terbuka dengan pemulihan kesehatan kulitnya, hal itu berputar-putar di pikirannya.

Ketika akhirnya Lia keluar, wajahnya pucat, namun berusaha tegar. Begitu melihat Anton berdiri menunggu, matanya langsung berkaca-kaca.

“Kamu lama,” kata Anton pelan, bukan marah, hanya khawatir.

“Maaf,” jawab Lia lirih. “Aku cuma … butuh waktu untuk menenangkan fikiran.”

Anton tidak bertanya lebih jauh. Ia hanya mendekat, menurunkan suaranya. “Kalau kamu merasa berat, bilang. Jangan hilang sendiri.”

Lia mengangguk. Memahami Anton selalu bersamanya, Lia tidak sendirian.

***

Setelah kejadian di toilet, Lia dan Anton memilih berjalan pelan menyusuri lorong-lorong bandara. Mereka tidak terburu-buru. Transit yang panjang membuat mereka mencoba mengisi waktu dengan hal-hal kecil agar pikiran Lia lebih tenang.

Akhirnya mereka duduk di sebuah kafe kecil. Aroma kopi hangat memenuhi udara. Anton memesan dua cangkir, dan Lia menggenggam gelasnya dengan kedua tangan, seolah kehangatan itu bisa merambat sampai ke dadanya. Untuk beberapa saat, mereka hanya duduk diam, menikmati kebersamaan tanpa kata.

Dari kejauhan, mata Lia tertuju pada sebuah toko suvenir. Di etalasenya tergantung topeng opera dan kostum tradisional Tiongkok berwarna cerah. Pandangannya tertahan cukup lama. Ada senyum kecil yang muncul, senyum seorang ibu.

“Anton,” katanya pelan.

Anton menoleh. “Kenapa?”

“Itu ….” Lia menunjuk ke arah toko. “Topeng opera itu lucu. Aku kepikiran Aan. Mungkin dia akan suka.”

Anton mengikuti arah pandangnya, lalu tersenyum tipis. “Kalau mau, beli saja.”

Lia ragu sejenak. Ia melirik sekeliling, lalu kembali menatap Anton.

“Aku ke sana sebentar, ya?”

Anton mengangguk, meski matanya tetap waspada. “Aku tunggu di sini. Jangan lama-lama.”

Lia berdiri, menarik napas dalam-dalam, sebagai seorang ibu yang ingin membawa pulang sedikit kebahagiaan untuk anaknya.

Dari tempat duduknya, Anton mengawasi Lia tanpa mengalihkan pandangan. Di tengah bandara asing itu, ia tetap menjadi penjaga yang diam, memastikan Lia selalu berada dalam pandangnya.

Waktu berlalu tanpa terasa. Dua puluh menit. Anton masih duduk di kafe yang sama, sesekali meneguk kopi yang sudah dingin. Matanya terus tertuju ke arah toko suvenir itu. Awalnya ia masih bisa melihat Lia bergerak perlahan di antara gantungan topeng dan rak-rak penuh warna.

Namun lama-kelamaan, tubuh Lia semakin masuk ke bagian dalam toko. Keramaian pengunjung mulai menutupi pandangannya. Hingga akhirnya Lia benar-benar hilang dari jangkauan mata Anton.

Anton mencoba menenangkan diri. Mungkin masih memilih, pikirnya. Tapi menit demi menit berlalu dan perasaan khawatir itu kembali datang, lebih kuat dari sebelumnya.

Ia berdiri. Jantungnya mulai berdegup cepat. Tanpa ragu lagi, Anton melangkah menuju toko itu. Begitu sampai di depan, ia menyapu pandangan ke seluruh sudut. Rak topeng. Kostum. Cermin besar di dinding. Orang-orang berlalu-lalang, tapi Lia tidak ada. Anton masuk lebih dalam.

“Permisi …,” katanya pada seorang penjaga toko, berusaha tetap tenang. “Tadi ada seorang wanita memakai kaos putih masuk ke sini. Apakah Anda melihatnya?”

Penjaga itu menggeleng pelan.

Anton berkeliling sekali lagi. Dua kali. Setiap sudut ia periksa. Keringat dingin mulai mengalir di pelipisnya. Pikirannya langsung dipenuhi bayangan terburuk kondisi Lia yang masih rapuh, kelelahan panjang, serta jiwanya yang lemah akan ketidakmampuannya membuka aurat di kalayak umum.

“Lia…” gumamnya, suaranya tercekat.

Anton keluar dari toko, menoleh ke kiri dan kanan, berharap melihat Lia muncul dari balik kerumunan. Tidak ada. Yang ada hanya orang-orang asing yang berjalan tanpa tahu bahwa dunia seseorang sedang runtuh perlahan.

Anton berdiri terpaku, napasnya terasa berat. Ia sudah kembali ke toko itu untuk ketiga kalinya. Ia bertanya pada penjaga toko lain, pada kasir, bahkan pada pengunjung yang tadi sempat berpapasan. Tidak satu pun yang melihat Lia keluar. Tidak satu pun yang mengenalinya. Seolah-olah Lia lenyap tanpa jejak.

Anton memeriksa ponselnya. Tidak ada pesan. Tidak ada panggilan tak terjawab. Tangannya mulai gemetar saat ia menekan nama Lia berulang kali. Nada sambung terdengar panjang, lalu mati. Tidak diangkat.

Keramaian bandara kini terasa menyesakkan. Suara pengumuman penerbangan terdengar jauh, terdistorsi, seperti datang dari dunia lain. Anton menyusuri  bandara dengan langkah cepat, lalu berlari. Setiap wajah wanita ia perhatikan. Setiap siluet ia dekati. Namun semua salah.

“Lia…” panggilnya lirih, nyaris putus asa.

Anton menyalahkan dirinya sendiri. Kenapa aku membiarkannya pergi sendirian lagi?

“Ya Allah,” bisiknya dengan suara pecah, “jangan ambil dia dariku. Aku mohon.”

Lia bukan hanya istrinya. Ia adalah amanah. Ia adalah ibu dari anak yang menunggu di rumah.

Anton segera menuju meja informasi bandara. Dengan bahasa Inggris yang khawatir kehilangan, namun penuh urgensi, ia melaporkan bahwa istrinya hilang di area transit. Petugas mencatat, bertanya ciri-ciri, waktu terakhir terlihat, pakaian yang dikenakan. Setiap pertanyaan terasa seperti pisau yang mengorek ketakutannya sendiri.

Sementara prosedur berjalan, Anton hanya bisa berdiri di sana, menunggu kabar tentang wanita yang ia cintai. Tapi kali ini, Lia tidak hanya terlambat kembali. Lia benar-benar menghilang. Bahkan pesawat yang harus mereka naiki sudah terbang menuju Indonesia. Namun, Anton tidak ingin pulang tanpa Lia.

 

 

 

 

 

 

 

The White Room

K

ematian Ayex ternyata tidak menghentikan apa pun. Justru sebaliknya, ia menjadi pemicu. Ayex adalah simpul penting dalam jaringan gelap Dragon Fire, organisasi kriminal lintas negara yang selama ini bergerak di balik layar bisnis legal. Ketika Ayex mati, kekosongan kekuasaan itu harus segera diisi.  Nama yang terus muncul dalam pencarian mereka adalah Wong Phan. Nama lama. Identitas yang selama ini terkubur rapat.

Wong Phan bukan sekadar wanita biasa di mata Dragon Fire. Ia adalah kunci. Otak. Simbol legitimasi lama yang masih diakui oleh jaringan bisnis bawah tanah. Seseorang yang bisa mereka jadikan boneka kendali untuk menguasai jalur bisnis strategis, terutama rencana besar mereka, memperluas pengaruh dan operasi ke Afrika Utara.

Selama bertahun-tahun, Wong Phan berhasil menghilang. Mengganti nama, membangun kehidupan baru, menikah, memiliki anak, bahkan dikenal sebagai seorang ustazah dan pengajar di TPA. Sebuah ironi yang tak pernah terbayangkan oleh siapa pun yang mengenal masa lalunya. Namun, Dragon Fire tidak pernah benar-benar berhenti mencari. Mereka hanya menunggu waktu yang tepat dan bandara Hongkong dengan transit panjang, ribuan wajah, dan celah keamanan yang kompleks menjadi kesempatan sempurna.

Saat Lia melangkah semakin dalam ke toko suvenir itu, ia tidak sekadar menjauh dari pandangan Anton. Ia sedang ditarik kembali ke dunia yang selama ini ia kubur. Orang-orang yang menghampirinya tahu persis siapa dia.

Sementara Anton panik menyusuri seantero bandara, Lia telah berada di titik tanpa pilihan. Hilangnya Lia bukan kebetulan. Itu adalah hasil dari pencarian panjang, rapi, dan kejam.

Kini, di suatu tempat yang tak dikenal, diperebutkan sebagai Wong Phan, sosok yang ingin mereka paksa untuk mengendalikan bisnis gelap lintas benua dan membuka jalan dominasi Dragon Fire di Afrika Utara.

***

Kesadaran itu datang perlahan, seperti cahaya yang ragu menembus kabut. Lia membuka mata dengan susah payah. Pandangannya buram, kepalanya berat. Bau asing memenuhi inderanya, dingin, steril, tanpa kehangatan. Ia mencoba bergerak, namun tubuhnya terasa kaku, seolah baru saja bangun dari tidur yang panjang.

Ia menelan ludah. Ingatan terakhirnya berkelebat, tentang toko suvenir, topeng opera, langkah-langkah yang mendekat terlalu tenang. Lalu gelap.

“Di mana … aku?” bisiknya, suaranya hampir tak terdengar.

Ruangan itu sempit dan redup. Tidak ada jendela. Hanya dinding polos dan satu kursi di sudut. Lia duduk terikat pada kenyataan yang tak ingin diterima, ia tidak lagi berada di bandara. Ia tidak bersama Anton.

Napasnya memburu. Dadanya naik turun. Ketakutan menyergap, tapi ia memaksakan diri untuk tenang. Tarik napas. Jangan panik, katanya dalam hati, sejak menikahi Anton, kedewasaannya meningkat.

Langkah kaki terdengar di luar. Pintu terbuka perlahan. Seorang pria masuk, tatapannya dingin, namun penuh kepastian.

“Sudah lama kami menunggumu,” kata pria itu datar.

Lia mengangkat wajahnya. Untuk sesaat, ia ingin menyangkal. Namun kalimat berikutnya menghantamnya tanpa ampun.

“Wong Phan.”

Nama itu seperti pintu yang dibuka paksa. Masa lalu yang telah ia kubur bertahun-tahun mendadak bangkit, menuntut pengakuan. Lia memejamkan mata, air mata menggenang, bukan karena takut, melainkan karena sedih.

“Itu bukan aku lagi,” ucapnya lirih, tapi tegas. “Aku sudah meninggalkan semua itu.” Bahkan Lia tidak bener-benar menjadi Wong Phan, kecuali tubuh dan fisiknya, tapi jiwanya tidak. Tidak pernah dan tidak akan pernah.

Pria itu tersenyum tipis. “Dunia tidak peduli pada siapa kamu ingin jadi apa? Dunia hanya ingat siapa kamu dulu.”

Ya Allah, doanya bergetar, jika ini adalah ujianku, jangan biarkan aku menjadi wanita iblis itu. Lia membuka mata. Tatapannya kini berbeda.

Pria itu melangkah lebih dekat. Sorot matanya dingin, tanpa emosi, seolah nyawa manusia hanyalah angka dalam catatan panjang.

“Aku yang mereka panggil Jenderal Eksekusi,” katanya tenang. “Tugasku bukan bernegosiasi. Tugasku memastikan keputusan dipatuhi.”

Lia menahan napas. Ada sesuatu dalam nada suaranya yang membuat udara di ruangan itu terasa lebih sempit.

“Kau tahu kenapa kami tidak langsung membunuhmu?” lanjutnya. “Karena Wong Phan lebih berguna hidup.”

Nama itu kembali menghantamnya. Namun kali ini, Lia tidak menunduk.

“Jika kau menolak,” kata pria itu datar, “kami akan mencatat satu per satu nama keluargamu. Bukan untuk diingat, melainkan untuk dihapus.”

Lia gemetar. Bukan karena dirinya, melainkan karena wajah-wajah yang langsung hadir di benaknya. Anton, Aan, dan Ben. Rumah kecil yang ia sebut pulang.

“Kerajaan bisnis ini butuh simbol,” ucap pria itu menatap penuh intimidasi.  “Dan kau adalah simbol yang tersisa. Kau akan berdiri di depan. Menandatangani. Menghadiri. Mengangguk. Kami yang mengendalikan segalanya.”

Lia menelan ludah. Air mata jatuh tanpa suara.

“Kalian salah,” katanya lirih. “Aku bukan Wong Phan.”

Jenderal Eksekusi tersenyum tipis, nyaris kasihan.

“Kau bisa berganti nama. Berganti iman. Berganti hidup,” katanya. “Tapi dunia bawah tanah hanya percaya pada sejarah.”

Ia berbalik menuju pintu, lalu berhenti sejenak. “Kami beri waktu. Pikirkan baik-baik. Karena jika kau menolak,” ia menoleh setengah, “yang pertama kami datangi bukan kau.”

Pintu tertutup. Sunyi kembali menyergap. Lia terisak, tubuhnya bergetar hebat. Ia menutup wajah dengan kedua tangan.

“Ya Allah… mereka mengancam keluargaku,” bisiknya hancur.

 

 

Jenderal Eksekusi

T

idak ada pangkat resmi. Tidak ada identitas yang bisa dilacak. Bahkan di antara orang-orang Dragon Fire sendiri, ia hanya disebut dengan satu julukan yang dibisikkan setengah takut: Jenderal Eksekusi. Dia merupakan pegawas langsung di bawah pimpinan tertinggi Dragon Fire.

Lia tidak pernah tahu siapa dia sebenarnya dan justru ketidaktahuan itulah yang membuat ancamannya terasa mutlak. Ketika pria itu kembali masuk ke ruangan pada malam berikutnya, ia tidak membawa senjata, tidak pula berteriak. Ia hanya membawa satu hal yang jauh lebih berbahaya, informasi kejam.

“Seorang Pria biasa. Mudah dilacak.”

Lia tahu Jenderal itu bermaksud mengatakan Anton.

Lalu dia menatap Lia. “Aan. Anak kecil. Dunia terlalu bising untuk melindunginya.”

Air mata Lia langsung jatuh. Tangannya mengepal, tubuhnya gemetar hebat.

Pria itu berhenti di ambang pintu. Seolah baru teringat sesuatu, ia menoleh kembali tanpa ekspresi.

“Kami tidak punya banyak waktu,” katanya datar. “Dua puluh jam.”

Lia mengangkat kepala perlahan.

“Jika sampai batas itu kau belum memberi jawaban,” lanjutnya, suaranya tetap tenang namun menusuk, “kami akan mengirim sesuatu. Bukan pesan. Bukan ancaman. Bukti!”

Hening.

Lalu satu nama disebutkan pelan, namun menghancurkan. “Aan!”

Napas Lia tercekat, tubuhnya gemetar hebat. Ia tidak perlu penjelasan lebih jauh. Ia tahu betul apa arti bukti bagi orang-orang seperti mereka.

“Jangan ….” Suaranya pecah. “Jangan libatkan anakku.”

Pria itu menatapnya dingin.

“Keputusan ada di tanganmu,” katanya singkat. “Kami hanya memastikan kau memahami konsekuensinya.”

Lia terjatuh dalam tangis yang tak lagi bisa ia tahan. Dadanya sesak, kepalanya terasa kosong. Semua pertahanan batinnya runtuh dalam sekejap.

“Ya Allah .…” Ia terisak, menutup wajahnya dengan kedua tangan. “Dia tidak tahu apa-apa … dia hanya anak kecil…”

Tak ada lagi waktu untuk berpikir. Tak ada ruang untuk menimbang. Ancaman itu terlalu dekat, terlalu nyata. Lia mengangkat kepalanya, air mata mengalir tanpa henti.

“Aku setuju,” katanya lirih, hampir tak terdengar.

Jenderal itu tersenyum nyaris tak terlihat, lalu keluar, menutup pintu pelan.

Lia kembali meraung, bukan karena ia lemah. Bukan karena takut mati. Melainkan karena seorang ibu akan memilih neraka mana pun, selama anaknya tetap bisa hidup. Di balik tangis itu, ada sesuatu yang perlahan mengeras. Lia mengangkat wajahnya, air mata masih mengalir, tapi suaranya mulai mantap.

“Jika aku harus berdiri,” katanya pada dirinya sendiri, “aku akan berdiri sebagai Lia. Bukan sebagai boneka.”

Jauh di balik tembok gelap itu, sebuah kesalahan besar mulai tumbuh dalam perhitungan Dragon Fire, mereka mencoba menekan seorang ibu dengan ancaman.





Posting Komentar untuk "The Wong Phan is Back_Jilid 9 karya Arnita Adam"

Kami menerima Kiriman Tulisan dari pembaca, Kirim naskah ke dengan subjek sesuai nama rubrik ke https://wa.me/+6282388859812 klik untuk langsung terhubung ke Whatsapp Kami.