BELESENG Hadirkan Literasi, Sastra Daerah, dan Diskusi Sejarah Raja Rokan di Pematang Baih
BELESENG Hadirkan Literasi, Sastra Daerah, dan Diskusi Sejarah Raja Rokan di Pematang Baih
ROKAN HULU – Kegiatan BELESENG (Bersama Lenggok Senang Membaca) kembali digelar sebagai ruang literasi yang memadukan budaya membaca, aktivitas sehat, diskusi, serta apresiasi terhadap bahasa dan sastra daerah. Kegiatan berlangsung pada Sabtu, 5 September 2026, di Pematang Baih, Kabupaten Rokan Hulu.
BELESENG diawali dengan jogging bersama sebagai kampanye hidup sehat. Setelah itu, peserta mengikuti diskusi dan resensi buku Cinta Raja Rokan: Terkubur di Kersik Putih yang dipandu oleh Arnita Adam, selaku resensiator sekaligus penulis buku tersebut.
Kegiatan berlangsung interaktif. Peserta dari masyarakat umum maupun mahasiswa Universitas Rokania aktif mengajukan pertanyaan dan menyampaikan pandangan terkait isi buku, sejarah, budaya, serta nilai-nilai kehidupan yang terkandung di dalamnya.
Masyarakat Penasaran tentang Sosok Raja Rokan. Salah seorang peserta, Panji, dari masyarakat umum, mengajukan pertanyaan mengenai sosok raja yang menjadi bagian penting dalam kisah buku tersebut. "Rajanya yang dijelaskan di dalam buku, apakah ada sosok yang nyata? Kalau benar ada, kira-kira tahun berapa?" tanya Panji kepada resensiator. Saat sesi diskusi dibuka.
Arnita Adam menjelaskan bahwa kisah tersebut berkaitan dengan masa Raja Sakti Ibrahim, yang disebut sebagai raja terakhir dari Kerajaan Rokan. Penjelasan tersebut membuat diskusi semakin menarik karena peserta tidak hanya membahas isi cerita, tetapi juga menggali konteks sejarah dan budaya yang melatarbelakangi kisah dalam buku serta menggali Tokoh di Balik Kisah Cinta Raja Rokan di Kersik Putih
Pertanyaan lain datang dari Raipan, yang ingin mengetahui siapa saja tokoh yang terkait dengan kisah di Kersik Putih. “Narasumbernya siapa?” tanya Raipan kepada resensiator. Arnita Adam menjelaskan bahwa informasi mengenai kisah tersebut juga berkaitan dengan para kerabat dan keluarga Siti Zulaiha di Kersik Putih. Menurutnya, keberadaan cerita dari keluarga dan masyarakat menjadi bagian penting dalam menjaga ingatan sejarah dan cerita lokal agar tidak hilang seiring zaman.
Diskusi tersebut sekaligus menampilkan bahwa buku dapat menjadi pintu masuk untuk menggali kembali sejarah lokal yang hidup di tengah masyarakat. Sementara itu, Salsa, mahasiswa Universitas Rokania, menyoroti nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi masyarakat zaman dahulu, khususnya berkaitan dengan sumpah, pantang larang, dan petuah orang tua.
Ia menyinggung kebiasaan masyarakat dahulu yang menggunakan ungkapan atau sumpah sebagai bentuk pengajaran dan pengendalian perilaku. Dalam perkembangannya, sebagian pesan tersebut dapat dimaknai kembali dengan konteks kehidupan masa kini.
Menurut Salsa, pesan-pesan seperti larangan keluar malam atau berbagai celana pada masa lalu dapat dipahami sebagai bentuk nasihat dan perlindungan orang tua, meskipun cara penyampaiannya perlu disesuaikan dengan perkembangan zaman. “Jangan bersumpah kepada anak. Jangan keluar malam, nanti kecelakaan,” menjadi salah satu contoh pesan yang dibicarakan dalam diskusi tersebut.
Pembahasan ini menampilkan bahwa sastra daerah tidak hanya berbicara tentang cerita masa lalu, tetapi juga menyimpan nilai-nilai pendidikan, norma sosial, dan kearifan lokal yang masih dapat direfleksikan dalam kehidupan masyarakat saat ini.
Diskusi juga berkembang pada isu sosial yang lebih luas. Ivio, mahasiswa Universitas Rokania, menyampaikan mengenai kesetaraan gender. Menurutnya, membaca karya yang mengangkat sejarah, tokoh, dan kehidupan masyarakat masa lalu dapat menjadi ruang untuk melihat bagaimana posisi perempuan dan laki-laki dalam masyarakat yang terus mengalami perkembangan.
Pembahasan mengenai kesetaraan gender tersebut menjadi salah satu bagian menarik dalam BELESENG karena menunjukkan bahwa literasi dapat membuka ruang dialog mengenai berbagai persoalan kehidupan, termasuk budaya, sejarah, pendidikan, dan hubungan sosial.
Selain diskusi buku, BELESENG juga menghadirkan Penampilan Sastra Berbahasa Daerah Rokan Hulu. Pertunjukan tersebut meliputi puisi, pidato, stand-up comedy, dan mendongeng. Kehadiran sastra berbahasa daerah menjadi bagian penting dalam kegiatan ini. Generasi muda tidak hanya diajak membaca karya, tetapi juga diberi ruang untuk berbicara, tampil, berkarya, dan menggunakan bahasa daerah dalam ekspresi kreatif.
Dengan demikian, BELESENG tidak sekadar menjadi kegiatan membaca buku, tetapi berkembang menjadi ruang pertemuan antara literasi, kesehatan, sejarah, budaya, bahasa daerah, dan kreativitas generasi muda.
Melalui kegiatan ini, masyarakat diajak melihat bahwa membaca dapat dilakukan dengan cara yang menyenangkan dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Buku menjadi jembatan untuk berdiskusi, sementara sastra daerah menjadi sarana untuk mengenal kembali identitas budaya Rokan Hulu. BELESENG diharapkan terus menjadi gerakan literasi yang mampu mendekatkan buku kepada masyarakat sekaligus mendorong generasi muda untuk mencintai budaya dan bahasa daerah.
Nuratika, S.Hum., M.Pd. dan Dr. Rita Arianti, M.Pd. mengumumkan bahwa Salsa dan Ivio Herlina, mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Universitas Rokania, terpilih sebagai peserta aktif dalam kegiatan BELESENG hari ini. Sebagai bentuk penghargaan atas keaktifan dan semangat mengikuti kegiatan literasi, hadiah akan diberikan langsung oleh resensiator pada pertemuan BELESENG berikutnya. Antusiasme terhadap BELESENG setiap minggunya semakin meningkat dengan bertambahnya jumlah peminat, menjadi bukti bahwa budaya membaca, berdiskusi, dan berbagi pengetahuan semakin tumbuh di tengah masyarakat. “BELESENG bukan sekedar membaca buku, tapi tentang membangun kebiasaan, keberanian berbicara, dan semangat berbagi ilmu. Setiap minggu membaca, setiap minggu bertumbuh.”
Kegiatan Beleseng ditutup dengan mengampanyekan ”Sehat Raganya, Cerdas Pikirannya, Tumbuh Literasinya. Salam Literasi!”
Penulis : Arnita Adam (Novelis, Jurnalis dan Traveller)
Editor: Nuratika


.jpeg)


.jpeg)
Posting Komentar untuk "BELESENG Hadirkan Literasi, Sastra Daerah, dan Diskusi Sejarah Raja Rokan di Pematang Baih"
Silahkan tinggalkan komentar untuk respon atau pertanyaan, kami akan balas secepat mungkin.