Berlayar ke Negeri yang Jauh (Cinto Rajo Rokan Terkubur di Kersik Putih)
Berlayar ke Negeri yang Jauh
Seorang raja yang dipertuankan di Negeri Rokan, yang termasyhur namanya, Raja Sakti Ibrahim di Kerajaan Rokan
IV Koto. Raja ini tinggi semampai, gagah, cerdik, dan punya banyak ilmu. Kerajaannya dimulai dari Kampung Ujungbatu, Tibawan, Koto Molitang, Kersik Putih, sampai ke Bateh. Setiap kampung dipimpin oleh seorang datuk.
Sudah tiba masa Raja Ibrahim akan berlayar ke Negeri Pagaruyung. Perjalanan itu akan melewati Sungai Rokan.
Beliau berdiri di tengah pintu kamar. Di sana, tergantung lukisan buaya sedang makan.
“Hulubalang, apakah semua persiapan kita ke Negeri Pagaruyung sudah siap?” Raja yang tengah berdiri di dekat pintu bertanya seraya meletakkan tangan pinggang.
Seorang hulubalang yang memakai baju seragam
"Salam, Yang Mulia Raja kami, pemimpin Negeri Rokan, persiapan sudah siap dan semua barang sudah di dalam kapal. Namun, Nakhoda mengatakan kita harus menunggu sekitar 2 jam sebelum berangkat. Apabila kita berangkat sekarang, udara akan dangkal sekali. Itu akan membuat perjalanan kita terhalang." Hulubalang kembali menunduk.
“Jika begitu, ambilkan saya kertas dan tinta.
Saya ingin menulis surat,” perintah Raja kemudian.
“Salam, Yang Mulia Raja kami, pemimpin Negeri Rokan, secepatnya hamba bawakan.”
Kemudian Hulubalang pergi ke tengah balai, tempat Raja biasa mengadakan sidang, lalu mengambil tinta dan beberapa lembar kertas. Setelah itu, Hulubalang kembali menghadap Raja dan memberikan kertas dan tinta tersebut kepada Raja. Raja kembali masuk ke kamar, duduk di kursi berlapis emas, lalu mulai menulis surat di atas meja. Apa gerangan yang ditulis Raja? Ekspresi wajahnya tampak sedikit tegang. Sebentar berdiri, sebentar duduk. Hal apa pula yang merisaukan hatinya? Hulubalang yang tadi memberikan kertas datang kembali. “Salam, Yang Mulia Raja kami, pemimpin Negeri Rokan, waktu keberangkatan kita telah tiba.”
Raja pun berdiri dari kursi. Beliau membuka laci, lalu diambilnya surat yang telah ditulisnya dan dimasukkan ke dalam amplop. Kemudian, Raja berjalan gagah menuju Hulubalang . Hulubalang langsung memasang jubah kebesaran Raja yang berwarna hitam, pinggirannya berbalut renda songket berwarna kuning. Raja terlihat begitu gagah, padahal sebenarnya umur Raja sudah mendekati usia tua. Raja berjalan keluar istana yang tingginya sekitar satu setengah meter dari permukaan tanah. Semua pengawal yang berdiri di tangga juga tunduk memberikan hormat. Saat itu, ada seorang lelaki mendekati Raja. Dia datang dari tengah balai, di samping kamar Raja. Badannya besar, romannya teduh, air mukanya jernih, janggutnya panjang. Ketika dia melihat Raja, dia membangunnya dan memberikan rasa hormat kepada Raja. "Salam, Yang Mulia raja kami, pemimpin Negeri Rokan, sebagaimana perintah Paduka Raja, saya Perdana Menteri Kerajaan Rokan, akan ikut juga bersama Tuanku Raja ke Negeri Pagaruyung.” Raja hanya mengangguk, Perdana Menteri dan Raja pun berjalan beriringan ke pangkalan Sungai Rokan, lalu masuk ke kapal. Semua kapal awak sudah siap berangkat, kapal pun mulai berlayar di Sungai Rokan. Kapal pun sampai di Kersik Putih, tidak jauh dari Kampung Kubang Buayo. Raja takjub melihat pasir putih di sungai, namun pasir tersebut tidak ada di sepanjang sungai, hanya berjarak sekitar 7 kilometer saja.
“Perdana Menteri, dari mana datangnya pasir putih ini?” tanya Raja kepada perdana menterinya.
"Pasir putih ini datang dari Air Terjun Muara Tiga Paduka. Ada sebuah air terjun tiga tingkat seperti Muara Tiga. Jika Paduka naik ke daratan, tidak jauh dari daratan akan sampai di air terjun tersebut," jawab Perdana Menteri dengan santun.
“Kita sekarang belum bisa singgah di Kersik Putih karena perjalanan kita masih jauh. Jika ingin pulang nanti, bolehlah kita singgah,” perintah Raja.
Sudah tiba kapal Raja Rokan di Kerajaan Pagaruyung. Raja Rokan dan Perdana Menteri disambut baik oleh Raja Pagaruyung. Mereka berdiskusi dan berbicara cara mempertahankan kerajaan masing-masing. Masing-masing dari penjajah Belanda. Setelah melewati diskusi yang panjang, Raja Rokan dan Perdana Menteri pun pamit pulang. Dalam perjalanan pulang ke Rokan, saat tiba di Kersik Putih, semakin banyak pasir di sungai, membuat sungai menjadi dangkal. Sebagian besar kapal awak mendorong turun untuk mendorong kapal melewati sungai. Masyarakat yang mendengar Raja Rokan singgah di kampung mereka, bersama-sama mendekati tepi sungai untuk melihat Raja. Datuk Kalisati sebagai datuk adat yang memimpin Kampung Kersik Putih juga datang mendekati Raja.
“Salam, Yang Mulia Raja kami, pemimpin Negeri Rokan, apa kiranya yang bisa kami bantu, Paduka Raja?” tanya Datuk Kalisati penuh kesantuan.
Raja tidak menjawab. Matanya sekilas pada seorang anak gadis berambut hitam yang panjangnya sepinggang. Bulu matanya lentik dan kulitnya putih bersih. Anak gadis yang ditatap raja pun tersipu malu. Kawan di dekatnya juga terus melihat ke arah Raja. Mengapa Raja melihat ke arah mereka sangat lama? Raja ingin tahu nama anak gadis yang dari tadi mengambil simpatinya. “Tuanku Raja pemimpin Negeri Rokan, nama anak gadis tersebut adalah Siti Zulaiha,” jawab Datuk Kalisati. Raja mengangguk. Kemudian, beliau siap-siap naik ke kapal. Sepanjang perjalanan pulang, Raja betapa cantiknya anak gadis Kersik Putih tersebut. Mulai dari rambut sampai ujung kaki. Gadis itu betul-benar menyita perhatiannya. “Oi... apakah ada kiranya gadis hati tidak bisa tenang karena melihat anak , parasnya yang cantik, rambutnya yang panjang, bola matanya hitam.” Raja bersenandung sendiri di kamar kapal. Tidak terasa, Raja pun telah tiba di Istana Rokan.
Posting Komentar untuk "Berlayar ke Negeri yang Jauh (Cinto Rajo Rokan Terkubur di Kersik Putih) "
Silahkan tinggalkan komentar untuk respon atau pertanyaan, kami akan balas secepat mungkin.