Dedikasi Cinta untuk Siti Zulaiha dan Rinduku Tidak Terbilang (Cinta Raja Rokan Terkubur di Kersik Putih)
Dedikasi Cinta untuk Siti Zulaiha
Siti Zulaiha sudah menyampaikan maksud hatinya kepada ibu dan ayahnya. Perasaan ayah dan ibunya pun menjadi risau.
Datanglah paman Siti Zulaiha ke rumahnya. Paman yang paling tua dan paman yang paling muda turut hadir di sana. Siti Zulaiha kemudian dipanggil ke tengah rumah untuk dimintai pendapat.
“Paman, Ibu, dan Ayah, bukan maksud hati Siti Zulaiha membuat hati kalian susah. Namun, berat hati Siti Zulaiha menikah dengan Raja, penguasa Negeri Rokan ini. Siti tidak tahu bagaimana nasib Siti nanti jika menikah dengan Raja,” kata Siti Zulaiha di depan keluarganya.
“Siti Zulaiha, bagaimanapun kita tidak mungkin sanggup menolak lamaran Raja. Saran Paman, kita ajukan syarat yang berat untuk dilakukan Raja agar niatnya berkurang, seperti kisah di Pulau Jawa ketika seorang gadis meminta dibuatkan seribu candi dalam satu malam.”
“Menurut Ayah, syarat yang berat adalah meminta Raja tidak lagi menikah dengan siapa pun setelah menikahi Siti Zulaiha. Jika Raja ingin menikah lagi, ceraikanlah Siti Zulaiha. Bagaimana pendapatmu, Nak?” tanya Ayah kepada Siti Zulaiha.
“Bagus juga pendapat Ayah. Jika memang Raja bersungguh-sungguh dan mencintai Siti, tentu Raja tidak akan menduakan Siti apabila kami telah menikah,” jawab Siti Zulaiha.
Ayah dan paman-paman Siti Zulaiha merasa senang mendengar jawaban tersebut.
Beberapa saat kemudian, datanglah utusan Datuk Kalisati ke rumah Siti Zulaiha. Utusan itu menyampaikan kabar bahwa Raja sudah tiba di Kersik Putih.
Semakin risaulah hati Siti Zulaiha. Ia berusaha mencari cara agar Raja membencinya. Ia mengenakan pakaian jelek yang sudah sobek-sobek. Wajahnya dicoret dengan arang sehingga Siti Zulaiha tampak seperti orang gila.
Semua datuk adat sudah berkumpul di rumah Datuk Kalisati. Datuk Manaro Sati dari Kubang Buayo dan Mamak Sutan Cahayo pun turut hadir.
Raja, Perdana Menteri, dan Hulubalang telah duduk bersila di tengah rumah Datuk Kalisati. Tidak lama kemudian, tibalah Siti Zulaiha bersama paman, ayah, dan ibunya.
Siti Zulaiha diminta masuk ke dalam rumah. Bertemulah tatapan mata Raja dan Siti Zulaiha. Semua orang di dalam rumah terkejut ketika pertama kali melihat penampilan dan pakaian Siti Zulaiha. Dalam hati, mereka berpikir bahwa Siti Zulaiha sengaja berpenampilan buruk karena tidak ingin menikah dengan Raja. Oleh sebab itu, ia membuat dirinya tampak seperti orang gila.
Musyawarah pun dimulai. Disampaikanlah syarat dari Siti Zulaiha kepada Raja. Siti Zulaiha meminta agar Raja tidak memadunya sampai kapan pun. Jika Raja berniat menikah lagi dengan perempuan lain, lebih baik Raja menceraikan Siti Zulaiha. Mendengar syarat tersebut, Raja berjanji akan memenuhinya. Pada akhirnya, menikahlah Raja dengan Siti Zulaiha.
Kenduri besar dilaksanakan di Kersik Putih untuk merayakan pernikahan Raja dengan Siti Zulaiha. Tujuh ekor kerbau dan tujuh ekor lembu disembelih. Tarian Melayu, gendang borogong, celempong, dan padukan turut memeriahkan pesta. Raja dan Siti Zulaiha pun duduk bersanding di pelaminan.
“Oii... cantik sekali istriku, Siti Zulaiha. Beruntunglah aku telah mempersuntingnya. Berikanlah kepada kami anak yang saleh dan salehah. Bila hidup, badan berbahagia. Bila mati, badan membawa iman. Itulah doaku kepada Tuhan, pencipta alam.”
Raja bersenandung di samping Siti Zulaiha. Siti Zulaiha mendengarkan senandung tersebut.
Betapa indah syair dan doa Raja. Mulailah tumbuh rasa kagum di dalam lubuk hati Siti Zulaiha.
“Pantaslah Kerajaan Rokan IV Koto kaya raya dan rakyatnya hidup makmur karena dipimpin oleh Raja yang adil dan berbudi luhur,” kata Siti Zulaiha dalam hati.
Setelah pesta besar selesai, Raja berniat membawa Siti Zulaiha ke istana di Rokan.
“Adindaku, Siti Zulaiha, tibalah waktunya Kakanda membawa Adinda ke istana. Kamar yang dihias indah telah disiapkan untuk Adindaku, Siti Zulaiha.”
“Salam, Yang Mulia Kakandaku, pemimpin Negeri Rokan. Sudah penat hati Adinda memikirkan bagaimana meninggalkan Kersik Putih. Rasanya berat hati Adinda, tetapi sudah seharusnya Adinda mengikuti suami ke mana pun pergi. Jika begitu perintah Kakanda, tentulah Adinda turuti.”
Suara Siti Zulaiha terdengar indah di telinga Raja.
“Bila berat hati Adinda untuk meninggalkan Kersik Putih ini, tidak masalah jika Adinda tetap tinggal di sini. Akan Kakanda titipkan Adinda kepada Ayah dan Ibu. Apabila pekerjaan di Istana Rokan cepat selesai, Kakanda akan pulang secepatnya ke Kersik Putih untuk menemui Adinda,” kata Raja.
Senanglah hati Siti Zulaiha mendengar jawaban Raja. Sadarlah Siti Zulaiha bahwa suaminya, Raja Rokan, adalah seorang suami yang bijaksana dan memahami isi hatinya.
“Sungguh Kakanda menyelami hati dan mencintai Adinda apa adanya. Akan selalu Adinda tunggu kedatangan Kakanda,” jawab Siti Zulaiha sambil memasangkan jubah kebesaran Raja.
Bertambahlah rasa sayang Raja kepada Siti Zulaiha yang cantik dan baik akhlaknya itu.
Raja kemudian kembali ke Istana Rokan. Sesampainya di istana, Raja teringat akan sesuatu.
“Perdana Menteri, panggillah pakcik arsitektur istana kita. Perintahkanlah dia merancang sebuah istana yang lebih kecil daripada Istana Rokan untuk permaisuriku, Siti Zulaiha,” perintah Raja.
“Salam, Yang Mulia Raja kami, pemimpin Negeri Rokan. Akan hamba laksanakan,” kata Perdana Menteri.
“Kirimlah banyak pekerja untuk membuat istana di Kersik Putih. Saat aku ke sana nanti, istana untuk istriku, Siti Zulaiha, harus sudah selesai,” titah Raja.
Berangkatlah Perdana Menteri menuju tempat tinggal pakcik arsitektur Istana Rokan. Secepatnya, pakcik arsitektur menyiapkan sketsa pembangunan istana untuk Siti Zulaiha di Kersik Putih.
Tiga kapal dikirimkan menuju Kersik Putih untuk menjalankan misi pembangunan istana bagi Siti Zulaiha. Pembangunan istana tersebut dikerjakan selama sekitar dua bulan. Bentuk istana mirip dengan istana Raja di Rokan. Istana itu berbentuk rumah panggung dengan tinggi sekitar 150 sentimeter dari permukaan tanah. Di bagian depan terdapat teras dengan ukiran khas.
Bagian lanjutan pada sumber setelah kalimat tersebut mengalami kerusakan teks sehingga tidak dapat dibaca secara utuh. Saya tidak menambahkan atau menebak isi yang tidak terbaca.
Rinduku Tidak Terbilang
Raja masih berada di Istana Rokan. Ingin rasanya sang Raja cepat-cepat pulang ke Kersik Putih. Wajah Siti Zulaiha sudah terbayang di pelupuk matanya.
Ketika itu, datanglah Perdana Menteri menghadap Raja.
“Salam, Yang Mulia Raja kami, pemimpin Negeri Rokan. Akan ada pertemuan pemuda-pemuda Nusantara dari berbagai tempat, yaitu Pulau Jawa, Andalas, Kalimantan, dan Sulawesi, untuk membicarakan masa depan kita. Sudah lama kita dibodohi dan diatur-atur oleh Belanda. Oleh karena itu, pemuda-pemuda Nusantara ingin membicarakan nasib tempat kediaman kita bersama-sama. Apa sebaiknya yang akan kita perbuat?”
Raja terdiam sejenak. Ia berpikir keras.
“Hmm... sebaiknya buatlah terlebih dahulu surat untuk Raja Rambah dan Raja Siak. Musyawarahkan apa saja yang bisa kita perbuat,” perintah Raja.
“Perintah Paduka Raja akan dilaksanakan,” kata Perdana Menteri.
Raja kemudian masuk ke dalam kamar. Wajah Siti Zulaiha kembali terbayang di pelupuk matanya. Besok pagi, ia ingin berangkat ke Kersik Putih.
“Hulubalang, siapkanlah semua peralatan rumah tangga untuk dibawa ke Kersik Putih. Bawakan juga kursi rotan untuk aku berjemur pada pagi hari,” titah Raja.
“Salam, Yang Mulia Raja kami, pemimpin Negeri Rokan. Semua peralatan rumah tangga sudah disiapkan,” kata Hulubalang.
Pagi harinya, berangkatlah kapal Raja menuju Kersik Putih. Tidak lupa Raja membawa perhiasan yang terbuat dari emas dan intan.
“Oi... Siti Zulaiha, kekasihku, sambutlah kedatanganku. Aku bawakan hadiah yang tidak pernah dimiliki orang lain. Kuhadiahkan gelang emas yang diukir sebagai bukti rasa cintaku yang dalam. Oi... Siti Zulaiha, mengertilah, mengertilah.”
Sampailah kapal Raja di Kersik Putih. Raja menaiki tangga menuju istana Siti Zulaiha. Di dekat teras istana, Siti Zulaiha sudah terlihat menunggu Raja. Raut wajahnya bahagia. Ia pun sudah sangat rindu melihat wajah Raja yang selalu tersenyum kepadanya.
“Salam, Yang Mulia Kakandaku, pemimpin Negeri Rokan. Sudah aku masak nasi dan gulai. Aku menanti-nanti Kakanda tiba.”
Wajah Siti Zulaiha berbinar-binar bahagia melihat kedatangan Raja.
“Adindaku, Siti Zulaiha yang baik budi, Kakanda bawakan perhiasan dari emas dan intan. Memang perhiasan itulah yang patut dipakai Adindaku, Siti Zulaiha.”
Masuklah mereka bersama-sama ke dalam istana. Siti Zulaiha menghidangkan makanan yang dimasaknya di piring keramik yang dibawa dari Negeri Rokan, kemudian meletakkannya di atas talam besar.
Beberapa bagian setelah paragraf tersebut juga mengalami kerusakan pada teks sumber sehingga tidak dapat disusun kembali secara akurat. Bagian yang masih terbaca dengan jelas berlanjut sebagai berikut.
Walaupun Kerajaan Rokan pada saat itu berada dalam keadaan sulit, Raja Rokan tetap ingin pulang ke Kosiek Puitie. Ia ingin menenangkan hatinya dengan memandang istrinya yang rupawan dan penyayang.
Malam pun akhirnya tiba. Tak sabar hati Raja menunggu matahari segera terbit agar ia dapat berlayar ke Kersik Putih. Raja memejamkan kedua matanya. Namun, wajah yang terbayang justru wajah Siti Zulaiha yang tengah tersenyum kepadanya. Banyak angan-angan yang terlintas dalam pikiran Raja.
Raja kemudian membuka laci yang ada di kamarnya. Ia mengambil selendang cantik berwarna merah bersulam emas. Konon, selendang itu dibawa dari Bukittinggi oleh seorang saudagar kaya yang memberikannya sebagai hadiah kepada Raja Rokan karena rakyat Bukittinggi diperbolehkan bermukim di daerah Ujungbatu.
“Oi... Adindaku, Siti Zulaiha, kubawakan selendang merah bersulam emas sebagai tanda kasih sayangku kepada Siti Zulaiha, anak dara di Kersik Putih. Maka tunggulah kedatanganku, hai cintaku, Siti Zulaiha.”
Raja bersenandung sendiri, kemudian tertidur di atas ranjang. Siapa sangka serdadu-serdadu Belanda dan para pengkhianat yang menjadi kaki tangan penjajah datang untuk mengambil alih Kerajaan Rokan. Mereka datang menggunakan empat kapal dan telah tiba di Sungai Rokan. Raja, para hulubalang, serta prajurit-prajurit pilihan telah berkumpul di istana.
Pertempuran pun tidak dapat dihindari. Banyak pasukan dari kedua belah pihak yang gugur. Belanda memiliki keunggulan dalam jumlah senjata. Meskipun demikian, prajurit Rokan tidak mudah ditaklukkan karena memiliki keahlian memanah. Pertempuran berlangsung lebih dari dua jam.
Banyak prajurit pahlawan Negeri Rokan yang gugur. Prajurit yang masih hidup kemudian mengawal Raja kembali ke istana. Mereka berniat masuk melalui ruang rahasia di bagian loteng istana. Namun, peluru-peluru musuh menumbangkan para prajurit kerajaan sehingga musuh dengan mudah memasuki istana.
Pihak Belanda mengejar Raja Rokan sampai ke dalam kamar. Raja Rokan tersungkur di lantai istana. Gigi depannya patah dan darah bercucuran dari mulutnya.
“Serahkan kerajaan atau mati!” teriak penjajah sambil menodongkan senapan ke kepala Raja.
Raja Rokan menjawab, “Kami hidup beradab, mati bermartabat. Tidak akan kami berikan sejengkal pun tanah Rokan kepada penjajah yang biadab!”
Mendengar jawaban Raja, prajurit Belanda murka dan menembak kepala Raja tepat di ubun-ubunnya. Bersamaan dengan itu, Raja Rokan terbangun dari mimpinya. Mimpi tersebut terasa sangat nyata. Raja kemudian berdoa kepada Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang agar keselamatan dilimpahkan kepada keluarga serta seluruh rakyatnya.
Posting Komentar untuk "Dedikasi Cinta untuk Siti Zulaiha dan Rinduku Tidak Terbilang (Cinta Raja Rokan Terkubur di Kersik Putih) "
Silahkan tinggalkan komentar untuk respon atau pertanyaan, kami akan balas secepat mungkin.