Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Terbakar Api Cemburu dan Kehilanganmu Berkali-kali (Cinta Raja Rokan Terkubur di Kersik Putih)

Terbakar Api Cemburu

Usia pernikahan Raja dan Siti Zulaiha telah mendekati tujuh tahun, tetapi belum ada tanda-tanda bahwa Siti Zulaiha akan mengandung. Selain itu, karena keadaan politik yang semakin genting, Raja mulai jarang pulang ke Kersik Putih. Keadaan tersebut membuat Siti Zulaiha jatuh sakit.

Dulu aku takut mempunyai suami seorang penguasa, tetapi takdir membawaku menjadi istri seorang raja. Karena kebijaksanaan dan cara hidupnya, jatuhlah hatiku kepadanya. Sekarang, ketika cintaku sudah tidak dapat diragukan lagi, justru dia yang meninggalkanku. Apakah sudah ada perempuan lain yang menggantikan tempatku di hatinya? Omak oi, tolonglah aku yang sengsara karena cinta.

Siti Zulaiha tidak tahu lagi bagaimana cara mengungkapkan kesedihannya. Dipasangnya selendang merah bersulam emas pemberian Raja di kepalanya. Dalam hati ia berkata, “Kapankah Raja akan tiba?”

Raja Rokan mulai kebingungan ketika Raja Pagaruyung memberikan nasihat agar ia menikah dengan perempuan lain. Nasihat itu disampaikan karena Raja Rokan belum juga memperoleh keturunan dari Siti Zulaiha. Raja memikirkan nasihat tersebut dengan sungguh-sungguh. Sebagai penguasa negeri yang luas, ia merasa perlu memiliki keturunan sebagai penerus kerajaan. Raja Pagaruyung bahkan turut mencarikan seorang gadis untuk menjadi istri Raja Rokan. Setelah melalui berbagai pertimbangan, Raja Rokan akhirnya membulatkan tekad untuk menikah lagi.

Berangkatlah kapal Raja menuju Kersik Putih. Sepanjang perjalanan, Raja tidak henti-hentinya memikirkan Siti Zulaiha. Terkadang wajahnya tampak sendu saat membayangkan bagaimana ia akan menyampaikan niat untuk menikah kembali. Terkadang Raja tersenyum ketika mengingat gurauan bersama Siti Zulaiha. Ia juga teringat masakan istrinya yang menurutnya tidak tertandingi oleh juru masak mana pun karena Siti Zulaiha memasak dengan bumbu cinta dan racikan kasih sayang.

Dari kejauhan, tampaklah kapal Raja berlabuh di Kersik Putih. Senanglah hati Siti Zulaiha. Untuk pertama kalinya sejak Raja meninggalkan Kersik Putih menuju Rokan beberapa bulan sebelumnya, senyum manis kembali terlihat di wajahnya.

Siti Zulaiha menyambut kedatangan Raja dengan penuh kasih sayang. Begitu pula Raja yang sangat merindukan Siti Zulaiha.

Sebagaimana biasanya, Siti Zulaiha telah menyiapkan makanan untuk Raja. Raja menyantap makanan tersebut dengan lahap ditemani istri tercintanya.

Setelah makan, duduklah mereka berdua di teras istana. Siti Zulaiha menghidangkan secangkir teh untuk suaminya.

“Oh, Adindaku, ada satu hal yang ingin Kakanda musyawarahkan dengan Adinda,” kata Raja mulai mengutarakan maksud hatinya.

“Salam, Yang Mulia Kakandaku, pemimpin Negeri Rokan. Tentulah akan Adinda dengarkan,” jawab Siti Zulaiha.

“Sudah tujuh tahun kita hidup bersama, saling memahami, dan saling mencintai. Namun, Tuhan Yang Mahakuasa tampaknya belum juga menganugerahkan keturunan kepada kita. Oleh karena itu, dengan berat hati, izinkanlah Kakanda menikah kembali dengan jodoh yang telah dicarikan oleh Raja Pagaruyung.”

Tumpahlah air mata Siti Zulaiha. Ia tidak sanggup menjawab perkataan Raja. Siti Zulaiha berlari ke dalam kamar dan menangis sekuat-kuatnya.

“Oh, Tuhan yang menciptakan rasa cinta di dalam hatiku. Berbulan-bulan aku menunggu kekasih hatiku tiba, tetapi ketika ia datang, ia malah meminta restu untuk menikah dengan perempuan lain. Oh, Tuhan penguasa hati, sebagaimana janji pernikahan kami, daripada dimadu, lebih baik cinta dengan badan dipisahkan.”

Raja datang dan merangkul Siti Zulaiha.

“Oh, Adinda cintaku, walaupun aku menikah kembali dengan perempuan lain, tidak sedikit pun rasa cintaku kepadamu akan berkurang. Mengapa harus meminta diceraikan? Bukankah Tuhan tidak melarang hamba-Nya mempunyai istri dua, tiga, dan empat?” kata Raja sambil semakin erat merangkul Siti Zulaiha.

“Salam, Yang Mulia Raja kami, pemimpin Negeri Rokan. Sekarang juga akan kusampaikan hal ini kepada Paman,” jawab Siti Zulaiha.

Kali ini Siti Zulaiha tidak lagi memanggil Raja dengan sebutan Kakanda.

Siti Zulaiha kemudian meninggalkan istana menuju rumah pamannya. Ia menyampaikan bahwa Raja ingin menikah kembali. Sesuai dengan perjanjian awal pernikahan mereka, Siti Zulaiha harus diceraikan apabila Raja ingin menikah lagi karena ia tidak bersedia dimadu.

Sidang adat Ninik Mamak pun digelar. Semua datuk di Kosiek Puite berkumpul di rumah Datuk Kalisati. Raja dan Hulubalang juga hadir dalam pertemuan tersebut.

Semua orang yang hadir dalam sidang terdiam. Mereka berusaha mencari solusi bagi Raja dan Siti Zulaiha. Dari raut wajah mereka terlihat bahwa cinta dan kasih sayang antara Raja dan Siti Zulaiha begitu kuat. Akan tetapi, perjanjian telah dibuat ketika Raja meminang Siti Zulaiha. Hal itulah yang membuat suasana menjadi muram. Terlebih lagi, Raja sama sekali tidak ikhlas menceraikan Siti Zulaiha.

Melihat seluruh ruangan hening, Datuk Kalisati akhirnya membuka suara.

“Sebagaimana tujuh tahun yang lalu, ketika Raja meminang Siti Zulaiha, telah dibuat sebuah perjanjian. Apabila Raja ingin menikah kembali, wajiblah Raja menceraikan Siti Zulaiha. Untuk itu, kami akan menjadi saksi atas ditepatinya perjanjian tersebut.”

Datuk Kalisati kembali mengingatkan janji pernikahan antara Raja dan Siti Zulaiha.

Raja lantas murka. Raut wajahnya tampak pucat menahan amarah. Raja kemudian bersumpah.

“Dengarkanlah kata sumpahku dengan saksama. Untuk menepati janjiku dahulu, hari ini Siti Zulaiha kujatuhkan talak. Namun, dengarkanlah perintahku. Siti Zulaiha tidak kuperbolehkan menikah dengan lelaki mana pun selama lelaki itu berasal dari wilayah kekuasaanku yang terbentang mulai dari Ujungbatu sampai ke Bateh. Terakhir, dengarkanlah kutukanku. Jika suatu saat Siti Zulaiha menikah kembali dengan pemuda dari luar Kerajaan Rokan dan memiliki anak, maka Siti Zulaiha akan mati.”

Wajah Raja dipenuhi amarah ketika mengucapkan sumpah tersebut. Semua itu keluar karena emosinya dan ketidakikhlasannya menceraikan Siti Zulaiha.

Raja dan Hulubalang kemudian meninggalkan rumah Datuk Kalisati menuju kapal. Mereka pun pulang ke Istana Rokan.

Sejak diceraikan oleh Raja Rokan, Siti Zulaiha tampak menjadi perempuan yang kurang terurus. Kebaikan-kebaikan Raja masih selalu diingatnya. Selendang merah bersulam emas pemberian Raja masih sering dipakainya di kepala. Raja juga tidak mengambil kembali apa pun yang pernah diberikannya kepada Siti Zulaiha, termasuk istana dan semua perhiasan.

Begitu pula dengan Raja. Sejak bercerai dengan Siti Zulaiha, Raja sering bolak-balik menyusuri Sungai Rokan dengan alasan hendak menuju Kerajaan Pagaruyung. Padahal, sebenarnya Raja hanya ingin melihat Siti Zulaiha dari kejauhan dan mengetahui keadaan mantan istrinya yang saat itu berusia dua puluh satu tahun.

Terkadang Raja meminta Hulubalang turun dari kapal untuk mencari tahu keadaan Siti Zulaiha. Kemudian, Hulubalang akan melaporkan bahwa Siti Zulaiha sedang berdiri di teras istana sambil memakai selendang pemberian Raja. Raja pun tersenyum mendengar laporan tersebut karena ia tahu bahwa itulah yang selalu dilakukan Siti Zulaiha ketika menunggu kedatangannya.

Namun, ketika Hulubalang melaporkan bahwa tubuh Siti Zulaiha semakin kurus dan penampilannya tampak tidak terurus, mungkin karena jarang makan, matanya cekung, dan bibirnya kering, Raja menjadi sangat sedih.

“Oh, Penguasa jagat raya, apa yang dapat aku perbuat lagi? Menceraikan Siti Zulaiha, cintaku yang suci, bagaikan makan di tepi perigi. Bila aku terus makan, pecahlah perigi. Jika aku tinggalkan, aku pun tidak sampai hati. Oh, Penguasa alam jagat raya, berikanlah kepada kami kebahagiaan yang hakiki.”

Tidak henti-hentinya Raja bersenandung di atas kapal. Terkadang air matanya menetes karena tidak mampu menahan derita cinta di dalam hatinya.


Kehilanganmu Berkali-kali

Pada suatu pagi, kakak Siti Zulaiha datang ke istana untuk mengajak adiknya pergi ke pasar. Hari Raya sudah semakin dekat. Hampir semua orang di Kersik Putih mulai membeli pakaian baru.

“Mari kita pergi ke pasar untuk membeli sandal dan baju Lebaran,” ajak kakak Siti Zulaiha.

“Tapi, Kak, aku masih mempunyai banyak pakaian bagus dan mewah pemberian Raja. Bahkan, semua pemberian Raja ini tidak ada bandingannya dengan apa pun yang dijual di pasar,” jawab Siti Zulaiha.

“Oh, adik Kakak yang cantik, hilang kecantikan Adik jika terus memikirkan Raja. Lupakanlah Raja. Sekarang belum tentu Raja masih memikirkan Adik. Mungkin saat ini Raja sedang tertawa bersama istri barunya dan menertawakan Adik, Siti Zulaiha, yang masih terus memikirkannya,” jawab kakaknya.

Mendengar perkataan tersebut, berdirilah Siti Zulaiha. Hatinya terbakar oleh emosi.

“Ayolah kita ke pasar. Tapi tunggu sebentar, akan kuganti terlebih dahulu selendangku dan mengenakan pakaian biasa.”

Kemudian, pergilah Siti Zulaiha bersama kakaknya ke pasar. Pasar saat itu sangat ramai. Pedagang datang dari berbagai daerah. Ada pedagang dari Rao, Pasaman, bahkan dari Lubuk Sikaping.

“Kak, aku ingin membeli sandal. Mari kita lihat di ujung sana. Sepertinya banyak sekali yang menjual sandal. Mudah-mudahan ada yang cocok di kaki Siti,” kata Siti Zulaiha.

“Ayolah, Dik,” kata kakaknya mengiyakan ajakan tersebut.

Seorang pedagang sandal sejak tadi memperhatikan Siti Zulaiha. Meskipun mengenakan pakaian biasa, kecantikan Siti Zulaiha tetap terlihat jelas.

“Sandal yang ini cocok, Dik?” tanya pedagang yang masih muda itu sambil menyerahkan sepasang sandal kepada Siti Zulaiha.

“Astaghfirullah, cantik sekali anak dara ini,” kata pedagang tersebut dalam hati.

Siti Zulaiha mencoba sandal tersebut. Ternyata sandal itu sangat cocok di kakinya.

“Ini saja, Bang,” ucap Siti Zulaiha sambil menyerahkan sandal tersebut kepada pedagang.

“Siapa nama Adik?” tanya sang pedagang.

“Nama saya Siti Zulaiha, Bang,” jawab Siti.

“Namaku Harun,” jawab sang pedagang sambil memperkenalkan dirinya.

Sejak saat itu, setiap hari pasar di Kersik Putih, Harun selalu datang berjualan karena ingin berjumpa dengan Siti Zulaiha. Begitu pula dengan Siti Zulaiha. Setiap pergi ke pasar, hatinya merasa senang karena dapat bertemu dengan Harun. Lama-kelamaan tumbuhlah cinta di hati kedua insan tersebut.

Setelah Hari Raya, Harun datang ke Kersik Putih untuk melamar Siti Zulaiha.

Namun, karena Harun bukan berasal dari Kersik Putih, pesta pernikahan mereka tidak boleh diadakan di Kersik Putih. Selain itu, berdasarkan hukum adat yang berlaku di Kersik Putih, apabila seorang pemuda menikahi gadis Kersik Putih, perempuan tersebut tidak boleh dimadu sampai kapan pun.

Semua acara lamaran dan pernikahan kemudian diadakan di kampung Harun. Siti Zulaiha dibawa ke Pasaman. Di sanalah pesta pernikahan besar-besaran dilaksanakan. Setelah kenduri selesai, Siti Zulaiha dibawa ke Rao, tempat tinggal suaminya, Harun.

Raja Rokan selalu ingin mengetahui apa pun yang terjadi dengan Siti Zulaiha. Ketika mendengar laporan Hulubalang bahwa Siti Zulaiha dekat dengan seorang laki-laki yang berasal dari Pasaman, Raja ingin mencari tahu sendiri siapa pemuda tersebut.

“Hulubalang, siapkanlah kapal. Kita akan berangkat ke Pagaruyung,” perintah Raja.

“Salam, Yang Mulia Raja kami, pemimpin Negeri Rokan. Perintah Paduka akan segera dilaksanakan,” jawab Hulubalang.

Hulubalang kemudian pergi menemui Nakhoda dan memintanya mempersiapkan awak kapal karena Raja ingin berangkat ke Pagaruyung secepatnya.

“Hulubalang, sampaikanlah kepada Raja bahwa kita dapat berangkat sekarang. Namun, kapal tidak akan mudah melewati Kersik Putih karena banyak pasir dari gunung yang terbawa air ke sungai. Akibatnya, sungai menjadi dangkal,” pesan Nakhoda.

Hulubalang kembali menghadap Raja untuk menyampaikan kabar dari Nakhoda.

Namun, Raja justru tampak senang karena dengan kondisi tersebut ia mempunyai alasan untuk turun dari kapal di Kersik Putih. Padahal, sebenarnya Raja ingin mengetahui kabar mantan istrinya, Siti Zulaiha.

Keputusan Raja dianggap aneh oleh seluruh awak kapal. Mereka bertanya-tanya mengapa Raja tetap bersikeras ingin berangkat, padahal Raja mengetahui bahwa perkiraan Nakhoda hampir tidak pernah meleset.

Berlayarlah kapal Raja menuju Pagaruyung. Sebagaimana yang dikatakan Nakhoda, pasir menumpuk di Kersik Putih. Ketika kapal sampai di Kersik Putih, kapal pun berhenti. Para awak kapal turun untuk menggali dan memindahkan pasir dari sungai ke tepian.

Senanglah hati Raja. Ia kemudian meminta Hulubalang mencari kabar tentang Siti Zulaiha.

“Salam, Yang Mulia Raja kami, pemimpin Negeri Rokan. Kami telah mencari tahu sebaik mungkin tentang Siti Zulaiha. Kami mengetahui bahwa Siti Zulaiha bukan hanya dekat dengan laki-laki dari Pasaman. Sekarang Siti Zulaiha telah menikah dengan pedagang dari Pasaman yang bernama Harun. Mereka tinggal di Rao,” kata Hulubalang.

Laporan Hulubalang membuat Raja termenung. Tidak ada sepatah kata pun yang mampu diucapkannya. Perjalanan menuju Pagaruyung pun dibatalkan. Raja meminta Nakhoda dan seluruh awak kapal berbalik arah dan pulang ke Istana Rokan.

Setelah beberapa lama, Raja mulai mampu menerima kenyataan bahwa mantan istrinya, Siti Zulaiha, telah hidup bahagia bersama seorang laki-laki dari negeri yang berbatasan langsung dengan kerajaannya.

Walaupun mengetahui Siti Zulaiha telah memiliki suami, Raja masih terus ingin mengetahui perkembangan kehidupan mantan istrinya.

“Hulubalang, sudahkah engkau mencari tahu kehidupan Siti Zulaiha di Rao?” tanya Raja.

“Salam, Yang Mulia Raja kami, pemimpin Negeri Rokan. Hamba telah mendapat kabar bahwa sekarang Siti Zulaiha hidup berkecukupan bersama suaminya. Suaminya juga menyayangi Siti Zulaiha dengan tulus. Saat ini, Siti Zulaiha sedang mengandung anak dari suaminya. Usia kandungannya sekitar sembilan bulan. Mungkin dalam beberapa hari lagi Siti Zulaiha akan melahirkan,” jawab Hulubalang.

Pucatlah wajah Raja ketika mendengar laporan bahwa Siti Zulaiha sedang mengandung. Raja teringat akan kutukan yang pernah diucapkannya, bahwa apabila Siti Zulaiha memiliki anak, perempuan itu akan meninggal.

“Hulubalang, kumpulkanlah semua tabib di Negeri Rokan ini. Mintalah mereka membuat obat bagi perempuan yang akan melahirkan. Cepat kerjakan, wahai Hulubalang,” perintah Raja.

“Salam, Yang Mulia Raja kami, pemimpin Negeri Rokan. Perintah Paduka siap hamba laksanakan,” sahut Hulubalang.

Segeralah Hulubalang mengumpulkan seluruh tabib yang ada di Negeri Rokan. Mereka diminta membuat obat agar Siti Zulaiha selamat setelah melahirkan.

Siang dan malam para tabib bekerja membuat obat tersebut. Dalam waktu dua hari, obat itu akhirnya selesai dibuat.

Hulubalang segera melaporkan kepada Raja bahwa obat tersebut telah selesai. Senanglah hati Raja menerima kabar itu.

“Hulubalang, bawalah obat ini kepada Siti Zulaiha. Selamatkanlah dia dengan obat ini ketika ia melahirkan,” perintah Raja.

“Salam, Yang Mulia Raja kami, pemimpin Negeri Rokan. Perintah Paduka akan hamba laksanakan,” kata Hulubalang.

Berangkatlah Hulubalang bersama beberapa pengawal menuju Rao, tempat tinggal Siti Zulaiha. Mereka membawa obat yang diharapkan dapat menyelamatkan nyawa Siti Zulaiha.

Namun, keinginan tidak selalu dapat diraih dan malang tidak dapat dihindari. Siti Zulaiha meninggal dunia ketika melahirkan. Hulubalang dan para pengawal belum tiba di Rao ketika berita kematian Siti Zulaiha sampai kepada mereka. Saat itu, mereka masih berada di Kubang Buayo.

Hulubalang dan para pengawal akhirnya berbalik arah menuju Istana Rokan untuk melaporkan peristiwa tersebut kepada Raja.

Mendengar kabar itu, Raja diliputi kesedihan dan penyesalan yang sangat dalam. Ia menyesali ucapan buruk yang pernah dilontarkannya kepada Siti Zulaiha ketika dikuasai amarah.

“Oi... kekasih hatiku, Siti Zulaiha, mengapa aku harus kehilanganmu berkali-kali?” tangis Raja di dalam kamarnya.

Tamat.




Posting Komentar untuk "Terbakar Api Cemburu dan Kehilanganmu Berkali-kali (Cinta Raja Rokan Terkubur di Kersik Putih)"

Kami menerima Kiriman Tulisan dari pembaca, Kirim naskah ke dengan subjek sesuai nama rubrik ke https://wa.me/+6282388859812 klik untuk langsung terhubung ke Whatsapp Kami.