Menatap Kelam September: Ketika Dialektika dan Keheningan Merawat Ingatan di Taman Tarbiyah
CIPUTAT - Berapa banyak dari kita yang menyadari bahwa saat kalender berganti ke bulan September, kita sering kali hanya menyambutnya sebagai awal musim hujan atau sekadar rutinitas bulanan biasa? Tanpa disadari, ada hal besar yang kerap terlewat dari ingatan kolektif kita: September bukan cuma tentang deretan tanggal di kalender, melainkan monumen kelam tentang janji-janji keadilan yang belum pernah usai ditagih. Di bawah rindang pepohonan Taman Tarbiyah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, sunyi yang menyeruak pada Senin sore (7/9/2026) tidak benar-benar kosong. Ia dipenuhi oleh jejak-jejak sejarah yang menolak dilupakan.
Melalui ruang kolaborasi antara DEMA FITK UIN Jakarta dan Komunitas Lorong, agenda forum pencerahan SUDUT SINTESA kembali digelar. Mengangkat tema besar “Nalar di Balik Bayang Gelap: Menatap Jejak September Hitam Lewat Dialektika dan Keheningan”, diskusi ini menjadi panggung refleksi bagi para mahasiswa untuk mengeja kembali deretan tragedi kemanusiaan yang pernah mencoreng catatan bangsa.
Ketua Pelaksana kegiatan, Zidan, mengungkapkan bahwa agenda ini dirancang bukan sekadar sebagai pemenuhan kalender program kerja semata. “Kami ingin menciptakan ruang yang tidak berjarak bagi mahasiswa untuk merenung dan berdiskusi. September Hitam adalah pengingat keras bahwa kedaulatan kemanusiaan pernah dilukai, dan kita memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga agar nalar kritis itu tidak padam,” ujar Zidan di sela-sela kegiatan.
Diskusi yang dimulai pukul 15.00 WIB ini menghadirkan dua pemateri utama, yakni Muhammad Hakim Satria (Ketua Umum PKM Bunga Rampai) dan Moh. Khamidan Akhdan (Ketua Umum HMPS PBSI UIN Jakarta), serta dipandu oleh Lutfi Ibrahim (Pengurus DEMA FITK UIN Jakarta) sebagai pemantik dialektika.
Dalam pengantarnya, Lutfi Ibrahim menegaskan bahwa September Hitam bukanlah komoditas nostalgia luka, melainkan cermin bagi generasi hari ini untuk menguji sejauh mana rasa kemanusiaan masih dirawat. Sesi pemaparan kemudian dibuka oleh Muhammad Hakim Satria yang menyoroti bagaimana kejahatan HAM di masa lalu mulai dari Tragedi 1965, Semanggi, pembunuhan Munir, hingga kasus Paniai sering kali berusaha dikubur oleh narasi kekuasaan. Menurutnya, melawan lupa adalah bentuk konsistensi mahasiswa dalam merawat kesadaran sejarah.
Sementara itu, Moh. Khamidan Akhdan melengkapi ruang dialektika dari sudut pandang bahasa dan keheningan. Ia mengungkapkan bahwa keheningan dalam refleksi September Hitam bukanlah tanda menyerah, melainkan bentuk bahasa paling dalam saat kata-kata tak lagi mampu menampung duka para korban.
Sebagai Press DEMA FITK UIN Jakarta, Rando, turut memberikan pandangannya mengenai pentingnya publikasi narasi-narasi kritis seperti ini ke ruang publik. “Tugas media dan pers mahasiswa adalah menjadi penyambung lidah atas isu-isu kebebasan dan kemanusiaan. Melalui publikasi ini, kami ingin pesan-pesan dialektika di Taman Tarbiyah tidak berhenti di tempat acara saja, tetapi juga menjangkau dan memantik kesadaran pembaca yang lebih luas,” tegas Press Rando
Sore itu, Taman Tarbiyah menjadi saksi bahwa kebenaran mungkin bisa ditutupi oleh waktu, tetapi ia tidak akan pernah benar-benar padam selama masih ada pikiran yang mau bertanya dan berdialektika. Antusiasme peserta terlihat dari hangatnya diskusi interaktif hingga menjelang petang. Acara ditutup dengan momen hening sejenak sebuah pesan tegas bahwa selama masih ada yang bersuara dan berdialektika, bayang-bayang gelap sejarah tidak akan pernah bisa memadamkan kebenaran. Karena pada akhirnya, sejarah mungkin berusaha dibungkam oleh waktu, tetapi ingatan yang dirawat bersama akan selalu menemukan jalannya untuk menuntut keadilan.
Penulis: Pratama Ilham Abduh Putra
Posting Komentar untuk "Menatap Kelam September: Ketika Dialektika dan Keheningan Merawat Ingatan di Taman Tarbiyah"
Silahkan tinggalkan komentar untuk respon atau pertanyaan, kami akan balas secepat mungkin.