Orang Tua Keluhkan PJJ akibat Kabut Asap, Anak Sulit Fokus Belajar di Rumah
Orang Tua Keluhkan PJJ akibat Kabut Asap, Anak Sulit Fokus Belajar di Rumah
2. Shafa Salsabilla
3. Nurul Aisyah
4. Widia Cahya Damayanti
5. Adela Cahya Putri Alpansi
Prodi / Kampus: Pendidikan Guru Sekolah Dasar / Universitas Sriwijaya
PALEMBANG — Kabut
asap yang melanda Kota Palembang tidak hanya mengganggu aktivitas masyarakat,
tetapi juga menimbulkan tantangan dalam dunia pendidikan. Pembelajaran jarak
jauh (PJJ) menjadi salah satu alternatif untuk melindungi kesehatan peserta
didik ketika kualitas udara tidak mendukung kegiatan belajar di sekolah. Namun,
pelaksanaannya menghadirkan kendala baru bagi keluarga, terutama orang tua yang
harus mendampingi anak belajar di tengah kesibukan rumah tangga dan pekerjaan.
Hal ini tergambar dari hasil kuesioner
yang diisi oleh 19 orang tua murid. Jawaban responden menunjukkan beragam
pengalaman selama mendampingi anak mengikuti PJJ. Sebagian orang tua tidak
mengalami kendala, sedangkan sebagian lainnya menghadapi kesulitan dalam
membagi waktu, mendampingi anak, menjaga konsentrasi belajar, hingga mengatasi
keterbatasan akses internet dan perangkat.
Salah satu kendala utama ialah membagi
waktu antara pekerjaan rumah tangga dan pendampingan belajar. Orang tua harus
menyelesaikan berbagai pekerjaan, seperti memasak dan membersihkan rumah,
sekaligus memastikan anak mengikuti pembelajaran dan mengerjakan tugas sekolah.
Bagi orang tua yang bekerja, situasi ini menjadi lebih menantang karena waktu
untuk mendampingi anak terbatas. Akibatnya, keluarga perlu menyesuaikan
kegiatan belajar dengan rutinitas masing-masing.
Selain persoalan waktu, konsentrasi dan
kemandirian anak selama belajar di rumah juga menjadi perhatian. Sejumlah orang
tua menyampaikan bahwa anak sulit diarahkan, kurang fokus, dan membutuhkan
pendampingan lebih intensif. Keterbatasan perangkat turut menambah kesulitan.
Salah seorang responden mengungkapkan bahwa tiga anak harus menggunakan satu
telepon genggam untuk mengikuti pembelajaran. Kondisi tersebut menyulitkan
keluarga ketika beberapa anak perlu mengakses materi atau mengikuti kegiatan
belajar pada waktu yang bersamaan.
Kondisi kesehatan selama kabut asap juga
memengaruhi kenyamanan anak dalam belajar. Salah seorang responden menyampaikan
bahwa anaknya kesulitan berkonsentrasi ketika mengalami mata gatal dan batuk di
tengah kondisi udara yang buruk. Selain itu, terdapat orang tua yang menilai
pembelajaran daring kurang efektif dibandingkan dengan pembelajaran tatap muka
karena anak tidak memperoleh pendampingan guru secara langsung. Hal ini
menunjukkan bahwa proses belajar tidak hanya bergantung pada pemberian tugas, tetapi
juga dipengaruhi oleh kondisi kesehatan, pemahaman materi, dan pendampingan
selama pembelajaran.
Meskipun menghadapi berbagai kendala,
sebagian responden mendukung PJJ sebagai langkah perlindungan selama kabut asap
masih tebal. Mereka menilai bahwa belajar dari rumah dapat mengurangi paparan
asap dibandingkan dengan anak harus bepergian ke sekolah. Kekhawatiran terhadap
gangguan pernapasan menjadi salah satu alasan dukungan tersebut. Mereka
berharap kesehatan anak menjadi pertimbangan utama dalam menentukan metode
pembelajaran selama kualitas udara belum membaik.
Namun, tidak semua orang tua menyetujui
pelaksanaan PJJ. Sebagian responden memilih pembelajaran tatap muka dengan
ketentuan penggunaan masker, sedangkan lainnya mempertimbangkan tingkat
keparahan kabut asap dan kemampuan anak mengikuti pembelajaran dari rumah.
Perbedaan pandangan ini menunjukkan bahwa kebijakan pembelajaran selama kondisi
darurat lingkungan perlu mempertimbangkan keselamatan peserta didik sekaligus
kualitas pendidikan yang mereka terima.
Persoalan lain berkaitan dengan
penyampaian materi oleh guru. Sejumlah orang tua berharap pembelajaran tidak
hanya berisi tugas yang harus diselesaikan dan dikumpulkan, tetapi juga
disertai penjelasan materi yang mudah dipahami. Mereka mengusulkan pertemuan
melalui Zoom, panggilan video, atau penggunaan video pembelajaran agar anak
memperoleh arahan yang lebih jelas. Dengan demikian, PJJ tidak sekadar
memindahkan kegiatan sekolah ke rumah, tetapi tetap menghadirkan proses
pembelajaran yang terarah dan membantu peserta didik memahami materi.
Untuk mengatasi kendala waktu, beberapa
orang tua berupaya menyusun jadwal harian dan menyelesaikan pekerjaan rumah
sebelum pembelajaran dimulai. Ada pula yang mendahulukan pendampingan anak,
kemudian melanjutkan pekerjaan setelah kegiatan belajar selesai. Upaya tersebut
menunjukkan bahwa orang tua berusaha menyesuaikan rutinitas keluarga demi
mendukung pendidikan anak. Namun, kemampuan setiap keluarga dalam menyediakan
waktu dan pendampingan tidak sama sehingga dukungan sekolah melalui pengaturan
pembelajaran yang sesuai tetap diperlukan.
Orang tua juga mengharapkan beban tugas
yang wajar, materi yang mudah dipahami, serta jadwal belajar yang lebih
fleksibel. Mereka berharap guru memberikan penjelasan dan kesempatan bertanya
agar kesulitan belajar dapat segera diatasi. Penyesuaian ini penting agar PJJ
tetap membantu peserta didik mencapai tujuan pembelajaran tanpa menambah beban
secara berlebihan bagi anak maupun orang tua.
Kabut asap di Sumatera Selatan berkaitan
dengan ancaman kebakaran hutan dan lahan yang dapat memengaruhi kualitas udara.
Artikel yang diterbitkan Stasiun Klimatologi Sumatera Selatan pada 26 Agustus
2026 membahas risiko kabut asap akibat kebakaran lahan di Palembang dan daerah
sekitarnya. Informasi mengenai kualitas udara perlu menjadi pertimbangan bagi
masyarakat dan sekolah dalam menentukan aktivitas peserta didik. Oleh karena
itu, pemantauan kondisi udara penting untuk mendukung keputusan yang mengutamakan
kesehatan anak.
Pada akhirnya, orang tua berharap kabut asap segera mereda agar anak-anak dapat kembali mengikuti pembelajaran tatap muka dengan aman dan nyaman. Selama PJJ masih diperlukan, sekolah diharapkan menghadirkan pembelajaran yang jelas, fleksibel, dan disertai pendampingan, bukan sekadar memberikan tugas. Berbagai keluhan orang tua menunjukkan pentingnya kerja sama antara sekolah dan keluarga dalam menghadapi situasi darurat lingkungan. Dengan demikian, keberlangsungan pendidikan tetap terjaga tanpa mengabaikan kesehatan dan kebutuhan belajar peserta didik.

Posting Komentar untuk "Orang Tua Keluhkan PJJ akibat Kabut Asap, Anak Sulit Fokus Belajar di Rumah"
Silahkan tinggalkan komentar untuk respon atau pertanyaan, kami akan balas secepat mungkin.