Yayasan Lenggok Rokan Hulu Gelar BELESENG
ROKAN
HULU - Yayasan Lenggok Rokan Hulu kembali menggelar kegiatan BELESENG (Bersama
Lenggok Senang Membaca) pada Sabtu, 31 Oktober 2026. Kegiatan yang mengusung
semangat “Membaca, Bergerak, Berkarya, Berbudaya” tersebut berlangsung di
Pematang Baih, Pasir Pengaraian, Kabupaten Rokan Hulu, mulai pukul 15.30 WIB.

(Gambar: Resensiator Habibah memandu diskusi dan resensi buku bersama peserta BELESENG)
Kegiatan BELESENG kembali dilaksanakan sebagai wadah yang mempertemukan aktivitas membaca dengan kegiatan sosial, olahraga, seni, dan budaya. Melalui kegiatan tersebut, Yayasan Lenggok Rokan Hulu mengajak masyarakat, termasuk keluarga, sahabat, dan rekan-rekan, untuk menjadikan membaca sebagai budaya yang menyenangkan ini mengusung semangat “Membaca, Bergerak, Berkarya, Berbudaya”. Kegiatan dirancang tidak hanya berfokus pada membaca, tetapi juga menggabungkan aktivitas fisik, diskusi, resensi buku, serta penampilan sastra daerah. Konsep tersebut menjadi upaya untuk membuat kegiatan literasi lebih dekat dan menarik bagi masyarakat
Turut Hadir Nuratika, S. Hum., M. Pd. Founder Lenggok. Dr. Rita Arianti, M. Pd. Dosen dan Penelaah Sastra. Arnita Adam Novelis dan Traveller serta mahasiswa Universitas Rokania dan masyarakat umum. Kegiatan diawali dengan jogging bersama sebagai bentuk kampanye hidup sehat. Peserta diajak bergerak dan berolahraga bersama sebelum mengikuti rangkaian kegiatan literasi. Perpaduan antara olahraga dan literasi tersebut diharapkan dapat menciptakan kegiatan yang tidak hanya menyehatkan tubuh, tetapi juga menambah wawasan dan pengetahuan.
Setelah jogging, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi dan resensi buku yang dipandu oleh resensiator Habibah. Buku yang menjadi bahan resensi dalam kegiatan tersebut adalah “Janji”. Kegiatan berlangsug secara interaktif. Peserta dari kalangan masyarakat umum maupun mahasiswa Universitas Rokania aktif mengajukan pertanyaan dan menyampaikan tanggapannya terkait isi yang terkandung dalam buku tersebut.

(Gambar: Penyampaian materi diskusi dengan judul buku “Janji” oleh resensiator Habibah).
Dalam kegiatan resensi novel “Janji”, karya penulis ternama Indonesia, Tere Liye. Dalam kegiatan tersebut, Habibah hadir sebagai resensiator yang akan mengajak peserta mengenal lebih dekat isi cerita, pesan moral, serta nilai-nilai kehidupan yang terkandung dalam novel tersebut. Pemilihan novel ini menjadi menarik karena buku ini tidak sekadar menyajikan kisah perjalanan hidup tokoh-tokohnya, tetapi juga mengajak pembaca merenungkan arti kehidupan, kesetiaan, tanggung jawab, penyesalan, ketulusan, dan makna sebuah janji.
Novel
ini menceritakan tentang tiga sahabat bernama Hasan, Baso, dan Kahar. Ketiganya
merupakan santri yang dikenal memiliki perilaku nakal dan kerap membuat
keonaran di lingkungan sekolah agama tempat mereka menuntut ilmu. Suatu hari, kenakalan
mereka ini mencapai puncaknya saat mereka melakukan tindakan jahil terhadap
minuman yang disajikan kepada seorang calon presiden, rombongannya, dan Buya,
pemimpin sekolah agama tersebut. Buya menugaskan ketiganya untuk mencari
seorang mantan murid bernama Bahar. Bahar merupakan sosok yang memiliki kisah
masa lalu penuh persoalan dan pernah menjadi murid yang sangat sulit dibina. Perjalanan
mencari Bahar kemudian membawa Hasan, Baso, dan Kahar menjalani berbagai kisah
kehidupan. Mereka tidak hanya mencari keberadaan seseorang, tetapi juga
menemukan pelajaran berharga tentang manusia, perjalanan hidup, dan arti
kebaikan.
Dari kisah Bahar ini, pembaca diajak memahami bahwa masa lalu seseorang tidak selalu menentukan masa depannya. Seseorang yang pernah melakukan kesalahan tetap memiliki kesempatan untuk berubah, memperbaiki diri, dan memberikan manfaat bagi orang lain.

(Gambar: Kegiatan diskusi BELESENG berlangsung secara interaktif).
Disaat kegiatan sedang berlangsung, setelah penyampaian materi yang telah disampaikan oleh resensiator, muncul berbagai tanggapan dari beberapa peserta BELESENG yang aktif diantaranya ada beberapa dari Mahasiswa Universitas Rokania dan Juga beberapa Dosen dari Universitas Rokania. Kegiatan literasi tersebut sekaligus menjadi bagian dari program BELESENG (Bersama Lenggok Senang Membaca) yang diinisiasi Yayasan Lenggok Rokan Hulu. Program ini dirancang untuk menjadikan aktivitas literasi sebagai kegiatan yang menyenangkan dan dapat diikuti masyarakat secara bersama-sama.
Berdasarkan materi publikasi kegiatan, BELESENG mengusung semangat “Membaca, Bergerak, Berkarya, Berbudaya” dan dijadwalkan berlangsung setiap Sabtu sore pukul 15.30 WIB di lingkungan Pemerintah Kabupaten Rokan Hulu. Tidak hanya membaca dan menulis, kegiatan BELESENG juga menggabungkan aktivitas fisik dan seni budaya. Peserta diajak melakukan jogging bersama sebagai bagian dari kampanye hidup sehat, kemudian mengikuti diskusi serta resensi buku yang dipandu oleh resensiator.
Rangkaian kegiatan juga memberikan ruang bagi masyarakat untuk menampilkan karya sastra berbahasa daerah Rokan Hulu. Penampilan tersebut antara lain berupa puisi, pidato, stand-up comedy, dan mendongeng. Konsep tersebut menjadi bagian dari upaya Yayasan Lenggok Rokan Hulu untuk membangun budaya literasi yang tidak hanya berorientasi pada kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga menghubungkannya dengan kesehatan, kreativitas, serta budaya daerah.
Semangat tercermin melalui slogan kegiatan “Sehat Raganya, Cerdas Pikirannya, Tumbuh Literasinya.” Melalui konsep tersebut, masyarakat diajak menjadikan kegiatan membaca, bergerak, dan berkarya sebagai bagian dari aktivitas bersama keluarga, sahabat, maupun lingkungan masyarakat. Kegiatan ini juga mendapat dukungan dari sejumlah unsur pendidikan, komunitas, dan pemerintah daerah yang tercantum dalam materi publikasi, di antaranya Universitas Rokania, Universitas Rokan Hulu, Yayasan Lenggok Rokan Hulu, serta Pemerintah Kabupaten Rokan Hulu.
Kehadiran berbagai unsur tersebut diharapkan dapat memperkuat gerakan literasi di Kabupaten Rokan Hulu sekaligus membuka lebih banyak ruang bagi masyarakat untuk mengembangkan kemampuan membaca, menulis, dan berkarya. Jhandika, Mahasiswa PBSI Universitas Rokania mengatakan “Menurut saya, novel yang dibahas oleh Kak Habibah sangat bagus dan menarik, terutama dari perjalanan hidup seorang tokoh bernama Bahar. Ia adalah seseorang yang dulunya memiliki perilaku jahat, tetapi kemudian mencoba memperbaiki diri dan berubah menjadi orang yang lebih baik.
Namun, setelah Bahar berusaha menjadi pribadi yang lebih baik, ternyata perjalanan hidupnya tidak semudah yang dibayangkan. Berbagai cobaan datang silih berganti. Ia harus menghadapi kehilangan orang-orang yang disayanginya. Bahkan, ia dihadapkan pada dua pilihan yang tidak mudah, yaitu pergi menunaikan ibadah haji atau membantu tetangganya yang sedang mengalami kesusahan. Dari kisah Bahar tersebut, menurut pandangan logika saya, apa yang dialaminya merupakan bagian dari konsekuensi atas perbuatan yang pernah dilakukannya dahulu. Ada sebuah nasihat kehidupan yang selalu saya ingat, yaitu apa yang kamu tanam, itulah yang akan kamu tuai.
Artinya, setiap perbuatan yang kita lakukan pasti memiliki konsekuensi. Apa yang pernah kita lakukan kepada orang lain, baik ataupun buruk, suatu saat bisa kembali kepada diri kita sendiri. Jadi, dari kegiatan BELESENG hari ini, saya mendapatkan sebuah pencerahan bahwa kita harus selalu berhati-hati dalam bertindak dan memperlakukan orang lain. Jangan pernah merasa bahwa perbuatan buruk yang kita lakukan hari ini tidak akan memiliki dampak di kemudian hari. Sebab, kehidupan memiliki caranya sendiri untuk mengajarkan kita tentang akibat dari setiap perbuatan. Itulah pelajaran yang saya dapatkan dari BELESENG hari ini.” Tegas Juandika.
Dengan demikian, BELESENG tidak sekadar menjadi kegiatan membaca buku, tetapi berkembang menjadi ruang pertemuan antara literasi, kesehatan, sejarah, budaya, bahasa daerah, dan kreativitas generasi muda. Melalui kegiatan ini, masyarakat diajak melihat bahwa membaca dapat dilakukan dengan cara yang menyenangkan dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Buku menjadi jembatan untuk berdiskusi, sementara sastra daerah menjadi sarana untuk mengenal kembali identitas budaya Rokan Hulu. BELESENG diharapkan terus menjadi gerakan literasi yang mampu mendekatkan buku kepada masyarakat sekaligus mendorong generasi muda untuk mencintai budaya dan bahasa daerah. Kegiatan Beleseng ditutup dengan mengampanyekan “Sehat Raganya, Cerdas Pikirannya, Tumbuh Literasinya. Salam Literasi!”.
Penulis
: Allifa Nadlira (Mahasiswa PBSI Universitas Rokania).
Editor
: Arnita Adam.
Masyallah keren bangetš¤©
BalasHapus