Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Sunyi yang Menunggu di Bawah Hujan

SUNYI YANG MENUNGGU DI BAWAH HUJAN

Rintik air terus membasahi jalanan sore ini, rintikan yang entah sudah ke berapa kali ia turun ke bumi sejak awal bulan ini. Di bawah atap kecil halte sekolah, Ghea berdiri dengan tas selempang di pelukannya. Halte yang biasa digunakan untuk menunggu atau sekadar meneduh dari derasnya hujan.

Namun tidak dengan Ghea. Ia berharap seseorang akan muncul. Seseorang yang sudah lama tidak ia temui. Setiap kali hujan turun, ia selalu berharap dapat bertemu dengannya kembali. Sebab hanya rintikan hujan yang mampu mengingatkannya pada seseorang yang dulu pernah menemaninya berdiri menunggu hingga senja usai.

Sudah seperti langganan, ia meneduh di halte itu. Langit cerah tak pernah membawanya ke sana, bahkan untuk sekadar singgah. Namun saat langit meredup menjadi abu-abu dan awan mulai menjatuhkan air ke bumi, di saat itulah ia kembali. Hujan menjadi bahasa yang mengantarnya pulang pada kenangan yang lebih halus dari sekadar kata-kata.

Sabian Adi Gunna bukanlah seorang puitis, juga bukan penyusun metafora ulung. Namun cara ia merangkai kalimat sering kali menyentuh hati Ghea tanpa ia sadari. Dari caranya menunggu Ghea pulang sekolah, hingga caranya menatap hujan yang jatuh perlahan dari langit.

Semua itu seperti isyarat yang tak semua orang mengerti. Terkadang cinta memang membutuhkan keheningan agar tak menuntut apa pun. Mereka tak pernah memiliki status yang jelas, hanya dua hati yang diam, entah sedang menunggu apa. Namun dalam diam itu, rasa tumbuh perlahan, seperti bunga tulip yang mekar tanpa suara, atau hujan bulan Juni yang hadir tanpa penjelasan.

Malam ini hujan turun lebih deras dari biasanya, seperti hati yang tak lagi pandai menahan tangis. Rasa cemas menyelimuti Ghea. Sejak siang, Bian tak kunjung membalas pesannya. Hari berganti minggu, minggu menjelma bulan, dan Bian menghilang tanpa pamit.

Angin membawa kabar yang tak pernah benar-benar diucapkan: Bian harus pergi bersama keluarganya. Terlalu cepat, tanpa kalimat perpisahan. Kadang manusia datang hanya untuk meninggalkan sunyi yang harus kita pahami sendiri.

Aroma petrichor memenuhi udara. Ghea kembali mengingat Bian yang entah kini berada di mana. Ia bangkit dari duduknya dan bersiap pulang, meyakinkan hati untuk berhenti berharap. Namun langkah kaki lain menyusul, iramanya kian menyatu dengan langkahnya.

Seorang pria berjalan di bawah hujan tanpa payung. Rambutnya basah, wajahnya tersipu rintikan air. Cara melangkahnya mantap, membawa ketenangan yang telah lama dirindukan. Jantung Ghea berdegup tak karuan.

“Bian…?” suara Ghea bergetar, nyaris tak terdengar.

Pria itu berdiri di depan halte. Gerakannya mengusap dahi masih sama seperti dulu. Senyum hangat itu kembali, senyum yang pernah memberi warna pada hidup Ghea.

“Hai, Ghea.”

Hujan seolah menahan napas, membiarkan hanya suara mereka yang terdengar.

“Kau kembali?”

“Iya, aku kembali,” ucap Bian dengan suara bergetar. “Halte ini tak lengkap tanpa kehadiranmu.” Hati Ghea bermekaran kembali, seperti anyelir yang mekar saat hujan pertama turun.

“Kau menghilang,” ucap Ghea lirih. “Tanpa penjelasan apa pun.”

Bian menunduk. “Aku menyesal, Ghe. Keluargaku membutuhkanku. Aku takut kamu melupakanku.”

Ghea tertawa kecil. “Aku selalu menunggumu di sini, meski tak ada yang memintaku.”

Bian mengeluarkan payung kecil berwarna biru dari tasnya. Payung yang dulu terlalu kecil untuk berdua, namun cukup untuk menyatukan mereka.

“Aku masih menyimpannya,” ucap Bian. “Payung ini hanya milikmu.”

Dengan hati-hati ia membukanya. Warna payung itu memang telah pudar, namun kenangan di bawahnya tetap bertahan, meski digerus waktu.

Di bawah payung itu, bahu mereka kembali bertabrakan. Jarak diciptakan hanya untuk menemukan jalan pulang.

“Aku tidak menunggu hujan,” bisik Ghea.

“Aku menunggumu, Bian.”

Senyum Bian merekah. “Aku tahu. Itulah sebabnya aku kembali.”

“Hujan selalu mengajarkan kita tentang diam,” gumam Bian.
“Dan dalam diam itu… aku selalu menemukanmu.”


Biodata Penulis:

Eka Nurhaeni
Universitas Islam Negeri Siber Syekh Nurjati Cirebon
Program Studi Tadris Bahasa Indonesia




1 komentar untuk "Sunyi yang Menunggu di Bawah Hujan"

  1. KEREN BANGET LOVYU🫰🏻🫰🏻🫰🏻🫰🏻🫰🏻

    BalasHapus
Kami menerima Kiriman Tulisan dari pembaca, Kirim naskah ke dengan subjek sesuai nama rubrik ke https://wa.me/+6282388859812 klik untuk langsung terhubung ke Whatsapp Kami.