Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

The Wong Phan is Back_Jilid 6 karya Arnita Adam

 

What’s The Matter

L

i, loe di mana?” ujar Anton dari seberang sana.

“Gue di rumah. Kenapa, Ton?” tanyaku datar.

“Ada pertandingan NBA, loe mau ikut nonton gak? LA Lakers Vs Chicago Bulls, loe mau nonton gak? Gue udah pesen tiketnya,” ucap Anton.

“LA Lakers? Itu tim favorit gue, mau lah.” Aku langsung menyetujuinya.

“Ya udah nanti jam 3 sore aku jemput kamu di rumah,” ucap Anton.

“Gak usah, kita ketemu di kampus aja,” ucapku sambil menutup telepon.

“Janjian sama siapa?” suara bass yang muncul dari balik pintu mengagetkanku, Kak Ben berjalan santai ke arahku.

“Ehm, bukan urusan kamu,” ujarku masih kesal dengannya.

“Oh, nanti sore jangan ke mana-mana, aku ada klien penting yang bakal datang ke rumah,” ucap Kak Ben.

“Tapi aku ada janji dengan ...,”

“Batalkan, aku gak mau tahu,” ujarnya sambil berlalu.

***

Dan di sinilah aku sekarang, bukannya di lapangan basket dengan Anton, tapi malah di ruang tamu bersama Kak Ben yang dari tadi tersenyum ke arahku. Aku tahu dia cuma akting di depan kliennya.

“Tersenyumlah,” bisik Ben di telingaku.

Aku sedikit risih dengan tangannya yang posesif di pinggangku. “Aku lagi kesel, gimana mau senyum?” bisikku di telinganya.

Cup ... Dia mengecup pipiku sekilas, namun mampu membuat darahku membeku. “Kamu cantik,” gumamnya dengan tulus.

Tuhan, jantungku apa kabar? 

 

Party

L

oe kemana kemarin sore?” ujar Anton berbisik di telingaku. Dia pasti kesal karena aku ingkar janji. Salahkan saja Ben! Hapt ...

“Sorry gue kemarin gak bisa dateng,” sesalku.

“Gara-gara Ben?” tebak Anton, aku mengangguk.

“Semenjak loe menikah dengannya, loe berubah, Li,” gumam Anton.

“Gue tetep gue yang dulu kok,” ujarku menyakinkan. Anton terlihat tampan dengan setelan jasnya, maklum karena ini pesta, dia berdandan lebih maksimal.

“Gue ke mushola dulu, mau shalat Duhur,” ujarku sambil berlalu.

***

Langkahku membeku ketika melihat Kak Ben di ujung sana, dia telihat sedang berdiri dengan beberapa orang di hadapannya. Dengan peci putih dan baju koko hitam yang kontras dengan kulit putihnya.

“Aku tampan, ya?” Aku menoleh dan kudapati Kak Ben tengah berdiri di belakangku. Ya Tuhan ... sudah berapa menit aku berdiri di sini tanpa sadar?

“Eng ... enggak ... ge-er kamu!” ucapku gugup, bisa kupastikan pipiku blushing sekarang.

“Lalu ngapain kamu bengong di sini?” tanya Kak Ben.

“Aku ... aku .... Aku mau shalat kok,” ujarku gugup, lalu meninggalkan dia yang tertawa keras di belakangku.  Memang Kak Ben sering lalu lalang ke kampus setelah dananya dikucurkan untuk membangun mushola di area itu.

  

Pukulan Sang Master

L

i, sekarang loe pilih Ben apa gue?” tanya Anton dengan wajah tergesa begitu dia melihatku dan Kak Ben memasuki pelataran kampus.

Pagi ini Kak Ben mengantarku, tumben sekali memang. Kak Ben merarik pinggangku posesif, bahkan terkesan mencengkeramnya.

“Ish, apaan sih, Kak!” gumamku kesal pada Kak Ben.

“Maksud loe apa sih, Ton?” tanyaku tak mengerti.

“Gue pengen loe milih gue apa Ben?” tanya Anton.

“Dia pasti akan milih gue,” ujar Ben dengan suara percaya diri, matanya mengkilat marah.

“Gue nggak ngerti sama loe, Ton” ujarku mulai kesal.

“Gue sayang sama loe, gue cinta sama loe!!!” teriak Anton.

Kurasakan tangan kekar yang di pinggangku mengendur. Bugh!!! Dengan satu pukulan, Kak Ben melayangkan tinju ke arah Anton.

“Hentikan!!!” jeritku namun mereka abaikan, mereka saling pukul.

Anton berhasil melayangkan tinjunya kepada Kak Ben, lalu Kak Ben tersungkur akibat jegalannya, langsung dia memukuli Kak Ben dengan gelap mata. Kak Ben yang tak siap dengan serangan Anton, tak bisa berbuat banyak.

“Cukup Ton!!! Jangan pukul orang yang gue cintai!!! Gue milih Kak Ben!!! Gue cinta sama dia!!!” teriakku keras yang sontak membuat Anton menghentikan pukulannya.

Anton hanya diam tanpa berkata-kata, dia meninggalkanku dengan sorot mata terluka.

  

Finally

A

w, sakit tahu,” Kak Ben berteriak cukup keras ketika kuoleskan obat merah ke luka memar di bibirnya.

“Lebay deh, salah sendiri. Siapa suruh berantem?” ejekku padanya sambil menjulurkan lidah.

Kak Ben mencekal lenganku sebelum jemariku berhasil menyentuh lukanya lagi. “Kamu benar mencintaiku?” tanya Kak Ben tiba-tiba yang langsung membuatku membeku.      

“Aku ... aku ...,”

Kak Ben meraihku dalam pelukannya, dapat kurasakan jantungnya berdetak keras. “Aku mencintaimu, maafkan aku,” lirih Kak Ben, namun dapat kudengar.

“Aku juga mencintaimu, jangan ceraikan aku, Kak,” lirihku.

Kak Ben mengecup puncak kepalaku. Lalu melepaskan pelukannya dan menangkup kedua pipiku.

“Aku gak akan menceraikanmu, asal kamu mau janji satu hal,” gumam Kak Ben.

“Apa?” tanyaku penasaran.

“Kamu mau kan bikin anak denganku?” bisiknya di telingaku.

Aku ingin sekali menjitak kepalanya, bahasanya telalu vulgar, tapi bagi kami yang sudah menikah sih mungkin bukan hal yang tabu.

Aku mengangguk pelan, dia tersenyum.

“Jadi kapan kita bisa mulai? Sekarang?” tanyanya dengan wajah menyeringai.

“Aw ...!!” Kak Ben berteriak keras ketika aku menekan lukanya dengan kapas yang penuh dengan obat merah.

“Sukurin, masih sakit sudah mikir begituan! Hapt!!!” gumamku kesal, namun sedetik kemudian kami tertawa.

Aku beruntung memiliki Kak Ben, I Found you now, Ben. I love you.

***END***

 

My Empress From The Past

Kamu  adalah masa depan yang hadir dari masa lalu. Jika aku jatuh, maka biarkan jatuh dalam cintamu.

I love you … You are my empress from the past. 

  

WHEN I LOST YOU

B

en menatap Lia khawatir, berkali-kali hatinya bergejolak. Haruskah kali ini melepaskan gadis yang mulai dicintainya?

“Kamu yakin akan pulang ke Indonesia?” tanya Ben sambil melonggarkan dasi yang dipakainya. Kemeja biru muda yang dikenakannya tampak kusut.

Lia mengangguk mantap, lalu menatap Ben sekilas.

“Iya, Kak. Aku yakin, lagian aku sudah tak ada hak lagi untuk tinggal di sini,” tutur Lia lembut. Mereka menggenapkan usia pernikahan 2 tahun, sehingga warisan Franklin masih jatuh kepada Ben.

Ben mendekati Lia, dengan lembut dia menatap mantan istrinya itu. “Kamu jangan ngomong gitu, meskipun kita telah bercerai, tapi kamu tetap bagian dari keluarga ini.”

“Aku tahu, Kak. Tapi gak mau ngerepotin keluarga ini. Lagian apa kata orang? Kita sudah bercerai, tapi masih tingal serumah,” celetuk Lia sambil memasukkan pakaian ke dalam koper besar, lalu menguncinya.

“Kamu itu gak ngerepotin, Li. Kalau emang kamu gak mau tinggal di rumah ini, aku bisa beliin rumah atau kamu pengen dibeliin apartemen?’ tawar Ben pada Lia.

Lia menggeleng pelan. Ia tak mau merepotkan Ben lagi. “Nggak, Kak. Aku gak mau!” tegas Lia.

Ben terlihat kecewa. Bagaimanapun Ben masih mencintai mantan istri yang dinikahinya dua tahun yang lalu. Hampir dua tahun menikah, tapi mereka tak pernah melakukan hubungan suami istri, hingga akhirnya memutuskan untuk bercerai

“Kamu itu selalu keras kepala,” decak Ben sambil bersedekap.

Lia menatap Ben tajam. “Kamu juga selalu arogan,”  balas Lia dengan seringaian.

Lia kembali memasukkan barang-barangnya ke dalam koper satunya, kali ini ukurannya lebih kecil.

“Kamu gak mau nunggu bulan depan aja baliknya? Nanti aku anterin kamu, kalau bulan ini aku gak bisa, soalnya gak bisa batalin jadwal di kantor,” gerutu Ben.

Lia menatap Ben sambil tersenyum kecil, “Gak usahlah, Kak. Aku bisa pulang sendiri.”

Lia tahu Ben sangat sibuk. Sebagai seorang CEO, Ben memang bisa saja membatalkan jadwal kantor semaunya, tapi bukan berarti harus membatalkan semua meeting penting yang akan mempengaruhi kelangsungan bisnis.

“Tapi aku khawatir sama kamu, kalau terjadi apa-apa gimana?” ujar Ben cemas.

Lia menangkup pipi Ben dengan kedua tangannya. “Kak Ben sayang, kamu tenang aja deh. Aku bakal baik-baik saja. Lia bakal terus kabarin Kak Ben, jangan over khawatir kayak gitu deh,” ujar Lia sambil mencubit pipi Ben.

“Gimanapun kamu itu tanggung jawabku, Li. Kamu pulang minggu depan aja deh, mau, ya?” rayu Ben pada Lia.

“Aish ... mulai bawel deh kakak ini. Aku gak bakal kenapa-kenapa. Pokoknya Kakak tenang aja,” ujar Lia menenangkan Ben yang akhirnya mengalah dan menurut.

“Jam berapa pesawat kamu take off?” tanya Ben.

“Jam delapan besok pagi,”  jawab Lia singkat.

“Besok aku anter, jangan lupa bangunin, ya?” pesan Ben pada Lia, lalu beranjak menuju pintu.

Lia mengangguk pelan. Ben, andai saja kamu datang di kehidupanku bukan karena terpaksa, mungkin aku akan mencintaimu.

***

Lia bangun lebih awal, hampir sepuluh kali dia mengetuk kamar Ben, namun tak ada jawaban. Akhirnya dia memutuskan untuk masuk ke kamar Ben yang memang tidak terkunci. Wangi parfum aftershave berhamburan dari kamar dengan dekorasi minimalis bercat cokelat dan variasi putih itu.

Lia memunguti satu per satu baju Ben yang berserakan di lantai. Semenjak Ben tak sekamar lagi dengan Lia, dia berubah. Padahal dulunya Ben adalah sosok perfectsionis yang tak suka jika kamarnya berantakan.

Wajah tampan, dengan alis tebal, dan bibir tipis itu sedang tidur di sofa, ia terlihat damai dalam tidurnya. Lia mendekati Ben, lalu berjongkok di hadapannya.

“Kak ...,” panggil Lia pelan sambil menepuk-nepuk lembut pipi Ben.

Ben menggeliat kecil, namun kembali tertidur. Sekali lagi Lia menepuk pipi Ben lembut.

“Uh, dasar ... ganteng-ganteng susah dibangunin,” gerutu Lia menyerah. Dia tak mau membangunkan Ben lagi.

Dengan kesal Lia berdiri, namun belum sempat kakinya menjauh, langkahnya terhenti. Lia menoleh, Ben tengah memandangnya dengan senyum jahil dan mata setengah mengantuk.

“Aku ganteng, ya?” gumam Ben percaya diri.

“Eng ... ehm ...,” Lia salah tingkah, dia jadi bingung harus berbicara apa. Rupanya Ben mendengar Lia mengomel.

“Nggak,” bohong Lia, “Cepetan mandi gih, Kak. Aku bisa telat ke bandara nih,” gerutu Lia.

Ben melirik jam di tangannya, lalu mengangguk pelan. “Sebenarnya aku lebih suka kalau kamu telat ke bandara,” celetuk Ben sambil mengambil handuk di walking closet.

“Kenapa?” tanya Lia heran.

“Biar kamu terus di sampingku,” ujar Ben sambil tersenyum. Pipi Lia bersemu merah.

“Dasar gombal,” desis Lia pura-pura cemberut, padahal dalam hatinya sangat senang mendengar Ben berkata seperti itu.

***

Los Angeles International Airport

Lia dan Ben duduk tanpa saling bicara, mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Sebenarnya mereka sama-sama tak rela jika harus berpisah. Ben sibuk mengotak-atik i-phonenya sambil sesekali melirik Lia.

Gambar Lia yang sedang tersenyum di wallpaper gawainya seolah bicara pada Ben untuk tak membiarkan gadis pencuri hatinya itu pergi. Namun, logikanya menolak mentah-mentah. Ben tak ada hak lagi untuk mengatur Lia, apalagi memintanya untuk tetap tinggal.

“Li,” Ben menatap Lia dengan mata setengah berkaca.

“Hmm, iya. Kenapa, Kak?” ujar Lia sambil menutup majalah yang dibacanya dan mengalihkan tatapannya ke Ben.

“E …. Nggak papa,” ujar Ben menangguhkan ucapannya.

Ben kembali terdiam, pikirannya sibuk kembali membayangkan bagaimana hidupnya tanpa Lia.

“Li ...,” ujar Ben lagi.

“ Iya, Kak ... kenapa?” tanya Lia lagi.

“Nggak papa,” ulang Ben ragu untuk bicara.

Lia mendecak kesal pada Ben, “Sekali lagi Kakak manggil aku kayak gitu lagi, Kakak berhak dapat piring pecah,” gumam Lia sambil menahan senyum.

Belum sempat Ben membalas ledekan Lia, panggilan untuk penumpang pesawat tujuan Indonesia terdengar dari speaker besar di Bandara Los Angeles.

“Ah, sudah saatnya aku harus pergi, Kak ...,” ujar Lia sambil tersenyum.

Ben berdiri, lalu menatap Lia, wajah tak rela terlihat di sana.

“Kakak, jaga diri baik-baik. Jangan banyak begadang, makan yang teratur, jangan buat kamar jadi berantakan dan jangan …,”

Jemari Ben memotong ucapan Lia. Dengan cepat Ben menarik Lia dan memeluknya.

“Kamu cerewet sekali hari ini,” ujar Ben saat  membisikkan kata-katanya tepat di samping telinga Lia.

“Kak ...,” Lia mendadak spechless.

“Ssst ... jangan banyak bicara, aku hanya ingin memelukmu kali ini,” bisik Ben lagi.

Ben semakin mengeratkan pelukannya. sehingga membuat Lia tak ingin meninggalkannya.

“Aku mencintaimu, Li ...,” ujar Ben lirih, namun rasanya ucapan Ben terlambat. Hati Lia bukan lagi miliknya.




4 komentar untuk "The Wong Phan is Back_Jilid 6 karya Arnita Adam"

  1. Nama : Lutfia Mutia R.
    Asal Sekolah : SMA PGRI Pekanbaru
    Pada awalnya aku sangat senang karena akhirnya Lia dan Ben sudah saling mencintai dan menyadari perasaan mereka. Tetapi kenapa mereka harus berpisah..

    BalasHapus
  2. Nama: Naya Aprilia Andini.
    Asal Sekolah: MA CENDEKIA BANGSA.
    Komentar: padahal hubungan mereka selucu itu tapi kenapa harus pisah?sayang bgt hubungan nya

    BalasHapus
  3. Qonita Rifda Syakira10 Agustus 2026 pukul 20.31

    Assalamu'alaikum wr.wb.
    Nama : Qonita Rifda Syakira
    Asal Sekolah : SMA Negeri 9 Pekanbaru

    Komentar:
    Bab 6 The Wong Is Back menarik karena alur cerita dan konflik membuat pembaca ingin mengetahui kelanjutan kisah para tokohnya. Penggunaan dialog juga membantu menggambarkan tokoh dan penokohan, sesuai dengan materi unsur intrinsik novel dalam pelajaran Bahasa Indonesia.


    Kritik & Saran:
    Beberapa bagian cerita terasa cukup panjang sehingga dapat membuat pembaca kurang fokus. Dari segi Bahasa Indonesia, penggunaan kalimat efektif dan pilihan kata (diksi) dapat lebih diperhatikan agar cerita lebih mudah dipahami.

    Saran saya, penulis sebaiknya mempertahankan penggambaran tokoh dan dialog yang menarik, tetapi membuat beberapa kalimat lebih ringkas dan jelas. Selain itu, hubungan antarkalimat dan antarparagraf perlu diperhatikan agar kohesi dan koherensi cerita semakin baik.

    BalasHapus
  4. Nama: Rara Humaira
    Asal Sekolah:MA cendekia bangsa

    pada jilid 6 iniiii pada bagian awal hubungan mereka sangat sosweet tapi kenapa mereka jadi untuk bercerai😔😔,lagi lagi mereka mis komunikasi,dan juga mereka tidak mau menurunkan gengsi nyaaaa,pesan yg bisa di ambil pada jilid ini andai saja mereka saling mengungkapkan perasaan nya mungkin sama perceraian itu tidak terjadi…

    BalasHapus
Kami menerima Kiriman Tulisan dari pembaca, Kirim naskah ke dengan subjek sesuai nama rubrik ke https://wa.me/+6282388859812 klik untuk langsung terhubung ke Whatsapp Kami.