The Wong Phan is Back_Jilid 7 karya Arnita Adam
THE BAD FEELING
|
L |
ia tiba di Bandara Sultan Syarif ketika hari sudah malam.
Dering i-phonenya terdegar keras, Lia segera merogoh tasnya, mengeluarkan gawai
pemberian Ben, dan mengangkat telponnya
“Kamu udah sampai?” Belum sempat Lia
mengucap salam, Ben mendahuluinya.
“Udah, Kak,” ujar Lia.
“Sekarang lagi di mana?” tanya Ben
dengan nada masih khawatir, entah kenapa sejak melepas kepergian Lia di Bandara
Los Angeles, hatinya tak tenang.
“Masih di bandara, Kak. Ini lagi nungguin travel gak dateng-dateng,”
gerutu Lia.
“Sabar, nanti juga datang kok,” ujar
Ben menenangkan Lia.
Tut ... tut ... Ada nada panggilan lain
di ponsel, sebuah nomor asing yang tak dikenalnya.
“Kak, sebentar ya? Ada telepon masuk.
Mungkin dari pihak travelnya,” ucap Lia, lalu menghold panggilan Ben.
“Halo, assalamu’alaikum,” sapa Lia pada
suara di seberang sana.
“Lia ... Ini benar nomor Aprilia Rastika?” tanya suara tak asing di seberang
sana.
“Iya benar, ini dengan siapa, ya?”
tanya Lia penasaran.
“Ini aku Ayex, masih ingat gak?” tanya suara di seberang.
Lia mengerutkan kening, ingatannya
melayang ke masa SMK, jangan-jangan yang sedang berbicara dengannya ini adalah
Ayex yang ....
“Kamu gak inget aku, Li? Aku Ayex,
senior kamu di SMK, kaka kelas di ekstrakurikuler Taekwondo, ingat gak?” tanya
Ayek.
Wajah oriental dengan alis tebal dan
tubuh tegap itu langsung tergambar jelas di pikiran Lia begitu nama Ayex
disebut.
“Kamu Ayex? Ay ... Ayex?” tanya Lia, dia tak menyangka bisa
berbicara dengan mantan pujaan hatinya waktu di SMK dulu.
Namun hanya pengagum rahasia, Lia tidak benar-benar pernah
dekat dengan Ayex. Hal itu membuat Lia semakin penasaran akan Ayex.
“Iya ini aku, kamu apa kabar, Li?” tanya Ayex santai.
“Aku baik, kamu sendiri ngilang ke
mana? Tujuh tahun loh kamu tuh gak
ngasih kabar, temen-temen banyak yang nanyain kamu,” celoteh Lia panjang lebar.
“Ceritanya panjang, yang jelas sekarang
aku kangen kamu,” ucap Ayex.
Deg ...
Hati Lia berdesir pelan, sekalipun itu
cuman gombalan, tapi mampu membuat hati berdesir dan detak jantungnya berjalan tak normal.
“Kamu itu gombal,” celetuk Lia.
“Gombal dikit gak papa dong sama cewek
cantik,” celetuk Ayex dibarengi dengan tawa renyahnya.
“Kamu sekarang lagi di mana, Li?” Ayex menanyakan keberadaan Lia.
“Aku di bandara, lagi nunggu travel gak
dateng-dateng, kesel deh,” gerutu Lia.
Ayex tersenyum kecil, “Memang mau ke
mana, Li?”
“Ya pulang ke rumah lah,” jawab Lia
singkat.
Tring! Sebuah tanda pesan masuk muncul
di i-phone, Lia berdecak kesal. Travel yang dipesannya mengalami pecah ban dan
tak bisa menjemput. Suatu kebetulan yang sempurna, lengkap sudah kekecewaaan
Lia.
“Kenapa, Li?” tanya Ayex yang mendengar
decakan Lia.
“Travelku gak bisa dateng, nyebelin
deh. Terus mau nyari travel di mana, udah malam gini,” Lia
mulai mengomel.
“Jangan cemberut gitu, nambah jelek ah.
Kebetulan aku ada usaha travel di Riau, kamu mau gak pake jasa travelku? Kalau
mau, nanti biar anak buahku yang jemput kamu,” tawar Ayex.
Tanpa pikir panjang, Lia langsung
menerima tawaran Ayex. “Oke boleh deh,” lalu memutuskan panggilan Ayex. Terlalu
asik mengobrol dengan Ayex, Lia melupakan Ben.
“Halo, Kak Ben. Masih di sana?” tanya
Lia setelah beberapa saat menyambungkan kembali panggilannya.
“Iya. Lama banget sih, ngobrol sama
siapa?” ujar Ben kesal.
“Kamu tahu gak? Aku seneng banget.
Barusan ditelpon Kak Ayex, aku nggak nyangka dia masih ingat aku, bahkan dia
ngomong kangen segala lagi. So sweet ... deh, Kak. Belum lagi dia nawarin travelnya buat
ngejemput aku sekarang, dia baik kan?” gumam Lia girang.
“Lebay kamu, dibilangin kangen dikit
aja langsung menye-menye. Dasar
cewek,” gerutu Ben asal.
“Bilang aja kamu iri karena gak ada
yang bilang kangen sama kamu, dasar Kak Ben menyebalkan!” decak Lia kesal.
“Gue itu sebenernya
cemburu, Li. Tapi kenapa kamu gak pernah peka sih,” gumam Ben dalam hati
saat Lia masih berbicara.
“Kamunya aja yang kege-er-an. Jangan gampang digombalin sama
cowok, terutama cowok asing yang nongol tiba-tiba aja di hidup kamu. Bisa jadi dia ada niat jahat sama kamu!” Ben
memperingatkan.
Namun Lia terlihat tak acuh, ia malas
mendengarkan ceramah Ben, “Mulai deh negative
thinking sama orang, bisa gak Kak Ben ini mikir yang positif-positif aja?
Heran deh aku,” Lia berdecak kesal.
Ben memang tak selalu gampang percaya
dengan orang. Bahkan dalam hidupnya cuma ada tiga orang yang pernah mendapat
kepercayaannya, kedua orang tuanya dan Lia.
“Kamu itu dibilangin malah nyeramahin
aku. Kamu itu terlalu polos dan gampang percaya sama orang. Kali ini dengerin
aku, coba kamu pikir, bagaimana Ayex bisa tahu nomer hape kamu? Terus tiba-tiba
aja nawarin kamu travel? Ini aneh! Menurutku ini bukan suatu kebetulan,” Ben
beralibi.
“Tau ah, gelap. Capek ngomong sama Kak
Ben, gak pernah bisa positive thinking
sama orang!” ujar Lia sambil menutup telepon,
terlanjur terbawa emosi.
Ben menghela napas panjang. Sulit
sekali memberitahu Lia bahwa dia peduli dan tak ingin terjadi sesuatu yang
buruk. Ben bukan tipikal pria yang bisa bersikap manis, juga bukan tipe pria
yang romantis. Bagi Ben, cinta dalam hidupnya hanya datang sekali, walaupun
sekarang ia tak dapat menggenggam lagi.
REALLY
LOST YOU
|
M |
obil SUV putih
menghampiri Lia di depan
Bandara, seseorang
berpakaian hitam menghampiri sambil tersenyum.
“Nona Lia, ya?” tanya pemuda itu pada
Lia.
Lia mengangguk. “Ini mobil travel milik Kak Ayex kan?” tanya
Lia sedikit bimbang, untuk seukuran travel, mobil ini terlalu mewah baginya.
“Iya, Non. Mari silakan masuk,” ujar
pemuda itu mempersilakan.
Lia merasa tak yakin kalau ini mobil travel yang dikirim
Ayex, tapi jika memang bukan mobil travel Ayex, bagaimana orang ini tahu namanya?
“Ke Daerah Sail kan?” tanya Lia
memastikan.
“Iya Neng, mobilnya ke daerah Sail,
kami juga mau ke arah sana kok,” celetuk seorang pemuda berjambang tipis dengan
topi hitam yang duduk di pojokan mobil.
Ada dua penumpang lain yang rata-rata
seusia dengannya, mereka tersenyum ke arah Lia.
“Mari Non, sini saya bawakan kopernya,”
ujar sang sopir mengambil alih
koper Lia, lalu memasukkannya ke bagasi.
Lia dengan ragu melangkah masuk ke
mobil, lalu duduk di dekat jendela. Dering Lagu You Took My Heart Away
terdengar dari ponsel di balik sakunya, nama Ben tertera di layar i-phone Lia.
“Ih ... apa lagi sih Kak Ben, ini bawel
banget, pasti mau nyeramahin lagi,” gumam Lia kesal. Dengan
malas mengangkat telepon dari Ben.
“Apa?!” celetuk Lia dengan nada tinggi sebelum Ben
mendahuluinya.
“Kamu lagi di mana?” tanya Ben
menyembunyikan kekhawatirannya.
“Aku udah di travel, ini mau pulang,”
jawab Lia ketus.
“Jadi kamu naik travelnya Ayex? Lia ... kenapa gak cari taksi aja sih?” decak
Ben sangat kesal dengan suara keras.
Lia sampai menjauhkan hape dari
telinganya. “Bisa gak sih ngomongnya woles
aja! Lia sebel sama Kak Ben, udah ah ... Ngomong sama Kak Ben
cuman bikin emosi,” ujar Lia mematikan teleponnya.
Mobil yang
ditumpangi Lia melaju pelan melewati jalan yang sepi. Lia merasa asing dengan
jalanan yang dilalui, dia sangat hapal jalan menuju rumahnya, namun jalur yang
dilalui mobil ini berbeda.
“Mas, ini mau ke mana ya? Jalan ini kayaknya bukan ke arah Sail deh,”
tanya Lia pada sang sopir.
Dari balik kaca spion sang sopir
menyeringai, mendadak firasat Lia tak enak. Belum sempat sang sopir menjawab,
sebuah tangan besar mencekal lengan Lia kasar, lalu mengikatkan kedua tangannya
di balik kursi yang didudukinya. Pemuda berjambang tipis itu
merampas ponsel dari tangan Lia.
“Mau apa kalian? Lepasin!!!
Lepasin!!!” ujar Lia memberontak.
Salah satu pemuda yang mengenakan
kacamata hitam membungkam mulutnya dengan kain. “Diam, kamu! Jangan banyak
bicara! Atau kubunuh kamu sekarang juga,” ancam sang pemuda
sambil mengeluarkan sebuah pisau dari balik sakunya.
“Ngg ... hmm ... eng ...,” Lia berusaha
memberontak. Namun sayang, tenaganya masih kurang kuat dibanding kedua lelaki yang mencekal tangannya.
“Halo, Bos. Target sudah kita
lumpuhkan, kami akan segera ke markas,” ujar sang sopir pada seseorang di
seberang sambungan teleponnya.
Bos?
Siapakah sebenarnya yang disebut bos oleh sang sopir, Lia berfikir dengan mengerutkan keningnya.
Sedetik kemudian sebuah aroma asing
menusuk hidungnya, hanya dalam beberapa detik pandangannya kabur, Lia jatuh
pingsan.
***
Ben sedang mondar-mandir di ruangannya.
Hampir dua jam dia menghubungi Lia, namun tak ada jawaban.
“Lia ... kamu di mana sih?” lirih Ben
dengan nada khawatir.
Lia pulang ke Indonesia untuk
menyelesaikan gelar doktornya, sebenarnya Ben tak setuju dengan keputusan itu.
Namun Ben tak ada hak lagi untuk mengatur kehidupan Lia. Walaupun dalam hati
Ben sangat menyayangi, tapi bagi Lia, Ben bukanlah lagi bagian istimewa dalam
cerita hidup.
***
Saat pertama kali Lia membuka mata,
yang dilihatnya adalah ruangan putih dengan aroma khas obat-obatan. Dengan
sebuah kursi kecil dan ranjang besar tempatnya terbaring.
Lia mengerjapkan mata perlahan. Rasa
pusing masih terasa di kepalanya. Ada beberapa selang infus dengan jarum
yang tertancap di tangannya.
Ceklek! Pintu
kamar itu terbuka, Ayex muncul dari balik pintu. Wajah tampan dengan alis
tebal, mata cokelat itu berjalan santai ke arah Lia. Lia
hampir tak percaya mantan pujaan hatinya itu kini mendekatinya, lalu duduk di
samping Lia.
“Kak ... Ayex ...,”
ujar Lia tak percaya dengan mata berkaca-kaca.
Bayangan ketiga wajah pemuda yang mengikat dirinya di mobil
kembali mengusik pikirannya. Hati Lia bergetar,
ketakutan muncul begitu saja. Lia masih sedikit shock dengan kejadian kemarin.
Ayex langsung memeluk Lia, membuatnya
merasa hangat dan nyaman.
“Kak ... aku takut. Aku ... aku ... aku
...,” ujar Lia tak dapat meneruskan kata-katanya. Ia
tersedu dalam pelukan Ayex.
Ayex mengelus punggung Lia pelan, “Tenang, ada aku di sini,”
ujar Ayex sambil menepuk-nepuk pelan punggung Lia.
Hati Lia menghangat, dirinya lega ternyata Ayex yang telah
menyelamatkannya.
“Bos, semuanya sudah beres!” ujar
seorang pemuda bertopi hitam yang muncul dari balik pintu.
Deg .... Tubuh Lia mendadak kaku.
Ingatannya langsung merekam wajah pemuda bercambang tipis yang mengikatkan tali dan membungkam mulutnya dengan
kain waktu di travel.
“Kamu ...,” desis Lia tertahan,
wajahnya berubah ketakutan. “Ayex ... dia ... dia yang udah nyulik aku,” Lia
mengadu pada Ayex.
Ayex melepas pelukannya lalu tersenyum
tipis, seringaian muncul dari balik senyumannya. “Dia apa, Sayang?”
Sang pemuda tersenyum kecil.
Mereka berdua seolah menertawakan Lia.
“Jangan-jangan kamu?” otak
Lia
berpikir cepat.
Ia baru menyadari,
Ayex dalang dari penculikan ini. Pemuda tadi memanggil Ayex dengan sebutan bos,
itu artinya Ayex adalah otak dari penculikan yang dialaminya.
“Kamu yang ngelakuin semua ini?” tanya
Lia tak percaya.
“Kalau iya memangnya kenapa? Hahaha!”
ujar Ayex terbahak.
Lia mendadak teringat Ben, andai saja
dia percaya. Mungkin semua ini tak akan terjadi. Hatinya mencelos, kadang ego
memang selalu menang jika dibanding logika.

Nama : Lutfia Mutia R.
BalasHapusAsal sekolah : SMA PGRI Pekanbaru
Dari bagian ini saya mendapatkan pelajaran bahwa kita tidak boleh menaruh kepercayaan berlebih kepada seseorang (apalagi jika sudah lumayan lama lost contact)
dan tidak ada salahnya juga mendengarkan orang yang benar-benar peduli pada kita
Nama: Naya Aprilia Andini.
BalasHapusAsal Sekolah: MA CENDEKIA BANGSA.
Komentar: kita ga boleh menaruh kepercayaan berlebihan kepada seseorang,dan seharusnya kita mendengarkan orang yang bener-bener peduli kepada kita.
Nama: Nadia Wira Renata
BalasHapusAsal Sekolah: SMA PGRI
BAB kali ini mengajarkan kita untuk tidak mudah percaya pada seseorang sekalipun kita mengenali orang tersebut, kita tidak tahu apa yang akan orang perbuat pada kita.
Assalamu'alaikum wr.wb.
BalasHapusNama : Qonita Rifda Syakira
Asal Sekolah : SMA Negeri 9 Pekanbaru
Komentar :
Bab 7 The Wong Is Back menarik karena perkembangan alur dan konflik membuat cerita semakin menegangkan dan membuat pembaca penasaran. Penggambaran tokoh melalui dialog dan tindakan juga memperkuat penokohan, yang merupakan salah satu unsur intrinsik novel.
Kritik & Saran :
Beberapa bagian cerita masih terasa cukup panjang sehingga dapat mengurangi fokus pembaca. Dalam pelajaran Bahasa Indonesia, penggunaan kalimat efektif dan diksi perlu diperhatikan agar setiap kalimat lebih jelas dan tidak bertele-tele.
Dan menurut saran saya, penulis sebaiknya mempertahankan alur dan karakter tokoh yang menarik, tetapi dapat membuat beberapa kalimat lebih singkat dan jelas. Penggunaan kata hubung serta kohesi dan koherensi antarkalimat juga perlu diperhatikan agar cerita lebih mudah dipahami.
Nama:Rara Humaira
BalasHapusAsal Sekolah:MA Cendekia Bangsa
pada jilid 7 ini lagi dan lagi pesan yang bisa di ambil adalah “Jangan mudah percaya kepada orang lain” seperti yang sudah saya katakan di jilid 1 jangan percaya kepada orang lain sekali pun ia teman dekat,itu lah sifat yang dimiliki oleh Lia dan karna dia memiliki sifat itu membuat diri nya sendiri terluka,dan juga pesan yang bisa di ambil adalah jangan terlalu menyepelekan perkataan orang lain mungkin menurut kita aman-aman saja tetapi terkadang insting seseorang itu benar,maka dari itu jangan terlalu memikirkan ego kita